Syiar

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal terbit, 24 Mei 2026

Mengubah lelah jadi Lillah: Cara cerdas mengubah rutinitas menjadi pahala berlimpah

Irwan Nuryana Kurniawan
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia

Pembukaan: Menjemput bahagia dari hal sederhana

Pernah nggak sih, kita merasa rutinitas harian kita cuma “gitu-gitu aja”? Bangun pagi, berjuang menembus kemacetan, bekerja sampai punggung terasa kaku, pulang, makan seadanya, lalu tidur karena kelelahan—hanya untuk mengulangi semuanya lagi besok. Rasanya lelah banget, ya? Tapi, coba kita geser sedikit sudut pandangnya. Bagaimana kalau setiap tetes keringat saat bekerja, setiap porsi makanan yang kita siapkan, bahkan setiap jam istirahat kita, ternyata bisa berubah jadi tumpukan emas pahala di akhirat nanti? Kabar baiknya, investasi terbaik kita justru bukan cuma saat duduk di atas sajadah, tapi ada pada setiap detik napas kita. Yuk, kita ubah “lelah” menjadi “Lillah” (karena Allah)!

Apa sih ibadah itu sebenarnya? (Ibadah itu bukan cuma shalat lho!)

Banyak dari kita yang mengira ibadah itu cuma urusan shalat, zakat, atau pergi haji. Padahal, makna ibadah itu luas sekali, seluas kasih sayang Allah kepada kita. Para ulama memberikan definisi yang sangat indah dan menenangkan. Mari kita kutip langsung dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup segala yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang nyata (Dhohir) maupun yang berada di dalam hati (batin)”. Jadi, kuncinya ibadah ada dua, yaitu  Allah cinta  dan  Allah Ridha. Selama perbuatan atau ucapan kita disukai Allah, itu adalah ibadah. Baik itu yang terlihat orang (seperti sedekah) maupun yang tersembunyi di balik rongga dada kita (seperti rasa syukur).

Tiga pondasi utama: Kisah Malaikat Jibril

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Bayangkan suasana di Madinah saat itu, matahari bersinar cerah dan para sahabat sedang duduk melingkar mengelilingi Rasulullah saw. Tiba-tiba, muncul seorang laki-laki yang sangat tampan, bajunya putih bersih tanpa noda, dan rambutnya hitam legam. Tak ada satu pun sahabat yang mengenalnya, namun anehnya, tak ada tanda-tanda kelelahan perjalanan pada dirinya. Laki-laki itu—yang tak lain adalah Malaikat Jibril yang menyamar—mendekat, lalu duduk tepat di depan Nabi, menempelkan lututnya pada lutut Nabi, dan mulai bertanya tentang Islam dan iman. Namun, puncaknya adalah saat ia bertanya tentang  Ihsan. Rasulullah saw menjawab dengan kalimat yang menjadi kunci hidup kita, “ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya, namun jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Inilah “bumbu rahasia” kita. Saat kita merasa diawasi Allah saat bekerja, kita akan jujur. Saat merasa Allah melihat kita sedang mengurus anak, kita akan sabar membersamai anak. Kesadaran sedang diawasi Allah ini lah yang menyulap aktivitas duniawi menjadi ibadah yang luar biasa.

Ibadah hati: Mesin utama di balik perbuatan

Sebelum badan kita bergerak, hati kita adalah penggeraknya. Ibadah batin (dalam hati) ini sangat menentukan nilai amal kita. Berikut beberapa “mesin” hati yang perlu kita aktifkan, yaitu rasa cinta dengan melakukan segala hal karena cinta kita pada Sang Pencipta. Kemudian tawakal, artinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah kita berusaha maksimal mencari nafkah. Lalu, al-khauf (takut) dan ar-raja’ (mengharap), yaitu takut berbuat salah tapi selalu penuh harapan akan kasih sayang-Nya. Selanjutnya, al-inabah, yang berarti selalu mengarahkan hati kembali kepada Allah dalam setiap urusan. Kemudian, ar-raghbah (penuh minat), artinya semangat dan antusias saat melakukan kebaikan. Lalu, ar-rahbah (cemas) adalah merasa khawatir jika amal kita tidak diterima atau Allah tidak ridha. Terakhir, al-khushu’ dan al-khasyah ialah menghadirkan kekhusyukan dan rasa takut yang didasari ilmu tentang kebesaran Allah.

Ibadah lisan dan tubuh: Dari dzikir hingga berbagi makanan

Setelah hati tertata, mari kita gerakkan tubuh kita (ibadah zahir). Islam menyediakan banyak pintu kebaikan yang mudah kita masuki, di antaranya adalah: Pertama, bertasbih, artinya mengingat Allah di sela kesibukan. Allah berfirman: “dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang” (QS. Al-Ahzab: 42). Kedua, do’a & al-isti’anah, yaitu selalu meminta pertolongan kepada Allah bahkan untuk urusan sekecil memakai sepatu. Ketiga, al-isti’adzah & al-istighatsah, artinya meminta perlindungan saat merasa takut dan memohon bantuan saat terjepit masalah sulit. Keempat, memberi makan, yaitu menyiapkan bekal untuk suami/istri atau memberi makan kucing liar adalah bentuk ketaatan yang dicintai Allah. Kelima, menyembelih (adh-dhabh) & ber-nazar, yaitu melakukan sembelihan hanya untuk Allah dan menunaikan janji ketaatan. Terakhir, sujud, yaitu menundukkan dahi kita serendah-rendahnya hanya di hadapan-Nya.

Cara mengetahui apakah kegiatan kita disukai Allah?

“Gimana ya caranya kita tahu kalau hobi atau kerjaan kita bernilai ibadah?”. Yuk, gunakan  checklist berikut ini untuk tahu: Checklist pertama adalah adakah perintah-Nya? Jika Allah atau Rasul-Nya memerintahkan (baik wajib maupun sunnah), maka itu pasti ibadah. Contoh dari checklist pertama adalah menegakkan shalat. Checklist kedua adalah Adakah Pujian-Nya? Jika Allah memuji orang yang melakukannya, hal itu adalah ibadah. Contoh checklist kedua Allah memuji golongan al-Abrar (orang-orang baik) karena mereka menunaikan nazar dan memberi makan orang miskin. Karena Allah memuji pelakunya, berarti Allah mencinta perbuatannya. 

Peringatan penting: Jangan salah alamat!

Nah, ini bagian yang paling krusial. Ibarat kita sudah bekerja keras mengumpulkan gaji, jangan sampai gaji kita dikirim ke rekening orang lain. Semua ibadah tadi—doa, rasa takut kepada Allah, tawakal, hingga sujud— hanya boleh ditujukan kepada Allah. Menyerahkan satu saja jenis ibadah kepada selain Allah (makhluk, jimat, atau kekuatan gaib lainnya) merupakan syirik besar. Dampak dari syirik besar amat mengerikan, yaitu menghapus seluruh amal kebaikan kita dan mengeluarkan kita dari Islam. Maka mari kita perhatikan dua rambu peringatan dari Allah ini: Pertama, tentang tubuh kita. Allah berfirman: “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka, janganlah menyembah apa pun bersamaan dengan (menyembah) Allah” (QS. al-Jinn: 18). Menurut para ulama, kata masjid pada ayat tersebut bukan hanya diartikan bangunan, tapi juga anggota tubuh kita (dahi, tangan, kaki) yang digunakan untuk sujud. Semuanya milik Allah, maka jangan dipakai sujud pada selain-Nya! Kedua, tentang bahaya syirik besar. Allah berfirman: “Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugur lah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi” (QS. az-Zumar: 65). Allah juga menyebut orang yang berdoa kepada selain-Nya sebagai orang kafir yang tidak akan beruntung, “Siapa yang menyembah tuhan yang lain bersama Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya (yang membenarkan) tentang itu, maka perhitungan (anal)-nya hanya pada tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung” (QS. al-Mu’minun: 117).

Penutup: Mulai dari sekarang

Hidup ini terlalu singkat jika hanya diisi dengan lelah yang sia-sia. Mari kita jaga kemurnian tauhid kita agar “investasi” amal kita tidak bangkrut di akhirat nanti. Tanamkan rasa Ihsan  dalam setiap langkah-saat bekerja, saat bicara, bahkan saat diam. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena menyekutukan-Nya. Ingatlah peringatan-Nya:  “Sungguh, telah kufur orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu lah Almasih putra Maryam”. Almasih (sendiri) berkata: “wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu” (QS. Al-Maidah: 72). Yuk, mulai hari ini, kita niatkan setiap langkah dan keringat kita hanya untuk Allah. Ubah rutinitasmu menjadi ketaatan, dan raihlah bahagia yang sesungguhnya. Semangat untuk menjemput ridha-Nya.