Syi’ār
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 5 Juli 2026
Latihan jiwa menurut Abū Zaid al-Balkhī
Ahmad Rusdi
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Manusia modern saat ini dihadapkan pada ketidakpastian, tekanan ekonomi, kecemasan perang, paparan informasi, dan intensitas interaksi digital yang mungkin berdampak pada kesehatan mental individu. Abū Zaid al-Balkhī yang hidup pada abad ke-9 telah memperkenalkan konsep ṭibb al-nufūs (kedokteran jiwa) untuk mengurai dasar dan prinsip dari kesehatan mental manusia. Gagasan utamanya adalah adanya kesinambungan, koherensi, dan harmonisasi (al-ittiṣāl) antara kesehatan badan (al-abdan) dan jiwa (al-anfus).
Bagi al-Balkhī, guncangan pada jiwa akan berakibat pada penderitaan badan, seperti hilangnya nafsu makan, melemahnya kekuatan tubuh, dan terlalu mudah terserang penyakit. Latihan jiwa, di samping latihan fisik, adalah hal penting untuk mencapai keseimbangan (mu’tadil) antara kesehatan jiwa dan badan. Intervensi terhadap badan, seperti latihan fisik, bisa mempengaruhi suasana hati. Sebaliknya, gejala simptomatik (al-arāḍ al-nafsāniyah) dapat menyebabkan ketidaknyamanan badan.
Empat Gejala Utama
Al-Balkhī menjelaskan empat gangguan psikologis yang harus dikelola ketika muncul, yaitu marah (al-ghaḍab), takut atau cemas (al-khauf), kesedihan (al-ḥuzn), dan pikiran negatif atau obsesif (al-waswasah). Kemarahan yang dibiarkan berdampak pada rusaknya akal sehat. Kecemasan yang dibiarkan akan melumpuhkan keberanian. Kesedihan yang diberikan akan menjadi keputusasaan. Al-Waswasah yang dibiarkan akan menjadi pikiran intrusif dan frustatif.
Olahraga Jiwa
Al-Balkhī menawarkan olahraga jiwa (al-riyāḍah al-nafsāniyah) dengan penekanan utama pada latihan kekuatan intelektual (al-‘aql). Teknik latihan pertama adalah al-istiẓhār (penghafalan rasional). Membiasakan diri mengingat pikiran rasional ketika dalam keadaan positif, sehingga ketika menghadapi guncangan psikologis, pikiran sehat tersebut bisa digunakan untuk melindungi jiwanya. Diibaratkan seorang musafir yang membawa perbekalan air sebelum bepergian. Tentunya perbekalan sudah disiapkan untuk menghadapi panas dan terik yang akan dihadapi.
Istiẓhār dilakukan dengan selalu menyimpan kesimpulan rasional dari perenungan-perenungan kebenaran universal ketika diri dalam keadaan tenang dan kontemplatif. Seperti tubuh yang selalu dilatih ketika dalam keadaan sehat, jiwa juga harus dilatih dengan perenungan mendalam ketika dalam keadaan damai. Semakin dalam merenung, ibarat olahraga akal yang menghasilkan “kontraksi” yang membuatnya menjadi semakin kuat, tajam, dan rasional. Saat menghadapi masalah, akalnya sudah sangat tajam dan tidak bisa dikecoh oleh sekadar tekanan psikologis yang sepele.
Istiẓhār dapat digunakan untuk antisipasi ketika seseorang diterpa oleh cemas, sedih, waswas, maupun marah. Ketika seseorang telah merenung dengan dalam apa arti dunia yang fana, maka dia telah memahami keniscayaan dari kehilangan. Ketika diterpa dengan kesedihan (al-ḥuzn), maka kekuatan akalnya dengan mudah mampu menangkal kesedihan tersebut dan mencegahnya berlarut, memahami bahwa apa yang hilang adalah titipan. Ketika sedang takut, individu yang sudah memiliki ketajaman akal yang kuat, telah siap dengan argumen rasional untuk mengalahkan ketakutan. Sebagai contoh, ketika seseorang takut akan kematian, maka akalnya sudah bisa menjelaskan bahwa kematian adalah gerbang menuju dunia yang lebih kekal.
Dalam menghadapi kemarahan, individu yang telah latihan istiẓhār juga siap dengan cara berpikir konsekuensial. Dirinya sadar akan dampak buruk dari kemarahan, sehingga kemarahan dapat reda dengan cepat. Dengan akal yang telah terlatih, maka tubuhnya juga bisa lebih tenang, detak jantung lebih stabil, emosi negatif dapat diminimalisir, lebih banyak merasakan emosi positif, dan tentunya tubuh menjadi lebih sehat.
Olahraga jiwa (al-riyāḍah al-nafsāniyah) berikutnya adalah dengan latihan debat introspektif ketika muncul pikiran-pikiran negatif (tafnīd al-khawāṭir). Dalam latihan fisik, terkadang kita perlu melawan atau berkompetisi dengan orang lain, begitu juga dalam latihan jiwa, kita perlu berkompetisi dengan pikiran negatif. Akal sehat harus bisa mengalahkan pikiran negatif dengan argumen yang kuat dan kokoh. Ini dilakukan dengan cara mendebat habis pikiran negatif, hingga pikiran negatif tersebut tidak mampu lagi untuk menyanggah kebenaran.
Menurut al-Balkhī, pikiran negatif sejatinya tidak memiliki landasan kebenaran (lā haqīqah lahā). Oleh karena itu, metode debat internal (al-mujādalah) pasti mampu mengalahkan pikiran negatif tersebut. Contoh, ketika seseorang meyakini dirinya akan tertimpa musibah, akalnya harus mampu mendebat bahwa pikiran tersebut adalah imajinasi semata (al-khayyāl). Imajinasi tersebut tentu sesuatu yang tidak pasti, adapun memikirkannya terus menerus adalah hal yang sia-sia. Jika memang musibah itu akan terjadi, maka menghayal juga tidak akan mencegahnya. Oleh sebab itu, individu tidak perlu mempersulit diri dengan berbagai kekhawatiran, lebih nyaman jika menjalani hidup dengan menyederhanakan suatu urusan (tashīl al-amr).
Hasil Latihan Membentuk Jiwa yang Kokoh
Ṣalābat al-nafs atau kekokohan jiwa merupakan padanan psikologis dari ṣalābat al-a’ḍā’ (kekokohan tubuh) yang didapat dari latihan fisik. Al-Balkhī memandang bahwa jiwa yang kokoh memiliki ketahanan luar biasa terhadap guncangan eksternal melalui latihan akal yang disiplin. Ciri individu yang memiliki kekokohan jiwa adalah dominasi akal di atas nafsu (ghalabat al-‘aql ‘alā al-hawā). Seseorang dengan ṣalābat al-nafs mampu melakukan ḍabṭ al-nafs (regulasi diri), di mana ia tidak langsung bereaksi terhadap pemicu emosi, tetapi memprosesnya terlebih dahulu melalui pertimbangan rasional.
Individu dengan jiwa yang kokoh memiliki stabilitas emosi yang baik. Tidak mudah meledak dalam kemarahan (al-ghaḍab) dan tidak mudah tenggelam dalam kesedihan yang melumpuhkan (al-ḥuzn). Jiwa ini tetap tenang, baik saat menerima pujian maupun cercaan. Keseimbangan ini mencegah terjadinya fasād al-mizāj (kerusakan temperamen) yang sering menjadi akar penyakit mental. Jiwa yang memiliki ṣalābat (kekokohan) selalu memiliki “perbekalan” mental, yaitu dalil-dalil rasional.
Kekokohan jiwa menurut al-Balkhī bukanlah kondisi sesaat, melainkan sebuah malakah (capability). Ini dicapai melalui konsistensi (al-mudāwamah) dalam melakukan latihan jiwa. Karena adanya hubungan keterikatan jiwa-raga (al-Ittiṣāl), seseorang dengan ṣalābat al-nafs tidak akan membiarkan kesedihan atau ketakutan merusak nafsu makan, pola tidur (naum), atau kekuatan fisiknya. Ia sadar bahwa menjaga kesehatan jiwa adalah bagian dari menjaga maṣāliḥ al-abdān (maslahat tubuh) secara keseluruhan. Jiwa yang telah mencapai tahap ini memiliki kekuatan psikologis (al-quwwah al-nafsāniyyah) yang memungkinkannya untuk berfungsi secara optimal.



