Syi’ār
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025
Tauhid dan Singularitas: Refleksi Surat al-Ikhlāṣ
Ahmad Rusdi
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Surat al-Ikhlāṣ adalah surat yang sering kali dibaca dalam salat, bahkan beberapa sahabat Nabi memfavoritkan surat ini dalam bacaan salat. Beberapa sahabat selalu mengulang bacaan ini dalam salat. Dalam beberapa hadis sahih tercantum tentang bagaimana para sahabat mencintai surat al-Ikhlāṣ, dan Rasul juga menegaskan bahwa memang surat al-Ikhlāṣ ini memiliki keutamaan.
فَقالَ: سَلُوهُ لأَيِّ شيءٍ يَصْنَعُ ذلكَ؟ فَسَأَلُوهُ، فَقالَ: لأنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، فأنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بهَا، فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: أَخْبِرُوهُ أنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ.
“Tanyakan kepadanya (kepada sahabat yang membaca surat al-ikhlas di dalam salat), mengapa membacanya. Kemudian sahabat menjawab, sesungguhnya ini berisi sifat al-raḥmān (Allah). Sesungguhnya aku cinta membacanya. Rasul berkata: sampaikan kepadanya, sungguh Allah juga mencintainya.” (al-Bukhāri, No. 7375)
والَّذي نفسي بيدِهِ إنَّها لتعدلُ ثُلثَ القرآنِ
“Demi zat yang jiwaku berada di genggamannya. Sungguh ini (al-Ikhlāṣ) sama dengan sepertiga al-Qur’ān.” (al-Bukhārī, No. 5013)
Surat ini menjelaskan tentang inti dari tauhid dan bagaimana sifat Allah yang utama. Bahwa Allah adalah satu dan singular (aḥad), Allah merupakan awal dan tempat kembali (ṣamad), dan Allah memiliki sifat yang tidak akan pernah sama dengan apa pun (via negativa). Surat ini terlihat sederhana, namun jika direfleksikan perlahan-lahan, memiliki makna yang sangat dalam dan rasional.
Satu Sebagai Sumber Semua Entitas
Satu merupakan simbol yang solid dan definitif yang melekat pada Allah. “Katakan bahwa Allah adalah Ahad.” Suatu simbol yang sederhana, namun darinya, tercipta kompleksitas yang begitu teratur. Satu bukan sekedar angka, satu bermakna sebagai sumber dan awal. Menurut Phytagoras, sumber semua angka berasal dari satu. Angka selain satu hanya sebagai bentuk pengulangan dari satu, kemudian dioperasikan untuk membentuk bilangan lain. Sifatnya sangat fundamental, tanpa angka satu, konfigurasi apa pun tidak akan tercipta.
Seorang ahli kalkulus, Gottfried Wilhelm Leibniz menjelaskan bahwa angka satu merupakan bilangan pokok untuk membentuk kombinasi biner. Adapun bilangan biner merupakan simbol dari penciptaan. Nol merupakan simbol ketiadaan dan satu merupakan simbol eksistensi yang sejatinya hanya dimiliki oleh Allah. Dengan adanya satu, maka ketiadaan menjadi ada, atau yang disebut dengan “ada karena Yang Maha Ada” (wujūd lighairihai). Lebih mudahnya, jika kita contohkan suatu bidang geometris persegi, maka awal dari persegi sesungguhnya adalah satu titik. Satu titik tidak dapat disebut objek geometris, karena belum menempati ruang, namun bersifat fundamental dalam membentuk ruang. Kemudian, satu titik tersebut memberikan sifat eksistensinya pada posisi yang lain, yang awalnya tidak ada, sehingga tercipta dua titik, dan terbentuk garis. Di sini sudah bisa dipahami bahwa garis bukan merupakan eksistensi asli. Garis merupakan ciptaan dari satu titik. Kemudian, jika ketiadaan lain ditambahkan sifat ada, maka akan membentuk segitiga dan seterusnya, sehingga ruang geometris di alam ini tercipta.
Semesta Berawal dan Berakhir pada Singularitas
Teori paling kuat tentang penyebab adanya semesta adalah teori initial singularity, yaitu alam semesta berasal dari ekspansi satu titik super padat (infinitif). Kita tidak ingin terburu-buru memahami bahwa singularitas yang dimaksud adalah Allah. Setidaknya, ini merupakan manifestasi keesaan. Sebagaimana angka satu yang kita tulis di kertas, itu hanya merupakan simbol. Bagi Allah, initial singularity bisa jadi hanya sekedar manifestasi dari keesaan-Nya. Di dalam al-Qur’an, Allah mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dari singularitas.
أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا
“Sungguh langit dan bumi dahulu keduanya satu, kemudian kami pisahkan keduanya.” (QS al-Anbiyā’:30)
Teori lain menambahkan bahwa akhir dari alam semesta ini juga kembali kepada singularitas. “Milik Allah apa yang ada di langit dan di bumi, kepada Allah semua akan kembali.” (QS al-Nūr: 42). Ayat ini menjelaskan bahwa entitas apa pun tidak ada yang kekal, semua akan kembali kepada singularitas. “Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya.” (QS al-Baqarah: 156). Seluruh entitas yang awalnya nihil, kemudian Allah beri sifat ada, dan sifat itu akan kembali kepada yang Maha Ada.
Siklus Semesta Infinitif: Simbol Superioritas Allah
Beberapa teori menduga bahwa alam semesta akan berakhir, kemudian akan diciptakan ulang, ini disebut dengan cyclic universe. Bahkan, dari mana siklus ini bermula dan kapan berakhir, teori yang paling kuat mengatakan bahwa siklus ini tanpa batas, tidak ada awal mula, dan tidak ada siklus terakhir. Ini menjadi simbol kekuasaan Allah yang Maha Tak Terbatas. “tidak ada apapun yang setara dengan-Nya.” (QS al-Ikhlāṣ: 4). Ketidakterbatasan (infinitif) merupakan satu-satunya sifat pembeda antara Tuhan dan makhluk. Allah bersifat qidam, yakni telah ada tanpa batas, dan baqā’, yakni akan selalu ada tanpa batas. Siklus semesta infinitif menjadi simbol sifat qidam dan baqā’ milik Allah yang dimanifestasikan ke dalam tanda-tanda (al-āyāt) kekuasaan-Nya melalui fenomena cyclic universe.
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ
“Pada hari itu Kami akan gulung langit seperti menggulung kertas. Kemudian akan memulai penciptaan pertama dan Kami akan mengulanginya (siklus). Itulah janji Kami, sungguh kami akan melaksanakannya.” (QS al-Anbiyā’: 104)
Maha besar Allah dengan sifat tak terbatasnya yang sama sekali tidak bisa dipahami dengan pemahaman manusia yang terbatas. Dari rasa kekaguman ini, seharusnya tauhid tumbuh. Tanda-tanda kekuasaan Allah yang tampak dari simbol angka satu, singularitas, dan sifat kekalnya Allah, yang telah ditunjukkan melalui ayat-ayatnya (kauniyah dan qauliyah). Seharusnya manusia yang lemah ini tidak mungkin lagi mengingkari tauhid, beramal lebih ikhlas karenanya, atas kekaguman dan kecintaan kita kepadanya, diberi kesempatan untuk menikmati megahnya keajaiban semesta yang Allah berikan kepada kita.


