OLeh: Nur Pratiwi Noviati (Dosen Prodi Psikologi) —-
Seorang remaja generasi Z tertarik dengan kajian agama yang dilakukan teman-temannya di kampus. Ia pun memiliki banyak pertanyaan mengenai masalah yang dialami dalam kehidupan sehari-harinya. Namun ia malu dan enggan bertanya langsung dengan teman atau orang lain, akhirnya ia memutuskan untuk mencari informasi melalui artikel online ataupun video kajian online. Ia juga bergabung dengan kelompok diskusi online yang terdiri dari orang-orang yang mempelajari Islam dan Muslim yang lebih berpengalaman.
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2019/12/UII-Kunjungan-SMA-AL-Islam-Boarding-School-Cirebon.jpg10001500yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2023-07-16 06:11:242026-08-19 15:24:50Strategi Dakwah untuk Generasi Z
Raut wajah penuh kelelahan sangat terlihat dari perempuan paruh baya yang duduk tepat di seberang meja kerja saya pagi itu. Hari masih pagi, bahkan masih terlalu pagi untuk menampakkan mimik muka penuh beban pada wajah yang masih tersirat rona cantik meski berdandan ala kadarnya. Sengaja saya memulai pembicaraan kepadanya dengan sedikit pertanyaan tentang kabarnya hari ini. Praktis dari satu pertanyaan yang sederhana keluarlah jawaban panjang kali lebar tentang betapa hiruk pikuknya pagi hari yang telah dilaluinya. Bangun lebih awal dari jadwal muadzin menyuarakan adzan subuh pun nampaknya masih belum cukup untuk mempersiapkan segal keperluan keluarganya tepat waktu sebelum jam sekolah anak-anak maupun jam kerjanya dimulai. Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/01/wanita-bekerja.jpg563600yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2023-07-13 06:06:132026-08-19 15:24:50Pandangan Nabi Tentang Ibu Bekerja
Sekolah itu dengan kekhasan bangunan tuanya telah mencetak cendikia-cendikia muda. Bangunan dengan ketinggian lebih dari 3 meter, dengan ventilasi udara yang sangat memadai menjadi saksi lahirnya anak-anak muda dengan pemikiran yang brilian. Persaingan demi persaingan membuat anak-anak harus berusaha keras untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Mereka? Masih berupa sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dengan mengulik sejarah hidup mereka. Di Pojok terlihat anak yang menahan diri untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2021/06/lauren-lulu-taylor-vppMdk_GMo4-unsplash.jpg640640yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2023-07-06 05:34:562026-08-19 15:24:50ANAKKU DENGAN SEJUTA HARAPANKU
Oleh: Fani Eka Nurtjahjo (Dosen Prodi Psikologi)—-
Konon katanya, usia 40 tahun merupakan penanda babak baru kehidupan seseorang yang lebih matang. Setiap akan melewati fase dasawarsa dalam hidup, pasti memberikan kesan yang sulit untuk dilewatkan begitu saja, minimal ada hal-hal yang muncul dalam lintasan pikiran. Seringkali bentuknya berupa refleksi laku hidup selama sepuluh tahun terakhir, memikirkan pencapaian, apa yang sudah dilalui, dan banyak hal lainnya. Begitu pula yang saya alami saat ini, ketika usia kronologis dalam kalender masehi telah berada di penghujung usia 30-an yang membuat saya lebih banyak berpikir reflektif terhadap hidup. Usia yang merupakan sebuah fase penting dalam perspektif Islam, di mana pada usia tersebut Nabi Muhammad shallallâhu ’alaihiwasallam diangkat menjadi Rasul. Usia yang juga menyiratkan batas kedewasaan seseorang yang dianggap telah matang dalam hal fisik, akal, intelektual, emosional, dan spiritual. Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/02/pexels-timur-weber-9127842.jpg19201280yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2023-06-16 13:34:012026-08-19 15:24:50Muslim Dewasa dan Tantangan Jiwa
Pernahkah kita mendengarkan cerita atau curahan hati, baik secara langsung atau lewat media sosial melalui ungkapan semacam ini: “Aku kok merasa hidupku hambar ya akhir-akhir ini?”, “Kok rasanya ada yang kurang dalam hidupku padahal aku sudah mencapai banyak hal yang aku impikan?”, “Mengapa sih masalah hidupku kayak nggak habis-habis?”. Isu-isu personal ini kerap mengemuka dalam kehidupan manusia modern. Ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita, namun terbatas sekali pengetahuan kita tentang hal itu. Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2020/01/ujian-kehidupan.jpg168300yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2023-06-11 15:20:452026-08-19 15:24:50Krisis Kehidupan dan Jalan Pulang Menuju Tuhan
Oleh: Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psikolog–
Quote: Rumuskan dan tuliskan, bahkan bila perlu deklarasikan, cita-citamu. Suatu saat engkau akan sadar apa yang kau tulis telah tergenggam di tanganmu! Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2023/02/Declare-your-ambition.jpg16322448yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2023-02-19 20:37:412026-08-19 15:24:50Tuliskan dan Deklarasikan Cita-citamu
Oleh : Ariyanto (Tendik FPSB)—- “Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS: At Taubah:105)
Bekerja dan Ketentraman Jiwa
Bekerja merupakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan manusia baik kebutuhan induvidu, fisik, psikologis, maupun kebutuhan sosial. Bekerja juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan seseorang sebagai profesi untuk mendapatkan penghasilan, yang mana penghasilan ini akan dapat memenuhi kehidupannya agar menjadi lebih sejahtera. Dalam Islam bekerja bukan sekedar untuk mendapatkan penghasilan tetapi lebih jauh dan dalam yang mana bekerja merupakan wujud firman Allah SWT sebagai bagian keimanan kita sebagai umat muslim. Sehingga bekerja merupakan aktivitas yang mulia apabila dilakukan dengan benar di jalan Allah SWT, dan dengan bekerja kita dapat melaksanakan perintah-perintah Allah SWT seperti zakat, infak dan shodaqoh. Bahkan Rasulullah SAW bersabda : “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah”, dengan demikian Rasulullah SAW sangat menempatkan posisi yang mulia atau terhormat bagi orang yang mau berinfak dengan hasil jerih payahnya sendiri. Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/11/pexels-andrea-piacquadio-3778966-1.jpg14712057yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2023-01-15 12:50:052026-08-19 15:24:50MENJADI HEBAT KARENA BERSYUKUR
Oleh: M. Yopa V.P. (Tendik FPSB UII)—
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al mujadilah:11) Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/03/pexels-shahbaz-akram-1883409-scaled-1.jpg17092560yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2023-01-08 21:05:482026-08-19 15:24:50Mengenang Kembali : Urgensi Ilmu Pengetahuan dalam Peradaban Islam
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS: Al Baqarah:30).Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/02/pexels-timur-weber-9127842.jpg19201280yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2022-12-04 05:10:482026-08-19 15:24:50Istighfar sebagai Gaya Hidup
Tanpa disadari, di dalam kehidupan sehari-hari manusia senantiasa dihadapkan pada begitu banyak pilihan. Sejak membuka mata saat bangun tidur hingga beranjak tidur kembali, sepanjang hari manusia baik sadar maupun tidak sadar mengambil keputusan atas banyaknya alternatif pilihan yang hadir. Contoh sederhana saat ini yang mungkin kerap kita hadapi antara lain adalah ketika bangun tidur di pagi hari, seseorang akan memilih apakah akan langsung beranjak melaksanakan ibadah salat Subuh atau justru memeriksa telepon genggamnya terlebih dahulu untuk melihat pesan masuk. Kemudian ketika akan beranjak untuk beraktivitas, seseorang dapat memilih apakah akan langsung berangkat kerja, kuliah maupun sekolah atau sarapan terlebih dahulu. Sarapan apa yang dipilihnya, akan menggunakan moda apa untuk berangkat beraktivitas, kegiatan apa yang akan dilakukan setelah beraktivitas, dan seterusnya merupakan contoh sederhana bentuk alternatif pilihan dalam sekelumit kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya dalam situasi yang tengah atau kerap dijalani, dalam menyusun rencana ke depan pun, manusia kerap dihadapkan dengan begitu banyak alternatif. Hal apa yang akan dilakukan di akhir pekan, bagi yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Tinggi apakah akan kuliah merantau atau tidak, bagi yang baru menikah apakah untuk memenuhi kebutuhan papannya akan membeli tanah terlebih dahulu atau membeli rumah jadi, dan lain sebagainya. Read more
https://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/08/pexels-photomix-company-230544-scaled-1.jpg17072560yopahttps://psychology.uii.ac.id/wp-content/uploads/2026/08/Logo-FP-untuk-Header-1030x501.pngyopa2022-08-18 16:10:162026-08-19 15:36:47MEMILIH ANTARA YANG DIBUTUHKAN DAN DIINGINKAN