Syiar
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 08 Juli 2026
Saat hidup tak sesederhana yang kita kira
Fani Eka Nurtjahjo
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ٢١٦…
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Diantara sekian banyak ayat al-Qur’an, potongan ayat diatas menjadi salah satu ayat paling jujur untuk mengajak kita merefleksikan hidup, terutama saat dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai keinginan. Ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, manusia punya kecenderungan untuk mengaitkan realita tersebut dengan hilangnya kasih sayang Allah. Kadangkala muncul pikiran bahwa takdir seolah tak berpihak pada dirinya, lalu muncul rasa berat untuk menerima kenyataan. Kalaupun dijalani, maka rasanya seperti berjalan diatas kerikil tajam. Dilalui namun kaki terluka, atau dihindari namun berlawanan dengan tujuan.
Ketika menghadapi situasi ini, manusia tentu tidak bisa hanya mengandalkan emosi semata. Tidak bisa kita mengutamakan keinginan diri sendiri dan memaksa keadaan dan takdir agar sesuai harapan Padahal, bisa jadi segala sesuatu yang berat dan tidak sesuai harapan bukan berarti buruk. Kerap kali pula jalan yang tampak mudah juga bukan pertanda kebaikan.
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai (oleh jiwa), sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.” HR. al-Bukhari (6487) dan Muslim (2822), dari Abu Hurairah dan juga diriwayatkan dari Anas bin Malik.
Tipu daya iblis seringkali membuat jalan menuju dosa dan kekufuran lebih mudah dan lebih enak untuk dijalani, dan jalan menuju surga seringkali terasa berat dan penuh rintangan. Apa yang terlihat bertentangan dengan ego, belum tentu buruk bagi diri. Seperti saat seseorang sakit dan menjalani rangkaian pengobatan, maka hal tersebut berarti baik dan berpotensi membawanya pada kesembuhan. Menjaga asupan makanan sehat seringkali membuat lidah terasa hambar, namun manfaat jangka panjangnya bagi tubuh jauh lebih baik daripada memakan segala sesuatu yang ‘enak’ menurut selera pasar.
Lantas jika segala sesuatu tidak seperti apa yang terlihat di permukaan, bagaimana seharusnya kita bersikap? Disinilah letak istimewanya Islam. Islam mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan tidak selalu dapat dipahami dari apa yang tampak di permukaan. Namun hakikatnya, justru disinilah letak kunci keseimbangan.
Hal lain yang perlu kita perhatikan saat menghadapi situasi yang tampak membingungkan adalah dimulai dari mengevaluasi cara kita berpikir dan memandang masalah. Manusia diberi oleh Allah keutamaan otak untuk berpikir, yaitu menganalisis segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita secara berimbang, yaitu mencari informasi valid lebih dalam, menafsirkan pesan yang tersirat, sampai melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas.
Sebagai seorang muslim, tentu Islam seharusnya tidak hanya menjadi identitas agama, melainkan gaya hidup. Nilai-nilai Islam idealnya diadopsi di hampir semua lini kehidupan dalam cara yang rasional dan penuh keimanan, tidak hanya sekedar doktrin ritual. Berkaitan dengan cara berpikir, tentu Islam sudah mengajarkan secara lengkap tentang bagaimana seorang muslim bersikap. Banyak ulama dan juga cendekiawan muslim yang sudah membahas tentang bagaimana Islam memandang paradoks dalam kehidupan. Jika saja manusia mau berusaha sedikit lebih keras untuk menggunakan akalnya dalam koridor iman, maka niscaya setiap pertanyaan yang muncul dalam lintasan pikiran kita akan menemukan jawabannya.
Khauf dan Raja’
Khauf dalam bahasa Arab berarti munculnya kesadaran akan kemungkinan yang mengkhawatirkan datangnya sesuatu yang tidak disukai di masa depan. Namun hal ini bukan berarti Allah ingin kita hidup cemas. Apa yang Allah ingin adalah kita memiliki kesadaran moral untuk tidak meremehkan dosa. Khauf disini lebih dekat pada makna kesadaran untuk menjaga agar seseorang tidak terjerumus pada kecenderungan jiwa yang menginginkan hal-hal yang lebih disukai syahwat, karena takut jika Allah akan murka pada dirinya. Selain itu, khauf mengajarkan manusia untuk tidak merasa aman dan berbangga terhadap amalnya, karena belum tentu Allah akan menerima.
Raja’ dalam bahasa Arab berarti menanti sesuatu yang diinginkan. Penantian ini bukan pada hal-hal yang bersifat angan-angan kosong semata, namun lebih pada menaruh harapan pada hal baik yang mungkin terjadi. Jika dipahami lebih dalam, penantian ini juga mengandung optimisme. Ada harapan yang muncul bersamaan dengan kesadaran bahwa masa depan bukan hanya berisi hal-hal buruk, tetapi juga hal-hal baik. Ketika seseorang mulai tenggelam dalam dosa dan merasa tidak layak kembali, konsep raja’ seolah membisikkan bahwa rahmat Allah selalu lebih luas daripada dosa kita. Raja’ mengajarkan kepada kita untuk tidak berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah.
Khauf dan raja’ keduanya bukanlah dua emosi yang saling meniadakan satu sama lain. Keduanya merupakan kekuatan yang bila dimiliki oleh seorang hamba, maka akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Keduanya bukan sekedar ‘takut’ dan ‘harap’, melainkan menunjukkan hadirnya hati yang berjalan lurus menuju Allah. Jika dalam psikologi modern, konsep emosi justru dipelajari secara terpisah dan memiliki konstruk sendiri-sendiri, maka khauf dan raja’ menyatukan dua konsep yang tampak seperti berlawanan ini menjadi satu keselarasan. Ibn al-Qayyim rahimahullah menganalogikan hati seorang muslim sebagaimana burung, dimana mahabbah (cinta kepada Allah) adalah kepalanya, sedangkan khauf dan raja’ sebagai kedua sayapnya. Metafora luar biasa ini menunjukkan bahwa jika salah satu sayap patah/ tiada, maka tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Ikhtiar-Tawakal
Konsep lain yang Islam ajarkan kepada kita adalah tentang anjuran untuk ikhtiar/ berusaha sekuat tenaga, namun disaat yang bersamaan juga menyerahkan segala daya upaya dan hasil pada Allah (tawakal). Keduanya tampak seperti konsep yang jika dimaknai secara dangkal mengandung makna yang tidak memberdayakan hati. Tawakal disini bukan sekedar pasrah, dan ikhtiar juga bukan berarti segala hal harus berada dibawah kendali kita. Ikhtiar adalah mengerahkan segala upaya untuk berpikir, mengerahkan segala ilmu yang dimiliki untuk mempertimbangkan dan membuat keputusan terbaik diantara pilihan yang ada.
“Ikatlah dulu untamu itu kemudian baru engkau bertawakal !” (HR. At-Tirmidzi, No. 2517, Hasan)
Dalam sebuah hadits hasan kita dianjurkan untuk berusaha terlebih dahulu sembari menyerahkan urusan kepada Allah. Anjuran berpikir sebelum membuat keputusan menunjukkan kedudukan akal dalam Islam. Namun sebagai muslim, kita juga dilarang menuhankan akal, karena akal manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah lebih mengetahui tentang segala sesuatu.
Ridha & Husnudzan
Dalam situasi apapun, seorang muslim sangat dianjurkan untuk bersikap ridha menerima dengan lapang dada, tenang hati di bawah ketetapan-ketetapan Allah. Ridha bukan berarti kita diam saja terhadap apa yang menimpa, namun mengarahkan hati kita pada penerimaan akan apa yang terbaik menurut Dzat yang lebih mengetahui tentang diri kita. Ridha bukan sekedar tersenyum ketika hidup terasa pahit, namun tetap yakin dan percaya kepada Allah, bahkan ketika air mata tidak berhenti mengalir.
Sekalipun dihadapkan pada jalan hidup yang tidak mudah, kita tetap diminta untuk berbaik sangka kepada Allah. Namun disaat yang bersamaan, kita diminta untuk berburuk sangka terhadap hawa nafsu sendiri. Jangan-jangan, bukan Allah menolak doa kita, melainkan Ia sedang mempersiapkan waktu dan hadiah terbaik bagi kita. Bukan Allah menunda cita-cita kita, sebaliknya Ia sedang melindungi kita dari keburukan yang tak nampak dalam pandangan kita. Bukan Allah hendak menghukum kita, akan tetapi Ia sedang menunjukkan kebijaksanaan-Nya kepada kita agar kembali berharap dan bergantung hanya kepada-Nya.
Otak manusia cenderung memilih jalan yang paling mudah dan paling cepat memberikan hasil. Karena itu, tidak mudah bagi kita memahami mengapa Allah justru sering mendidik hamba-Nya melalui jalan yang terasa berat. Mungkin selama ini kita terlalu cepat menyebut suatu peristiwa sebagai musibah, kegagalan, atau ketidakadilan. Padahal, bisa jadi keadaan tersebut hanyalah merupakan satu kepingan puzzle yang belum selesai Allah susun. Hikmah yang bisa kita dapatkan dalam menghadapi hidup yang seringkali tidak sesuai dengan keinginan kita adalah dengan memahami segala sesuatu dari perspektif yang lebih luas. Segala sesuatu yang tampak seperti bertentangan, dalam Islam dipandang sebagai sebuah keselarasan. Maka saat hidup tak sesederhana yang kita kira, jangan terburu-buru menyimpulkan, karena sesungguhnya di dalamnya mengandung hikmah yang begitu besar. Apa yang tampak seperti berlawanan seringkali justru saling melengkapi. Semuanya bertujuan untuk menjadikan kita mukmin yang utuh. Wallahu A’lam bishshawab.


