Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025

Seni bahagia: saat hati belajar berserah kepada Allah

Qurotul Uyun
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

 قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluaannya.   Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS Ath-Thalaq (65): 3).

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

  

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (QS Ali Imran (3): 160).

 

Pengantar 

Kita semua pasti mendambakan kebahagiaan, tapi siapakah sebenarnya yang sungguh-sungguh merasa bahagia. Biasanya kita menganggap bahwa kebahagiaan selalu terkait dengan hal-hal yang menyenangkan hati kita, misalnya pada saat meraih prestasi, atau pun memperoleh semua harapan dan cita-cita hidupnya. Pada saat seseorang memenangkan sesuatu misalnya menjadi juara, maka berarti dia adalah orang yang sukses dan bahagia, pihak yang kalah dianggap sebagai pihak yang tidak beruntung atau tidak sukses dibandingkan sang juara. Seperti di dunia pendidikan kita, kebanyakan orang tua menginginkan anaknya menjadi juara kelas sehingga dapat menjadi kebanggaan orangtua dan gurunya. Akibatnya tujuan utama belajar adalah menjadi juara, bukan lagi menghargai proses belajar sebagai hal penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Kesuksesan hanya diukur dengan hal-hal yang bersifat kognitif, formalistik, dan yang bersifat duniawi. 

Keadaan lain yang menunjukkan keterbatasan cara pandang manusia adalah ketika orang tertimpa musibah akan dianggap sebagai orang yang celaka, sedang orang yang selamat dari musibah dikatakan sebagai orang yang beruntung. Akibatnya orang yang terkena musibah merasa bahwa dirinya merupakan orang yang paling sengsara dan menjadikan hatinya sedih berkepanjangan. Orang yang selamat kadang merasa sombong bahwa dia orang yang beriman sehingga diselamatkan oleh Allah. Padahal kesombongan meskipun sedikit akan mengotori jiwa manusia, sehingga dapat menyebabkan penyakit hati. Kesombongan juga dapat muncul dari keinginan untuk dianggap sukses di masyarakat. Kesuksesan pun sering dinilai dari kepemilikan, seperti kekayaan dan kedudukannya di masyarakat.  Pemilikan harta yang berlimpah, kedudukan terhormat, gelar akademik sering dilihat orang sebagai kebahagiaan dan kesuksesan hidup. Akibatnya orang berlomba-lomba mengejar kekayaan dan jabatan agar dikatakan sukses. Bahkan manusia mengejar-ngejar harta dengan cara-cara zalim, sehingga terjadi ketidakadilan dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain. 

Refleksi

Ketika orang memandang hidup dengan cara seperti itu, maka manusia akan mudah mengalami kegoncangan jiwa sehingga dapat berakibat pada ancaman kesehatan mental mereka. Pandangan tersebut dapat menyebabkan manusia selalu cemas menghadapi persoalan hidup karena mereka tidak akan mampu menghindari permasalahan. Banyak peristiwa hidup yang dapat memicu tekanan pada diri individu, seperti kematian orang yang dicintai, perpisahan, pertengkaran, bencana, penyakit. Bahkan peristiwa yang menyenangkan pun dapat menjadi pemicu tekanan jiwa, seperti perkawinan juga dapat menyebabkan orang merasa tertekan. Betapa rentannya manusia, karena tidak mampu sedikit pun menghindari kejadian-kejadian yang akan mempengaruhi kehidupan mereka. Padahal di hadapan Allah kesenangan dan kesengsaraan adalah hal yang sama, anugerah dan bencana bukan berarti apapun karena yang membedakan adalah bagaimana sikap mereka terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya. Apakah mereka bisa bersyukur ketika mendapat keberuntungan atau malah menjadi kufur nikmat atau menjadi sombong bahwa dirinyalah yang paling hebat. Orang sering merasa bahwa dirinyalah yang menyebabkan keberhasilan atas diri mereka sehingga melupakan bahwa di dalamnya ada kehendak Allah. Sebaliknya apakah mereka yang mendapatkan kesengsaraan menjadi putus asa dan frustasi atau tetap bersabar sehingga dapat mencari hikmah terhadap apa yang terjadi pada dirinya. 

Kesabaran merupakan kunci kesuksesan bagi orang yang ditimpa kesedihan. Kesabaran merupakan inti ketaqwaan, sehingga jangan mengaku bertaqwa ketika belum bisa bersabar dalam menghadapi kesempitan hidup. Allah berfirman bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Ketaqwaan merupakan tolok ukur derajat tertinggi manusia, jadi bukan harta benda, gelar, status yang menjadikan orang itu mulia. Orang yang kaya dan miskin di hadapan Allah sama saja, kecuali keadaan tersebut menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepadaNya. Si kaya dapat memanfaatkan kekayaannya sebagai sarana beribadah kepada Allah menjadikannya mulia di sisi Allah sama halnya orang yang miskin tetapi bersabar sehingga semakin mendekatkan dirinya kepada Allah. 

Menjadi juara atau tidak bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, bahkan sekalipun manusia itu melakukan kesalahan bukan tolok ukur kehinaan seseorang.  Hal yang membedakan kebaikan manusia adalah reaksi terhadap sesuatu yang telah terjadi. Kebaikan akan didapat jika dia dapat belajar dari kesalahan yang telah dilakukan dan mencoba mencari hikmah terhadap setiap hal-hal negatif yang menimpa dirinya. Kebaikan juga akan didapat ketika manusia pandai mensyukuri anugerah dan tidak sombong ketika berada dalam posisi kebenaran. Bukan peristiwa yang menyebabkan kebaikan dirinya, tetapi sikap dan perilaku dalam menghadapi peristiwa tersebut yang menentukan kebaikan dirinya. 

Allah lebih menyukai manusia yang berbuat kesalahan kemudian bertobat dibandingkan dengan manusia yang rajin beribadah tetapi sombong. Allah akan memberi petunjuk dan pertolongan kepada orang-orang yang berusaha mengembalikan semua persoalan hidup kepadaNya. Orang yang selalu berserah diri akan diberi petunjuk dan hatinya menjadi tentram, karena yang berhak mengubah keadaan hati manusia hanyalah Allah semata. Allah memberikan ketentraman hati bukan berdasarkan kekayaan materi dan ukuran yang bersifat duniawi, tetapi lebih kepada sejauh mana manusia itu percaya kepadaNya. Ketenangan jiwa merupakan anugerah bagi orang yang bertaqwa. Jika demikian halnya maka manusia yang bertaqwa tidak mungkin mengalami gangguan kejiwaan karena semua yang terjadi atas dirinya akan dikembalikan kepada Allah, sehingga semua persoalan akan diterima dengan penuh keikhlasan. Manusia yang bertaqwa merasa bahwa tidak ada kejadian di dunia ini tanpa izin dari Allah, manusia hanya diwajibkan untuk menjalani ketentuan Allah sebaik-baiknya dengan segenap penghambaan yang sempurna. Manusia yang mencapai keyakinan sempurna terhadap pengaturan Allah pasti terhindar dari kegelisahan dan kesedihan, sehingga akan senantiasa bahagia.

Menurut Ibnu Athaillah, manusia senantiasa berada dalam satu di antara 4 kondisi berikut: musibah, nikmat, maksiat, taat. Jika manusia berada dalam musibah, maka seharusnya dia bersabar, dan ketika mendapat nikmat maka dia bersyukur. Ketika dalam keadaan maksiat, bersegeralah taubat kembali kepadaNya, serta dalam ketaatan maka bersyukur dan ingatlah bahwa Allah yang memberikan ketaatan tersebut, sehingga terhindar dari kesombongan. Jadi bagi orang mukmin peristiwa apa pun tidak ada yang buruk, seperti disabdakan oleh Baginda Rasulullah Muhammad saw, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim). Wallahualam.

Click here to add your own text