Ilmiah

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 20 Desember 2025

Keterlibatan orang tua dan persepsi anak:
Dua perspektif dalam sinergi sekolah dan keluarga

Nur Widiasmara
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak merupakan unsur penting yang menentukan kualitas proses dan hasil belajar anak. Kerjasama yang dibangun antara keluarga dan sekolah tidak hanya sebatas administratif, namun menjadi ruang kolaboratif yang membentuk pengalaman belajar anak secara menyeluruh. Nokali, et.al., (2010) menemukan bahwa keterlibatan orang tua merupakan jembatan penting antara rumah dan sekolah. Walaupun pengaruh langsung terhadap prestasi akademik terbatas, keterlibatan yang konsisten berkontribusi besar pada kesehatan sosial-emosional anak. Dengan demikian, membangun sinergi antara orang tua, guru, dan sekolah menjadi strategi utama dalam menciptakan pendidikan dasar yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Keterlibatan tersebut dapat dipahami dari dua sudut pandang yang saling melengkapi. Pertama adalah perspektif orang tua yang menekankan tanggung jawab, motivasi, dan peran aktif dalam mendukung pembelajaran anak. Kedua adalah perspektif anak yang memandang kehadiran dan dukungan orang tua sebagai wujud kasih sayang dan rasa nyaman secara emosional dalam proses belajar (Hoover-Dempsey, et.al., 2005; Bartolome, 2022)

Keterlibatan orang tua dalam perspektif orang tua menjadi salah satu faktor kunci yang sangat menentukan keberhasilan akademis dan psikologis anak. Penelitian Hoover-Dempsey, et.al (2005) menunjukkan bahwa keputusan orang tua untuk terlibat didorong oleh tiga pilar utama yang dapat dioptimalkan melalui kolaborasi dengan sekolah. Pilar pertama adalah dorongan dari dalam diri. Pilar kedua adalah undangan atau ajakan dari sekolah dan anak. Pilar ketiga adalah kondisi kehidupan sehari-hari. Sinergi antara dorongan internal dan dukungan eksternal ini yang dapat mengoptimalkan peran orang tua sebagai mitra utama sekolah dalam proses pembelajaran anak baik di sekolah maupun rumah.

Dorongan dari Dalam Diri 

Keputusan orang tua untuk terlibat sangat didorong oleh dua keyakinan pribadi. Pertama adalah keyakinan akan peran (peran konstruksi). Keyakinan ini adalah pandangan pandangan orang tua tentang “apa yang seharusnya orang tua lakukan” sebagai orang tua dalam urusan sekolah anak. Hal ini menjadi penting karena jika orang tua yakin bahwa kewajiban orang tua untuk mendukung pembelajaran anak, orang tua akan lebih termotivasi untuk terlibat dalam pendidikan anak. Pada sisi lain, keyakinan ini dibentuk oleh pengalaman orang tua sendiri dan dapat diperkuat jika guru di sekolah anak memberi ide-ide yang jelas dan spesifik tentang cara membantu anak baik di sekolah maupun di rumah. 

Kedua adalah rasa percaya diri (efikasi diri). Keyakinan ini menunjukkan bahwa tindakan yang orang tua lakukan benar-benar akan berdampak positif dan membantu anak sukses di sekolah. Orang tua yang percaya diri cenderung lebih aktif dan gigih meskipun menghadapi kesulitan serta memiliki harapan tinggi untuk hasil yang baik. Kepercayaan diri ini tumbuh saat orang tua berhasil membantu anak, melihat orang tua lain sukses, dan mendapat dorongan positif dari guru atau sekolah.

Undangan atau Ajakan dari Sekolah dan Anak

Undangan atau ajakan dari luar berfungsi sebagai pemicu kuat yang memotivasi orang tua untuk mulai terlibat, terutama jika orang tua merasa ragu atau tidak yakin harus mulai dari mana. Pertama adalah undangan atau ajakan dari sekolah (iklim sekolah). Sekolah yang terasa hangat, ramah, dan menghargai akan membuat orang tua lebih mudah untuk terlibat. Sebagai contoh, ketika kepala sekolah aktif mendukung hubungan yang baik dan staf sekolah menunjukkan sikap menghargai, orang tua merasa lebih percaya dan disambut. 

Kedua adalah undangan atau ajakan dari guru. Undangan spesifik dari guru adalah prediktor yang sangat kuat untuk keterlibatan orang tua. Pada dasarnya orang tua ingin tahu secara spesifik bagaimana cara membantu anak belajar. Ajakan yang spesifik dan terarah (misalnya, terkait pekerjaan rumah interaktif) membuat orang tua merasa upaya yang dilakukan berguna dan dihargai. 

Ketiga adalah undangan atau ajakan dari anak. Keterlibatan orang tua sering kali didorong oleh kebutuhan anak, baik yang tersirat (misalnya, melihat anak kesulitan) maupun yang tersurat (permintaan bantuan langsung). orang tua termotivasi karena ingin responsif dan mendukung keberhasilan anak.

Kondisi Kehidupan Sehari-hari

Ketersediaan sumber daya pribadi orang tua menentukan jenis keterlibatan apa yang mungkin kita pilih. Pertama adalah faktor sumber daya yang dimiliki orang tua. Keputusan orang tua dipengaruhi oleh pengetahuan, keterampilan, waktu, dan energi yang dimiliki. Sebagai contoh jadwal kerja orang tua yang tidak fleksibel. Orang tua yang bekerja di pabrik atau pasar dengan jam kerja panjang, dapat membatasi keterlibatan di sekolah pada jam-jam biasa. 

Kedua adalah sejauh mana peran sekolah. Sekolah dapat membantu orang tua dengan menyesuaikan ajakan keterlibatan agar sesuai dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki orang tua. Sebagai contoh, daripada hanya mengadakan pertemuan di pagi hari, sekolah menawarkan sesi konsultasi guru-orang tua setelah jam empat sore atau pada hari Sabtu untuk mengakomodasi orang tua yang bekerja. 

Ketiga adalah bagaimana budaya keluarga dipertimbangkan oleh sekolah. Sekolah harus menghormati dan mengenali bahwa orang tua terlibat dengan cara yang berbeda-beda yang sesuai dengan budaya dan kondisi keluarga. orang tua mungkin akan sulit terlibat jika budaya di sekolah berbeda dengan di komunitas tempat tinggal para orang tua. Sebagai contoh, sekolah memastikan bahwa semua informasi penting tersedia dalam bahasa daerah (seperti Jawa, Sunda, atau lainnya) jika mayoritas orang tua menggunakannya.

Apa yang Dapat Dilakukan Orang Tua?

Orang tua dapat berkolaborasi dengan sekolah untuk memastikan keterlibatan yang efektif. Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua. Pertama, orang tua dapat mencari sumber kepercayaan diri. Orang tua dapat meminta saran spesifik dari guru tentang cara terbaik membantu di rumah. Keberhasilan kecil akan meningkatkan keyakinan orang tua bahwa upaya yang dilakukan berhasil. Kedua, orang tua dapat menentukan cara yang tepat. Orang tua dapat mencari tahu dari guru tentang tujuan pembelajaran dan bagaimana orang tua dapat mendukungnya tanpa membuat anak terlalu bergantung (mendukung otonomi yang sesuai usia). Ketiga, orang tua dapat memberi umpan balik positif. Orang tua dapat memastikan memberitahu anak bahwa usaha yang dilakukan (dan bantuan orang tua) membuat perbedaan pada keberhasilan anak dalam belajar.

Mengintip Keterlibatan orang tua dari Perspektif Anak

Sementara itu, dari perspektif anak, keterlibatan orang tua dipahami sebagai bentuk kehadiran, dukungan dan kasih sayang yang nyata dalam kehidupan belajar. Bartolome (2022) melakukan penelitian tentang keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini di Filipina, dilihat dari perspektif anak-anak taman kanak-kanak. Hasil penelitian ini menyoroti bahwa pandangan anak adalah kunci tentang bagaimana orang tua dan keluarga berpartisipasi dalam pembelajaran mereka, baik di sekolah maupun di rumah.  Partisipasi tersebut memberikan efek positif pada perkembangan holistik anak. Oleh karena itu, semua pertimbangan, kegiatan, dan kebijakan yang berkaitan dengan keterlibatan orang tua harus secara langsung atau tidak langsung bermanfaat dan melindungi anak-anak. 

Penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan Bartolome (2022) menggunakan analisis dokumen dan wawancara dengan dua puluh dua anak TK. Temuan penelitian dikelompokkan menjadi dua tema utama yang menggambarkan pandangan anak-anak tentang bagaimana orang tua dan keluarga berpartisipasi dalam pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Temuan tersebut yaitu keterlibatan dan komunikasi orang tua di sekolah serta dukungan belajar di rumah.

Keterlibatan dan komunikasi Orang Tua di Sekolah

Anak-anak memperhatikan dan menghargai ketika orang tua berinteraksi dengan sekolah dan guru. Keterlibatan dan komunikasi tersebut mencakup: pertama, bagaimana orang tua berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Sebagai contoh dari anak: “Mama saya membantu guru di kelas” atau “Papa saya datang saat acara perpisahan”. Peran yang dapat dilakukan orang tua adalah terkait bagaimana orang tua melibatkan diri dalam kegiatan, acara, atau program sekolah menunjukkan dukungan orang tua pada proses belajar anak dan memperkuat hubungan baik dengan guru dan sekolah.

Kedua adalah menghadiri pertemuan sekolah. Sebagai contoh dari anak: “Ibu saya datang kalau ada rapat”. Peran yang dapat dilakukan orang tua adalah menghadiri rapat atau pertemuan yang diadakan sekolah dianggap penting oleh anak karena anak tahu orang tua menerima informasi dan arahan dari guru.

Ketiga adalah menjalin komunikasi yang baik dengan guru. Sebagai contoh dari anak: “Mama saya dan guru berteman. Mereka ngobrol tentang apa saja kegiatan di sekolah”. Peran yang dapat dilakukan orang tua adalah komunikasi terbuka dan harmonis antara orang tua dan guru yang dapat menciptakan suasana penuh kepercayaan dan pada akhirnya bermanfaat bagi pencapaian anak.

Keempat adalah keterbatasan partisipasi. Sebagai contoh dari anak: Beberapa anak memahami ketika orang tua tidak dapat hadir karena pekerjaan (“Ayah/ibu harus bekerja untuk mendapat banyak uang”). Peran yang dapat dilakukan orang tua adalah walaupun sibuk, usahakan tetap mencari cara lain untuk terlibat dan berkomunikasi dengan guru.

Dukungan Belajar di Rumah

Anak-anak sangat menghargai dukungan yang diterima di rumah, yang seringkali menjadi penentu keberhasilan anak. Hal ini termasuk: pertama bantuan dalam tugas sekolah dan belajar. Contoh dari anak: “orang tua saya membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah (PR)”. orang tua tentunya telah menyadari bahwa orang tua peran yang umumnya dilakukan adalah membantu anak mengerjakan PR. Hal ini menjadi salah satu cara penting untuk terhubung dengan kegiatan sekolah. Ini juga meningkatkan fungsi kognitif dan keterampilan sosial-emosional anak.

Kedua adalah keterlibatan anggota keluarga lain. Contoh dari anak: “Kakak saya membantu mengerjakan tugas sekolah”. orang tua perlu menyadari bahwa dukungan belajar dapat datang dari seluruh anggota keluarga, seperti saudara kandung yang lebih tua atau kerabat lain.

Ketiga adalah waktu berkualitas dan bermain. Contoh dari anak: “Kami bermain bersama setiap hari Minggu”. orang tua perlu menyadari bahwa keterlibatan di rumah tidak hanya sebatas pelajaran, tetapi juga bermain dan berinteraksi. Ini adalah waktu ikatan yang berharga bagi anak.

Pentingnya Perspektif Anak dalam Sinergi Sekolah dan Keluarga

Dalam upaya membangun keterlibatan orang tua yang mensinergikan sekolah dan rumah, penting untuk memahami bahwa setiap bentuk keterlibatan orang tua dan guru, perlu berorientasi pada kepentingan terbaik anak. Berikut adalah beberapa perspektif dari anak yang dapat menjadi dasar pertimbangan sinergi tersebut. Pertama anak adalah penerima utama. Anak-anak adalah pihak yang paling merasakan manfaat dari semua upaya yang dilakukan oleh orang dewasa (orang tua, guru, sekolah). Kedua, hargai pandangan anak. Pandangan anak perlu dipertimbangkan saat mengembangkan program dan kebijakan keterlibatan orang tua di sekolah, karena anak-anak memiliki opini dan menafsirkan tindakan orang tua/guru. Ketiga, perlindungan dan kesejahteraan. Keterlibatan dan kebijakan yang dibuat harus secara langsung atau tidak langsung menguntungkan dan melindungi anak-anak.

Daftar Pustaka

Bartolome, M. T. (2022). Parental involvement in the lens of kindergarten children. Jurnal Pendidikan Bitara UPSI, 15(Special Issue), 211-221. https://doi.org/10.37134/bitara.vol15.sp.19.2022

Hoover‐Dempsey, K. V., Walker, J. M. T., Sandler, H. M., Whetsel, D. R., Green, C. L., Wilkins, A. S., & Closson, K. (2005). Why do parents become involved? Research findings and implications. The Elementary School Journal, 106(2), 105–130. https://doi.org/10.1086/499194 

Nokali, N. E. E., Bachman, H. J., & Votruba‐Drzal, E. (2010). Parent involvement and children’s academic and social development in elementary school. Child Development, 81(3), 988–1005. https://doi.org/10.1111/j.1467-8624.2010.01447.x