Syi’ar
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 22 Mei 2026
Menjaga iman Generasi Z dan Generasi Alfa di era media sosial
Muhammad Luthfi Adi Dharma
Tendik Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Tantangan Dunia Digital
Perkembangan teknologi informasi pada era saat ini telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Bagi Generasi Z dan Generasi Alpha, dunia digital tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi jarak jauh maupun media untuk mengisi waktu luang, tetapi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Lingkungan digital turut menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang, berpikir, berinteraksi, dan membentuk karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Generasi muda, khususnya Gen Z dan Alpha, dihadapkan pada arus informasi yang begitu besar melalui berbagai platform digital setiap harinya. Di sisi lain, penggunaan media sosial yang tidak bijaksana dapat membuat mereka semakin jauh dari nilai-nilai agama dan lebih berorientasi pada kesenangan serta pencapaian duniawi. Fenomena seperti memamerkan kekayaan (flexing) dan mengejar jumlah likes telah menjadi hal yang umum dijumpai di media sosial. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius karena secara perlahan dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, serta melemahkan fondasi keimanan generasi muda.
Bahaya Bikin Konten Hanya Demi Pujian
Salah satu perubahan nilai yang paling dikhawatirkan di era Internet ini adalah bergesernya tujuan utama dalam beribadah. Banyak aktivitas keagamaan, seperti memakai hijab, sholawat, dan dakwah, kini dijadikan konten yang dibuat hanya untuk menjadi sekadar komoditas visual demi mengejar popularitas dan bukan lagi murni karena Allah SWT. Akibatnya, ketulusan hati (ikhlas) dan ketenangan jiwa (thuma’ninah) yang menjadi inti spiritualitas Islam menjadi rentan untuk bergeser, bahkan bisa hilang dan berubah menjadi penyakit hati yang sangat berbahaya yaitu riya’ (keinginan agar amal kebaikannya dilihat orang lain) dan sum’ah (keinginan agar amal kebaikannya didengar dan dibicarakan oleh orang banyak).
Terkait dengan bahaya penyakit hati ini, Rasulullah SAW jauh-jauh hari sudah memberikan peringatan yang sangat tegas dalam sebuah hadits:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “(Yaitu) riya’. Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat kelak ketika membalas amalan manusia: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian pameri (berbuat riya’) di dunia. Lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?'” (HR. Ahmad).
Dampak negatif dari hilangnya keikhlasan tidak hanya berpengaruh terhadap berkurangnya pahala, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan mental generasi muda. Ketika kebahagiaan dan ketenangan diri terlalu bergantung pada pengakuan serta penilaian orang lain di media sosial, mereka rentan mengalami FOMO (Fear of Missing Out), yaitu ketakutan akan tertinggal dari berbagai tren atau aktivitas yang sedang berlangsung. Kondisi tersebut dapat membuat mereka terus merasa cemas, sulit merasa puas, serta menganggap dirinya kurang beruntung ketika membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih bahagia di media sosial.
Jangan Tertipu Kemewahan Semu
Media sosial seringkali membuat gaya hidup mewah terlihat sebagai tujuan utama hidup. Seperti yang terlihat di banyak media sosial, kehidupan orang lain yang mewah, megah, dan serba menyenangkan selalu ditampilkan. Hal ini memicu sifat serakah dan persaingan yang tidak sehat dalam urusan duniawi. Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan dalam firman-Nya,
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia adalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan saling berbangga di antara kamu, dan saling berlomba dalam kekayaan dan anak turunan” (al-Hadid: 20).
Dari kesimpulan ayat ini, generasi Gen Z dan Alpha diajak untuk menyadari bahwa media sosial yang ada di tangan mereka saat ini hanya sebuah wujud “permainan dan hiburan”. Tanpa benteng iman yang kuat, anak muda akan melupakan tujuan jangka panjang mereka yaitu kehidupan bahagia di akhirat.
Strategi Cerdas Menjaga Identitas Muslim di Dunia Maya
Menghadapi derasnya arus modernisasi teknologi ini, tindakan menolak perkembangan zaman secara radikal atau melarang anak muda memakai teknologi bukanlah sebuah solusi yang bijaksana maupun realistis untuk diterapkan. Langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan kontrol terhadap interaksi digital kita.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menerapkan saring informasi sebelum sharing informasi (Digital Tabayyun), tidak langsung mempercayai atau meniru tren baru. Periksa dulu kebenarannya secara moral dan agama, sesuai perintah Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu” (al-Hujurat: 6).
Tidak hanya berperan dalam menyaring informasi, memilih lingkungan digital yang positif juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kebiasaan kita dalam kehidupan sehari-hari. Konten dan akun yang kita ikuti (follow) secara perlahan dapat memengaruhi cara berpikir dan membentuk kepribadian kita. Sebagaimana perumpamaan dalam hadits Nabi yang menyatakan bahwa bergaul dengan penjual minyak wangi dapat membuat kita ikut merasakan wanginya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengarahkan algoritma media sosial kita agar lebih sering menghadirkan konten yang bermanfaat, seperti kajian Islam, ilmu pengetahuan, dan pengembangan diri.
Yang terakhir, menjaga keseimbangan dengan memperkuat ibadah di dunia nyata. Hal ini diwujudkan dengan kegiatan-kegiatan, misalnya membaca Al-Qur’an secara rutin, aktif berpartisipasi dalam kegiatan positif di masjid, dan berbakti kepada orang tua. Dan ini semua adalah jangkar spriritual agar jiwa kita tidak terseret oleh arus negatif internet.
Pada akhirnya media sosial sebenarnya adalah sebuah alat yang netral. Media sosial akan merusak jika dikendalikan hawa nafsu, tetapi bisa menjadi alat dakwah yang tangguh jika digunakan oleh anak muda yang cerdas dan visioner. Identitas seorang Muslim sejati tidak dilihat dari seberapa menarik tampilannya di layar HP, melainkan dari seberapa kuat iman dan taatnya kepada Allah SWT di kehidupan nyata.




