Hari Lansia Internasional : Membangun Lingkungan Inklusif bagi Masyarakat Lanjut Usia

Setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional. Peringatan ini menjadi pengingat mengenai pentingnya perhatian terhadap kehidupan masyarakat lanjut usia, mulai dari kesehatan hingga keberadaan mereka dalam lingkungan keluarga dan sosial. Seiring meningkatnya jumlah penduduk lansia di berbagai negara, kebutuhan untuk menciptakan kehidupan yang layak dan inklusif bagi kelompok usia tersebut turut menjadi perhatian. Lingkungan yang inklusif bagi lansia tidak hanya berkaitan dengan fasilitas yang ramah usia, tetapi juga dengan kesempatan untuk tetap berpartisipasi dalam kehidupan di sekitarnya.

Menurut World Health Organization (WHO), penuaan merupakan proses alami yang melibatkan perubahan biologis, psikologis, dan sosial sepanjang kehidupan. Jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas diperkirakan meningkat dari sekitar satu miliar orang pada 2020 menjadi 1,4 miliar pada 2030 dan 2,1 miliar pada 2050. Peningkatan tersebut perlu diikuti dengan perhatian terhadap berbagai kebutuhan lansia. Meskipun perubahan kondisi fisik dan kesehatan dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, lansia tetap memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan secara aktif dan berkontribusi di lingkungannya. Oleh karena itu, perhatian terhadap lansia juga perlu mencakup aspek psikologis, seperti rasa berharga, kendali atas kehidupan, dan keterhubungan dengan lingkungan sosial.

WHO menjelaskan bahwa penuaan yang sehat bukan berarti seseorang harus terbebas dari penyakit, tetapi berkaitan dengan kemampuan untuk tetap melakukan hal-hal yang dianggap bermakna dan penting dalam kehidupan. Dukungan terhadap lansia perlu mencakup akses terhadap layanan kesehatan, lingkungan yang aman, hubungan sosial, serta kesempatan untuk menjalankan aktivitas yang bermakna. Dalam konteks psikologis, dukungan tersebut dapat membantu lansia mempertahankan kemandirian dan keterhubungan dengan orang lain. Dengan demikian, lingkungan yang inklusif tidak hanya membantu lansia ketika mengalami keterbatasan, tetapi juga memberikan ruang untuk menentukan pilihan dan menjalankan aktivitas sesuai kemampuannya.

Salah satu tantangan yang dapat menghambat terciptanya lingkungan inklusif adalah ageism, yaitu stereotip, prasangka, atau diskriminasi berdasarkan usia. Menurut United Nations (PBB), ageism dapat membatasi kesempatan seseorang untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sosial. Hal ini dapat muncul melalui anggapan bahwa lansia tidak lagi produktif, tidak mampu mengambil keputusan, atau selalu membutuhkan bantuan hanya karena telah memasuki usia lanjut. Pandangan tersebut dapat membuat lansia kurang dilibatkan dalam percakapan, pengambilan keputusan, maupun aktivitas sosial. Selain membatasi partisipasi, perlakuan tersebut juga dapat memengaruhi perasaan diterima dalam lingkungan sosial. Padahal, lansia tetap memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat berkontribusi bagi keluarga maupun masyarakat.

Membangun lingkungan psikologis yang inklusif dapat dimulai dari keluarga dengan menciptakan suasana yang membuat lansia merasa aman dan dihargai. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan mereka dalam percakapan dan pengambilan keputusan, menghargai pendapat, serta memberi ruang untuk melakukan aktivitas yang masih mampu dilakukan secara mandiri. Bantuan diberikan ketika diperlukan dengan tetap mempertimbangkan kemampuan dan keinginan lansia. Hubungan sosial yang bermakna juga dapat dibangun melalui kegiatan sederhana, seperti berbincang, mendengarkan pengalaman, dan melibatkan lansia dalam kegiatan keluarga maupun masyarakat. Dengan demikian, lansia tidak hanya dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai individu yang memiliki pengalaman, pilihan, dan peran di lingkungannya.

Lingkungan yang inklusif juga membutuhkan perubahan cara pandang terhadap proses menua. Pertambahan usia tidak seharusnya secara otomatis dipandang sebagai ketidakmampuan atau ketergantungan. Setiap lansia memiliki kondisi, kebutuhan, dan tingkat kemandirian yang berbeda sehingga perlu diperlakukan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya, bukan semata-mata berdasarkan usia. Menghindari candaan yang merendahkan, tidak mengambil keputusan tanpa melibatkan mereka, serta memberikan kesempatan untuk menyampaikan keinginan merupakan bentuk penghargaan terhadap lansia. Dukungan tersebut perlu berjalan bersama lingkungan fisik yang ramah, seperti akses terhadap fasilitas publik, layanan kesehatan, transportasi, dan ruang sosial, sehingga lansia dapat tetap mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Perhatian terhadap lansia tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan kesehatan. Lingkungan yang inklusif perlu memberikan rasa diterima, kesempatan untuk menentukan pilihan, serta ruang untuk tetap menjalankan peran dalam kehidupan bersama. Lansia bukan sekadar kelompok yang perlu dirawat, tetapi individu yang memiliki cerita, pengalaman, dan kontribusi bagi lingkungan di sekitarnya.

Peringatan Hari Lansia Internasional dapat menjadi kesempatan untuk melihat proses menua sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia. Dengan menghargai pilihan, menghindari pandangan yang merendahkan berdasarkan usia, serta membangun hubungan sosial yang suportif, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih ramah secara psikologis bagi lansia.

Author: Aisha Dalta Lena Fereda