ISCIP 2026: Solusi Psikologi Islam untuk Kesehatan Mental Generasi Muda

Yogyakarta, 18 Juli 2026—Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menyelenggarakan acara International Student Conference on Islamic Psychology (ISCIP) 2026 pada hari Sabtu, 18 Juli 2026. Mengusung tema “Youth Mental Health in Islamic Psychology Perspective”, acara ini menjadi ruang pertemuan ilmiah yang menghadirkan kolaborasi antara Universitas Islam Indonesia (UII) dengan institusi internasional, yaitu International Islamic University Malaysia (IIUM), Riphah Institute of Clinical and Professional Psychology (RICPP), University of Management & Technology (UMT) Pakistan, dan Marmara University Turki. 

Rangkaian konferensi ini terbagi menjadi dua agenda utama, yakni sesi presentasi ilmiah mahasiswa yang berlangsung pada pukul 07.00–09.00 WIB, serta dilanjutkan dengan Sesi Seminar Internasional hingga pukul 12.00 WIB.

Sesi pertama dibuka dengan sambutan dari Ketua Program Studi Psikologi Program Sarjana UII, Hazhira Qudsyi, S.Psi., M.A. Dalam sambutannya, beliau berharap konferensi ini dapat menjadi pengalaman berharga yang menginspirasi mahasiswa untuk terus belajar, meneliti, dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu psikologi, khususnya dari sudut pandang Islam. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pemaparan hasil karya ilmiah oleh kelompok mahasiswa terpilih dari berbagai universitas melalui breakout room Zoom.

Agenda berlanjut ke sesi kedua, yaitu Sesi Seminar Internasional yang dibuka secara khidmat melalui pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars UII. Dekan Fakultas Psikologi UII, Dr. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog, dalam sambutannya menyoroti tantangan psikologis di era digital. Beliau menekankan bahwa pesatnya akses teknologi dan informasi kerap memicu krisis identitas serta kecemasan masa depan di kalangan remaja.

“Sebagai akademisi dan praktisi, kita ditantang untuk tidak sekadar mengamati fenomena ini lewat kacamata psikologi konvensional semata, tetapi juga secara aktif mengeksplorasi solusi mendalam dari psikologi Islam untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual manusia,” ujar Dr. Sus Budiharto.

Memasuki sesi pemaparan materi yang dimoderatori oleh Bapak Nur Widiasmara S.Psi., M.Psi., Psikolog (Pak Widi), diskusi awal dibuka oleh Prof. Sulaeman Derin dari Marmara University, Turki, dengan topik “Youth Mental Health in the Quran”. Prof. Derin memaparkan bahwa Al-Qur’an sejatinya menyediakan panduan yang sangat komprehensif mengenai kesehatan mental anak muda, seperti yang tercermin jelas dalam kisah perjalanan Nabi Yusuf dan Nabi Ibrahim. Di tengah krisis kaum muda yang kerap bergulat dengan kesepian dan kehilangan makna hidup, Prof. Derin menekankan pentingnya peran spiritual heart dan iman, yang terbukti secara riset mampu melindungi generasi muda dari rasa kesepian, menurunkan risiko depresi, hingga menjauhkan mereka dari pemikiran bunuh diri.

Diskusi semakin menarik saat pemaparan kedua disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Ruhaya binti Hussin dari IIUM, Malaysia yang mengangkat tema berupa “From Strain to Gain: Strengthening Youth Mental Health through Coping”. Ia membahas isu-isu umum yang kerap membebani mahasiswa, mulai dari tekanan akademik, ekspektasi keluarga, stres finansial, hingga kelelahan emosional. Dr. Ruhaya menjelaskan pendekatan strategi coping adaptif yang diambil dari kebijaksanaan para nabi dan rasul, mulai dari bagaimana Nabi Zakaria mengekspresikan kerentanan untuk mencari dukungan, keyakinan Nabi Ya’qub untuk mengubah keputusasaan menjadi harapan, hinggaf praktik zikir Nabi Yunus yang berfungsi mengembalikan orientasi spiritual seseorang di tengah tekanan batin.

Puncak acara juga diisi oleh pemaparan Dr. Arooj Arshad dari Riphah International University, Pakistan. Dr. Arooj menyampaikan presentasi dengan tema “From Criticism to Responsibility: How Parents Can Protect Youth through Islamic Tarbiyah”. Beliau menyoroti besarnya jumlah pemuda yang mengalami kecemasan dan depresi saat ini, yang sering kali diperparah oleh hilangnya koneksi komunikasi akibat paparan screen time yang tiada henti. Untuk mencegah generasi muda merasa terasing dari identitas religiusnya, ia menegaskan pentingnya mengedepankan lima pilar Tarbiyah Islam di rumah, yaitu: Aqeedah, Ibadah, Akhlaq, ‘Ilm, dan Suhbah. Pilar-pilar ini harus dibangun lewat pembiasaan harian dan dialog mendalam bersama orang tua, bukan sekadar lewat kritik dan omelan.

Rangkaian seminar kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari beragam pertanyaan kritis yang diajukan oleh mahasiswa maupun dosen, yang makin memperkaya pemahaman peserta terhadap topik bahasan.

Penyelenggaraan ISCIP 2026 tidak hanya menjadi ajang unjuk gagasan bagi para calon ilmuwan muda di tingkat global, tetapi juga membuktikan bahwa pendekatan psikologi berbasis nilai-nilai Islam mampu memberikan jawaban konkret atas krisis kesehatan mental remaja saat ini.

Penulis: Khansa Tafidah Khairunnisa