Memperingati Hari Alzheimer Sedunia: Mengenal Alzheimer dari Sudut Pandang Psikologi

Hari Alzheimer Sedunia diperingati setiap tanggal 21 September sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit Alzheimer. Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk menantang stigma yang masih berkembang di masyarakat, termasuk anggapan bahwa penurunan fungsi kognitif merupakan bagian yang wajar dari proses penuaan. Padahal, Alzheimer merupakan penyakit medis yang dapat menyebabkan penurunan fungsi otak secara progresif. Untuk mengenal Alzheimer lebih jauh dari sudut pandang psikologi, dilakukan wawancara bersama Dr. Nita Trimulyaningsih, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) dengan bidang spesialisasi psikologi klinis.

Mengenal Penyakit Alzheimer dan Perbedaannya dengan Demensia

Menurut Dr. Nita, penyakit Alzheimer merupakan gangguan otak progresif yang secara perlahan merusak daya ingat, kemampuan berpikir, serta kemandirian seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Ketika seseorang mengalami Alzheimer, penurunan fungsi otak dapat berlangsung semakin cepat dan terus-menerus. Alzheimer perlu dibedakan dengan demensia. Demensia merupakan istilah umum yang menggambarkan penurunan fungsi kognitif, sedangkan Alzheimer merupakan penyakit otak spesifik yang dapat menyebabkan demensia. Alzheimer berkaitan dengan proses patologis di otak, termasuk penumpukan protein abnormal seperti beta-amiloid dan tau yang berhubungan dengan kerusakan sel saraf secara bertahap. 

Dampak Alzheimer terhadap Kehidupan Sehari-hari

Penyakit Alzheimer tidak hanya menyebabkan gangguan pada daya ingat. Penderita juga dapat mengalami disorientasi, seperti kebingungan mengenai waktu, tempat, maupun aktivitas yang telah dilakukan. Selain itu, Alzheimer dapat menyebabkan kesulitan dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Seiring perkembangan kondisi, penderita juga dapat mengalami kesulitan melakukan berbagai kegiatan fungsional, seperti mandi, makan, berbicara, dan berpakaian. 

Dr. Nita menjelaskan bahwa aktivitas yang terlihat sederhana bagi orang lain dapat menjadi tantangan besar bagi penderita Alzheimer. Kesulitan yang dialami secara terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi emosional dan perilaku penderita. Individu yang sebelumnya sangat sabar, dapat menjadi lebih mudah marah karena mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi sehari-hari. Sementara itu, individu yang sebelumnya senang bersosialisasi dapat menjadi lebih pendiam karena mengalami kesulitan menyusun kalimat untuk berinteraksi dengan orang lain. Kondisi tersebut juga dapat membuat penderita Alzheimer mengisolasi diri karena munculnya rasa tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, perubahan perilaku pada penderita perlu dipahami dalam konteks perubahan fungsi kognitif dan kesulitan yang sedang dialami, bukan hanya dianggap sebagai perubahan karakter.

Peran Caregiver dalam Mendampingi Penderita Alzheimer

Sebagai caregiver, memberikan dukungan yang sesuai dan menciptakan lingkungan yang kondusif merupakan hal penting dalam mendampingi penderita Alzheimer. Dukungan tersebut dapat dilakukan dengan menempatkan alat makan di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau, menyiapkan pakaian yang mudah digunakan, serta memberikan aktivitas positif yang sesuai dengan kemampuan penderita. Caregiver juga dapat mengikutsertakan penderita dalam kegiatan seperti senam lansia, kajian, maupun komunitas lansia apabila kondisi memungkinkan. Selain itu, caregiver dapat membantu penderita mengingat berbagai informasi yang familiar, seperti nama orang di sekitarnya atau nama jalan yang sering dilewati.

Upaya tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu penderita, tetapi juga dapat meringankan beban caregiver. Dr. Nita menjelaskan, “Saat kita mempertahankan fungsi penderita Alzheimer, itu kita menolong caregiver juga. Jadi, itu sebenarnya timbal balik.” Ketika kemampuan penderita masih dapat dipertahankan, caregiver dapat menyesuaikan bantuan berdasarkan fungsi yang masih dimiliki. Sebaliknya, semakin berat penurunan fungsi penderita, semakin intensif dan kompleks pula perawatan yang mungkin dibutuhkan.

Perlu diingat, ketika keluarga memutuskan menggunakan jasa yang membantu merawat penderita Alzheimer, hubungan emosional antara keluarga dan penderita tetap perlu dipertahankan. Bantuan tenaga profesional seharusnya tidak membuat penderita kemudian dijauhi atau dikucilkan oleh keluarganya. Dr. Nita menegaskan, “Kalau mereka menderita Alzheimer kemudian malah jadi dijauhi, dikucilkan, itu kan juga menghancurkan emosionalnya, mentalnya. Jadi, tetap ada interaksi yang berharga yang bisa membantu penderita Alzheimer merasa bahwa mereka tetap disayangi, dihormati, dihargai.” Interaksi tersebut dapat dilakukan melalui percakapan sederhana, aktivitas bersama, maupun bentuk perhatian lain yang sesuai dengan kemampuan penderita. Hal terpenting adalah memastikan penderita tetap merasakan keberadaan dan dukungan dari orang-orang terdekat.

Menjaga Kesehatan Mental Caregiver Alzheimer

Menjadi caregiver bagi penderita Alzheimer bukanlah hal yang mudah. Perawatan jangka panjang dapat memberikan tuntutan yang besar sehingga caregiver juga perlu menjaga kesehatan mentalnya. Salah satu sumber coping yang dapat digunakan adalah agama, misalnya melalui mengaji dan melaksanakan ibadah sunnah. Selain itu, caregiver perlu memiliki pengetahuan mengenai ciri-ciri, gejala, tingkat keparahan, perawatan, hingga obat-obatan yang diperlukan berdasarkan arahan tenaga profesional. Pengetahuan tersebut dapat membantu mengurangi tekanan yang muncul akibat ketidaktahuan mengenai kondisi penderita.

Di samping itu, caregiver tetap perlu memiliki waktu untuk menjalankan hobi, berinteraksi secara sosial, berolahraga, dan meminta bantuan ketika diperlukan. Dr. Nita menegaskan, “Jangan takut untuk meminta bantuan. Kalau takut merepotkan, padahal tidak. Kita butuh bantuan orang dan itu boleh. Jadi, mintalah bantuan pada orang lain jika memang membutuhkan.” Pembagian tugas dengan anggota keluarga maupun keterlibatan tenaga profesional dapat membantu caregiver menghadapi proses perawatan yang berlangsung dalam jangka panjang.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, menjadi caregiver juga dapat menjadi proses belajar dan bertumbuh. Caregiver dapat belajar mengenai kesabaran, kemampuan memecahkan masalah, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan kondisi penderita. Dr. Nita menyampaikan, “Jadi, seorang caregiver bagi seorang Alzheimer itu memang menantang. Bagaimanapun juga kita sudah diberikan amanah, mari kita jalan dengan baik.” Dengan demikian, menjaga kesehatan mental dan menjalankan peran sebagai caregiver perlu dilakukan secara beriringan. Caregiver tidak harus menghadapi seluruh proses seorang diri. Memanfaatkan dukungan keluarga, lingkungan sosial, agama, hobi, maupun tenaga profesional dapat membantu caregiver menjalankan perannya secara lebih berkelanjutan.

Memaknai Hari Alzheimer Sedunia

Peringatan Hari Alzheimer Sedunia menjadi pengingat bahwa pemahaman mengenai Alzheimer tidak cukup hanya berfokus pada gangguan daya ingat. Alzheimer dapat memengaruhi kemampuan berpikir, komunikasi, emosi, perilaku, hingga kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Karena itu, penderita Alzheimer membutuhkan lingkungan yang aman, suportif, dan tetap menghargai dirinya sebagai individu. Di sisi lain, caregiver juga membutuhkan dukungan agar mampu menjalankan peran perawatan dalam jangka panjang tanpa mengabaikan kesehatan mentalnya sendiri.

Memahami Alzheimer dari perspektif psikologi membantu masyarakat melihat bahwa pendampingan penderita tidak hanya berkaitan dengan perawatan fisik, tetapi juga mencakup fungsi kognitif, kondisi emosional, hubungan sosial, kualitas hidup, serta kesejahteraan penderita dan caregiver. Hari Alzheimer Sedunia dapat menjadi momentum untuk meningkatkan pengetahuan, mengurangi stigma, serta membangun lingkungan yang lebih mendukung bagi penderita Alzheimer dan keluarga yang mendampinginya.

Author: Raisha Nur Rahmani