Syi’ār
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025
Respons Psikologis Terhadap Penerapan Teknologi Di Lingkungan Kerja: Perspektif Qurani
Arief Fahmie
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Integrasi teknologi yang semakin masif di lingkungan kerja membawa efisiensi dan inovasi. Di sisi lain, hal tersebut turut memunculkan jenis tekanan baru yang dikenal sebagai teknostres. Paparan teknologi digital yang berlebihan dan kompleks di kantor dapat menyebabkan konsekuensi emosional dan perilaku yang signifikan. Untuk memahami bagaimana individu menghadapi tekanan ini, Teori Stres dan Coping Transaksional dari Richard Lazarus dan Susan Folkman menjadi relevan. Teori ini memandang stres sebagai sebuah transaksi atau interaksi dinamis antara individu dengan lingkungannya. Dampak stres sangat bergantung pada bagaimana individu menginterpretasikan situasi yang menekan tersebut (penilaian kognitif). Juga, bagaimana mereka memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mengatasinya (coping) (Faryabi, Rahimi, Daneshi, Movahed, Yusefi, Shahrokhabadi, Chen, Azaraeen, & Clark, 2022).
Menurut Lazarus dan Folkman, dampak psikologis dari teknostres dimulai dari proses penilaian kognitif (appraisal) terhadap teknologi baru atau tuntutan digital di tempat kerja. Proses ini terjadi dalam dua tahap penting yaitu evaluasi primer dan evaluasi sekunder. Evaluasi Primer (primary appraisal) dapat dimaknai ketika individu di perusahaan pada awalnya menilai teknologi atau situasi yang menuntut secara digital berdasarkan dampaknya terhadap kesejahteraan mereka. Teknostres dapat berupa keharusan terus-menerus online, beban informasi berlebih, atau ketakutan tergantikan oleh kecerdasan artifisial. Hal ini dapat dinilai sebagai beberapa hal, yang pertama sebagai ancaman (Threat). Situasi ini ditandai dengan penilaian bahwa teknologi berpotensi membahayakan di masa depan, seperti risiko kehilangan pekerjaan, atau ketidakmampuan beradaptasi. Penilaian ini memicu kecemasan dan kekhawatiran yang mendalam (Zhang et al., 2025).
Yang kedua adalah sebagai kerugian (Harm/Loss). Kondisi ini merujuk pada kerugian yang sudah terjadi akibat teknologi, seperti kelelahan emosional (burnout) akibat jam kerja yang tak terbatas karena koneksi secara digital, atau perasaan tidak kompeten karena kesulitan menguasai aplikasi baru. Reaksi emosional yang dominan muncul adalah frustrasi atau kelelahan. Ketiga adalah sebagai tantangan (Challenge). Meskipun situasi kerja dirasakan sulit, individu melihat tuntutan teknologi sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan diri, atau mencapai performa kerja yang lebih baik. Penilaian ini dapat menghasilkan perasaan keterlibatan kerja dan motivasi yang lebih optimal (Zhang et al., 2025). Bagi individu yang menganggap teknologi sebagai hambatan, teknostres cenderung memicu kecemasan kerja, yang menghambat perilaku inovatif. Sebaliknya, jika dinilai sebagai tantangan, teknostres akan memicu keterlibatan kerja dan justru meningkatkan inovasi (Zhang et al., 2025).
Selanjutnya adalah Evaluasi Sekunder (secondary appraisal). Setelah menilai tingkat bahaya atau tantangan, karyawan selanjutnya mengevaluasi sumber daya coping yang mereka miliki,. Hal ini dapat dilihat dari sisi internal, seperti optimisme; maupun eksternal, seperti dukungan manajemen atau rekan kerja. BIla individu merasa tuntutan teknologi sangat besar (evaluasi primer) sementara kemampuan coping-nya terbatas (evaluasi sekunder), maka akan muncul tekanan psikologis yang intensif. Contoh dari kondisi ini adalah burnout atau teknostres berkepanjangan.
Respons psikologis selanjutnya diwujudkan melalui coping, yang merupakan langkah kognitif dan perilaku untuk mengendalikan tuntutan teknostres. Menurut teori dari Lazarus dan Folkman, strategi ini terbagi menjadi dua jenis utama, yang pertama adalah Coping Berorientasi Masalah (problem-focused coping). Jenis coping ini bertujuan mengubah atau mereduksi sumber stres, misalnya menetapkan batasan waktu yang jelas dalam penggunaan surat elektronik di luar jam kerja; atau aktif memberikan umpan balik kepada manajemen terkait implementasi teknologi. Kedua adalah Coping Berorientasi Emosi (emotion-focused coping). Coping ini berfokus meregulasi emosi negatif tanpa mengubah sumber stres. Sebagai contoh, melakukan detoksifikasi digital; mencari dukungan psikologis dari rekan kerja; atau menggunakan mekanisme bertahan seperti menunda respons atau berpura-pura tidak memahami teknologi untuk melindungi diri dari kecemasan teknologis (Yang et al., 2025).Memilih strategi coping dipengaruhi oleh faktor pribadi, misalnya orientasi tujuan bekerja dari karyawan, maupun faktor lingkungan, misalnya kepemimpinan digital yang dapat berperan sebagai penyangga (buffer). Hal ini dapat mengurangi dampak negatif teknostres terhadap kinerja (Yang et al., 2025).
Untuk mengatasi teknostres dan konsekuensi psikologisnya secara lebih komprehensif dibutuhkan intervensi yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis-administratif, tetapi juga spiritual. Islam melalui Al-Qur’an menawarkan kerangka berpikir yang relevan dengan hal tersebut (Ramli et al., 2014). Konsep tersebut antara lain konsep al-Istikhlaf (Kekhalifahan). Manusia adalah wakil Allah di bumi. Penerapan teknologi harus dipandang sebagai amanah dan alat untuk menjalankan kekhalifahan yang mendatangkan kebermanfaatan (maslahat), bukan kerusakan (fasad). Stres akibat teknologi yang berlebihan dapat dianggap sebagai belum terjaganya keseimbangan antara tuntutan duniawi dan spiritual. Sebagai seorang wakil Allah, karyawan dapat didorong untuk mengelola teknologi secara bijak (problem-focused coping).
Selanjutnya adalah konsep al-Ta’awun (Kerja Sama untuk Kebaikan). Teknostres sering diperparah oleh kondisi melakukan isolasi diri atau pun kurangnya dukungan dari lingkungan. Al-Qur’an menganjurkan ta’awun, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan (QS. Al-Maidah: 2). Dalam konteks dunia kerja, hal ini mendorong penguatan dukungan sosial dan kohesivitas tim (Ramli et al., 2014). Kondisi ini dapat meningkatkan sumber daya coping (evaluasi sekunder) karyawan. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab organisasi di bidang digital untuk menciptakan lingkungan yang mendukung. Hal ini terbukti mengurangi kecemasan dan meningkatkan keterlibatan kerja dalam menghadapi teknostres (Zhang et al., 2025).
Berikutnya adalah konsep Syura (Musyawarah). Prinsip musyawarah (QS. Asy-Syura: 38) mengajarkan bahwa setiap urusan sebaiknya diputuskan bersama secara proporsional. Hal ini dapat diterjemahkan sebagai strategi coping berorientasi masalah di level organisasi. Daripada membebankan keputusan teknologi kepada pihak tertentu, implementasi teknologi dapat direncanakan melalui diskusi yang terbuka. Syura memungkinkan karyawan untuk berpartisipasi dalam merencanakan solusi terkait masalah teknologi. Hal ini dapat mengakibatkan mereka merasa diberberdayakan dan meningkatkan kontrol terhadap lingkungan kerja digital mereka.
Dengan menginternalisasi nilai-nilai Istikhlaf, Ta’awun, dan Syura, individu dan organisasi dapat mengubah teknostres yang berpotensi menjadi ancaman menjadi tantangan yang dikelola melalui coping yang adaptif dan kolaboratif. Hal ini selaras dengan tujuan dari pengembangan organisasi dan peningkatan kesejahteraan kemanusiaan (Ramli et al., 2014).
Referensi
Faryabi, R., Rahimi, T., Daneshi, S., Movahed, E., Yusefi, A. R., Shahrokhabadi, M. S., Chen, D.-G. (D.), Azaraeen, S., & Clark, C. C. T. (2022). Stress coping styles in family and relatives of coronavirus disease 2019 (COVID-19) patients in the south of Iran: Application of Lazarus and Folkman’s theory of stress coping. The Open Public Health Journal, 15, Article e220927-2021-243. https://doi.org/10.2174/18749445-v15-e220927-2021-243
Ramli, A., Mokhtar, M., & Abdul Aziz, B. (2014). Revisiting the concept of development, disaster, and safety management: The Quranic perspective. International Journal of Disaster Risk Reduction, 9, 26–37. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2014.03.006
Yang, Y., Shamim, S., & De Massis, A. (2025). Defensive routines as coping mechanisms against technostress: Roles of digital leadership and employee goal orientation. Technological Forecasting and Social Change, 216, 124143. https://doi.org/10.1016/j.techfore.2025.124143
Zhang, S., Guo, P., Yuan, Y., & Ji, Y. (2025). Anxiety or engaged? Research on the impact of technostress on employees’ innovative behavior in the era of artificial intelligence. Acta Psychologica, 259, 105442. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.105442


