Syi’ar
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 7 Mei 2026
Hasad di ruang kerja
Ike Agustina
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Di tempat kerja, tidak semua konflik bermula dari perbedaan pendapat atau kebijakan organisasi. Sebagian justru berawal dari sesuatu yang jauh lebih sunyi: hati yang sulit menerima keberhasilan orang lain.
Keadaan itu sering tidak tampak di permukaan. Seseorang bisa tetap tersenyum ketika mengucapkan selamat kepada rekan yang dipromosikan, tetap menghadiri acara syukuran, tetap bekerja dalam satu tim, bahkan mungkin tetap membantu pekerjaannya. Namun, jauh di dalam hati, ada rasa yang sulit dijelaskan. Mengapa justru keberhasilan orang lain terasa sangat mengusik ketenangan hatinya?
Mungkin kita pernah mengalami keadaan semacam itu, meskipun cuma sesaat. Seorang rekan dipercaya memimpin proyek penting, sementara kita merasa telah bekerja sama kerasnya. Lalu teman satu angkatan justru memperoleh promosi lebih dahulu. Tanpa disadari, muncul pertanyaan kecil di dalam hati, “Mengapa bukan saya?”.
Pertanyaan itu mungkin hanya singgah beberapa detik. Namun jika dibiarkan berulang, ia perlahan bisa membentuk cara kita memandang orang lain. Kita kemudian mulai sulit memberikan apresiasi kepada rekan kerja dengan tulus, mendadak lebih peka terhadap kekurangan-kekurangannya daripada kelebihannya, bahkan tanpa sadar merasa sedikit lega ketika rekan kerja tersebut mengalami kegagalan.
Islam menyebut keadaan hati seperti ini sebagai hasad atau istilah kesehariannya sering disamakan dengan iri hati. Para ulama menjelaskan bahwa hasad bukan sekadar ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain, melainkan merasa tidak rela atas nikmat yang Allah berikan kepadanya, bahkan berharap nikmat itu hilang. Berbeda dengan ghibthah, yaitu keinginan untuk meraih kebaikan yang sama tanpa berharap orang lain kehilangan karunia tersebut.
Perbedaan ini kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya ini akan menentukan arah hati seseorang. Jika ghibthah akan mendorong seseorang untuk memperbaiki diri, maka hasad membuat seseorang lebih sibuk memperhatikan kehidupan orang lain daripada membenahi kehidupan sendiri.
Mengapa Hasad Mudah Tumbuh di Tempat Kerja?
Tempat kerja merupakan salah satu ruang yang paling mudah memunculkan perbandingan. Hampir setiap hari kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang sama, jenis pekerjaan yang serupa, bahkan target kinerja yang tidak jauh berbeda. Kita mengetahui siapa yang baru dipromosikan, siapa yang dipercaya memimpin proyek, siapa yang memperoleh penghargaan, hingga siapa yang lebih sering mendapat apresiasi dari atasan. Tanpa disadari, semua itu menjadi bahan pembanding bagi diri kita sendiri.
Secara psikologis, manusia memang memiliki kecenderungan yang besar untuk menilai dirinya melalui perbandingan dengan orang lain (social comparison). Yang menarik, pembanding yang paling mempengaruhi perasaan kita justru bukan orang yang berada jauh di luar jangkauan, melainkan mereka yang setiap hari berada di sekitar kita. Karena itu, keberhasilan seorang rekan kerja seringkali terasa lebih mengusik hati daripada keberhasilan seorang tokoh nasional yang bahkan tidak pernah kita jumpai.
Sebetulnya, membandingkan diri tidak selalu buruk. Pada level tertentu, perbandingan yang diletakkan secara tepat dan proporsional justru dapat menjadi pemantik bagi kita untuk belajar lebih giat, memperluas wawasan, atau meningkatkan kualitas kerja. Persoalan akan muncul ketika kita tidak lagi menjadikan orang lain sebagai sumber inspirasi, melainkan sebagai ukuran nilai diri. Akibatnya, setiap keberhasilan rekan akan terasa seperti pengingat atas kegagalan kita sendiri. Dalam kondisi ini, hati bisa mulai kehilangan kejernihannya.
Allah SWT berfirman:
“Apakah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa’: 54).
Ayat ini seolah mengingatkan bahwa hasad bukanlah penyakit baru. Sejak dulu, manusia telah diuji oleh ketidaksiapan menerima kenyataan bahwa Allah membagikan karunia dengan cara yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Sebagian orang ada diberi keluasan ilmu, sebagian lagi mungkin dilapangkan rezekinya, sementara yang lain dipercaya memimpin atau dianugerahi kemampuan membangun hubungan dengan banyak orang. Semua merupakan bagian dari kebijaksanaan Allah yang tidak selalu dapat dijangkau oleh akal manusia yang terbatas.
Tanpa sadar, kita mungkin memandang rezeki seolah-olah seperti sepotong kue. Ketika ada orang lain memperoleh bagian yang lebih besar, kita jadi merasa bagian kita otomatis berkurang. Yang sering luput kita sadari, rahmat Allah sesungguhnya tak terbatas dan tidak pernah bekerja dengan mekanisme yang seperti itu. Keberhasilan seorang rekan tidak akan pernah menghalangi Allah membuka jalan yang lain bagi kita.
Justru yang sering menjadi persoalan adalah hati kita sendiri. Terlalu banyak melihat ke luar membuat kita lupa melihat ke dalam. Kita kadang lebih mudah mengingat siapa yang baru mendapatkan keberhasilan atau dipromosikan, tetapi sering lupa mengingat berapa banyak nikmat yang telah Allah titipkan kepada diri kita sendiri. Disinilah hasad mulai bertumbuh. Bukan karena Allah memberi kita terlalu sedikit, melainkan karena kita terlalu sering menghitung apa yang Allah berikan kepada orang lain.
Mengapa Sulit Ikut Bahagia atas Keberhasilan Rekan?
Mungkin tidak banyak orang yang berani mengakui bahwa dirinya pernah merasa tidak senang melihat orang lain berhasil sebab perasaan itu terdengar tidak terpuji sehingga lebih sering disembunyikan daripada diakui. Namun justru karena tersembunyi, hasad menjadi salah satu penyakit hati yang paling sulit dikenali. Hasad memang tidak selalu muncul dalam bentuk kebencian. Seringkali hasad hadir dengan wajah yang jauh lebih sopan.
Ketika seorang rekan memperoleh promosi, kita mungkin tidak memprotes keputusan pimpinan tetapi hati kita mulai sibuk mencari-cari penjelasan yang membuat kita merasa lebih baik. “Mungkin karena dia dekat dengan atasan”, “Dia hanya sedang beruntung” atau “Kalau saya mendapat kesempatan yang sama, hasilnya tentu tidak kalah”.
Bisa saja sebagian dugaan itu benar. Namun, bukan itu inti persoalannya. Yang lebih penting adalah mengapa hati kita jadi merasa perlu mencari alasan untuk mengecilkan keberhasilan orang lain.
Di situasi lainnya, hasad bisa tampil dalam bentuk keengganan berbagi pengalaman karena khawatir orang lain berkembang lebih cepat. Kita merasa biasa saja ketika rekan memperoleh prestasi, tetapi diam-diam merasa lega ketika ia melakukan kesalahan. Bahkan, ada kalanya kita lebih mudah mengingat satu kekurangannya daripada sepuluh kelebihannya.
Jika direnungkan, sikap seperti ini tidak memberikan keuntungan apa pun. Rekan yang gagal tidak membuat kita otomatis berhasil. Jabatan yang batal diperoleh orang lain tidak serta-merta berpindah kepada kita. Yang bertambah justru kegelisahan dalam hati sendiri.
Karena itulah Rasulullah SAW pernah mengingatkan:
“Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR. Muslim, No. 2564).
Hadits ini menunjukkan bahwa hasad tidak berhenti sebagai urusan batin. Ia bisa perlahan mengubah cara seseorang memandang dan memperlakukan saudaranya. Orang yang semula tulus memberi dukungan menjadi pelit berbagi kesempatan. Orang yang semula mudah memberikan apresiasi menjadi lebih senang melontarkan kritik. Dalam lingkungan kerja, hasad bahkan dapat membentuk sekat-sekat yang tidak terlihat. Kesempatan belajar, informasi penting, atau proyek-proyek strategis hanya berputar di dalam lingkaran orang tertentu, sementara mereka yang dipandang “bukan bagian dari kelompok” perlahan disisihkan. Tidak ada penolakan yang diucapkan secara terang-terangan, tetapi perlakuan yang diterima membuat seseorang merasa menjadi orang luar di tempat ia seharusnya bertumbuh bersama. Sedikit demi sedikit, hasad merusak persaudaraan yang seharusnya menjadi kekuatan sebuah komunitas.
Keberhasilan orang lain bukanlah tanda bahwa Allah melupakan kita. Bisa jadi, melalui peristiwa itu Allah sedang menguji keadaan hati kita sendiri. Apakah kita mampu ikut bergembira atas nikmat saudara kita, atau justru merasa berat menerima ketetapan-Nya? Sebab, tidak semua ujian datang dalam bentuk kesulitan. Ada kalanya Allah menguji kita melalui kebahagiaan yang diberikan kepada orang lain.
Mungkin inilah ujian yang paling sunyi. Kita bisa saja menyembunyikan rasa iri di balik senyum, ucapan selamat, bahkan doa yang terdengar tulus. Orang lain mungkin tidak pernah mengetahui apa yang sesungguhnya bergejolak di dalam hati kita. Namun Allah mengetahui setiap bisikan yang tidak pernah terucap. Di hadapan manusia kita bisa tampak baik-baik saja, tetapi di hadapan Allah tidak ada satu pun isi hati yang dapat disembunyikan.
Menjaga Hati agar Tetap Lapang
Rasa iri mungkin pernah singgah di hati setiap orang. Yang membedakan bukanlah apakah perasaan itu muncul atau tidak, melainkan apakah kita membiarkannya menetap. Seorang mukmin menyadari bahwa pergulatan terbesar bukanlah mengubah orang lain, melainkan menjaga agar hatinya tetap bersih ketika melihat orang lain memperoleh nikmat yang belum ia miliki.
Menerima kenyataan bahwa Allah membagikan karunia kepada setiap hamba dengan cara dan waktu yang berbeda memang tidak selalu mudah. Kita sering berharap perjalanan hidup berjalan sesuai ukuran yang kita anggap adil. Padahal Allah memiliki ukuran-Nya sendiri. Ada yang lebih dahulu dipercaya memimpin, ada yang dimudahkan menuntut ilmu, dan ada pula yang dilapangkan rezekinya. Sementara sebagian yang lain justru ditempa melalui jalan yang lebih panjang dan lebih berat. Semua memiliki waktunya masing-masing. Karena itu, jika hari ini kita belum memperoleh apa yang dimiliki orang lain, jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kita tertinggal. Setiap orang memiliki musimnya sendiri. Ada amanah yang datang lebih awal, ada pula yang baru Allah titipkan setelah seseorang benar-benar siap memikulnya. Sebab, tidak semua karunia layak diterima sebelum seseorang siap menjaganya.
Karena itu, ketika melihat keberhasilan orang lain, jangan langsung terburu-buru bertanya, “Mengapa dia?”, justru akan lebih menenangkan jika kita bertanya, “Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui peristiwa ini?”. Pertanyaan kedua tidak hanya mengubah cara kita berpikir, tetapi juga akan menata ulang cara kita memandang takdir.
Hati yang dipenuhi rasa syukur akan lebih mudah menerima keberhasilan orang lain. Sebab, syukur mengajarkan kita untuk melihat apa yang telah Allah berikan, bukan terus-menerus memikirkan apa yang belum kita miliki. Kita kadang baru menyadari besarnya sebuah nikmat ketika nikmat itu hilang. Padahal, tubuh yang sehat, keluarga yang selalu hadir, pekerjaan yang halal, kesempatan untuk terus belajar, bahkan kemampuan beribadah dengan tenang merupakan karunia yang tidak ternilai. Sayangnya, semua itu kerap luput dari perhatian karena pandangan kita lebih sibuk tertuju pada kehidupan orang lain daripada kehidupan sendiri.
Islam tidak menuntut kita menjadi manusia yang tidak pernah merasa iri. Yang diajarkan adalah mengarahkan rasa itu menjadi ghibthah, yaitu menjadikan keberhasilan orang lain sebagai penyemangat untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk mengecilkan dan membenci mereka. Ketika seorang rekan memperoleh amanah atau prestasi, tidak ada salahnya bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari darinya?”. Pertanyaan sederhana itu jauh lebih bermanfaat daripada terus bertanya, “Mengapa bukan saya?”.
Jika hati kita mulai mampu memandang keberhasilan orang lain sebagai inspirasi dan bukan sebagai ancaman, perlahan kita akan menyadari bahwa karunia Allah tidak pernah berhenti pada satu orang. Allah tetap membuka pintu-pintu kebaikan bagi siapa saja yang terus berikhtiar dan berserah diri kepada-Nya.
Salah satu tanda hati mulai sembuh dari hasad adalah ketika kita mampu mendoakan orang yang sedang memperoleh nikmat. Bukan sekadar mengucapkan “selamat”, tetapi benar-benar berharap Allah menambahkan keberkahan dalam hidupnya. Di situlah hati kita perlahan belajar bahwa kebahagiaan orang lain tidak pernah mengurangi bagian yang telah Allah tetapkan untuk kita.
Kita mungkin terlalu sering mengira bahwa hidup adalah perlombaan mengalahkan orang lain. Padahal, perlombaan yang sesungguhnya adalah menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin. Apa yang Allah hisab bukanlah perjalanan karier rekan-rekan kita, melainkan bagaimana kita menjaga hati di sepanjang perjalanan hidup kita sendiri. Kita tidak akan ditanya mengapa orang lain lebih dahulu dipromosikan, lebih dahulu berhasil, atau lebih dahulu dikenal. Sebaliknya, kita mungkin akan ditanya apakah kita tetap bersyukur ketika melihat nikmat Allah turun kepada rekan kita, apakah kita tetap berprasangka baik kepada-Nya ketika doa-doa kita belum juga terjawab, dan apakah kita tetap mampu mencintai rekan kita karena Allah meskipun Allah memberinya sesuatu yang belum kita miliki.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari hasad, menjadikan kita sebagai hamba yang lebih mudah bersyukur dalam semua keadaan dan turut bergembira atas kebaikan yang diterima orang lain sebagaimana bergembira ketika kebaikan itu datang kepada diri kita sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab.



