Ilmiah
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 5 April 2026
Fenomena Penggunaan AI sebagai Konsultan Karier: Tantangan bagi Psikolog Karier
Nur Pratiwi Noviati
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Seorang mahasiswa tingkat akhir bingung menentukan arah kariernya setelah lulus. Alih-alih menemui psikolog karier di kampus, ia membuka ChatGPT dan mengetikkan pertanyaan tentang pilihan pekerjaan yang sesuai dengan minatnya. Dalam hitungan detik, ia pun mendapat jawaban yang runtut dan terstruktur, lengkap dengan daftar kelebihan dan kekurangan setiap opsi.
Situasi di atas merupakan kejadian yang semakin sering ditemui saat ini. Survei Populix (2025) yang berjudul AI in Everyday Life menunjukkan bahwa apabila AI berperan sebagai tempat curhat pribadi, 34% dari 1.100 responden berusia 17-44 tahun bersedia membicarakan masalah pekerjaan dan sekolah kepada AI. Angka ini tampak lebih kecil dibandingkan topik lain yang bersedia dibicarakan kepada AI, seperti kesehatan mental dan stres (41%) serta cerita hidup dan pengalaman pribadi (40%). Temuan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat mulai terbuka menjadikan AI sebagai tempat bertanya dan berkonsultasi, termasuk untuk urusan yang selama ini menjadi ranah profesi tertentu seperti psikologi karier.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar jika AI bisa memberikan jawaban yang cepat, murah, dan tersedia kapan saja, apa yang membuat jasa psikolog karier masih relevan? Artikel ini akan membahas tantangan yang dihadapi psikolog karier di tengah maraknya penggunaan AI sebagai konsultan karier, sekaligus melihat peluang yang dapat diambil dari fenomena tersebut.
Faktor Pendorong Penggunaan AI sebagai Tempat Konsultasi
Terdapat beberapa faktor yang mendorong masyarakat memilih AI sebagai tempat bertanya dan berkonsultasi, termasuk untuk urusan karier. Faktor-faktor tersebut antara lain:
- Aksesibilitas. AI dapat diakses secara gratis atau dengan biaya rendah, tersedia kapan saja tanpa perlu membuat janji temu terlebih dahulu. Khawaja dan Bélisle-Pipon (2023) menjelaskan dalam konteks kesehatan mental bahwa individu dapat memperoleh layanan kesehatan mental dari AI melalui ponsel tanpa perlu menjadwalkan pertemuan atau bepergian ke klinik, sehingga mengatasi hambatan finansial dan logistik yang biasa ditemui pada layanan konvensional. Dalam konteks karier, Bankins dkk. (2024) turut mencatat bahwa AI dimanfaatkan sebagai alat bimbingan karier yang tersedia sesuai kebutuhan dan dapat dipersonalisasi, serta membantu menjembatani kesenjangan akses terhadap layanan konseling karier di sejumlah institusi pendidikan.
- Anonimitas. Berkonsultasi dengan AI tidak mengharuskan seseorang membuka diri secara langsung kepada manusia lain, sehingga mengurangi rasa canggung atau kekhawatiran terhadap stigma sosial. Khawaja dan Bélisle-Pipon (2023) turut mencatat bahwa rasa anonimitas yang ditawarkan AI membuat sebagian pengguna merasa lebih nyaman membicarakan hal-hal pribadi dibandingkan dengan berbicara langsung kepada tenaga profesional. Hal ini sejalan dengan temuan Populix (2025) bahwa sebagian besar responden merasa nyaman membicarakan topik personal kepada AI, termasuk kesehatan mental dan stres, cerita hidup dan pengalaman pribadi, serta masalah pekerjaan dan sekolah.
- Kecepatan. AI dapat memberikan jawaban secara instan, berbeda dengan proses asesmen atau konsultasi karier konvensional yang biasanya membutuhkan waktu lebih panjang. Bankins dkk. (2024) mencatat bahwa mahasiswa umumnya merasa nyaman dengan penggunaan AI untuk bimbingan karier dan memandangnya sebagai pendukung, bukan ancaman, terhadap proses konsultasi yang mereka jalani. Populix (2025) turut mencatat bahwa alasan utama masyarakat menggunakan AI dalam konteks pekerjaan atau studi adalah untuk menambah ide atau alternatif (27%), menghemat waktu (23%), dan mengurangi kebingungan ketika menghadapi kebuntuan (17%).
Ketiga faktor tersebut menjelaskan mengapa AI semakin banyak dilirik sebagai alternatif konsultasi, meski belum tentu dapat menggantikan peran psikolog karier secara utuh.
Kelebihan dan Keterbatasan AI sebagai Konsultan Karier
Sebagai alat bantu konsultasi karier, AI menawarkan sejumlah kelebihan sekaligus keterbatasan yang perlu dipahami secara berimbang. Kelebihan yang dimiliki AI adalah dinilai efektif dalam memberikan informasi awal dan membantu proses eksplorasi karier. Bankins dkk. (2024) mencatat bahwa AI telah dimanfaatkan secara luas untuk merekomendasikan jalur karier berdasarkan keterampilan dan kebutuhan pekerjaan, membantu individu memahami kesesuaian antara kemampuan mereka dengan permintaan pasar kerja, serta menyediakan wawasan mengenai keterampilan yang memprediksi peluang kerja yang lebih tinggi. Populix (2025) mencatat bahwa masyarakat memanfaatkan AI terutama untuk menambah ide, membantu penyelesaian tugas sekolah atau pekerjaan, serta menyusun CV atau surat lamaran. Selain itu, AI juga dinilai membantu mengatasi kesenjangan akses terhadap layanan konseling karier, khususnya bagi kelompok yang secara tradisional kurang terlayani, seperti mahasiswa perempuan di bidang teknik (Bankins dkk., 2024).
Meski menawarkan berbagai kelebihan, ternyata AI juga memiliki sejumlah keterbatasan mendasar. Bankins dkk. (2024) mengidentifikasi masalah kualitas data sebagai salah satu hambatan utama, karena keakuratan model AI sangat bergantung pada data yang digunakan untuk melatihnya, sehingga berisiko menghasilkan simpulan yang keliru. Studi yang sama juga menyoroti sifat AI yang sulit dijelaskan (black box), yang membuat proses pengambilan keputusan oleh AI sulit dipahami pengguna dan berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan terhadap saran yang diberikan. Populix (2025) menunjukkan bahwa keraguan masyarakat terhadap hasil AI paling banyak disebabkan oleh kesan AI yang terlalu “kaku” atau tidak alami (25%), kekhawatiran terhadap kebocoran data pribadi (23%), serta kekhawatiran terhadap ketergantungan berlebihan (20%). Di dalam konteks konsultasi yang bersifat lebih personal, Khawaja dan Bélisle-Pipon (2023) menyampaikan bahwa AI memiliki keterbatasan dalam merespons situasi krisis serta memahami isyarat nonverbal maupun kondisi emosional pengguna secara mendalam, dan bias dalam desain AI dapat membatasi kemampuannya menyediakan dukungan yang relevan secara budaya dan bahasa bagi kelompok tertentu.
Keterbatasan AI dalam memahami konteks budaya dan bahasa, sebagaimana dicatat Khawaja dan Bélisle-Pipon (2023), juga relevan dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Model AI populer seperti ChatGPT dan Gemini umumnya dilatih dengan data yang didominasi oleh perspektif global, sehingga belum tentu memiliki kepekaan yang memadai terhadap pertimbangan religius yang turut memengaruhi pengambilan keputusan karier bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Studi Asriyana dkk. (2025) terhadap siswa sekolah menengah kejuruan di Banda Aceh menemukan bahwa proses pencarian karier siswa tidak semata didasari pertimbangan rasional, melainkan juga dibentuk oleh nilai budaya dan religius, termasuk tradisi musyawarah keluarga dalam pengambilan keputusan serta pertimbangan status halal dan keberkahan suatu pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan karier dalam konteks masyarakat religius bersifat kolektif dan spiritual, bukan semata proses individual yang rasional-teknis sebagaimana umumnya direpresentasikan oleh sistem AI. Psikolog karier yang memahami konteks nilai keislaman dan budaya lokal berpotensi memberikan pendampingan yang lebih menyeluruh dalam aspek ini dibandingkan AI generik yang bersifat sekuler dan berorientasi global.
Terlepas dari berbagai keterbatasan tersebut, mayoritas masyarakat tampaknya tetap menginginkan keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan penting. Populix (2025) mencatat bahwa 70% responden menginginkan keputusan penting tetap berada di tangan individu manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa meski AI dapat menjadi alat bantu yang berguna dalam proses konsultasi karier, kehadiran manusia sebagai pengambil keputusan akhir tetap dipandang penting oleh masyarakat.
Tantangan bagi Profesi Psikolog Karier
Kehadiran AI dalam ranah konsultasi karier menimbulkan sejumlah tantangan mendasar bagi profesi psikolog karier, baik dari segi eksistensial maupun praktis. Tantangan eksistensial yang muncul adalah menjawab pertanyaan “apakah profesi ini masih dibutuhkan?”. Fulmer (2019) menyampaikan jika AI dapat memenuhi komponen dasar konseling, yaitu membangun aliansi profesional, memberdayakan klien, dan membantu pencapaian tujuan, maka penggunaan AI berpotensi mencapai bahkan melampaui taraf tanggung jawab yang secara tradisional diemban oleh konselor manusia. Populix (2025) juga mencatat kekhawatiran serupa di masyarakat Indonesia secara umum, di mana 24% responden merasa cemas akan risiko kehilangan pekerjaan akibat AI.
Selanjutnya, tantangan relasional yang muncul adalah pergeseran dari relasi manusia ke manusia-AI. Green (2018) menyampaikan bahwa transisi dari dinamika interpersonal menuju relasi manusia-teknologi dalam bidang konseling dapat memunculkan berbagai dilema eksistensial yang belum terselesaikan. Hal ini relevan bagi psikolog karier, mengingat esensi konseling karier secara tradisional berdasarkan pada aktivitas dialog, kepercayaan, dan hubungan personal antara konselor dan klien, sesuatu yang belum tentu dapat sepenuhnya direplikasi dalam interaksi dengan AI. Tantangan praktis yang muncul adalah adanya kesenjangan akses dan literasi AI. Muhammad (2023) menemukan bahwa penelitian empiris mengenai hambatan penggunaan AI dalam konseling karier masih sangat terbatas. Dari ribuan artikel yang ditelusuri, hanya dua studi yang secara spesifik meneliti hambatan tersebut. Bankins dkk. (2024) juga menyampaikan bahwa meski AI berpotensi menjembatani kesenjangan akses terhadap layanan konseling karier, penerapannya di ranah pendidikan justru menunjukkan bahwa institusi masih kesulitan menyediakan pengetahuan AI yang relevan dengan kebutuhan spesifik peserta didik secara efektif. Hal ini mengindikasikan bahwa psikolog karier dituntut untuk turut mengembangkan literasi AI mereka sendiri, agar mampu mengintegrasikan teknologi ini secara tepat ke dalam praktik profesional.
Lebih lanjut mengenai tantangan edukasi publik. Di sisi lain, psikolog karier turut menghadapi tantangan untuk mengedukasi masyarakat mengenai kapan konsultasi dengan AI memadai dan kapan situasi memerlukan pendampingan profesional manusia, terutama mengingat keterbatasan AI dalam menangani situasi krisis, konteks budaya-religius, maupun kebutuhan psikologis yang kompleks.
Peluang Adaptasi di Tengah Perkembangan AI
Di balik berbagai tantangan yang telah diuraikan, perkembangan AI turut membuka sejumlah peluang bagi psikolog karier untuk beradaptasi dan memperkuat relevansi profesinya. AI dapat diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pesaing. Bankins dkk. (2024) mencatat bahwa AI dapat diposisikan sebagai alat yang mendukung konselor karier manusia, misalnya dalam membantu institusi pendidikan menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja. Muhammad (2023) juga menyebutkan bahwa di negara dengan keterbatasan jumlah konselor, sistem AI dapat digunakan sebagai pendukung pengambilan keputusan konselor manusia, bukan sebagai pengganti utuh. Pandangan ini sejalan dengan preferensi masyarakat yang tercermin dalam data Populix (2025), di mana 27% responden menghendaki kombinasi antara manusia dan AI dalam pengambilan keputusan penting, dan hanya 3% yang bersedia menyerahkan keputusan tersebut sepenuhnya kepada AI.
Peluang berikutnya adalah penggunaan AI dapat menjangkau kelompok yang kurang terlayani. Bankins dkk. (2024) menyampaikan bahwa aplikasi AI dalam bimbingan karier dapat difokuskan untuk menjangkau kelompok yang secara tradisional kurang terlayani, serta membantu mengatasi kesenjangan akses terhadap layanan konseling karier di sejumlah institusi pendidikan. Psikolog karier dapat memanfaatkan AI sebagai alat penyaringan awal atau pendukung administratif, sehingga waktu dan energi mereka dapat difokuskan pada klien yang membutuhkan pendampingan mendalam.
Adaptasi selanjutnya yang dapat dilakukan oleh psikolog karier adalah mengembangkan literasi AI sebagai bagian dari kompetensi profesionalnya. Dari pada menolak kehadiran AI, psikolog karier perlu mengembangkan pemahaman mengenai cara kerja, kelebihan, dan keterbatasan AI, agar mampu mengarahkan klien secara tepat kapan konsultasi dengan AI memadai dan kapan situasi memerlukan pendampingan profesional yang lebih mendalam. Kompetensi ini penting mengingat data Populix (2025) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai terbiasa memanfaatkan AI dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk urusan karier, sehingga psikolog karier perlu turut memahami cara AI bekerja untuk dapat memberikan panduan yang relevan.
Fenomena penggunaan AI sebagai konsultan karier mencerminkan pergeseran nyata dalam cara masyarakat mencari bantuan untuk urusan pribadi, termasuk keputusan karier. AI menawarkan aksesibilitas, anonimitas, dan kecepatan yang sulit ditandingi oleh layanan konvensional, namun tetap memiliki keterbatasan mendasar dalam menangani situasi krisis, konteks budaya dan religius, serta relasi personal yang menjadi inti dari proses konseling. Tantangan ini seharusnya tidak dimaknai sebagai ancaman yang mematikan profesi psikolog karier, melainkan sebagai dorongan bagi profesi tersebut untuk terus membuktikan nilai unik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi, sekaligus mendorong psikolog karier untuk mengembangkan literasi AI dan mengintegrasikan teknologi ini secara bijak ke dalam praktik profesional mereka.
QUOTE: Teknologi dapat menjawab pertanyaanmu, akan tetapi bantuan terbaik datang dari yang memahami bukan sekadar menjawab
Referensi
Asriyana, A., Sugiharto, D. Y. P., Sunawan, S., & Mugiarso, H. (2025). Cultural and religious dimensions in career search efficacy: A qualitative study on vocational high school students. Bulletin of Counseling and Psychotherapy 7(3), https://doi.org/10.51214/002025071575000
Bankins, S., Jooss, S., Restubog, S. L. D., Marrone, M., Ocampo, A. C., & Shoss, M. (2024). Navigating career stages in the age of artificial intelligence: A systematic interdisciplinary review and agenda for future research. Journal of Vocational Behavior, 153, Article 104011. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2024.104011
Fulmer, R. (2019). Artificial intelligence and counseling: Four levels of implementation. Theory & Psychology, 29(6), 807–819. https://doi.org/10.1177/0959354319853045
Green, B. P. (2018). Ethical reflections on artificial intelligence. Scientia et Fides, 6(2), 9. https://doi.org/10.12775/SetF.2018.015
Khawaja, Z., & Bélisle-Pipon, J.-C. (2023). Your robot therapist is not your therapist: Understanding the role of AI-powered mental health chatbots. Frontiers in Digital Health, 5, Article 1278186. https://doi.org/10.3389/fdgth.2023.1278186
Muhammad, R. (2023). Barriers and effectiveness to counselling careers with artificial intelligence: A systematic literature review. Ricerche di Pedagogia e Didattica. Journal of Theories and Research in Education, 18(3), 143–164. https://doi.org/10.6092/issn.1970-2221/18250
Populix. (2025). AI in everyday life. Populix. Laporan Riset. https://info.populix.co/data-hub/reports/ai-in-everyday-life



