Syi’ar

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 10 Juli 2026

Membangun employee well-being dan wellness di tempat kerja: Perspektif psikologi organisasi positif dan islam

Annisaa Miranty Nurendra
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Salah satu fenomena negatif yang semakin meningkat di era industri 4.0 adalah adanya sedentary lifestyle. Menurut World Health Organization (WHO), sedentary lifestyle adalah gaya hidup yang ditandai dengan sangat sedikitnya aktivitas fisik yang dilakukan di luar jam tidur sehingga hanya membakar sedikit kalori, yaitu kurang dari 1,5 MET (Metabolic Equivalent of Task). Sedentary lifestyle ini muncul karena pegawai lebih banyak duduk di depan perangkat digital dalam melakukan pekerjaannya. Jika tidak dikelola dengan baik, sedentary lifestyle dapat berdampak buruk pada kesehatan pegawai. Mereka berisiko mengalami obesitas, penyakit kardiovaskular, maupun gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, baik pegawai maupun organisasi perlu menyadari bagaimana strategi mengelola sedentary lifestyle tersebut. Baik bagi pegawai maupun organisasi, upaya preventif untuk menanggulangi dampak negatif sedentary lifestyle tentunya lebih utama daripada membayar harga upaya kuratifnya. 

Upaya penanganan sedentary lifestyle yang dialami pegawai dapat dilihat melalui pendekatan holistik dalam well-being. Organisasi profesi seperti Society for Human Resource Management (SHRM) memandang bahwa untuk memahami holistic well-being maka perusahaan perlu memandang pegawai sebagai manusia yang kinerjanya akan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan fisik, mental, emosional, dan sosialnya. Strategi yang dapat dilakukan oleh organisasi adalah dengan menciptakan employee well-being dan employee wellness di tempat kerja. Employee well-being merupakan istilah yang menunjuk pada kesejahteraan psikologis pegawai di tempat kerja yaitu kondisi dimana seorang pegawai merasa aman dan nyaman dalam melakukan pekerjaannya. Sementara itu, employee wellness adalah istilah yang merujuk pada program untuk meningkatkan kesehatan fisik karyawan. 

Secara etis, organisasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan pegawainya sehat secara fisik dan mental ketika bekerja. Rasulullah SAW bersabda : 

إِنَّ إِخْوَانَكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَأَعِينُوهُمْ 

“Sesungguhnya saudara-saudaramu adalah pembantumu (pelayanmu) yang Allah jadikan mereka di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, maka hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan, memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah kalian membebani mereka dengan pekerjaan yang melampaui batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka. “ (HR. Imam Bukhari).
Demikian pula individu yang bekerja, memiliki tanggung jawab pribadi untuk menjaga kesehatan fisik dan mentalnya.

فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Imam Bukhari).

Hal ini menunjukkan bahwa di dalam Islam, menjaga kesehatan fisik dan mental dalam bekerja tidak hanya menggantungkan pada diri pribadi, tetapi juga pada organisasi. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu, strategi meningkatkan employee well-being dan wellness juga perlu melibatkan organisasi maupun individu. 

Strategi yang dapat dilakukan organisasi untuk meningkatkan employee well-being dan wellness cukup banyak. Dengan menggunakan kerangka model job demands-resources, organisasi dapat meningkatkan job resources dan menurunkan job demands. Job resources atau sumber daya pekerjaan adalah segala aspek fisik, psikologis, sosial, atau organisasi yang memotivasi pegawai dalam bekerja, menstimulasi pertumbuhan pribadi, dan professional. Untuk meningkatkan well-being, organisasi dapat menguatkan dukungan sosial di perusahaan, memberikan otonomi dalam bekerja, seperti adanya fleksibilitas, maupun dengan memberikan dukungan serta apresiasi baik yang bersifat finansial maupun non-finansial.  

Adapun job demands adalah segala aspek-aspek fisik, psikologis, sosial, atau organisasi yang menuntut usaha secara berkelanjutan. Jika tuntutan terjadi secara terus menerus, maka akan menguras energi pegawai secara fisik dan psikologis. Oleh karena itu, strategi organisasi dapat berupa menurunkan job demands. Seperti misalnya mendesain agar beban kerja tidak melebihi kemampuan pegawai, memberikan tenggat yang realistis, serta mengantisipasi lingkungan fisik yang buruk, seperti ruangan yang terlalu panas, bising, atau berbahaya. 

Selain itu, organisasi dapat memberikan dukungan kesehatan mental kepada pegawai. Organisasi dapat menyediakan employee assistance program (EAP), yaitu program dukungan di tempat kerja yang membantu pegawai mengatasi berbagai masalah yang mempengaruhi kesejahteraan mental dan emosional, seperti masalah pekerjaan, pribadi, maupun keluarga. Dukungan ini dapat berupa konseling pegawai, panduan dukungan krisis, hukum, dan keuangan, serta rujukan ke layanan kesehatan mental. 

Untuk meningkatkan employee wellness, beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh organisasi adalah dengan adanya promosi kesehatan fisik. Hal ini dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas kebugaran, program kebugaran, penyediaan makanan sehat, maupun pemeriksaan kesehatan pegawai secara berkala. Psikoedukasi manajemen stres dapat pula diberikan kepada pegawai, mengingat kondisi fisik dan psikologis serta intervensinya akan saling berkaitan. 

Di sisi lain, well-being dan wellness juga merupakan tanggung jawab pribadi pegawai. Oleh karena itu, pegawai juga tidak bisa sepenuhnya mengandalkan organisasi untuk memberikan praktik terbaik dalam penyediaan layanan dan dukungan. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pegawai secara mandiri antara lain adalah dengan melatih kebugaran fisik secara pribadi, menerapkan gaya hidup yang sehat, mengelola stress dengan adaptif, dan meningkatkan makna kerja. Dengan menciptakan ketangguhan fisik dan mental, harapannya pegawai tidak mudah sakit dan tidak mudah merasa tertekan ketika menghadapi lingkungan atau tuntutan kerja. 

Rasulullah bersabda : 

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau menjadi lemah (patah semangat).” (HR. Muslim)

Dengan adanya upaya promotif baik itu dari sisi pegawai maupun dari sisi organisasi, diharapkan kehidupan kerja yang sehat, sejahtera, bermakna, berkah, dan bermanfaat dapat terwujud dengan harmonis. Wallahu a’lam bisshowab.