Syi’ār

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025

Takdir dan superposisi: Rekonstruksi makna ikhtiar

Ahmad Rusdi
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Sampai saat ini, masih banyak orang yang memahami takdir secara fatalistik, padahal dalam Alquran manusia diajarkan untuk selalu berusaha dan bertransformasi untuk menjadi lebih baik. “Tidak akan berubah suatu ‘kaum’, sampai mereka mengubahnya sendiri” (QS al-Ra’d: 11). Bahkan, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Tuhan menakdirkan kejahatan” masih saja dipertanyakan secara dangkal. Perlu adanya pemahaman mengakar (radikal) untuk memahami apa itu takdir dan ikhtiar.

Pemahaman Manusia tentang Takdir Berubah Seiring Zaman

Dahulu, takdir dipahami oleh sebagian manusia sebagai jalan hidup yang telah ditulis, masa depan yang telah ditentukan, dan hasil yang telah ditetapkan. Secara teologis, ini disebut sebagai jabariyyah atau fatalisme. Kemudian, pihak lain mengklaim sebaliknya, takdir dipahami sebagai pilihan bebas manusia, Tuhan memilih untuk tidak menentukan, manusia menentukan masa depan dan hasil, ini disebut dengan qadariyyah.

Manusia di zaman modern tetap memperdebatkan ini, namun diistilahkan agar seakan-akan ilmiah, yaitu determinisme dan probabilisme (Yin & Sun, 2021). Determinisme adalah perspektif yang menjelaskan bahwa segala kejadian sudah ditentukan oleh satu penyebab (monoistik). Adapun probabilisme adalah perspektif yang menjelaskan bahwa segala kejadian bisa terjadi secara acak, tidak ditentukan sebelumnya, dan berbagai keadaan adalah mungkin terjadi. Implikasinya, manusia bisa mengupayakan apa pun agar terwujud.

Takdir Baik atau Buruk dan Superposisi

Superposisi adalah konsep fundamental yang ditemukan dalam eksperimen fisika kuantum yang menjelaskan bahwa keadaan potensial bisa terjadi sekaligus tanpa ada batasan (Hughes et al., 2021). Belum ada temuan terbaru yang dapat menjelaskan mengapa superposisi bisa terjadi. Namun, jika fisika dibatasi pada kajian materi (terbatas ruang dan waktu) dan energi (terbatas ukuran), maka fenomena superposisi sudah melampaui batasan tersebut (strange) (Dourdent, 2025). Bahkan dikatakan bahwa fenomena ini sudah menyentuh pembahasan metafisika (Muller, 2023), bahkan bisa disentuh dengan perspektif teologis (Othman, 2025).

Superposisi dapat dikatakan sebagai posibilitas yang tidak diketahui (al-ghayb) sebelum salah satunya diwujudkan dalam realitas. Hanya Allah yang dapat mengetahui segala posibilitas ini (al-ghayb), bahkan dalam jumlah yang tak terhingga.

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ۝٥٩

Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (al-An’ām: 59)

Semua posibilitas hanya diketahui oleh Allah, adapun manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang telah diaktualkan. Maka, superposisi juga berarti adanya pasangan antara sesuatu yang tidak diketahui (posibilitas) dan sesuatu yang telah diketahui (aktual). “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka (aktualitas) maupun dari apa yang tidak mereka ketahui (posibilitas).” (QS Ȳasin: 36).

Allah mengetahui posibilitas manusia dalam berbagai keadaan, termasuk baik atau buruk. Dalam perspektif takdir, manusia memiliki potensi untuk berbuat baik atau buruk. “Maka Kami mengilhamkan jiwa manusia (jalan) fujūr atau taqwa” (QS al-Syams: 9). Keduanya adalah probabilitas yang telah Allah sediakan. Manusia dapat mengaktualkan salah satunya, menjadikan salah satu probabilitas sebagai realitas. Allah telah merancang setiap keadaan manusia secara tak terbatas, namun realitas yang akan muncul dalam sistem individual juga bergantung pada aksi dan interaksi yang dilakukan oleh manusia.

Ikhtiar Meningkatkan Probabilitas

Superposisi dalam fisika kuantum mengasumsikan bahwa suatu sistem berada dalam kombinasi beberapa keadaan potensial sekaligus, sampai terjadi interaksi yang menyebabkan collapse ke satu keadaan aktual. Sekalipun interaksi melibatkan berbagai unit dalam suatu sistem, namun unit yang paling berperan dalam mengambil keputusan adalah manusia, karena satu-satunya entitas yang memiliki free will. Artinya, manusia dapat memulai interaksi pada sistem dan meningkatkan probabilitas harapan untuk aktual. Meskipun jika sistem tersebut dipengaruhi oleh sistem yang lebih besar, tindakan manusia untuk berusaha adalah lebih baik daripada diam. Jika manusia diam, unit atau sistem lain akan mempengaruhi aktualitas kita, dan sangat mungkin menuju kepada keburukan. “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian (jika diam), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh (aksi dan interaksi).” (QS al-‘Aṣr: 1-3).

Dengan konsep ini, manusia memiliki pilihan untuk diaktualkan. Namun, pilihan yang diupayakan manusia tidak selalu dapat terwujud, karena sifatnya probabilistik. Dalam konsep superposisi, suatu sistem dipengaruhi dan mempengaruhi banyak hal. Perubahan dari potensi ke aktual tidak hanya melibatkan satu unit, melainkan seperangkat unit (sistem) yang saling terhubung, hingga membentuk keadaan konsisten. Oleh karena itu, kebebasan manusia sebenarnya terbatas. Di sisi lain, manusia bebas bertindak, namun hasilnya mengikuti probabilitas yang linier dengan usaha yang dilakukan. Oleh karena itu, Allah tidak pernah melihat sesuatu dari hasil, melainkan dari upaya.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.”(Al ‘Imrān: 159)

Sekarang kita telah memahami bahwa Allah menyediakan berbagai kemungkinan tak terbatas, semuanya tidak kita ketahui (ghayb) dan hanya satu yang dapat kita ketahui, yaitu apa yang kita aktualkan. Ikhtiar bukan sekedar memilih baik dan buruk, tapi juga memperbesar probabilitas hasil baik yang akan kita dapatkan. “…Manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya; dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya); kemudian akan diberi balasan dengan balasan yang paling sempurna.” (QS al-Najm: 39-41). Seseorang yang mendapati usahanya dengan hasil yang memuaskan, maka hendaknya bersyukur. Adapun yang mendapati hasil di bawah harapan, maka dapat disikapi dengan cara terbaik, yaitu dengan qanā’ah.

Referensi

Dourdent, H. (2025). A brief introduction to quantum metaphysics. Département de Physique des Particules, CEA Paris-Saclay. https://irfu.cea.fr/dphp/Phocea/file.php?file=Seminaires/5391/Dourdent_quantum_foundations_Irfu2025.pdf 

Hughes, C., Isaacson, J., Perry, A., Sun, R.F., Turner, J. (2021). Introduction to superposition. In: Quantum computing for the quantum curious. Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-030-61601-4_1 

Muller, F.A. (2023). The influence of quantum physics on philosophy. Found Sci, 28, 477–488  https://doi.org/10.1007/s10699-020-09725-6

Othman, A. (2025). Superposition states and Qur’anic concepts of the “unseen” (Al- Ghayb): An interdisciplinary analysis. Research Gate. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.34716.81286 

Yin, P., & Sun, J. (2021). Is causation deterministic or probabilistic? A critique of Frosch and Johnson-Laird (2011). Journal of Cognitive Psychology33(8), 899–918. https://doi.org/10.1080/20445911.2021.1963265