Syiar

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 22 Desember 2025

Manusia tempat salah dan lupa, istighfarlah, minta maaflah, maafkanlah!

Hepi Wahyuningsih
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Pernahkah kita dalam sehari tidak pernah satu kali pun melakukan kesalahan? Hampir semua orang akan menjawab pertanyaan ini dengan “tidak pernah”. Rasanya sulit sekali bagi kita untuk benar-benar terhindar dari sebuah kesalahan. Mungkin dalam keseharian kita, kita dapat terhindar dari kesalahan besar seperti memarahi orang atau memaki-maki orang. Tetapi tanpa kita sadari, seringkali kita melakukan kesalahan – kesalahan kecil seperti mengabaikan untuk menyapa teman kita karena kita sibuk dengan ponsel. Kita lupa tidak berterima kasih kepada teman kita yang telah membantu kita, ini juga contoh kesalahan kecil yang mungkin tidak kita sengaja karena kita lupa.

Melakukan kesalahan dan lupa adalah sifat dasar manusia. Pada hakikatnya, manusia memang berbeda dengan malaikat yang diciptakan tanpa cela. Allah Subḥānah wa Ta’ālā dalam beberapa ayat al-Qur’an telah menggambarkan manusia sebagai makhluk yang lemah dan tidak luput dari kesalahan. Salah satu ayat yang menunjukkan bahwa manusia mudah melakukan kesalahan dapat dilihat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286, Allah mengajarkan doa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.” Dalam doa ini tersirat makna bahwa manusia itu tempat salah dan lupa, sehingga Allah mengajarkan doa tersebut pada manusia agar manusia mendapat keselamatan.

Kesalahan pertama manusia dilakukan oleh Nabi Adam dan Hawa, saat di surga mengikuti godaan syaitan untuk memakan buah yang dilarang Allah untuk dimakan. Dalam al-Qur’an, kisah ini dijelaskan di beberapa ayat dalam Al Qur’an, di antaranya QS. al-Baqarah [2]: 35–36 dan QS. al-A‘rāf [7]: 19–23. Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk tinggal di surga dan menikmati segala kenikmatannya, kecuali mendekati satu pohon yang dilarang. Namun, keduanya tergoda oleh bujuk rayu syaitan, sehingga mereka makan buah dari pohon yang dilarang tersebut. Peristiwa ini menjadi pelajaran penting tentang hakekat manusia, kesalahan, ampunan, dan rahmat Allah.

Mengapa manusia diciptakan Allah dengan membawa sifat dasar lupa dan mudah melakukan kesalahan? Mengapa Allah tidak menciptakan manusia seperti malaikat yang selama hidup mereka senantiasa selalu dalam ketaatan pada Allah? Manusia memang diciptakan berbeda dengan malaikat, selain Allah menciptakan manusia dengan sifat dasar mudah lupa dan mudah melakukan kesalahan, Allah juga menciptakan manusia sebagai makhluk pembelajar. Ketika manusia dapat belajar dari kesalahannya dan dapat memperbaiki diri, maka manusia akan memiliki derajat yang lebih tinggi dari malaikat. Hal ini dapat kita lihat dalam dialog antara Allah dan malaikat saat Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah dimuka bumi dalam QS Al Baqarah ayat 30-34.

Apabila kita kaji lebih lanjut, keempat ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia memang memiliki potensi berbuat salah dan membuat kerusakan, tetapi Allah juga menciptakan manusia dengan potensi sebagai makhluk pembelajar yang dengan potensi tersebut derajat manusia dapat menjadi lebih tinggi  dibanding malaikat yang tidak pernah berbuat salah. Dengan potensi kemampuan belajar yang dimiliki manusia, maka saat berbuat kesalahan, manusia akan dapat belajar dari kesalahannya dan kemudian berusaha memperbaikinya, sehingga manusia dapat memenuhi tugasnya sebagai khalifah di atas muka bumi ini. Dalam beberapa kesempatan pengajian, Gus Baha, seorang ulama besar di zaman ini menerangkan bahwa di balik kesalahan yang dilakukan oleh manusia, terkandung banyak keberkahan. Semisal, Beliau menjelaskan bahwa berkahnya orang salah adalah munculnya hukum Islam.

Jadi, adalah wajar jika kita sebagai manusia melakukan sebuah kesalahan. Kemudian apa yang perlu kita lakukan saat kita menyadari diri kita berbuat kesalahan? Mungkin kita dapat belajar dari kisah Nabi Adam dan Ibunda Hawa saat melakukan kesalahan pertama kali. Hal ini tergambar dalam QS Al-A‘rāf ayat 23: Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” Menurut Tafsir Ibnu Katsir, doa ini merupakan kalimat taubat pertama yang diajarkan langsung oleh Allah kepada manusia. Melalui doa ini, Nabi Adam dan Ibunda Hawa mengakui bahwa dosa mereka bukan hanya pelanggaran terhadap perintah Allah, tetapi juga bentuk kezaliman terhadap diri sendiri. Mereka memahami bahwa sebagai hamba Allah, tanpa ampunan dan rahmat Allah, mereka akan senantiasa dalam kerugian.

Menarik untuk dicermati lebih lanjut bahwa meskipun Nabi Adam dan Ibunda Hawa tahu betul bahwa mereka berbuat salah karena tergoda dengan bujuk rayu syaitan, mereka tidak menyalahkan syaitan. Hal ini juga memberikan pelajaran kepada kita bahwa saat kita melakukan kesalahan, kita harus sadar dan mengakui bahwa kesalahan itu terjadi karena diri kita yang lemah sehingga tergoda oleh bujuk rayu syaitan. Kesadaran ini sangat penting agar kita kemudian belajar dari kesalahan yang telah kita lakukan dan kemudian melakukan perbaikan diri sehingga menjadi orang yang lebih baik lagi. Pembelajaran tidak akan pernah terjadi jika saat kita melakukan kesalahan, kita malah menyalahkan syaitan atau orang lain. Saat kita menyalahkan syaitan atau orang lain, selain itu membuat syaitan tentu merasa bangga dengan keberhasilannya menggoda kita, kita biasanya juga kemudian menjadi marah pada syaitan atau orang lain. Maka yang terjadi, kita semakin menjadi pribadi yang buruk karena tidak belajar dari kesalahan dan syaitan menjadi semakin bahagia karena keberhasilannya memperdaya kita. 

Hal yang kemudian kita juga perlu belajar dari Nabi Adam dan Ibunda Hawa adalah permohonan ampunan dan rahmat Allah. Saat kita berbuat salah, setelah kita mengakui kesalahan kita, maka kita perlu memohon ampun pada Allah. Kita perlu untuk berani mengakui kesalahan kita yang dengan keberanian ini akan semakin memotivasi kita untuk memperbaiki diri. Permohonan akan ampunan dan rahmat Allah juga mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berbaik sangka pada Allah bahwa Allah adalah Sang Maha Pengampun yang ampunan-Nya lebih besar daripada murka-Nya. Dan dengan sifat rahmat-Nya kita yakin bahwa Allah mentakdirkan kita untuk berbuat salah agar kita tumbuh menjadi orang yang berkualitas dengan terus memperbaiki diri. Dengan keyakinan ini, akan senantiasa membuat kita terus belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan dan bertumbuh menjadi hamba-Nya yang bertaqwa. Kemudian bagaimana saat kita melakukan kesalahan kesalahan pada orang lain? Kita dapat melihat pada ajaran Nabi kita, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang salah satunya  tertuang dalam sebuah Hadis:

“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik mengenai kehormatan atau hal lainnya, hendaklah ia meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya hari ini, sebelum datang hari di mana tidak ada lagi dinar dan dirham. Jika ia punya amal saleh, akan diambil dari kebaikannya sesuai kadar kezalimannya; jika ia tidak punya kebaikan, diambil dosa orang yang dizalimi lalu dibebankan kepadanya.” (Sahih al-Bukhari no. 2449)

Dalam Hadis tersebut sangat jelas tersurat bahwa saat kita berbuat kesalahan pada orang lain, maka kita perlu meminta maaf pada orang tersebut. Jadi sama dengan saat kita berbuat salah terhadap Allah, kita perlu menyadari kesalahan kita dan kemudian dengan kesadaran tersebut kita mengakui kalo kita salah dan meminta maaf pada orang tersebut. 

Bagaimana jika orang tersebut tidak mau memaafkan kita atau masih marah dengan kita meskipun kita telah meminta maaf? Tentu kita tidak dapat memaksanya untuk memaafkan kita. Sebagian ulama menyimpulkan bahwa jika kita sudah meminta maaf dan memperbaiki, lalu pihak lain belum memaafkan, maka kita tetap menjaga adab, terus bertaubat, dan menyerahkan urusan akhirnya kepada Allah. Sama saat kita berbuat salah dengan Allah, maka kita senantiasa berharap pada rahmat Allah, semoga suatu saat Allah bukakan pintu hati orang tersebut untuk memaafkan kita.Bagaimana jika orang lain yang berbuat zalim terhadap kita? al-Qur’an dengan sangat jelas mengajarkan bahwa kita harus memaafkan orang yang berbuat zalim pada kita. Misalnya dalam QS Ali Imran ayat 134:

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” 

Dengan kesadaran bahwa berbuat kesalahan dan lupa adalah sifat dasar manusia, maka semestinya kita mudah memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita. Semoga dengan kita memaafkan orang yang berbuat zalim pada kita, Allah juga akan memudahkan urusan kita di dunia dan di akhirat.