Syi’ār
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 4 April 2026
Dialektika Ujian dan Sabar: Membaca Kode Kebahagiaan dari Allah
Nur Arifah, S. Ak
Tendik Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Dialektika secara filsafat dan ilmiah dimaknai sebagai sebuah proses ketika dua hal yang bertentangan, saling berinteraksi serta berhubungan, melahirkan suatu hal yang baru, suatu hal yang jauh lebih baik dan lebih sempurna. Dalam kehidupan sebagai orang mukmin, dialektika tersebut terjadi antara ujian dan sabar, dengan menghasilkan sebuah derajat taqwa dan kebahagiaan yang kekal.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Dari ayat tersebut Allah tidak menjanjikan hidup di dunia ini yang selalu lurus, Allah senantiasa memberikan ujian bagi umat-Nya sebagai salah satu kepastian hukum alam (sunnatullah). Lantas mengapa Allah menguji hamba-Nya? Dari sinilah dialektika tersebut berperan. Ujian yang diberikan tidak semata-mata untuk menghancurkan umat manusia, melainkan sebagai salah satu cara untuk mengeksplorasi potensi sabar yang ada di masing-masing orang tersebut.
Sabar Sebagai Strategi Aktif (Bukan Pasrah)
Kondisi sosial di negara kita saat ini menyajikan realitas yang sangat dinamis, sekaligus menjadi sebuah panggung ujian yang nyata bagi penerapan sifat sabar bagi umat muslim. Indonesia sebagai negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia dengan dinamika yang sering kali menguji sejauh mana nilai-nilai spiritual diterapkan dalam menghadapi tekanan modern.
Kata “sabar” sering diartikan secara sempit sebagai sikap pasrah atau menerima nasib. Dalam islam sendiri sabar diartikan sebagai sebuah tindakan aktif, kemampuan menahan diri dari sebuah keputusasaan, menjaga lisan agar tidak mengeluh, menahan tangan dari perbuatan zalim serta konsisten berada di jalan ketaatan saat berbagai ujian datang.
Sejatinya kehidupan di dunia adalah sebuah ujian, tidak ada satupun umat manusia yang terlepas dari cobaan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Mulk ayat 2 :
الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ٢
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.”
Sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut, salah satu tujuan Allah SWT menciptakan kehidupan dan kematian adalah untuk menguji serta memberi penilaian atas amal seseorang. Kemudian, kelak di akhirat balasan yang diberikan sesuai dengan standar keikhlasan dan ketepatan amal yang dilakukan. Oleh karena itu, pada ayat tersebut dijelaskan “yang lebih baik amalnya” bukan “yang lebih banyak amalnya”. Karena pada akhirnya setiap amalan yang dilakukan seorang hamba akan diterima Allah SWT bukan berdasarkan banyak atau sedikitnya, melainkan dari keikhlasan dan kesesuaiannya dengan tuntunan syariat. Sedangkan tujuan utama dari suatu cobaan adalah untuk menampakkan kesempurnaan kebaikan orang-orang yang berbuat baik.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT menegaskan betapa tingginya derajat orang-orang yang sabar, diantaranya surah Az-Zumar ayat 10 :
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ١٠
“”Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.”
Ketika pahala-pahala ibadah lain sering disebutkan kelipatannya antara 10 sampai 700 kali lipat, pahala dari kesabaran seseorang adalah “tanpa perhitungan” dan Allah sendiri yang akan mengganjarnya nanti di akhirat. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim mengenai keutamaan seorang mukmin yang memiliki sifat sabar, Rasulullah SAW bersabda :
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan baik baginya… Jika mendapat kesenangan dia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR.Muslim).
Dalam realitas kehidupan saat ini kita dapat lebih meresapi esensi sabar dan menumbuhkannya dalam berbagai aspek mulai dari hal terkecil sekalipun. Di era digital saat ini, berbagai godaan sangat mudah mengelabui umat manusia bahkan hanya dari genggaman tangan. Media sosial yang dipenuhi oleh atmosfer yang panas, berbagai ketegangan politik, penyalahgunaan kekuasaan, penyebaran hoaks hingga pembunuhan karakter dan masih banyak kasus lain. Bahkan kasus-kasus perselisihan yang berujung ke ranah hukum sebagai akibat ketidakmampuan menahan diri di media sosial menunjukkan adanya kesenjangan dalam penerapan sifat sabar. Menahan diri agar tidak memberikan komentar yang negatif atau menahan diri agar tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya menjadi salah satu bentuk penerapan sifat sabar yang relevan bagi umat muslim modern.
Akhir-akhir ini sering muncul pemberitaan terkait kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang sampai isu ketidakadilan penerapan hukum di tengah masyarakat memicu rasa emosional kolektif. Menghadapi situasi saat ini, kita diuji kesabarannya untuk tidak terjebak dalam kemarahan destruktif atau sikap apatis terhadap bangsa. Dalam konteks ini sabar merujuk pada sikap menahan diri dari tindakan anarkis, dengan tetap menyuarakan kebenaran serta melakukan upaya perbaikan melalui jalur konstitusional yang beradab.
Dari beberapa contoh kasus-kasus tersebut, kita dapat melihat bahwa sabar di negara kita saat ini bukan lagi hanya sekedar konsep teologis, melainkan sebagai salah satu strategi dalam bertahan hidup (survival strategy) serta sebagai alat perbaikan moral yang bersifat krusial di tengah derasnya arus modern.
Kesabaran memang terkadang diibaratkan meminum obat yang sangat pahit. Rasanya bahkan tidak enak untuk ditelan, namun dengannya dapat menyembuhkan penyakit atau membuat tubuh menjadi sehat. Begitupun kesabaran, yang mungkin di awal terasa begitu berat, terasa menyesakkan dada, bahkan mungkin penuh dengan air mata namun pada akhirnya kita menyadari bahwa kesabaran justru mendatangkan kebahagiaan dan kemuliaan yang tidak pernah kita duga. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 153 :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٣
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Dari ayat tersebut kita dapat memetik pelajaran bahwa ketika kita selalu mengingat Allah selalu membersamai hamba-Nya dalam situasi sesulit apapun itu, tidak ada ujian yang terasa terlalu berat dan tidak ada lagi kesedihan yang tidak berakhir dengan kebahagiaan.
Ketika terjadi dialektika – ketika berbagai ujian menghantam kehidupan dan kita senantiasa menyambutnya dengan sabar, maka dari sanalah “Kode Kebahagiaan” dari Allah akan kita rasakan. Kita akan memahami ternyata Allah menyempitkan rezeki hamba-Nya saat ini, agar seseorang belajar menunduk dan membangun empati terhadap orang lain, terkadang Allah memberikan ujian sakit, supaya menggugurkan dosa-dosa hamba-Nya dan supaya dia mengistirahatkan tubuhnya yang selama ini mungkin kurang bersyukur. Tanpa adanya sebuah ujian, sifat sabar akan sulit teraktualisasi dalam kehidupan, dan hanya melahirkan keputusasaan. Keduanya merupakan satu paket desain illahi untuk menaikkan kelas spiritual umat manusia.
Perlu dipahami bahwa dunia dengan segala kenikmatan dan kegunaannya merupakan penjara bagi orang-orang mukmin. Sebagaimana sabda Rasulullah:
“Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim).
Bagi seorang mukmin kehidupan didunia bagaikan penjara, dengan segala peraturan yang harus ditaati di dalamnya. Bekal yang cukup senantiasa harus dipersiapkan sebelum mereka terbebas dari penjara tersebut. Kebebasan dan kesenangan tidak ada yang mutlak kecuali ketika seseorang masuk surga. Sebaliknya, bagi orang kafir dunia ini adalah surga yang nyata. Setiap apa yang mereka inginkan bisa didapatkan tanpa ada yang mengekang, mereka hidup sebebas-bebasnya, tanpa mengenal baik dan buruk, halal atau haram, dan dosa ataupun tidak. Seakan-akan mereka hidup di dunia ini selamanya, padahal balasan di akhirat dari setiap perbuatan yang dilakukan setiap manusia jauh lebih berat, dan mereka kekal di dalamnya. Semoga kita semua tidak termasuk golongan orang-orang yang demikian. Naudzubillah min dzalik.
Pada akhirnya, hadapi setiap ketetapan dari Allah dengan keyakinan yang penuh. Jika saat ini beban hidup terasa begitu berat, ketahuilah Allah sedang melakukan proses dialektika pada jiwa-jiwa hamba-Nya. Dia sedang mengikis bagian dari kita yang takabur, yang lalai dan yang rapuh untuk digantikan dengan jiwa yang lebih kuat, tenang, dan bercahaya.
Semoga Allah SWT mengaruniakan hati yang lapang, yang mampu membaca setiap titik ujian sebagai bentuk dari cinta kepada hamba-Nya dan sebagai upaya kita mempertebal kesabaran dan keimanan. Aamiin.


