Syi’ār
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 24 Mei 2026
Ikhlas: Ketika Tangan Belajar Melepas, Hati Belajar Menerima
Mutiara Ilham
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Dalam perjalanan hidup manusia, kita sering kali menggenggam erat apa yang kita miliki dan sayangi, seperti jabatan, harta, maupun manusia. Kita lupa kalau semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah SWT yang hanya dititipkan oleh kita sementara waktu untuk kita jaga dengan baik yang sewaktu-waktu bisa diambil olehnya dengan sangat mudah. Namun takdir yang telah digariskan Allah bekerja dengan cara yang tak pernah kita duga, memaksa jari-jemari kita untuk perlahan merenggang dan melepaskan hal yang memang sudah tidak menjadi takdir kita. Pada titik itulah, kita diuji dengan sebuah pelajaran tertinggi dalam kehidupan yaitu ikkhlas.
Ikhlas artinya bersih, murni, dan tulus tanpa pamrih. Dalam ajaran Islam, ikhlas berarti melakukan suatu amal atau ibadah semata-mata karena Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian, sanjungan, atau imbalan dari manusia. Ikhlas bukanlah bentuk dari kepasrahan atau tanda kekalahan yang menyedihkan tetapi Ikhlas adalah keputusan sadar untuk menyerahkan atau merelakan kembali apa yang sejak awal memang bukan milik kita dan mengembalikan semua kepada Allah SWT sang pemilik segalanya. Ikhlas adalah ketika tangan ini harus belajar untuk melepas, di saat yang sama pula hati ini juga harus menerima keadaan bahwa takdir Allah senantiasa lebih indah dari segala prasangka manusia.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 162 :
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
Artinya : Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Dalam ayat ini sudah sangat dijelaskan bahwa dalam melakukan semua kegiatan dalam kehidupan manusia mulai dari beribadah, melakukan hal-hal setiap hari dan kematian manusia hanya untuk Allah, karena tujuan akhir kita hanyalah dari Allah, untuk Allah dan Kepada Allah SWT tempat kita kembali. Jadi dalam melakukan setiap amal, perbuatan, keputusan harusnya didasarkan karena Allah SWT.
Hakikat dalam melakukan Ikhlas adalah melepaskan dan menerima. Melepaskan adalah tindakan membiarkan sesuatu pergi itu pergi, merelakan hal yang tidak bisa diubah karena sudah takdir, dan berhenti memaksakan kehendak. Melepaskan adalah Keputusan Sadar dan berani untuk berhenti memaksakan kehendak diri di atas takdir-Nya.
Sedangkan menerima adalah berlapang dada dan merelakan segala ketentuan atau kenyataan hidup tanpa rasa benci, marah, atau protes kepada Allah SWT. Sikap ini berarti seseorang berhenti untuk melawan takdir yang sudah terjadi dan mengakui keputusan Allah SWT dengan hati yang tenang.
Sebagai contoh saat kita sedang mengalami musibah ataupun cobaan seperti kehilangan hewan kesayangan kita seperti kucing. Kita merasa bahwa kucing itu sangat kita sayangi tetapi suatu ketika kucing itu mati, sehingga kita merasa sangat sedih. Pada waktu kita itu kita harus melepaskan kucing kesayangan kita itu karena sudah mati, dan menerima bahwa kucing itu mati karena sudah takdir dari Allah.
Dari sini Kita harus bersabar dengan hati yang luas, ikhlas menerima takdir yang telah ditetapkan untuk kita dan pantang menyerah untuk tetap menjalani hidup. Karena manusia tidak diuji di luar batas kemampuannya. Setiap cobaan yang hadir sudah sesuai dengan porsi yang dapat kita lewati masing – masing, maka yakinlah bahwa kita mampu untuk melewati cobaan. Kita juga dapat mengambil hikmah atau pelajaran yang dapat kita petik untuk setiap kejadian yang kita lewati. Semua akan indah pada waktu-Nya. Karena pada akhirnya ukuran kebahagiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak hasil yang dapat ia genggam di tangan, melainkan seberapa lapang hatinya saat harus melepaskan apa yang bukan menjadi takdirnya.
Umar bin Khatab RA menyampaikan:
“Aku tidak peduli atas keadaan apa aku bangun di pagi hari, apakah itu keadaan yang aku sukai atau keadaan yang aku benci. Karena aku tidak tahu di manakah letak kebaikan itu berada, apakah pada sesuatu yang aku sukai atau pada sesuatu yang aku benci.”
Penutup
Di sini kita belajar bahwa ilmu Ikhlas adalah belajar merelakan, belajar menerima, belajar melapangkan dada, dan menyadari bahwa tidak ada yang menjadi milik kita seutuhnya. Semua milik kita ini hanyalah titipan dari Allah sehingga semua yang hilang tidak akan apa-apa selama kita masih memiliki Allah. Ikhlas adalah ketika tanganmu belajar melepas apa yang bukan milikmu, dan membiarkan hatimu belajar menerima dan merelakan dengan penuh sabar, bahwa takdir Allah senantiasa ditulis dengan tinta kasih sayang-Nya yang tak terbatas dan semua akan ada hikmahnya. Dan jangan lupa bahwa Ikhlas dan sabar adalah ilmu yang selalu berjalan beriring dan bersamaan.


