Syi’ar

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025

Ketika cemas melanda : Islam is the golden way

Rumiani
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Kecemasan (anxiety) menjadi sebuah fenomena yang marak terjadi di semua kalangan dan mengalami tren peningkatan yang sangat tajam. Sebuah pernyataan yang dirilis oleh American Psychologist Association (APA) menyebutkan bahwa selama pandemi covid-19, fenomena kecemasan mengalami peningkatan yang sangat tajam pada usia dewasa, anak muda, dan orang tua (dimana aktivitas dilakukan mayoritas di rumah bersama anak-anak). Kecemasan adalah kondisi yang dicirikan dengan tekanan, pikiran khawatir, dan perubahan fisik. Sehingga kondisi orang yang mengalami kecemasan biasanya mengalami perubahan pada kondisi emosi, kognitif, fisik, dan perilaku. Gejala emosional kecemasan antara lain  mudah marah, gelisah, rasa takut, dan panik. Gejala pikiran muncul dalam bentuk sulit berkonsentrasi, khawatir berlebihan, dan pikiran obsesif. Gejala fisik antara lain denyut jantung meningkat, ketegangan otot, peningkatan pernafasan, percepatan pencernaan, serta kelelahan. Beberapa gejala perilaku adalah perilaku penghindaran sumber kecemasan. 

Cemas secara fitrah sebenarnya wajar karena bagian dari kewaspadaan. Kecemasan pada dasarnya dilandaskan pada perilaku berorientasi masa depan (future oriented), respon jangka panjang, namun hanya fokus pada ancaman saja, tanpa melihat sisi lain seperti peluang dan harapan. Inilah yang menjadikan kecemasan sebagai kondisi yang mengkhawatirkan karena hanya fokus pada ancaman, mengabaikan hal-hal positif seperti sumber daya dan peluang. Selain dampak jangka pendek yang muncul dalam gejala-gejala yang sudah disampaikan sebelumnya, kecemasan yang tidak tertangani dengan baik dapat berakibat serius, bahkan mengarah pada gangguan jiwa yang lebih berat seperti gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik, fobia, OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

 Kecemasan menjadi destruktif ketika seseorang tidak mampu mengendalikan; baik dari sisi pikiran, emosi, dan perilaku. Perspektif Islam menyebutkan beberapa istilah yang merujuk pada tingkatan kondisi cemas ini, seperti khauf,  halu’a dan jazu’ah. Khauf adalah rasa cemas yang relatif wajar. Dalam konteks positif, khauf biasanya digunakan untuk menggambarkan relasi manusia dan Allah SWT. Khauf adalah perasaan cemas  akan murka Allah, hal ini menjadi sesuatu yang sangat wajar. Khauf yang diiringi dengan perasaan harap (roja’) akan rahmat Allah SWT merupakan sifat yang dimiliki seorang muslim. 

Saleh (2022) menyebutkan halu’a adalah sering gelisah, ketidakmampuan mengendalikan reaksi terhadap sesuatu yang buruk dan baik. Sedangkan jazu’ah adalah ketidaksabaran dengan berbagai reaksi. Baik halu’a dan jazu’a memberikan gambaran sisi kejiwaan manusia yang rentan pada kecemasan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur’an surat al-Ma’arij ayat 19 “sungguh manusia diciptakan dalam keadaan suka berkeluh kesah.”

Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa manusia memang sangat rentan untuk mengalami kecemasan. Namun hal ini bukan suatu kondisi yang menjadi pemakluman bagi manusia untuk senantiasa merasa cemas. Kecemasan secara fitrah dimanfaatkan untuk kewaspadaan, meningkatkan hubungan yang baik dengan Allah SWT sehingga akan terwujud hubungan yang seimbang baik dengan Allah SWT, manusia, dan lingkungan.

Menyadari bahwa manusia rentan mengalami kecemasan maka sudah sewajarnya manusia mengembangkan strategi mengelola kecemasan tersebut. Islam, sebagai agama dalam makna sebenarnya, telah “menyediakan” strategi tersebut. Allah SWT Yang telah menciptakan manusia, tentu saja Ia sangat paham bagaimana manusia dengan segenap kecenderungan positif dan negatifnya. Allah menurunkan islam kepada manusia sebagai pedoman menjalani kehidupan dengan tepat dengan mempertimbangkan segenap potensi yang dimiliki manusia. Sehingga jika ingin mencari strategi yang tepat dalam mengatasi kecemasan adalah mencari dalam agama Islam. 

Bagaimanakah cara islam yang luar biasa untuk membantu manusia mengatasi kecemasannya. Allah SWT memerintahkan manusia dengan segenap peribadatan seperti salat, puasa, dzikir, sedekah, berbuat baik kepada manusia dan sekitarnya dalam “kemasan wajib”. “Kemasan wajib ini sebenarnya sebuah ungkapan bahwa manusia akan sangat membutuhkan hal tersebut untuk menjalani kehidupan. Karena secara logis, Allah SWT tidak memerlukan ibadah yang dilakukan manusia. Dalam bahasa alquran meskipun seluruh manusia beriman atau kafir maka hal tersebut sama saja bagi-Nya; tidak akan membuat kekuasaan-Nya bertambah atau berkurang. Memahami hal ini menjadi sangat penting agar ibadah diposisikan sebagai kebutuhan dan sebagai perangkat bagi manusia menjalani kehidupan secara tepat termasuk bagaimana mengatasi kecemasan.  

Secara garis besar pedoman islam dalam mengatasi kecemasan ini telah termaktub di dalam alquran. Ajaran islam agar manusia mengembangkan segenap akhlakul karimah seperti memunculkan rasa syukur, rasa cukup (qana’ah) bersikap tenang adalah penangkal dalam menghadapi kecemasan. Akhlakul karimah memerlukan waktu agar terbentuk sehingga harus dibiasakan sebagai sikap hidup seorang muslim. Di samping akhlakul karimah, peribadatan dalam islam merupakan “brief theraphy” dalam menghadapi kecemasan. Salat, doa, dzikir adalah beberapa di antara “brief theraphy” mengatasi kecemasan. Penulis memasukkan dalam kelompok brief therapy karena sifatnya yang sangat praktis dan dapat dilakukan oleh setiap orang, setiap waktu. Menerapkan hal ini secara tidak langsung memposisikan manusia juga sebagai self–healer bagi dirinya, kapanpun ia memerlukan. 

Ueda (2024) mengemukakan bahwa berdoa, meditasi telah terbukti mengaktivasi sistem saraf dan hormonal untuk memunculkan rileks pada saat manusia dalam keadaan cemas. Berdoa misalnya akan membantu mengelola pernafasan yang berujung pada pelepasan serotonin. Serotonin merupakan neurotransmitter yang akan menekan kecemasan. Penelitian dokter Sholeh terkait kebiasaan sholat tahajud juga membuktikan terjadinya penurunan kadar kortisol (hormone stress). 

Memahami hal tersebut diatas maka membiasakan diri dengan sifat, perilaku, dan peribadatan yang baik akan memunculkan otomatisasi pada manusia dalam menghadapi kecemasan. Salat, dzikir, berdoa akan membantu manusia dalam mengurangi kecemasan secara efektif. 

Referensi

Anxiety. https://medlineplus.gov/anxiety.html#:~:text=Anxiety%20is%20a%20feeling%20of,Phobias.

Anxiety. https://www.apa.org/search?osQuery=anxiety

Saleh, M. 2022. Makna kata halu’a dan jazu’a dalam al-Qur’an dan relevansinya dengan psikosomatis (Kajian tafsir tematik kontekstual). https://repository.uin-suska.ac.id/64388/

Ueda,S. 2024. Neurobiological link between prayer, breath control and serotonin release. International journal on research and archives. DOI: https://doi.org/10.30574/ijsra.2024.13.2.2136