Syi’ār
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 22 Desember 2025
Menjadi perempuan tangguh: Seni mengelola stres dalam pandangan Islam
Uly Gusniarti
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Dalam kehidupan modern, tuntutan dan tekanan dalam hidup yang dirasakan individu saat ini semakin menguat. Tidak hanya pria sebagai kepala rumah tangga yang menghadapi beban tanggung jawab dan harus memenuhi tuntutan dalam keluarga serta tempat kerja, namun juga dialami oleh para perempuan. Adanya dilema di kalangan perempuan untuk memilih bekerja di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga dari jaman dulu hingga sekarang masih menjadi pro-kontra. Pilihan menjadi ibu rumah tangga atau menjadi wanita pekerja bukan hanya keputusan pribadi, namun juga amanah yang Allah karuniakan kepada perempuan-perempuan hebat. Stres juga dapat hadir pada siapa saja, baik di kalangan perempuan-perempuan yang bekerja maupun yang mengabdikan diri di rumah. Siapa saja dapat mengalaminya, karena setiap peran membawa ujian dan tuntutannya masing-masing.
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)
Memahami Stres pada Perempuan
Stres adalah kondisi yang muncul ketika individu menilai bahwa tuntutan situasi melebihi sumber daya yang dimilikinya untuk menghadapi tuntutan tersebut. Proses ini melibatkan interaksi berkelanjutan antara individu dan lingkungannya, yang dipengaruhi oleh cara individu menilai situasi, baik terhadap ancaman maupun terhadap kemampuan diri untuk mengatasinya. Stres dapat menimbulkan reaksi biologis, psikologis, dan sosial, tergantung pada kekuatan stresor dan sumber daya yang tersedia untuk mengelolanya (Sarafino & Smith, 2011). Perempuan yang bekerja di dalam dan luar rumah terkadang merasakan hal yang sama. Ketika tuntutan dalam pekerjaan dan situasi di rumah dirasakan berat dan melebihi kesanggupannya untuk menghadapinya, maka akan muncul yang dinamakan stres.
Gejala stres jika dapat diatasi dengan baik akan menjadikan perempuan bahagia dan menikmati perannya sebagai ibu pekerja maupun ibu rumah tangga. Namun, ketika cara mengatasinya tidak tepat maka akan banyak menimbulkan dampak negatif, baik bagi diri perempuan itu sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. Perempuan yang bahagia dalam hidup akan dapat menularkan energi positif juga kepada individu lain di dekatnya.
Dalam konteks Islam, stres bukanlah merupakan suatu kelemahan. Stres yang dalam psikologi juga dapat bermakna positif dan negatif, dalam Islam stres dapat juga merupakan ujian yang dapat menguatkan jiwa apabila individu dapat memaknai dengan baik. Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali’” (al-Baqarah: 155–156).
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami stres. Perempuan yang bekerja di dalam rumah dan di luar rumah pun tidak luput dari mengalami stres, karena adanya tekanan dari berbagai sisi. Ada yang berasal dari faktor peran ganda, ketika harus menjadi pengasuh, pendidik, sekaligus manajer rumah tangga tanpa henti. Ada pula faktor psikologis, seperti perfeksionisme atau rasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi harapan keluarga.
Selain itu, faktor spiritual juga berpengaruh. Individu yang kurang memiliki waktu untuk beribadah, berdzikir, atau beristirahat rohani cenderung lebih mudah mengalami kelelahan batin. Sedangkan faktor sosial muncul ketika tidak ada dukungan dari pasangan atau lingkungan sekitar. Kombinasi faktor-faktor ini dapat menyebabkan stres yang berkepanjangan dan dapat mengganggu kesejahteraan keluarga.
Manajemen stres dalam Islam
Manajemen stres dalam Islam menekankan keseimbangan antara usaha lahiriah dan ketenangan batiniah. Islam tidak memisahkan antara kesehatan mental dan spiritual. Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga maupun yang mengelola rumah tangga dapat mulai dengan langkah sederhana seperti mengatur waktu, mengelola ekspektasi, serta mencari dukungan sosial dan emosional.
Namun, inti dari manajemen stres terletak pada kesadaran ruhani, bagaimana menjadikan setiap aktivitas rumah tangga sebagai ibadah. Dzikir (Kumala et al., 2019; Nugrahati et al., 2018), doa (Afridah et al., 2018), dan shalat yang dilakukan dengan khusyuk (Wardani et al., 2016) mampu menenangkan hati dan menumbuhkan energi baru untuk menghadapi rutinitas. Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (ar-Ra‘d: 28)
Dalam psikologi Islam, dikenal berbagai bentuk terapi ruhaniyah yang dapat membantu menenangkan jiwa ibu rumah tangga. Beberapa di antaranya adalah shalat berjamaah dan sholat yang dilakukan dengan khusyuk (Wardani et al., 2016). Ibadah ini tidak hanya menenangkan diri, tetapi juga memperkuat kebersamaan bersama individu lain, khususnya di keluarga. Selain itu, dzikir dan doa (Afridah et al., 2018; Kumala et al., 2019; Nugrahati et al., 2018) yang dilakukan dalam rangka menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap langkah kehidupan akan membantu kita lebih tenang selain mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Ketika kondisi dirasakan sudah lebih berat, tidak ada salahnya perempuan yang mengalami stres dapat mendatangi ahli untuk mendapatkan pertolongan agar kondisi psikologisnya menjadi stabil kembali. Terapi syukur (Rahmanita et al., 2016) dapat diikuti untuk menjadi alternatif pemulihan stabilitas emosi dan psikologi. Ahli mengajarkan dengan menulis tiga hal yang disyukuri setiap hari, dapat membantu para perempuan melihat kebaikan kecil di tengah rutinitas yang dihadapi sehari-hari di tempat kerja maupun di rumah tangga.
Di samping itu, dengan mengamalkan ibadah seperti puasa baik wajib maupun sunnah, akan lebih membantu dan melatih pengendalian diri serta memperhalus emosi dan perilaku para perempuan hebat. Ibnul Qayyim al-Jauziyah menulis dalam bukunya bahwa kesabaran dapat didefinisikan sebagai suatu sifat keunggulan spiritual, yang dengannya kita menahan diri dari berbuat jahat. Kesabaran juga merupakan kemampuan akal yang memungkinkan kita untuk hidup dengan baik di dunia ini. Ia juga mengutip Al-Junaid yang berkata, “Kesabaran adalah tetap tenang dan merasa cukup saat menghadapi musibah.” Sementara Dzu-Nūn dalam buku yang sama berkata, “Kesabaran adalah menahan diri dari perilaku buruk, tetap tenang selama musibah, dan tanpa mengeluh.” Abu Utsmān berkata, “Orang yang memiliki kesabaran adalah orang yang telah melatih dirinya untuk menghadapi kesulitan (Al-Jawziyya, 2002). Dengan sabar, ibu tidak menyerah pada keadaan; dengan syukur, ia tetap melihat nikmat di balik kesulitan.
Stres yang dihadapi ibu rumah tangga sejatinya adalah ujian cinta dari Allah. Ketika ia tetap berusaha, bersabar, dan bertawakal, maka setiap lelah menjadi ibadah dan menjadi jalan menuju kedewasaan iman. Manajemen stres bagi ibu rumah tangga bukan sekadar upaya psikologis untuk menenangkan diri, tetapi juga perjalanan spiritual menuju ketenangan yang hakiki. Islam memberikan jalan keseimbangan, berusaha secara rasional dan berserah secara spiritual. Dengan dzikir, doa, sabar, dan syukur, ibu rumah tangga dapat menjadi sosok tangguh yang menjaga ketenangan rumahnya dan menginspirasi keluarganya untuk tetap dekat kepada Allah.
Referensi
Afridah, M., Wahyuningsih, H., & Nugraha, S. P. (2018). Efektivitas pelatihan keajaiban doa Islami untuk meningkatkan kesejahteraan emosi pada siswa SMK “X” di Yogyakarta. Jurnal Intervensi Psikologi, 10(1), 19–31.
Al-Jawziyya, I.Q. (2002). The way to patience & gratitude: Uddat as-sabirin wa thakhirat ash-shakirin. 2nd edition. Umm al-Quro
Kumala, O. D., Rusdi, A., & Rumiani. (2019). Terapi dzikir untuk meningkatkan ketenangan hati pada pengguna napza. Jurnal Intervensi Psikologi, 11(1), 43–53.
Nugrahati, D., Uyun, Q., & Nugraha, S. P. (2018). Pengaruh terapi taubat dan istighfar dalam menurunkan kecemasan mahasiswa. Jurnal Intervensi Psikologi, 10(1), 33–41.
Rahmanita, A., Uyun, Q., & Sulistyarini, Rr. I. (2016). Efektivitas pelatihan kebersyukuran untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif pada penderita hipertensi. Jurnal Intervensi Psikologi, 8, 165–184.
Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2011). Health psychology. biopsychosocial interactions (Seventh). John Wiley & Sons, Inc.
Wardani, Y., Nashori, H. F., & Uyun, Q. (2016). Efektivitas pelatihan shalat khusyuk dalam menurunkan kecemasan pada lansia hipertensi. Jurnal Intervensi Psikologi, 8(2), 217–233.


