Syiar

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 15 Juni 2026

‘’Ya Allah, ini arahnya ke mana?’’

Memaknai quarter life crisis dalam cahaya Islam

Amelia Alfadillah
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Mengenakan toga, menerima ijazah, lalu berfoto bersama keluarga menjadi impian semua mahasiswa. Setelah bertahun-tahun berjuang menyelesaikan tugas, menghadapi ujian, hingga bergelut dengan skripsi, akhirnya gelar sarjana berhasil diraih. Banyak orang menganggap momen wisuda sebagai garis akhir dari sebuah perjalanan panjang. Padahal, bagi sebagian besar lulusan baru (fresh graduate), wisuda justru menjadi garis awal dari perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian.

Tidak sedikit lulusan baru yang merasakan kebahagiaan wisuda hanya sesaat. Beberapa hari setelah euforia wisuda, muncul pertanyaan-pertanyaan yang mulai memenuhi pikiran. ‘’Haruskah aku segera bekerja?’’, ‘’bagaimana jika belum ada perusahaan yang menerima?’’, ‘’apakah aku sebaiknya melanjutkan studi?’’, ‘’bagaimana jika keputusan yang aku ambil justru membuatku menyesal di kemudian hari?’’. Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin ramai ketika membuka media sosial. Linimasa dipenuhi kabar teman yang telah diterima kerja di perusahaan impian, memperoleh beasiswa ke luar negeri, atau merintis usaha sendiri. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan perjalanan hidup kita dengan pencapaian orang lain. Padahal, yang terlihat di media sosial hanyalah potongan-potongan terbaik dari cerita kehidupan seseorang. Membandingkan kehidupan secara terus-menerus, sering kali menimbulkan perasaan tertinggal. Kita mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri, meragukan pilihan hidup, bahkan merasa seolah-olah menjadi satu-satunya orang yang belum berhasil. Kebahagiaan atas kelulusan perlahan berubah menjadi kecemasan tentang masa depan. Dalam psikologi fenomena ini dikenal dengan istilah quarter life crisis.

Mengenal quarter life crisis

Quarter life crisis merujuk pada fase ketika seseorang mengalami kebingungan, kecemasan, dan ketidakpastian mengenai arah hidup pada rentang usia dewasa awal. Robinson (2016) menjelaskan bahwa fase ini ditandai oleh konflik antara harapan yang dimiliki seseorang dengan realitas kehidupan yang dihadapinya. Sementara itu, Fisher (2008) menggambarkan quarter life crisis sebagai periode ketika individu mulai mempertanyakan berbagai aspek kehidupannya, mulai dari karier, pendidikan, hubungan interpersonal, hingga makna hidup itu sendiri. Fenomena ini, umumnya dialami oleh individu berusia sekitar 20 hingga awal 30 tahun. Pada fase tersebut seseorang mulai memasuki dunia yang penuh tanggung jawab. Tidak lagi berada dalam lingkungan kampus yang relatif terstruktur, mereka dituntut mengambil keputusan-keputusan besar secara mandiri. Mulai dari memilih pekerjaan, mengelola keuangan, hingga merancang masa depan.

Dalam psikologi perkembangan, kondisi tersebut merupakan bagian dari tahap emerging adulthood yang diperkenalkan oleh Jeffrey Jensen Arnett. Menurut Arnett (2000), usia 18-29 tahun merupakan masa transisi antara remaja dan dewasa yang ditandai dengan eksplorasi identitas secara intensif. Individu masih berusaha menemukan siapa dirinya, pekerjaan seperti apa yang ingin dijalani, nilai-nilai apa yang ingin dipegang, hingga kehidupan seperti apa yang ingin dibangun.

Penelitian yang dilakukan LinkedIn terhadap lebih dari 6,000 responden di Amerika Serikat, Inggris, India, dan Australia menunjukkan bahwa sekitar 75% responden berusia 25-33 tahun mengaku pernah mengalami fase quarter life crisis. Temuan ini memperlihatkan bahwa kegelisahan mengenai masa depan bukan hanya dialami oleh segelintir orang, melainkan menjadi fenomena yang cukup umum pada generasi muda. Oleh karena itu, memahami penyebab quarter life crisis menjadi langkah awal agar seseorang mampu mengelola fase ini secara lebih sehat. 

Mengapa quarter life crisis bisa terjadi?

Banyak faktor yang menjadi penyebab quarter life crisis diantaranya adalah, (1) perubahan besar dalam hidup, seperti peralihan dari dunia perkuliahan ke dunia kerja, membuat individu harus beradaptasi dengan tanggung jawab dan ketidakpastian yang baru sehingga sering kali merasa bingung menentukan arah hidup, (2) tekanan sosial dan ekonomi dari keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan juga dapat menimbulkan tuntutan untuk segera mencapai kesuksesan dalam karier, pendidikan, atau kehidupan pribadi, (3) pencarian identitas dan peran hidup menjadi tantangan tersendiri karena pada fase ini individu masih berusaha memahami nilai-nilai, keyakinan, dan tujuan hidup yang ingin dijalan, (4) keterbatasan dan banyaknya pilihan membuat seseorang menyadari bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi jangka panjang, sehingga tidak jarang memunculkan keraguan dan kecemasan, (5) komparasi sosial terutama melalui media sosial, mendorong individu membandingkan pencapaiannya dengan orang lain.  Akibatnya, muncul perasaan tidak cukup, kecewa terhadap diri sendiri, bahkan putus asa ketika kenyataan hidup belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan (Syahti et al., 2024). 

Quarter life crisis dalam perspektif Islam

Dalam pandangan Islam, kehidupan dunia merupakan tempat manusia belajar, bertumbuh, sekaligus diuji. Tidak ada satu pun manusia yang hidup tanpa adanya kesulitan. Oleh karena itu, rasa bingung, takut, ataupun cemas terhadap masa depan bukanlah pertanda bahwa seseorang memiliki iman yang lemah. Perasaan tersebut merupakan bagian dari fitrah manusia yang memiliki harapan sekaligus keterbatasan.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan bahwa setiap orang yang beriman akan menghadapi ujian dalam hidupnya. Firman Allah SWT: 

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا أَن يَقُولُوٓا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka belum diuji?” (al-‘Ankabut: 2)

Allah SWT memberikan ujian bukan sebagai bentuk kebencian kepada hamba-Nya. Sebaliknya, ujian merupakan sarana untuk menumbuhkan kedewasaan, memperkuat kesabaran, serta meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Demikian pula ketika seorang lulusan baru belum memperoleh pekerjaan, mengalami penolakan berkali-kali, atau merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya. Semua itu bukan berarti Allah menutup jalan rezekinya, melainkan bagian dari proses yang sedang Allah siapkan agar ia menjadi pribadi yang lebih kuat.

Islam juga mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kadar ujian yang berbeda-beda. Allah SWT. berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” 

(al-Baqarah: 286).

Ayat diatas menerangkan, jika hari ini kita masih bertahan meskipun berkali-kali mengalami kegagalan, berarti Allah tahu bahwa kita mampu melewati ujian tersebut. Tidak ada ujian yang diberikan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Namun, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hanya menunggu tanpa berbuat apa-apa. Ketika menghadapi ketidakpastian, seorang muslim diperintahkan untuk mengoptimalkan ikhtiar sekaligus memperkuat tawakal. Konsep tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan percaya bahwa keputusan Allah SWT selalu lebih baik daripada rencana yang sudah kita rencanakan. Sebagaimana firman Allah SWT.:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ 

“…Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya…” (at-Talaq: 3)

Dalam konteks quarter life crisis, keyakinan inilah yang menjadi sumber ketenangan. Ketika manusia hanya bergantung pada rencana yang dibuatnya sendiri, kegagalan akan terasa sangat menyakitkan. Namun, ketika seseorang menyadari bahwa Allah SWT adalah sebaik-baik perencana, ia akan lebih mudah menerima bahwa setiap proses memiliki hikmah yang terbaik bagi dirinya.

Berdamai dengan quarter life crisis

Quarter life crisis bukanlah tanda bahwa seseorang gagal menjalani hidup, melainkan fase yang banyak dialami ketika memasuki masa dewasa awal. Perasaan bingung, cemas, dan takut terhadap masa depan merupakan hal yang wajar, terutama ketika seseorang sedang berusaha menemukan arah hidupnya. Yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita mencapai tujuan, tetapi bagaimana kita tetap bertumbuh di tengah ketidakpastian hidup.

Dari sudut pandang psikologi, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk mengenali diri, menyusun kembali tujuan hidup, dan membangun ketahanan psikologis. Sementara itu, Islam mengajarkan bahwa setiap ujian selalu mengandung hikmah. Manusia diperintahkan untuk terus berikhtiar, tetapi tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. dengan penuh keyakinan. Dalam surat al-Insyirah ayat 5-6 Allah SWT berfirman:

  

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝٥ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝٦

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5-6)

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya. Penolakan dalam pekerjaan, kegagalan memperoleh beasiswa, atau ketidakjelasan arah hidup bukanlah akhir dari perjalanan. Bisa jadi itu cara Allah mempersiapkan sesuatu yang lebih baik di waktu yang tepat dan dalam keadaan yang lebih siap.

Pada akhirnya, setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Tidak perlu merasa tertinggal hanya karena perjalanan hidup kita berbeda dengan orang lain. Selama terus berusaha, memperbaiki diri, dan melibatkan Allah SWT dalam setiap langkah, tidak ada proses yang sia-sia. Ketika pertanyaan “Ya Allah, ini arahnya ke mana?” Kembali hadir di benak kita, jawaban terbaik mungkin bukan tentang mengetahui seluruh rencana hidup, melainkan tetap melangkah dengan ikhtiar, memperbanyak doa, dan percaya bahwa Allah adalah sebaik-baiknya perencana.

Referensi

Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.5.469

Fisher, M. A. (2008). Protecting Confidentiality Rights: The need for an ethical practice model. American Psychologist, 63(1), 1–13. https://doi.org/10.1037/0003-066X.63.1.1

Robinson, O. C. (2015). Emerging adulthood, early adulthood and quarter-life crisis: Updating Erikson for the twenty-first century. Dalam R. Žukauskienė (Ed.), Emerging adulthood in a European context (pp. 17–30). Routledge.

Syahti, M. N., Surya, E. P. A., & Handayani, R. (2024). Quarter life crisis: Strategi untuk sukses dan personal growth. Jurnal Ekonomika Dan Bisnis (JEBS), 4(4), 588-592. https://doi.org/10.47233/jebs.v4i4.1911

TafsirWeb. (n.d.). Al-Qur’an dan terjemahan. https://tafsirweb.com/