Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 17 April 2026

Bahagialah dalam proses 

Tri Ruswantoro
Tendik Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Banyak dari kita sering berpikir dalam perjalanan hidup lebih melihat hasil daripada proses. Kita lupa bahwa yang dinilai Allah itu adalah yang sedang kita kerjakan, bukan hasil yang akan kita dapatkan karena wilayah menentukan hasil itu ada pada kewenangan Allah. Dalam proses perjalanan hidup kita selalu menargetkan hasil atau apa saja nanti yang akan kita peroleh. Sejak kita belum memiliki apapun sampai akhir kehidupan, kita tidak akan pernah bahagia bila kita keliru menempatkan kebahagiaan itu di dalam hasil atau tujuan karena bisa saja akan berbanding terbalik, tidak sesuai denga apa yang kita harapkan. Bila kita menempatkan kebahagiaan itu dalam proses, maka kita akan bisa menikmati setiap tahapan proses dalam hidup.  Jangan sampai lupa bahwa sebetulnya yang menjadi milik kita hanyalah apa yang kita miliki hari ini. Siapapun dia, apapun pekerjaannya, hari esok masih menjadi mimpi atau cita-cita, belum jadi kenyataan. belum jadi milik kita. Begitu juga hari kemarin yang sudah menjadi masa lalu, tidak mungkin lagi kita menggapainya. Oleh karena itu, bila kita ingin bahagia, pilihan kita hanya satu; bahagialah dengan hari ini, atau kita akan kecewa kalau mencari kebahagiaan dari masa lalu atau mengharapkannya dari masa depan.

Berpikir positiflah dengan proses apapun yang kita alami selama dalam perjalanan. Selama dalam proses, lihatlah dari sudut pandang yang positif. Kalau kita mampu melihat semua kejadian yang kita alami dari sudut pandang yang positif, maka kita pasti bahagia. Ketika dalam proses perjalanan hidup kita mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti sakit, kehilangan barang, dan lain sebagainya, hal ini dapat membuat kita menderita atau malah sebaliknya. Ketika kita berpikir positif dengan menganggap hal yang tidak menyenangkan itu merupakan ujian Allah, untuk menguji kesabaran kita, lalu kita menyikapi dan berikan sabar yang terbaik dalam menghadapinya, maka yakinlah kita pasti bahagia. Allah mencintai orang yang sabar, seperti dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an:

وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٤٦

 Artinya.”….. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146) 

Dalam proses perjalanan hidup kita, Allah berikan hal-hal yang menyenangkan dan kita ikuti dengan perasaan bersyukur, maka pastilah proses itu akan membahagiakan kita. Cara menumbuhkan rasa syukur tersebut adalah dengan berpikir positif terhadap Allah SWT. Tanamkan dalam hati kita bahwa semua yang Allah berikan itu pasti demi kebaikan kita, sehingga mudah bagi kita untuk berfikir positif terhadap Allah. Yakinilah bahwa Allah sangat sayang kepada kita dan berfikir positiflah dalam segala proses. 

Cara mudah untuk berpikir Positif terhadap Allah dalam menjalani proses hidup ini adalah dengan meyakini takdir. Takdir adalah salah satu rukun iman yang harus kita percayai keberadaannya. Rela atau tidak rela kita menghadap takdir, yang pasti takdir kita ada ditangan Allah. Allah tahu persis tentang ukuran atau takdir apa yang cocok untuk kita. Sebagaimana firman-Nya:

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ ۝٤٩

“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut Ukuran (takdirnya)” (Al-Qomar:49). 

Jadi, tugas kita hanya satu berpikir positif saja terhadap takdir Allah. Jalani saja proses perjalanan hidup dengan ridho kepada-Nya. Jadikan proses itu amal sholeh kita, proses perjalanan hidup kita yang sebetulnya adalah saat ini. Ini adalah modal utama kita untuk hidup bahagia di dunia maupun di akhirat. Seperti sudah disampaikan di atas, milik kita yang sebetulnya adalah saat ini, sekarang ini, hari ini, dan detik ini. Apakah akan kita jadikan sumber kebahagiaan atau sumber penderitaan tergantung cara kita mengelolanya saat ini. Kalau kita bisa mengelola waktu kita sekarang ini sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah, maka yakinlah proses yang kita jalani ini akan menjadi amal sholeh. 

Dua hal yang dapat kita lakukan agar tetap mampu berpikir positif, yaitu dengan (1) tidak pernah meninggalkan niat ikhlas mencari ridho Allah dalam semua aktifitas yang kita lakukan dan (2) mengikuti tuntunan Rasulullah SAW agar semua proses bernilai amal sholeh. Jika kita bisa memaknai proses kehidupan, kita jaga diri setiap hari, berniat hanya karena Allah, dan  menjadikan tuntunan Nabi Muhammad SAW sebagai acuan teladan hidup kita, maka yakinlah kita sudah berbuat amal sholeh. Allah akan janjikan surga bagi semua orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

Kesimpulannya, dari semua yang kita uraikan di atas adalah kebahagiaan itu bisa kita dapatkan dari setiap langkah kehidupan yang kita jalani; mensyukuri setiap langkah, belajar dari kegagalan, dan menghargai pertumbuhan diri. Mari kita cari kebahagian dalam perjalanan di dunia dan kita cari juga kebahagian sampai akhirat. Nikmati proses hidup di dunia ini dengan selalu berbuat yang terbaik dalam hidup kita sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah. Maka lihatlah nanti, tanpa kita sadari tiba-tiba kita temukan diri kita bahagia dalam perjalanan di dunia dan insya Allah juga akan bahagia nanti di tujuan, di akhirat kelak serta terbebas dari api neraka. Aamiiin.