Syi’ār
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 20 Juni 2026
Bijaklah bermedsos karena ‘ain itu nyata
Dwi Pranita
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Pernahkah kita mendengar beberapa selebritas atau selebgram yang mengalami keretakan rumah tangga? Beberapa selebritis ternama bahkan selebgram ternama banyak yang berpisah dengan pasangannya. Padahal sebelumnya tidak ada hal ganjil yang menyebabkan mereka berpisah. Masalah ketidakcocokan dalam berumah tangga seringkali menjadi penyebab utamanya. Penyebab lainnya adalah adanya masalah perselingkuhan salah satu pasangan. Padahal terkadang pasangannya tidak terindikasi untuk melakukan perselingkuhan tersebut. Ada juga yang berpisah karena permasalahan ekonomi.
Dari kasus keretakan rumah tangga selebritas atau selebgram, adakah yang berpikir kalau mereka sebenarnya terkena ‘ain? Apa itu ‘ain? ‘ain adalah gangguan fisik atau mental yang disebabkan oleh pandangan mata seseorang yang disertai rasa iri, dengki, atau kekaguman berlebihan tanpa mengingat Allah SWT. Dijelaskan oleh Al Lajnah Ad Daimah. “‘ain dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut.” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271). Dampak ‘ain ini bisa sangat nyata yaitu berupa penyakit mendadak, kerusakan atau kesialan dari yang terkena ‘ain tersebut.
Sebagaimana kita ketahui, selebritas atau selebgram tidak jauh kehidupannya dari posting memposting mengenai kehidupan pribadinya di media sosial yang mereka miliki. Seringkali postingan mereka menunjukkan secara berlebihan mengenai kebahagiaan mereka. Mulai dari pertunangan, pernikahan, kehamilan, kelahiran dan lain sebagainya. Tidak jarang juga mereka memposting beberapa pencapaian-pencapaian yang sudah mereka dapatkan. Misalnya membeli rumah baru, mobil baru, membuka usaha baru dan lain sebagainya. Melihat postingan-postingan mereka, mereka tidak menyadari bahwa banyak mata yang melihat dengan berbagai perspektif yang berbeda. Ada yang merasa kagum, tapi ada pula yang merasa iri atau dengki. Hal inilah yang tidak jarang menimbulkan terkirimnya ‘ain.
Penyebab dan gejala ‘ain ini diantaranya adalah berasal dari tatapan mata orang yang hasad atau pandangan takjub tanpa melafalkan doa keberkahan seperti “Masya Allah”. Ada beberapa hadits yang menyatakan bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan nyata diantaranya kisah berikut ini:
Dalam hadits dari Abu Umamah bin Sahl, ia berkata:
اغتسل أَبِي سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ بِالْخَرَّارِ، فَنَزَعَ جُبَّةً كَانَتْ عَلَيْهِ وَعَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ يَنْظُرُ، قَالَ: وَكَانَ سَهْلٌ رَجُلاً أَبْيَضَ، حَسَنَ الْجِلْدِ، قَالَ: فَقَالَ عَامِرُ بْنُ رَبيعَةَ: مَا رَأَيْتُ كَالْيَوْمِ وَلا جِلْدَ عَذْرَاءَ، فَوُعِكَ سَهْلٌ مَكَانَهُ، فَاشْتَدَّ وَعْكُهُ، فَأُتِي رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأُخْبِرَ أَنَّ سَهْلاً وُعِكَ وَأَنَّهُ غَيرُ رَائِحٍ مَعَكَ يَا رسول الله، فَاَتَاهُ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْبَرَهُ سَهْل بالَّذِي كَانَ مِنْ شَأنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ، فَقَالَ رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم -: “عَلاَمَ يَقْتُلُ أًحَدُكمْ أَخَاهُ؟ أَلا بَرَّكْتَ؟، إِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ، تَوَضَّأْ لَهُ”. فَتَوَضَأَ لَهُ عَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ، فَرَاحَ سَهْل مَعَ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ
“suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan ‘Amir bin Rabi’ah Ketika itu melihatnya. Dan Sahl adalah seorang yang putih kulitnya serta indah. Maka ‘Amir bin Rabi’ah pun berkata” “Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit Wanita gadis”. Maka Sahl pun sakit seketika di tempat itu dan sakitnya semakin bertambah parah. Hal ini pun dikabarkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “Sahl sedang sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan ‘Amir bin Rabi’ah. Kemudian, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya, maka berwudhulah untuknya!”. ‘Amir bin Rabi’ah lalu berwudhu untuk disiramkan air bekas wudhunya ke Sahl. Maka Sahl pun sembuh dan berangkat Bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha).
Dalam ilmu pengetahuan (sains), benarkah ‘ain ini bisa terjadi? Konsep ‘ain ini sering dianggap merupakan hal yang tidak mungkin terjadi. Karena tidak mungkin pandangan mata atau kekaguman dari seseorang terhadap seseorang yang lain dapat menimbulkan dampak terhadap orang yang dikagumi tersebut. Adanya logika berpikir seperti ini terkadang kala sering menjadi kesulitan kita dalam menyampaikan hadits mengenai ‘ain ini. Padahal secara ilmu pengetahuan hal ini dapat dijelaskan melalui ilmu psikologi, sosiologi dan neurofisiologi.
- Respons Psikofisiologis.
Ilmu Psikologi Komparatif dan Neurofisiologi membuktikan bahwa tatapan mata langsung (mutual gaze) bukanlah sekedar melihat, tetapi memicu perubahan biologis nyata. Ini memicu pelepasan hormon stres dan memicu aktivitas sistem saraf otonom (detak jantung, keringat).
- Stres Lingkungan
Seperti yang dicatat dalam kajian Budaya dan Konteks Medis, keyakinan tentang ‘ain ada di berbagai kebudayaan. Konsep ini berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk mengontrol konflik dan mendorong kerendahan hati agar tidak memicu kecemburuan atau kemarahan orang lain.
- Manifestasi Rasa Iri dan Dengki
Secara sosiologis, ‘ain adalah manifestasi dari rasa iri dan dengki. Orang yang menerima tatapan penuh kebencian dapat mengalami stress atau kecemasan sosial yang memicu gejala fisik seperti sakit kepala, demam, dan menurunnya produktivitas.
Selain secara sains, terkadang yang kita lupakan adalah kekuatan doa. Bisa jadi doa-doa dari orang yang hasad, dengki tersebut secara tidak langsung berkumpul menjadi satu dan menjadi kekuatan energi yang dapat menembus langit. Sehingga tidak aneh jika ‘ain ini disebut dalam hadits sebagaimana yang mendahului takdir. Sebagaimana berikut ini:
العين حق، ولو كان شيء سابق القدر سبقته العين
Artinya:
“‘ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa” (HR Muslim no. 2188)
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita mendapati contoh nyata mengenai ‘ain ini misalnya pada saat kita menjenguk bayi yang baru lahir kadangkala keluar dari mulut kita secara spontan “wah lucunya, gemuk, cantik, dan sebagainya” lalu tidak lama kita dengar kabar bahwa bayi tersebut sakit dan menjadi kurus. Bisa jadi hal ini merupakan interpretasi dari ‘ain di kehidupan nyata. Walaupun bisa jadi penyebab sakitnya karena terkena penyakit yang dibawa oleh para penjenguk – misalnya ada yang sedang flu lalu mencium bayi tersebut sehingga bayi tersebut tidak lama terkena flu juga. Namun tetap saja apapun bentuknya hal tersebut merupakan dampak dari ‘ain tersebut dan membuktikan bahwa ‘ain tersebut memang nyata adanya.
Sebagai umat muslim kita hendaklah meyakini bahwa ‘ain ini nyata. Apalagi mengenai pembahasan tentang ‘ain ini sudah ada dalam hadits Rasulullah. Sehingga kita sebaiknya dalam bermasyarakat bisa lebih berhati-hati dalam memberikan kebahagiaan kita terutama di media sosial saat ini. Media sosial saat ini merupakan wadah yang sangat mudah untuk menyebarkan kebahagiaan dan dapat menyebabkan ‘ain. Adapun selain itu hendaklah kita selalu mengucapkan “Masya Allah” jika melihat kekaguman akan keberhasilan seseorang. Kemudian bagi kita yang sedang berbahagia hendaklah selalu membaca doa perlindungan agar terhindar dari ‘ain berikut ini:
أُعِيذُكما بكلِماتِ اللهِ التَّامَّةِ، مِن كلِّ شيطانٍ وهامَّةٍ، ومِن كلِّ عينٍ لامَّةٍ
Artinya:
“Aku meminta perlindungan untuk kalian dengan kalimat Allah yang sempurna, dari gangguan setan dan racun dan gangguan ‘ain yang buruk”. (HR Abu Daud)
Adapun bagi siapapun yang sudah terkena ‘ain maka pertama kali yang kita lakukan adalah bersabar. Hendaklah kita yakin bahwa penyakit ‘ain tersebut terjadi atas izin Allah dan hendaklah kita bertawakal kepada Allah. Hendaklah kita juga yakin bahwa yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut juga Allah. Cobalah berikhtiar dengan mencoba melakukan Ruqyah Syar’iyyah, baik secara mandiri maupun melalui peruqyah yang memiliki track record yang baik dan Syar’i. Wallahualam bissawab.


