Ilmiah

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 1 April 2026

Membina ‘Keluarga’ 

Nita Trimulyaningsih
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

saya merasa hidup dengan ‘orang satu rumah’, bukan suami atau keluarga……

Jika dilihat dalam KBBI, keluarga dimaknai sebagai “ibu dan bapak serta anak-anaknya; seisi rumah: orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; batih; (kaum) sanak saudara; kaum kerabat; satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Meskipun ia merupakan satuan kekerabatan terkecil dalam masyarakat, ia memegang peranan penting bahkan mendasar dalam kehidupan, setidaknya secara psikologis. Nugraha (2025) dalam bukunya berjudul Psikologi Keluarga menyatakan bahwa keluarga merupakan pondasi utama pembentukan individu yang secara langsung membentuk kepribadian dengan pola asuh dan suasana emosional di rumah. Selain itu, keluarga juga merupakan agen utama penanaman nilai moral, etika, spiritual, dan sosial yang akan menjadi panduan hidup seseorang. Hal ini menjadikannya krusial dalam peranannya sebagai kunci kesehatan mental individu serta tempat pencegahan dan intervensi bagi berbagai permasalahan dan krisis yang sedang kita hadapi saat ini. 

Kalimat kutipan yang saya gunakan sebagai pembuka dalam artikel ini merupakan sebuah kalimat yang muncul dari seorang istri dalam sebuah sesi konseling. Keluhan ini mungkin sebenarnya tidak hanya dialami oleh satu dua orang saja melainkan hampir mendominasi seluruh masyarakat kita saat ini. Gadget, menjadi salah satu penyebabnya, selain memang terdapat permasalahan krusial lainnya seperti komunikasi, komitmen dan keberfungsian keluarga yang perlu dilihat dengan lebih jujur melalui pertanyaan “bagaimana kita membangunnya selama ini?”

Setiap orang membayangkan bahwa keluarga selalu dibangun dengan cinta di awal. Padahal realitas di masyarakat adalah: tidak selalu. Banyak bahkan, keluarga yang diawali dengan adanya perasaan bahwa ‘aku sama denganmu dalam hal ini’,  ‘aku akan mencobanya, menurutku dia orang yang tepat’, atau bahkan ‘aku akan menuruti dan mentaati ayah/ibu/ustadz/guru/Allah sehingga ini semoga menjadi jalan yang baik bagi hidupku’. Dalam kondisi ini, keluarga tidak dimulai dengan cinta dulu, melainkan cinta dibangun dalam apa yang disebut sebagai keluarga. Keduanya sama baiknya, selama cinta benar-benar dapat dibangun dalam keluarga. Sebab, tanpa cinta -tampaknya- akan sangat butuh perjuangan bagi seseorang untuk tinggal bersama dengan orang lainnya dalam satu atap dalam waktu lama dengan harmoni.  

Cinta dalam keluarga 

Di dalam Islam, cinta memiliki posisi yang sangat krusial. Konsep keluarga penuh cinta dalam Islam disebutkan oleh Allah Swt langsung dalam ayatnya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu cinta dan kasih (mawaddah wa rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Ar-Rum: 21). 

Shihab (2016) menyatakan bahwa mawaddah (مَوَدَّةٌ) merujuk pada cinta/kesukaan dan harapan. Lebih lanjut dalam konteks keluarga, mawaddah diartikan oleh Shihab (2016) sebagai cinta yang mendalam dalam hati manusia sehingga tidak perlu bersusah payah untuk menarik simpati dan cinta serta saling mencintai sebagai dampak dari buah amal shaleh yang direstui Allah Swt. yang sedemikian kuat dan berpotensi untuk  terus bertambah dan tidak berakhir hingga ke akhirat. Dalam konteks inilah membina keluarga terwujud dalam istilah mawaddah, sebab dalam mawaddah, akan menjadi lebih lapang sehingga mampu melihat kelemahan dan keburukan kekasihnya, tidak memiliki kehendak buruk, dan tidak rela pasangannya tersentuh oleh sesuatu yang merusaknya. Mawaddah memunculkan kerelaan untuk berkorban, menginginkan kebaikan untuk kekasihnya, dan mengupayakan kelanggengan kebersamaan dengan kekasihnya. Cinta semacam ini tidak hanya ada dalam hati, melainkan muncul dalam sikap dan perlakuan. 

Dengan mawaddah ini, nantinya keluarga akan mampu membina keluarga dalam arti sebenarnya. Tidak sekedar tinggal bersama, satu atap, satu kamar bahkan satu kasur dengan orang lain/baru sekedar sebagaimana yang dapat kita rasakan dalam kutipan kalimat di awal tulisan ini, melainkan sungguh-sungguh menjalani sebuah ‘keluarga’ sebagai ‘rumah’ yang seringkali diasosiasikan sebagai tempat pulang, tempat kita memenuhi kebutuhan batin disamping kebutuhan lahir semata.

Keluarga sebagai rumah tempat pulang 

Keluarga seringkali disebut sebagai tempat pulang, sebab di dalam keluarga inilah individu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Hal ini dikarenakan sebab rumah memang memiliki fungsi utama untuk perkembangan individu. Untuk itu, agar rumah dapat menjadi tempat pulang individu, kita perlu mengupayakan agar fungsi keluarga benar-benar dirasakan oleh setiap anggota keluarga, termasuk diri kita. Nugraha (2025) menyebutkan keempat fungsi keluarga tersebut antara lain memenuhi kebutuhan material dasar individu (fungsi ekonomi); memenuhi kebutuhan perawatan fisik dan pengasuhan untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang sehat (fungsi perawatan dan pengasuhan); mentransmisikan nilai, norma, keyakinan, dan aturan budaya sehingga terbentuk karakter, moral, dan perilaku sosial individu (fungsi sosialisasi); serta memberikan cinta, penerimaan, rasa aman; dan dukungan emosional yang tanpa syarat (fungsi dukungan emosional).

Dalam memenuhi keempat fungsi tersebut, terdapat proses adaptasi dengan memperhatikan konteks keluarga masing-masing yang tentu sangat dinamis. Realitanya, tidak selamanya keempat fungsi keluarga ini terpenuhi dengan baik, dan terkadang timbullah apa yang seringkali disebut sebagai masalah/konflik dalam keluarga. 

Hal penting dalam mengatasi permasalahan keluarga

Menurut perspektif psikologi keluarga, penanganan konflik atau permasalahan dalam keluarga tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah itu sendiri. Hal yang lebih utama adalah membangun dan mempererat ikatan emosional antar anggota keluarga, karena hubungan emosional yang kuat menjadi pondasi dalam menghadapi berbagai tantangan keluarga (Williams, 2023). Dengan adanya ikatan emosional, anggota keluarga, terutama dalam hal ini pasangan akan lebih mampu bersikap secara dewasa, penuh rasa hormat, dan menyelesaikan permasalahan secara efektif. Hal ini akan membuat keluarga berada dalam kondisi yang sehat dan kondusif.

Keluarga yang sehat memiliki bentuk yang bervariasi, namun menurut Williams (2023) semuanya memiliki karakteristik utama yang mendorong anggota keluarga untuk saling mendekat serta membangun persahabatan dalam keluarga. Beberapa di antaranya: pasangan yang dengan sengaja meluangkan waktu dan mengupayakan tanpa adanya gangguan dalam momen tersebut satu sama lain, berupaya melakukan komunikasi dengan kesediaan untuk mendengarkan, memahami dan bukan untuk sekedar mencari solusi atau memaksakan kehendak salah satu pihak, mau memaafkan, serta kesediaan untuk saling menyadari bahwa sebagian besar hal dalam keluarga sudah bukan masalah pribadi melainkan permasalahan keluarga. Saat suami dan istri mempraktikkan strategi untuk membangun dan mempererat ikatan emosional, keluarga cenderung akan memiliki kepuasan pernikahan yang lebih tinggi.

Hal lain yang disebutkan oleh Williams (2023) dalam menjaga ikatan emosional keluarga adalah menghindari apa yang para ahli keluarga sebut sebagai “empat penunggang kuda kiamat” (the four horsemen of the apocalypse) yaitu komunikasi penuh kritik,  sikap merendahkan, sikap defensif, dan sikap menutup diri/menolak berkomunikasi). Untuk melawan keempat pola komunikasi yang merusak ini, terdapat empat pola komunikasi yang menyembuhkan, yaitu menggunakan kalimat-kalimat pembuka yang penuh kelembutan saat memberikan masukan;  spesifikkan kejadian atau hal yang perlu dikomunikasikan dan jangan terlalu umum;  tidak terlalu banyak melakukan pembelaan diri, berani bertanggung jawab dan meminta maaf; serta individu memahami betul kapan dia memerlukan waktu untuk menenangkan diri sebelum melakukan komunikasi.

Berbagai upaya ini perlu dibangun dan dibina dalam keluarga, menjadikannya budaya, sehingga seluruh keluarga akan merasakan kembali keluarga sebagai tempat aman, tempat pulang, bukan sekedar tinggal satu rumah, melainkan sungguh menjadi apa yang kita sebut sebagai ‘keluarga’.  

Referensi

Nugraha, R. A. (2025). Konsep dan ruang lingkup psikologi keluarga. Dalam A. Rachman & Fajriah (ed.), Psikologi keluarga. CV. Eureka Media Aksara

Shihab, Q. (2016). Kumpulan 101 kultum tentang Islam. Lentera Hati

Williams, B. W. (2023). Turn towards each other: Emotional connection as a catalyst for marital satisfaction, especially during times of conflict [Undergraduate honors theses]. Brigham Young University.