Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 6 Juli 2026

Menjadi orang tua saleh, menumbuhkan anak saleh

Yulianti Dwi Astuti
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Setiap orang tua pasti mengharapkan anak yang saleh sebagai salah satu investasi untuk mendapat ridha Allah Swt. Namun, pada banyak kesempatan, kita sering mendengar keluhan orang tua tentang perilaku anak zaman “now” yang sulit untuk sholat tepat waktu, enggan mengaji, dan lebih sering menghabiskan waktunya untuk main game dan menggulir gadget-nya. Berbagai nasehat telah diberikan orang tua, begitupun fasilitas untuk mempermudah ibadah seperti perlengkapan ibadah yang bagus dan komplit, disediakan kendaraan untuk ke masjid, dicarikan guru les mengaji, dibelikan Al-Qur’an digital dan bacaan-bacaan Islami, namun anak tetap sulit berubah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Barangkali persoalannya bukan karena zaman yang berubah, nasehat yang kurang, atau fasilitas yang tidak memadai, namun karena kita lupa memberikan keteladanan pada anak. Jangan-jangan kita sibuk berusaha “memperbaiki” anak, tapi kita justru lupa “memperbaiki” diri sendiri.

Peran Orang Tua dalam Kesalehan Anak

Menjaga keturunan/keluarga adalah salah satu tujuan utama dari syariat Islam. Pendidikan dan pengasuhan anak bukanlah sekadar konsekuensi logis sebagai orang tua, melainkan amanah dari Allah Swt. yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Hal ini tercermin dalam ayat Al-Qur’an: 

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (At Tahrim: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua adalah menjaga dirinya dulu dari api neraka sebelum ia menjaga keluarganya dari api neraka. Oleh karenanya, ikhtiar membentuk anak yang saleh semestinya dimulai dari kesungguhan orang tua untuk memperbaiki dirinya sendiri.

Dalam hadits juga dinyatakan: 

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Bukhari No. 7138; Muslim No. 1829). 

Keteladanan Lebih Efektif Daripada Nasihat

Nabi Muhammad bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Bukhari No. 1358; Muslim No. 2658). 

Hadits ini menekankan pentingnya peran orang tua dalam pembentukan kepribadian anak. Kesalehan tentu tidak terbentuk secara otomatis pada diri anak. Ada proses panjang dan berliku yang mesti dijalani untuk mewujudkan hal ini, dan peran orang tua sangatlah penting.  

Para ulama dan pendidik muslim sering mengibaratkan orang tua/keluarga sebagai madrasatul ulaa’ atau sekolah pertama bagi anak. Keluarga merupakan tempat dimana anak paling banyak menghabiskan waktu untuk tumbuh dan berkembang. Jadi semestinya, ikhtiar pertama untuk menumbuhkembangkan kesalehan anak adalah dengan memperbaiki kualitas kesalehan orang tua/keluarga. Apabila kita menginginkan anak yang saleh, maka orang tua harus memberikan keteladanan terlebih dulu sebagai orang tua yang saleh.  Jika kita ingin anak kita rajin beribadah, maka orang tua harus rajin beribadah terlebih dulu sebagai contoh bagi anak. Jika kita ingin anak berakhlak mulia, maka contohkanlah akhlak mulia itu dalam perilaku sehari-hari orang tua.

Menariknya, temuan psikologi modern melalui Social Learning Theory dari Bandura juga menunjukkan bahwa manusia (terutama anak-anak) belajar terutama melalui mengamati (observasi), menirukan (imitasi), dan mengikuti model (modelling). Temuan ini sejalan dengan ajaran Islam mengenai pentingnya keteladanan dari orang tua/keluarga. Anak lebih banyak belajar dari apa yang dilihatnya daripada apa yang didengar atau diinstruksikan kepadanya. Termasuk di antaranya kesalehan akan lebih mudah dipelajari dan diikuti anak apabila diwujudkan melalui perilaku nyata orang tua, bukan sekedar nasihat yang diucapkan sampai berbusa-busa

Menjadi Orang Tua yang Saleh

Menjadi orang tua yang saleh membutuhkan usaha terus menerus untuk memperbaiki diri dengan mendalami ilmu agama. Sebagian orang menggambarkan sosok orang yang saleh sebagai orang yang hafal banyak kitab, sering mengisi ceramah agama, atau aktif mengikuti berbagai kegiatan di masjid. Hal ini tentu saja benar dan lebih baik, namun di mata anak kesalehan orang tua akan lebih mudah ditangkap dari bagaimana orang tua menghadirkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. 

Anak belajar tentang sholat ketika ia melihat orang tuanya selalu sholat berjamaah tepat waktu. Anak belajar tentang akhlak mulia ketika dalam keseharian ia menyaksikan bagaimana kedua orang tuanya saling menyayangi dan menghormati, selalu berkata jujur dan santun, tidak segan meminta maaf jika melakukan kesalahan, dan mau memaafkan orang lain. Kesalehan orang tua tidak berarti bahwa orang tua harus selalu menjadi sosok yang sempurna di mata anaknya. Orang tua yang saleh adalah mereka yang terus mendekatkan diri pada Allah, memperbaiki diri, bertobat jika keliru, dan berusaha untuk terus menjadi teladan bagi anak. Anak yang menyaksikan sikap dan perilaku orang tuanya secara berulang pelan-pelan akan menetapkan hal itu sebagai standar perilaku bagi dirinya sendiri. Dengan contoh langsung yang diberikan dalam keseharian, anak akan lebih mudah menerapkan ajaran orang tua karena mereka adalah role model bagi anak.

Kesalehan Orang Tua Tidak Menjamin Anak Pasti Saleh

Kesalehan orang tua memiliki pengaruh yang kuat pada perkembangan anak, namun setiap anak tetap memiliki tanggung jawab dan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Kesalehan orang tua tidak menjamin anaknya pasti saleh juga hanya karena mereka memiliki hubungan biologis. Al Quran mencontohkan bagaimana nabi Ya’kub berhasil mendidik anak-anaknya sehingga menjadi anak yang tetap menjaga ketauhidannya (QS Al Baqarah: 132-133). Namun variasi yang berbeda juga ditunjukkan Allah Swt. Ada orang tua yang soleh seperti Nabi Nuh, namun anaknya tidak mau beriman (QS. Hud: 42-46), atau sebaliknya ada anak juga yang soleh seperti Nabi Ibrahim walaupun ayahnya adalah seorang musyrik (QS. Maryam:41-46). Variasi-variasi ini menunjukkan bahwa kesalehan orang tua bukanlah jaminan mutlak bagi kesalehan anak. Meskipun demikian, memberi keteladanan ini merupakan ikhtiar terbaik yang dapat dilakukan orang tua. Oleh karena itu, jangan hanya berharap agar anak dekat dengan Allah, tapi dekatkan dulu diri kita kepada Allah dan jadilah teladan bagi anak. Semoga Allah memudahkan jalan anak kita menjadi hamba yang saleh. Aamiin