Belonging dan Kesehatan Mental Mahasiswa
Kesehatan mental merupakan isu krusial bagi kehidupan mahasiswa. Selama masa perkuliahan, mahasiswa mengalami transisi dan menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan. Salah satu studi meta-analisis menyebutkan bahwa prevalensi masalah depresi dan keinginan mengakhiri hidup pada mahasiswa sebanyak 21% (Sheldon et al., 2021). Survei skala internasional pada 21 negara menunjukkan bahwa satu dari lima mahasiswa mengalami setidaknya satu gangguan mental dan sebagian besar onset (kemunculan gejala) ketika awal perkuliahan (Auerbach et al., 2016).
Kondisi kesehatan mental yang buruk pada mahasiswa dapat berdampak negatif pada kehidupan mahasiswa. Mahasiswa dengan gangguan psikologis beresiko untuk mengalami drop out dari studi (Zając et al., 2024). Masalah kesehatan mental juga berdampak buruk pada performa akademik, mahasiswa lebih mengkhawatirkan tuntutan akademik, penyelesaian studi, meragukan apakah usaha, waktu dan uang yang dihabiskan sebanding dengan studi yang dijalani (Lipson & Eisenberg, 2017).
Terdapat beberapa faktor yang menjadi buffer dalam mencegah masalah kesehatan mental, yaitu faktor psikologis, keluarga, citra diri, literasi kesehatan mental, dan koneksi sosial (Campbell et al., 2022). Sense of belonging menjadi salah satu wujud dari koneksi sosial yang positif. Lebih lanjut, tulisan ini berfokus pada bahasan peran belongingness berimplikasi pada kesehatan mental mahasiswa.
Konsep Belongingness
Belongingness merujuk pada perasaan subjektif individu akan rasa keterhubungan yang mendalam dengan kelompok sosial, lingkungan fisik, dan pengalaman individual/kolektif (Allen et al., 2021). Belonging adalah kebutuhan mendasar manusia, secara alami manusia terdorong untuk terhubung dengan orang lain. Rasa keterhubungan ini dapat melahirkan makna hidup dan kesejahteraan, karena rasa terhubung memungkinkan individu merasakan eksistensi dirinya dan adanya penerimaan. Belonging tidak berhubungan dengan jumlah orang yang ada di sekitar, namun merupakan perasaan subjektif individu terhadap kualitas koneksi sosialnya (Allen, 2021). Dalam konteks pendidikan, school belonging adalah sejauh mana siswa merasa dirinya diterima, dihargai, dilibatkan, dan didukung oleh orang lain di lingkungan sekolah (Goodenow & Grady, 1993). Dalam konteks mahasiswa juga serupa, mahasiswa perlu untuk merasa bahwa dirinya diterima dan mendapatkan dukungan oleh dosen, karyawan, serta sesama mahasiswa.
Lebih lanjut, Allen dan Kern (2017) membuat kerangka berpikir bio-psiko-sosio-ekologi model untuk belongingness yang berakar dari teori ekologi Bronfenbrenner. Komponen biologis berkaitan dengan genetik dan aspek biologis siswa atau mahasiswa yang menjadi predisposisi bagaimana siswa/mahasiswa berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Komponen psikologis memuat aspek psikologi siswa/mahasiswa, seperti cara berpikir, kepribadian, gaya kognitif, emosi. Komponen sosial menggambarkan interkoneksi belongingness, hubungan antar siswa, guru, dan lingkungan sekolah atau perguruan tinggi. Adapun ekologi merupakan konteks yang lebih luas dari lingkungan sekolah atau perguruan tinggi dan daerah, kebijakan, norma, budaya yang turut andil dalam memengaruhi perilaku siswa/mahasiswa.
Bagaimana Belongingness Berperan dalam Kesehatan Mental Mahasiswa?
Belongingness memiliki peran yang sentral dalam mewujudkan kesehatan mental mahasiswa. Riset longitudinal sebelumnya menunjukkan bahwa rendahnya belongingness pada mahasiswa dapat memprediksi gejala depresi dan kecemasan (Dutcher et al., 2022; Gopalan et al., 2022). Mahasiswa yang merasa dirinya terasing yang merasa bukan bagian dari perguruan tinggi, beresiko mengalami gejala depresi dan kecemasan di masa mendatang. Sense of belonging pada mahasiswa juga menjadi faktor protektif pada pikiran bunuh diri (Ploskonka & Servaty-Seib, 2015). Belongingness di perguruan tinggi berperan dalam meningkatkan kepuasan hidup (Civitci, 2015) dan penyesuaian diri mahasiswa (Arslan, 2021). Sense of belonging juga berperan besar dalam meningkatkan well being pada mahasiswa doktoral (Morris, 2021).
Upaya Menguatkan Belongingness
Perguruan tinggi perlu menyusun program intervensi yang mempromosikan sense of belonging pada mahasiswa (Campbell et al., 2022). Perguruan tinggi dapat membuat kegiatan orientasi mahasiswa baru yang sifatnya ramah, penuh penerimaan, dan melibatkan mahasiswa, sehingga mahasiswa merasa didengar dan menjadi bagian dari perguruan tinggi. Kegiatan ekstrakurikuler dan ko-kurikuler menjadi aktivitas yang dapat memunculkan keterhubungan sosial. Interaksi yang dibangun dapat berupa sesama mahasiswa di kelas, mahasiswa tingkat lanjut sebagai mentor dari mahasiswa tahun di bawahnya, mahasiswa sebagai tim panitia, dan sebagainya. Hubungan positif antara edukator dan siswa/mahasiswa sangat penting (Hattie, 2009). Dosen perlu memiliki komitmen untuk meluangkan waktu dan energinya untuk terhubung dengan mahasiswa serta menunjukkan sikap suportif (Allen & Kern, 2017). Dalam proses pembelajaran, dosen dapat menggunakan metode kolaboratif sehingga mahasiswa berkesempatan untuk melakukan kerja sama sekaligus mendapatkan tanggung jawab. Secara khusus, peran dosen pembimbing akademik juga penting, karena memiliki tugas untuk membimbing akademik maupun pengembangan diri mahasiswa.
Simpulan
Belongingness berpotensi dapat memberikan efek buffer pada masalah kesehatan mental mahasiswa. Secara praktis, perguruan tinggi perlu memberikan perhatian lebih pada program yang menyasar pada belongingness mulai ketika mahasiswa memasuki perkuliahan awal. Ketika mahasiswa memiliki perasaan bahwa dirinya diterima dan menjadi bagian dari komunitas perguruan tinggi, maka akan memunculkan perasaan positif dan menjaga kesehatan mentalnya. Meski riset kualitatif, korelasional, dan longitudinal telah memotret pentingnya belongingness pada mahasiswa, riset eksperimental lebih lanjut diperlukan untuk melihat efektivitas program berbasis belongingness untuk optimalisasi kesehatan mental mahasiswa.
Referensi
Allen, K. A. (2020). Psychology of belonging. Routledge.
Allen, K. A., & Kern, M. L. (2017). School belonging in adolescents: Theory, research, and practice. Springer. https://doi.org/10.1007/978-981-10-5996-4
Arslan, G. (2021). Loneliness, college belongingness, subjective vitality, and psychological adjustment during Coronavirus pandemic: Development of the College Belongingness Questionnaire. Journal of Positive School Psychology, 5(1), 17–31. https://doi.org/10.47602/jpsp.v5i1.240
Auerbach, R. P., Alonso, J., Axinn, W. G., Cuijpers, P., Ebert, D. D., Green, J. G., Hwang, I., Kessler, R. C., Liu, H., Mortier, P., Nock, M. K., Pinder-Amaker, S., Sampson, N. A., Aguilar-Gaxiola, S., Al-Hamzawi, A., Andrade, L. H., Benjet, C., Caldas-de-Almeida, J. M., Demyttenaere, K., Florescu, S., … Bruffaerts, R. (2016). Mental disorders among college students in the World Health Organization World Mental Health Surveys. Psychological Medicine, 46(14), 2955–2970. https://doi.org/10.1017/S0033291716001665
Campbell, F., Blank, L., Cantrell, A., Baxter, S., Blackmore, C., Dixon, J., & Goyder, E. (2022) Factors that influence mental health of university and college students in the UK: A systematic review. BMC Public Health 22, 1778. https://doi.org/10.1186/s12889-022-13943-x
Civitci, A. (2015) Perceived stress and life satisfaction in college students: Belonging and extracurricular participation as moderators. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 205, 271-281. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.09.077
Dutcher, J. M., Lederman, J., Jain, M., Price, S., Kumar, A., Villalba, D. K., Tumminia, M. J., Doryab, A., Creswell, K. G., Riskin, E., Sefdigar, Y., Seo, W., Mankoff, J., Cohen, S., Dey, A., & Creswell, J. D. (2022). Lack of belonging predicts depressive symptomatology in college students. Psychological Science, 33(7), 1048–1067. https://doi.org/10.1177/09567976211073135
Goodenow, C., & Grady, K. E. (1993). The relationship of school belonging and friends’ values to academic motivation among urban adolescent students. Journal of Experimental Education, 62(1), 60–71. https://doi.org/10.1080/00220973.1993.9943831
Gopalan, M., Linden-Carmichael, A., & Lanza, S. (2022). College students’ sense of belonging and mental health amidst the covid-19 pandemic. The Journal of Adolescent Health, 70(2), 228–233. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2021.10.010
Hattie, J. (2009). Visible learning: A synthesis of over 800 meta-ana lyses related to achievement. London: Routledge.
Lipson, S. K., & Eisenberg, D. (2017). Mental health and academic attitudes and expectations in university populations: results from the healthy minds study. Journal of Mental Health, 27(3), 205–213. https://doi.org/10.1080/09638237.2017.1417567
Morris, C. (2021), “Peering through the window looking in”: Postgraduate experiences of non-belonging and belonging in relation to mental health and wellbeing. Studies in Graduate and Postdoctoral Education, 12(1), 131–144, doi: https://doi.org/10.1108/SGPE-07-2020-0055
Ploskonka, R. A., & Servaty-Seib, H. L. (2015). Belongingness and suicidal ideation in college students. Journal of American College Health, 63(2), 81–87. https://doi.org/10.1080/07448481.2014.983928
Sheldon, E., Simmonds-Buckley, M., Bone, C., Mascarenhas, T., Chan, N., Wincott, M., Gleeson, H., Sow, K., Hind, D., & Barkham, M. (2021). Prevalence and risk factors for mental health problems in university undergraduate students: A systematic review with meta-analysis. Journal of Affective Disorders, 287, 282–292. https://doi.org/10.1016/j.jad.2021.03.054
Zając, T., Perales, F., Tomaszewski, W., Xiang, N., & Zubrick, S. (2024). Student mental health and dropout from higher education: an analysis of Australian administrative data. High Education. https://doi.org/10.1007/s10734-023-01009-9



