Syiar
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025
Menafsir Fenomena Nostalgia: Jejak Jiwa Yang Tak Lekang
Fani Eka Nurtjahjo
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Entah mengapa, seiring bertambahnya usia, kita semakin sering menoleh ke belakang. Ada kehangatan di masa lalu yang seolah tidak tergantikan di masa kini. Sebagai contoh, orang dewasa cenderung senang mendengarkan lagu-lagu yang pernah hits di zaman mudanya dulu, ketimbang mendengarkan lagu-lagu baru (bagi mereka yang masih senang mendengarkan musik). Beberapa terkadang suka menelusuri diri melalui foto/ video masa kecil/ remaja yang membawa rasa hangat didalam hati. Beberapa lainnya justru senang dengan aktivitas reuni dengan teman-teman lama semasa sekolah/ kuliah. Bagi orang dewasa, membicarakan bagian dari memori menyenangkan di masa kecilnya dulu menjadi momen membahagiakan yang bisa diceritakan kepada generasi yang datang setelahnya.
Nostalgia dalam kacamata psikologi barat di awal abad 20-an dianggap sebagai gangguan pskiatri, yang ditandai gejala insomnia, kecemasan, dan kesedihan. Lalu pada pertengahan abad 20-an terjadi pergeseran makna nostalgia, yaitu keinginan untuk kembali ke fase masa lampau kehidupan seseorang, tetapi masih tetap masuk ke dalam kategori gangguan represif kompulsif. Kemudian nostalgia diturunkan lagi menjadi varian depresi yang ditandai dengan munculnya rasa kehilangan dan kesedihan, serta kerinduan (homesick). Baru pada akhir abad 20-an, studi lebih lanjut menunjukkan bahwa nostalgia dan kerinduan memiliki makna yang berbeda. Kerinduan (homesick) lebih banyak terjadi pada remaja akhir yang mengalami kecemasan saat mulai hidup terpisah dari orangtua, sementara nostalgia bisa terjadi di hampir semua tahapan usia, dari berbagai lintas budaya. Sedikides et al. (2008) kemudian mendefinisikan nostalgia sebagai kerinduan sentimental terhadap masa lalu seseorang.
Kecenderungan manusia untuk menelusuri masa lalu ini bukan tentang mengenang kembali kenangan-kenangan buruk/ traumatik. Tetapi lebih pada memandang periode masa lalu sebagai sebuah kejadian utuh, dengan segala suka dan duka yang terjadi di dalamnya. Ada semacam kerinduan yang ingin selalu diulang. Beberapa mungkin melakukan refleksi mendalam dengan menuliskan jurnal bertema, andai aku bisa bicara pada diriku di masa lalu. Nostalgia bukan sekedar rindu akan masa lalu, tetapi merupakan refleksi atas pencarian makna dan keberlanjutan diri, kerinduan manusia pada fitrah asalnya.
Sebuah riset neurosains yang dilakukan oleh Piolino et al. (2009) mendapatkan temuan menarik, bahwa ternyata otak manusia memiliki kemampuan untuk mengingat kembali pengalaman masa lalu mereka, tidak sekedar menyimpan informasi semata. Ingatan yang disebut sebagai episodic memory ini dapat dirasakan seolah-olah ‘mengalami kembali’ masa-masa itu. Untuk dapat mengaktifkan episodic memory, seseorang bergantung pada kesadaran diri bahwa pengalaman tersebut memang miliknya, artinya pernah ia alami sendiri. Kemudian seseorang juga membutuhkan kesadaran untuk melompat ke ingatan tersebut dan ‘menghidupkan’ kembali di dalam pikiran. Kesadaran lain yang dibutuhkan untuk mengulang episodic memory adalah memahami betul alur dan kapan peristiwa tersebut terjadi dalam hidup kita. Untuk bisa mengakses episodic memory, melibatkan banyak bagian otak untuk melakukan constructive autobioligical memory. Kemampuan melakukan perjalanan ke masa lalu merupakan salah satu fungsi otak yang berkembang paling akhir dalam kehidupan manusia, yaitu pada masa dewasa muda. Namun, menjadi yang paling pertama menurun saat terjadi penuaan atau gangguan amnesia.
Dari riset Piolono et al. (2009) kita belajar mengapa manusia, semakin dewasa mereka, semakin sering melakukan nostalgia. Tetapi saat di usia tua, manusia bisa mengalami gangguan memori, sehingga kemampuan untuk pergi ke masa lalu secara sadar juga perlahan memudar. Hal tersebut menjelaskan mengapa penderita demensia seringkali justru kembali pada kenangan yang paling bermakna dalam hidupnya. Ingatan yang tersisa biasanya adalah kenangan yang dirasa memiliki makna mendalam dan emosional, seperti kembali ke masa muda, keluarga masa kecil, masa-masa awal membentuk keluarga, atau momen spiritual penting lainnya. Dalam keadaan penurunan kemampuan ini, jiwa manusia seolah-olah mencari jalan pulang dengan cara menelusuri bagian dalam hidupnya yang paling memberi arti pada diri.
Dalam perspektif Psikologi Islam, nostalgia bisa diartikan sebagai bentuk kerinduan manusia pada asalnya, yaitu fitrah. Manusia, sebagai pengembara di dunia, pada hakikatnya tahu bahwa jiwanya tidak akan selamanya tinggal di masa kini. Sebagian bentuk nostalgia, jika mau ditarik ke masa yang lebih jauh, bisa jadi merupakan kerinduan batin pada “asal mula”-nya dahulu, yaitu tempat dimana ruh pernah bersaksi pada Penciptanya.
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَاۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ ١٧٢
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,” (Al-A’raf: 172)
Manusia melakukan nostalgia sebagai upaya untuk mencari makna dari masa lalu. Bisa juga sebagai bentuk coping terhadap ketidakpastian yang ia alami di masa kini. Namun dari pembahasan kali ini, kita memahami bahwa perilaku mengingat masa lalu (nostalgia) adalah bentuk manifestasi dari dinamika jiwa manusia dalam mencari jalan pulang. Jalan dimana ia menemukan ketenangan yang hakiki, serta tempat dimana jiwa mengenali Tuhannya.
Seorang filsuf muslim, Ibn Miskāwaih menyebutkan bahwa manusia sempurna adalah mereka yang tidak beranggapan bahwa hidup bertujuan untuk mencari kenikmatan inderawi semata, karena hal tersebut bukanlah puncak dari kebahagiaan sejati (Rozi, 2022). Manusia yang menuju kesempurnaan adalah mereka yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dari waktu ke waktu (Rozi, 2022). Nostalgia yang kita rasakan bukan sekadar rindu akan masa lalu atau kenangan manis semata, melainkan sebuah jejak jiwa yang mengundang kita untuk menoleh kembali kepada “Asal”-nya.
Dalam kerangka pemikiran Ibn Miskāwaih, manusia yang sempurna ialah mereka yang menempatkan kenikmatan inderawi sebagai pintu, bukan tujuan akhir, kemudian melalui proses penyucian (tazkiyah) dan pengaktifan akal, mereka tertuntun ke sebuah kesadaran akan keberadaan Ilahi yang Esa (Fauzani, 2025). Dengan demikian, ketika kita mengenang masa lalu yang penuh makna (bukan hanya sebagai pelarian), momen nostalgia itu dapat menjadi jembatan spiritual: menghubungkan diri kita yang terbatas dengan Sumber Kesempurnaan yang tak terbatas. Karena itu, nostalgia yang terkandung dalam jiwa bisa menjadi jalan menuju Allah. Hal ini bukan berarti menggantungkan harap pada kenangan itu sendiri, melainkan menjadikannya guru yang mengajarkan bahwa segala kebahagiaan sejati datang dari kedekatan kepada-Nya dan pengaktifan akal serta hati yang selaras dengan firman-Nya.
Melalui pembelajaran ini, kita mengetahui bahwa nostalgia bukanlah fenomena sepele, tetapi sesuatu yang punya makna lebih dalam dan filosofis. Jika untuk mengingat kejadian masa lalu semasa hidup saja membutuhkan kesadaran di tingkat neurologis, maka mengingat kembali asal usul manusia tentu membutuhkan tingkat kesadaran jiwa yang lebih tinggi lagi melalui petunjuk Allah. Kesadaran jiwa yang terhubung dengan petunjuk Ilahi membuka jalan bagi manusia untuk memahami bahwa kerinduan pada masa lalu sejatinya adalah kerinduan untuk kembali pada Sang Pencipta. Ketika kita mengenang masa lalu, jangan lupa bahwa itu terhubung dengan eksistensi manusia yang lebih dalam, serta hikmah jejak jiwa yang tak lekang oleh waktu. Wallahu a’lam bishshowab.
Referensi
Fauzani, M. (2025). Konsep jiwa perspektif Ibnu Miskawaih. Mazalat: Jurnal Pemikiran Islam, 6(2), 19–29. https://doi.org/10.64367/m-jpi.v6i2.26
Rozi, F. (2022). Manusia perspektif Ibn Miskāwaih. Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat, 3(1). https://journal.uinjkt.ac.id/paradigma/article/view/27368/10704
Sedikides, C., Wildschut, T., Arndt, J., & Routledge, C. (2008). Nostalgia: Past, present, and future. Current Directions in Psychological Science, 17(5), 304–307. https://doi.org/10.1111/j.1467-8721.2008.00595.x


