Syi’ār

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025

Membangun Etos Kerja Islam dalam Akademik dan Profesional Mahasiswa

Mira Aliza Rachmawati
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Pengantar

Peran mahasiswa sangat beragam, diantaranya adalah peran sebagai anak, peran sebagai anggota komunitas, peran sebagai anggota organisasi, peran sebagai hamba dan juga peran sebagai mahasiswa itu sendiri. Diantara semua peran tersebut, peran yang paling penting adalah peran sebagai mahasiswa. Peran sebagai seorang mahasiswa maka ia harus giat belajar, berprestasi, mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya, mengatur waktu dengan baik, bersungguh-sungguh dalam melakukan aktivitas maupun kegiatan, bertanggung jawab atas semua keputusan yang diambilnya. 

Namun demikian, peran menjadi mahasiswa memiliki banyak tantangan, diantaranya adalah tantangan profesionalisme dalam bekerja serta tantangan moral yang semakin marak terjadi. Kemudahan dalam akses AI untuk mengerjakan tugas kuliah memberikan kemudahan bagi mahasiswa tanpa memahami tugas yang dilakukan dengan baik. Selain itu, dalam pengerjaan tugas kelompok mahasiswa hanya titip nama saja dan seolah-olah ia ikut mengerjakan tugasnya tanpa terlibat secara langsung dalam mengerjakan tugas tersebut. Kedua fenomena tersebut merupakan contoh tantangan moral yang terjadi di lingkungan mahasiswa. Sedangkan tantangan profesional yang marak terjadi pada mahasiswa seperti sering datang terlambat ketika perkuliahan, tidak memiliki komitmen dalam mengerjakan tugas kelompok, tugas yang dikerjakan hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban, tidak bertanggung jawab terhadap tugas yang menjadi tanggung jawabnya. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa menurunnya etos kerja pada diri mahasiswa, dimana mahasiswa merasa malas dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah, kurang disiplin terhadap waktu perkuliahan, menunda mengerjakan tugas atau prokrastinasi, kurang bertanggung jawab terhadap setiap aktifitas atau pekerjaan yang sudah diamanahkan kepadanya dan lain sebagainya. Oleh karena itu perlu kiranya membangun pondasi yang kuat agar mahasiswa terhindar dari rasa malas dalam bekerja, kurang bersungguh-sungguh, kurang komitmen dan perilaku negative lainnya. Etos kerja Islam memberikan pondasi yang kuat bagi mahasiswa agar mahasiswa dapat bekerja secara profesionalisme dan memiliki moral yang kuat bagi mahasiswa.

Etos kerja Islam berakar dari ajaran yang ada di Al Qur’an dan juga hadist Nabi dimana penekanannya adalah pada kerja keras, kejujuran, komitmen, usaha yang kuat, tanggung jawab, serta niat yang ikhlas karena mencari keridhoan dari Allah SWT. Study yang dilakukan oleh Sulastri (2019) ditemukan bahwa etos kerja Islam dapat meningkatkan motivasi kerja intrinsik serta budaya organisasi pada mahasiswa di Bandung. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Daliman (2021) didapatkan hasil bahwa etos kerja Islam berhubungan dengan kesejahteraan secara umum pada mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa etos kerja Islam memiliki dampak yang positif terhadap semua aspek akademik pada diri mahasiswa. Oleh karena itu perlu kiranya mahasiswa untuk memiliki etos kerja Islam. 

Etos Kerja Islam sebagai Landasan dalam Membangun Kehidupan Akademik dan Professional pada Mahasiswa

Islam memberikan tuntunan yang jelas dalam kehidupan manusia yang berlandaskan pada Al Qur’an dan hadist Nabi. Etos kerja Islam menjadikan mahasiswa melakukan aktivitas akademik sebagai bentuk ibadah kepada Nya dan sebagai sarana untuk mencari keridhoan dari Allah SWT. Hakikat etos kerja Islam yang dapat ditemukan dari berbagai sumber atau literatur. 

Pertama adalah niat, segala aktivitas akademik sebaiknya dilakukan dengan niat untuk mencari keridhoan dari Allah SWT. Niat termaktub dalam hadits dari Rasulullah yang berbunyi: 

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّات

Artinya: Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya”(HR Bukhari dan Muslim). 

Dalam konsep psikologi, niat mengacu pada istilah intensi yang dijelaskan oleh Ajzen (1991) yang menjelaskan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh niatnya, yang dipengaruhi oleh tiga hal yaitu sikap terhadap perilaku, norma subyektif dan kontrol terhadap perilaku. Keterkaitan konsep niat dari Ajzen akan dijelaskan satu persatu akan dikaitkan dengan konsep Islam. Poin pertama, ketika seseorang memiliki sikap yang positif terhadap perilaku akan mempengaruhi niatnya dalam melakukan sesuatu, ketika ia memandang bahwa belajar adalah suatu ibadah, maka ia akan bersungguh-sungguh sehingga akan mempengaruhi niatnya untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Poin kedua adalah norma subyektif dalam hal ini adalah tekanan sosial. Ketika lingkungan menuntutnya untuk menggunakan norma-norma Islam dalam bekerja, maka akan mempengaruhi dirinya dalam bekerja dengan etos kerja Islam yang tinggi. Misalkan ketika lingkungan kampus menuntutnya untuk bekerja dengan integritas yang tinggi, maka mahasiswa akan bekerja sesuai dengan tuntutan kampusnya. Poin ketiga adalah kontrol terhadap perilaku, dimana persepsi dirinya akan mempengaruhinya dalam mengendalikan perilaku. Pada saat mahasiswa memiliki keyakinan diri yang kuat bahwa ia dapat bekerja dengan sungguh-sungguh maka  ia akan bersungguh-sungguh dalam melakukan kegiatan. Ketika mahasiswa yakin bahwa Allah akan memberikan pertolongan dalam setiap aktivitas yang dilakukan, maka mahasiswa akan menghadapinya dengan penuh optimis meskipun banyak tantangan yang dihadapinya. 

Kedua adalah keunggulan. Mahasiswa sebaiknya melakukan aktivitas akademik maupun profesional dengan penuh kesungguhan untuk mencapai kesempurnaan. Hal ini sesuai dengan ajaran Al Qur’an dalam surat At Taubah ayat 105

فَوَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dalam hal apapun, termasuk dalam akademik maupun professional. Sebab apa yang dilakukan oleh manusia di bumi akan dilihat oleh Allah dan juga Rosulullah SAW serta akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat nanti. Oleh karena itu, seorang mahasiswa dalam melakukan tugas dan aktivitas akademik maupun profesional dengan sebaik-baiknya dalam upaya mencapai kesempurnaan. Sebab akan ada pertanggungjawaban kelak ketika pada hari kiamat serta semua amal perbuatan manusia di dunia akan mendapatkan balasan yang setimpal. Sebaiknya, dalam bekerja hanya semata-mata untuk Allah serta mencari keridhoaan-Nya. Selain itu, dalam bekerja sebaiknya memberikan manfaat untuk umat manusia di muka bumi bukan hanya berorientasi pada hasil atau mendapatkan penilaian dari orang lain atau dosen atau pimpinan semata. 

Ketiga adalah amanah. Amanah menurut KBBI adalah kejujuran, kerabat, titipan, mandat, kewajiban kepada Allah. Amanah artinya dapat dipercaya, seorang mahasiswa mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan baik serta dapat dipertanggungjawabkan dan jujur dalam setiap perkataan maupun perbuatan. Amanah merupakan nilai moral yang harus dijaga oleh mahasiswa dalam kaitannya dengan kerja akademik maupun professional. Amanah dalam hal akademik maupun professional diantaranya adalah jujur dalam menjalankan tugas sebagai seorang mahasiswa, misalkan mengerjakan tugas sendiri, tidak titip absen, tidak mencontek, tidak melakukan plagiasi tugas, tidak menggunakan AI dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah, bertanggung jawab dalam setiap kegiatan yang dilakukannya. 

Keempat adalah pertanggungjawaban. Sebaiknya mahasiswa bertanggung jawab terhadap setiap kegiatan serta keputusan maupun komitmen yang diambil baik aktifitas yang berhubungan dengan akademik maupun profesional. Pada saat mahasiswa melakukan kegiatan akademik maupun professional dengan bersungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab serta menyenangi pekerjaan yang dilakukan maka akan membentuk etos kerja yang tinggi pada diri mahasiswa. Apalagi bila mahasiswa memahami bahwa setiap kegiatan atau aktifitas akan mendapatkan pertanggungjawaban baik di dunia maupun akhirat maka membuat mahasiswa akan dengan jujur, sungguh-sungguh dalam melakukannya. Sebab pertanggungjawaban yang dilakukan oleh mahasiswa bukan hanya berhubungan dengan sesama manusia namun juga pada Allah SWT yang meliputi unsur horizontal maupun vertikal. 

Selanjutnya adalah kolaborasi. Firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2:

 وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. 

Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dituntut untuk melakukan tolong menolong dalam kebaikan serta ketaqwaan, dalam Islam disebut dengan prinsip ta’awun. Ta’awun mendorong mahasiswa untuk bekerja keras dalam setiap aktifitas yang dilakukan serta bertindak produktif namun dilakukan dalam konteks kerjasama. Kerjasama untuk meraih tujuan bersama dan mulia serta meraih kebermanfaatan dari kerjasama yang dihasilkan terutama kebermanfaatan bagi umat. Dalam konteks akademik, kerjasama yang dimaksudkan seperti belajar bersama, menyelesaikan tugas kelompok, berbagi pengetahuan dengan teman mahasiswa lainnya dalam rangka memperkuat keilmuan yang didapatkan, termasuk menjalin kerjasama dengan dosen maupun dengan teman di luar kampusnya untuk mendapatkan wawasan yang mendalam, terlibat dalam penelitian maupun pengabdian masyarakat di lingkungan kampusnya baik dengan dosen maupun teman-teman mahasiswa lainnya. 

Penutup

Etos kerja Islam sangat dibutuhkan pada mahasiswa, sebaiknya mahasiswa melakukan aktivitas akademik maupun profesional dengan sungguh-sungguh, jujur, kerjasama, komitmen,  memiliki integritas yang tinggi, amanah, disiplin, mencapai kesempurnaan dalam setiap aktivitas akademik maupun professional dan melakukan aktivitas hanya untuk meraih keridhaan dari Nya. Selain itu, niatkan semua aktivitas akademik maupun professional hanya untuk beribadah dan ridho Nya sehingga ketika kita mengalami kegagalan akan membuat kita tidak mudah putus asa karena kita selalu menyandarkan kepada Allah Yang Maha Kuasa. 

Referensi 

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T

Daliman, D. (2021). Ethical conduct-do and general well-being among university students, moderated by religious internalization: An Islamic perspective. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi, 6(2), 37–54. http://dx.doi.org/10.23917/indigenous.v6i2.14886

Sulastri, L. (2019). Islamic work ethic in Islamic college in Indonesia: The role of intrinsic motivation, organizational culture and performance. In Proceedings of the 10th Business & Management Conference (pp. xx–xx). International Institute of Social and Economic Sciences (IISES). ISBN 978-80-87927-88-5.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (n.d.). Amanah. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/amanah

Nahdlatul Ulama Jawa Tengah. (n.d.). Niat penentu amal perbuatan. https://jateng.nu.or.id/keislaman/niat-penentu-amal-perbuatan-c3xT3