Syi’ār

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025

Dari kendali menuju keberserahan diri:
Peran tawakal dalam menerima perubahan

Resnia Novitasari
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Perubahan dalam hidup tidak dapat dielakkan di kehidupan manusia modern. Perubahan tersebut melingkupi perubahan diri pribadi, organisasi, sosial ekonomi, teknologi, maupun geopolitik. Era disrupsi di masyarakat menghadirkan banyak isu, antara lain kebingungan, kecemasan, maupun ketidakpastian. Lompatan-lompatan perubahan tampak hadir dalam banyak aspek kehidupan dan sulit untuk dielakkan. 

Padahal, secara natural manusia menyukai keteraturan dan hal-hal yang dapat diprediksi. Rasa aman pada diri manusia dihadirkan dengan kecukupan kebutuhan dan kendali pada situasi-situasi di luar dirinya. Manusia memiliki kebutuhan akan rasa aman dan stabilitas serta cenderung menghindari situasi perubahan. Keajegan dan hal-hal yang dapat diprediksi berusaha dipastikan oleh setiap orang. Namun demikian, realita kehidupan senantiasa menghadirkan dua dikotomi yang berbeda, yakni keteraturan (order) maupun perubahan (chaos). Oleh sebab itu, preferensi kepada salah satu sisi dapat menghadirkan perspektif yang kurang seimbang dalam membaca realitas. 

Di era disrupsi dan penuh dengan hilir mudiknya informasi rentan menyebabkan individu kesulitan memaknai hidup. Oleh sebab itu,  ada kebutuhan esensial  untuk belajar mengenali diri; baik niat maupun kondisi diri. Pemahaman akan awal dan muara dalam hidup ini menjadi penuntun bagi individu untuk dapat memaknai perubahan dan tidak hanyut di dalamnya. 

Salah satu fondasi dasar bagi kehidupan seorang muslim adalah tawakal. Tawakal dimaknai sebagai mempercayakan seluruh hal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan bergantung hanya kepada-Nya di semua urusan, dan tidak berpaling selain kepada-Nya. Tawakal juga disebut sebagai ibadahnya hati dalam menyandarkan diri hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. 

Dalam beberapa surat di Al-Qur’an banyak menyiratkan pentingnya tawakal dalam kehidupan seorang muslim. 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (Q.S. Ali-Imran: 159)

Dalam surat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa: 

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (٢)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (Q.S. Al-Anfal: 2) 

Kedua surat tersebut menunjukkan pentingnya tawakal sebagai landasan dalam berupaya menjalani  hidup serta menguatkan keimanan. 

Tawakal menjadi landasan penting dalam menghadapi perubahan. Tawakal adalah bagian dari upaya memohonkan rahmat agar kasih sayang-Nya tercurah kepada hamba-Nya. Tawakal juga memberikan pemahaman bahwa ada porsi yang perlu dikerjakan sebagai manusia dan memahami batasan diri. Selain itu, tawakal menjaga proses agar manusia berupaya semampunya dan menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Seperti layaknya riwayat hadits At-Tirmidzi yang menyatakan bahwa berserah diri tidak berarti pasrah tanpa usaha, melainkan dengan cara mengikat unta terlebih dahulu dan percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keduanya berjalan beriringan satu sama lain. 

Sifat tawakal adalah memberdayakan. Pada diri seorang muslim yang tawakal, ada keberanian untuk menerima dan menghadapi realita apa adanya. Dengan demikian, proses memperturutkan ego dengan cara memaksakan kehendak atau justru enggan menghadapi perubahan dapat diminimalkan. Selain itu, ada proses keyakinan bahwa pertolongan Allah itu dekat dan dapat melalui jalan yang tidak terduga. Pada saat proses ini dilakukan maka manusia cenderung akan memiliki energi lebih untuk bergerak, belajar, dan bertumbuh di tengah perubahan. 

Pada sebagian kondisi, manusia enggan untuk berubah  dan memilih bertahan pada status quo. Kendati demikian, di saat individu bertawakal, maka akan ada kerelaan untuk menerima ketidakpastian yang menghadirkan ketenangan. Di titik tersebut manusia mampu berdamai dengan situasi yang di luar kendalinya sebab ia meyakini kekuatan dari Yang Maha Mengatur. 

Tawakal juga membantu menurunkan kendali pada hal-hal di luar batasan diri. Sehingga, akan lebih mudah menerima wilayah ketidaktahuan. Bahkan, individu yang tawakal tidak memaksakan diri agar segera paham situasi yang sedang dihadapi. Karena di balik itu, ia mengetahui wilayah diri yang mampu ia jangkau dan bagian mana yang belum dipahami dan membutuhkan keyakinan akan ketetapan-Nya. 

Pada saat hati manusia telah merasa tenang, biasanya akan ada ilham atau inspirasi dalam menghadapi perubahan. Jikalau situasi eksternal tidak menghadirkan kenyamanan, namun hatinya tetap teguh menghadapkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak mudah terguncang maupun patah semangat saat situasi tidak sesuai dengan ekspektasinya. Oleh sebab itu, tawakal menjadi bagian penting dalam kesejahteraan spiritual untuk menghadapi setiap perubahan dalam hidup. 

Wallahu a’lam bishawab