Syiar

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 22 Desember 2025

Mengapa kita butuh Al-Qur’an?

Fani Eka Nurtjahjo
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Kehidupan modern sering dianggap merupakan kemajuan hasil berpikir manusia dan puncak dari peradaban yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari berkembangnya sains, baik dalam ranah ideologi keilmuan maupun aplikasi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Mulai dari infrastruktur, sistem ekonomi, arus informasi, sampai teknologi yang masuk hampir ke semua lini kehidupan manusia. Kita mudah menemukan berbagai moda transportasi darat, laut, dan udara, dari kereta pengangkut massal yang menerobos bawah tanah sampai membuat roket dan satelit untuk menembus langit. Orang kini tidak perlu memikirkan jarak dan jam operasional saat hendak berbelanja, karena bisa melihat katalog dan memproses pembayaran kapanpun dari manapun melalui platform belanja online. Manusia bahkan sudah sudah mampu menciptakan artificial intelligence yang menyerupai cara kerja otak manusia dengan cara yang jauh lebih akurat dan efisien. Kita hidup di zaman di mana manusia mampu menembus langit dengan teknologi, tetapi masih sering tersesat di dalam dirinya sendiri. Kita hidup di zaman manusia mampu menciptakan kecerdasan buatan, namun masih kesulitan menenangkan hati yang gelisah. Generasi saat ini adalah mereka yang ingin serba cepat, berpikir cepat, bertindak cepat, tapi sering kehilangan kedalaman. Lantas, untuk apa sebenarnya semua pengetahuan ini jika kita masih kehilangan arah? Manusia yang katanya ‘modern’ ini menjadi mudah kehilangan arah dan makna, meski memiliki akses informasi dan ilmu yang luar biasa.

Problem yang dihadapi manusia modern adalah perubahan yang terjadi begitu cepat. Dalam satu periode waktu yang tidak sampai 24 jam, kita bisa menghadapi satu kejadian besar ke kejadian besar lainnya. Sekalipun tidak terjadi di wilayah yang sama, namun kejadian di belahan dunia yang lain dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung pada manusia di belahan dunia yang lain. Hal ini juga memunculkan perasaan akan ketidakpastian dalam diri manusia tentang apa yang akan terjadi kemudian. Bahkan untuk mencerna sebuah peristiwa saja, terdapat banyak versi cerita yang memiliki ‘kebenaran’ versi masing-masing, menimbulkan ambiguitas. Penjelasan terhadap satu fenomena saja tidak cukup dijelaskan hanya dari satu faktor penyebab. Hidup manusia modern konon menjadi jauh lebih kompleks dari sebelumnya. Hustle culture menambah kontribusi pada beratnya beban hidup tidak hanya secara fisik, melainkan juga beban psikologis. Kondisi demikian berkontribusi pada munculnya kelelahan jiwa dalam mencari makna eksistensinya.

Lantas apa yang bisa dilakukan manusia modern untuk bertahan hidup? Apa sumber yang paling lengkap untuk menjadi rujukan untuk menghadapi krisis makna eksistensi manusia? Jawabannya tidak lain adalah al-Qur’ān. Ia adalah sumber meaning system yang paling utuh yang memadukan akal, hati, dan pikiran. Al-qur’ān hadir untuk mengisi kekosongan makna bagi manusia, bukan hanya memberi aturan ibadah semata. Sebelum memulai pembahasan ini, penulis ingin mengajak pembaca semua untuk mengucap shalawat dan salam agar senantiasa Allah berikan kepada kekasih-Nya, pembawa risalah agung, penyempurna akhlak, dan penuntun jalan dari kegelapan menuju cahaya terang.

Sumber Rujukan Sifat Alami Manusia (Fitrah)

Manusia memiliki berbagai sifat, baik dan buruk. Namun pada dasarnya, manusia juga memiliki kecenderungan untuk mengenali nilai kebenaran dan kebaikan. Dengan cara mengenal Tuhan-nya, maka ia akan mengenal dirinya. Individu dapat hidup lebih sejahtera apabila ia aktif memunculkan perilaku yang sesuai dengan nilai dalam dirinya (self-congruence), sehingga tercipta kesatuan antara nilai, pikiran, dan perilaku atau tindakan. Di sinilah fungsi al-Qur’ān, yaitu mengingatkan dan menuntun manusia agar kembali menyelaraskan diri dengan fitrahnya, baik dalam hal batin (pikiran) maupun lahir (tindakan). Demikian firman Allah tertuang dalam surat Ar-Rum ayat 30:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum: 30)

Narasi tersebut menandakan bahwa sejatinya manusia membutuhkan al-Qur’ān agar bisa tetap selaras dengan sifat alaminya. Al-qur’ān sebagai sumber rujukan manusia agar tidak kehilangan arah dan tetap mampu menjembatani antara keinginan dan kebutuhan akan pencarian makna. 

Sumber Rujukan Regulasi Diri dan Emosi (Tazkiyatun Nafs)

Al-qur’ān menyebutkan beberapa tingkatan jiwa (nafs), mulai dari yang paling rendah yang cenderung pada dosa dan keburukan (ammarah), menyesali diri (lawammah), hingga yang paling tinggi menyangkut ketenangan dan kedamaian (muthmainnah). Tidak hanya itu, al-Qur’ān juga mengajarkan manusia bagaimana proses penyucian jiwa agar naik ke tingkatan yang paling tinggi. Dalam konteks manusia, mekanisme tazkiyatun nafs sejalan dengan regulasi diri, regulasi emosi, memaksimalkan fungsi kontrol eksekutif otak, dan kontrol diri untuk mencapai tujuan jangka panjang. Tanpa petunjuk dari al-Qur’ān, manusia akan kehilangan pedoman tentang bagaimana mengelola dirinya sendiri. Al-qur’ān lah yang memberikan petunjuk mengelola emosi dengan kebijaksanaan. 

Sumber Rujukan Pusat Kesadaran Moral dan Spiritual (Qalb)

Manusia membutuhkan aturan dalam berperilaku, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari sistem sosial. Mengapa demikian? Sebuah penelitian dari dua dekade lalu masih relevan dan menarik untuk dibahas. Kekuasaan yang semakin besar berkorelasi dengan rasa penghargaan terhadap diri dan kebebasan, namun juga berkorelasi dengan rendahnya perilaku menahan diri untuk tidak menyerang orang lain; sementara kekuasaan yang berkurang berkorelasi dengan naiknya perilaku menahan diri di hampir semua aspek perilaku sosial, termasuk di dalamnya agresivitas (Keltner et.al., 2003). Hal ini menandakan bahwa ketika manusia diberikan kekuasaan tidak mengenal batas, maka ia bisa kehilangan ‘kemampuannya’ sebagai manusia yang identik dengan kapabilitas untuk mengendalikan tindakan dan perilaku adaptif. Allah telah mengingatkan di dalam al-Qur’ān:

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓۙ ۝٦ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ ۝٧

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas. ketika melihat dirinya serba berkecukupan. (Al-Alaq: 6-7)

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ ۝٤

Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada. (Al-Hajj: 46)

Ayat di atas menegaskan bahwa kebutaan hati lebih berbahaya daripada kebutaan mata. Psikologi barat sampai saat ini belum memiliki jawaban yang memuaskan atas pertanyaan apa yang bisa membedakan manusia dalam memilih keputusan; apakah hanya memuaskan hawa nafsunya atau membatasi diri dengan norma. Islam justru memiliki konteks yang lebih lengkap untuk menjelaskan fenomena jiwa. Lebih dari sekedar memaksimalkan fungsi pre-frontal cortex-nya semata, manusia membutuhkan pedoman untuk bisa mengoptimalkan kesadaran moral dan spiritualnya melalui kalbu (qalb). Petunjuk dalam al-Qur’ān menguatkan qalb untuk membedakan antara hawa nafsu dan hati nurani.

Sumber Rujukan Sikap Resiliensi dan Strategi Pemecahan Masalah (Sabar dan Tawakal)

Saat mengalami masalah, saat semua jalan terasa buntu, dan saat semua kesempatan serasa tidak berpihak pada kita, maka itulah saat di mana manusia membutuhkan ‘obat’ bagi hatinya yang sedang sengsara. Kita bisa saja memilih penyelesaian masalah yang tidak sehat dan menimbulkan masalah baru, namun kita juga punya pilihan untuk mengambil penyelesaian masalah yang membuat diri kita lebih berdaya. Disinilah letak perbedaan pertumbuhan pribadi seseorang. Manakala ia memilih untuk bangkit dan bertahan, serta menyerahkan segala sesuatu yang berada diluar kendalinya kepada Allah semata, maka sejatinya ia telah mengubah gundah gulana menjadi ketenangan, dan sengsara menjadi perjalanan penuh makna. Al-qur’ān yang Allah turunkan kepada manusia telah mengajarkan kemampuan menahan diri dan tetap istiqamah diatas jalan kebaikan (shabr). Ia juga mengajarkan kepada manusia agar senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin (tawakkal). Dalam hal ini, al-Qur’ān merupakan pedoman untuk memecahkan masalah dan bangkit dari keterpurukan.

Sumber Rujukan Makna dan Kebijaksanaan (Hikmah dan Hidayah)

Jika kita memperhatikan setiap perangkat yang kita miliki di rumah dan kita beli dalam keadaan baru, hampir pasti ia memiliki petunjuk penggunaan (manual guide) bagi para penggunanya. Begitu pula sebuah perusahaan yang baik, hampir pasti memiliki rincian tugas dan wewenang (job description) yang jelas bagi siapapun yang berkaitan dengan posisi yang dituju. Setiap instansi dan tempat juga memiliki ‘aturan main’ yang dibuat agar semua yang terlibat memiliki pemahaman yang sama dan lebih penting lagi, tertib dalam menjalankan fungsi. Hidayah adalah petunjuk dari Allah untuk menuntun kita manusia hidup dalam kebenaran. Lalu di mana petunjuk tersebut bisa ditemukan? Tentu di dalam al-Qur’ān. Sementara hikmah adalah pemahaman yang mendalam, berupa pemikiran dan perkataan yang membekas (al-Ṭabarī, 2014). Mudahnya, ia adalah kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. 

Sebuah studi dari Fitzke et al. (2021) mendapatkan temuan menarik. Dengan mengambil data dari 1.687 responden, mereka menemukan bahwa seseorang yang memiliki pengalaman traumatis dalam hidupnya, lalu mereka menafsirkan ulang pengalaman mereka secara positif, maka upaya memahami makna dari pengalaman traumatis tadi dapat meningkatkan kesejahteraan emosional (emotional well-being) dalam jangka panjang. Psikologi barat sangat menggaung-gaungkan tentang konsep kesejahteraan diri (well-being), salah satunya melalui pencarian makna hidup. 

Namun al-Qur’ān menawarkan lebih dari itu. Ia menawarkan perenungan yang jauh lebih luas, mendalam, serta melibatkan entitas kekal yang di dalam genggaman-Nya lah hidup manusia bergantung. Kita akan merasa sangat frustrasi apabila semua masalah yang kita hadapi di dunia ini seolah harus bisa diselesaikan dengan tangan kita sendiri. Sebagai manusia modern, kita tidak pernah kekurangan informasi. Kita hanya kekurangan makna untuk ‘menghidupkan’ hidup itu sendiri. Al-qur’ān hadir untuk menambah pengetahuan dan memberi arah serta makna bagi pengetahuan tersebut.

Sumber Rujukan Kesadaran Reflektif (Dhikr dan Tadabbur)

Manusia telah Allah berikan otak sebagai ‘kelebihan’ atas makhluk yang lain bukanlah tanpa tujuan yang sia-sia. Salah satu fungsi utama dari bagian-bagian otak adalah mengatur kesadaran. Batang otak berfungsi mengatur kewaspadaan (fight or flight), thalamus berfungsi mengatur kesadaran dan informasi yang masuk ke otak, cerebral cortex adalah tempat fungsi kognitif tingkat tinggi terjadi, dan pre-frontal cortex  yang mengatur fungsi eksekutif, seperti membuat perencanaan, berpikir kritis, atensi, dan pengendalian diri. Otak kita ini tidak pernah berhenti bekerja, sekalipun kita dalam kondisi tidur. Maka al-Qur’ān mengajarkan kita untuk melakukan refleksi diri, senantiasa sadar bahwa Allah Maha Melihat. Refleksi dalam al-Qur’ān terkait pentingnya mengembangkan kemampuan reflektif (tadabbur) tertuang dalam firman Allah   :

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝٢٦٩

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al-Baqarah: 269)

Al-Qur’ān mengajarkan kita untuk merenungi makna ayat-ayat yang tersurat dan tersirat, serta kaitannya dengan realita hidup di dunia. Teringat dengan sebuah nasihat popular yang penulis lihat dari postingan seorang sejawat, bahwasanya “manusia jika tidak dalam keadaan bersyukur, maka ia dalam keadaan lalai”. Nasihat tersebut menyiratkan pentingnya untuk selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun (dhikr). Dengan demikian, manusia bukan hanya sekedar bernafas tetapi ia juga menjadi lebih waspada dan sadar (mindful) akan makna hidupnya di dunia.

Sumber Rujukan Tujuan dan Tanggung Jawab (Khalifah)

Sumber perasaan negatif yang muncul sebagai penyakit hati manusia adalah merasa tidak berharga, putus asa, dan kehilangan arah dan makna hidup. Ada banyak sebab lain, tapi mari ktia bahas tiga hal tersebut untuk mempersingkat pembahasan. Rasa tidak berharga muncul karena seseorang merasa perannya dalam hidup ini tidak signifikan bagi lingkungan atau tidak mendapat penghargaan/ apresiasi dari orang di sekitarnya. Padahal, di dalam al-Qur’ān, peran sekecil apapun itu, pasti Allah akan rekognisi. 

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ ۝٧

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (Al-Zalzalah: 7)

Keputusasaan seseorang muncul ketika ia merasa sumber makna dalam hidupnya (entah itu penghargaan, kebaikan orang lain, materi), hilang atau gagal terpenuhi. Putus asa adalah saat seseorang merasa semua usaha tidak lagi berpengaruh pada hasil. Lalu muncul perasaan tidak berdaya untuk mengubah hidupnya, dan berujung perasaan putus asa. Al-qur’ān juga melarang manusia untuk berputus asa. Artinya, al-Qur’ān melampaui upaya manusia untuk menangani dirinya sendiri. Al-qur’ān mampu mengubah keterpurukan yang dirasakan manusia, karena jarak antara harapan dirinya dan kenyataan yang ada terlalu lebar (putus asa), menjadi rasa keterhubungan (connectedness) antara jiwa manusia dengan pemilik sumber makna tertinggi, yaitu Allah .

Lantas apa kata al-Qur’ān terhadap perasaan kehilangan arah dan makna hidup? Mari kita simak ayat berikut ini:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٣٠

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah: 30)

Manusia tidak akan merasa hilang arah manakala ia memahami bahwa ia adalah khalifah fi al-ardh, yang memikul amanah begitu besar untuk memakmurkan bumi. Bagaimana caranya? Al-qur’ān memberikan petunjuk untuk manusia menjalankan fungsi dengan sebaik-baiknya. Hal ini berlaku dalam hampir setiap bentuk hubungan interpersonal. Al-qur’ān telah memberikan petunjuk dengan jelas bagaimana relasi ayah-anak, ibu-anak, suami-istri, sesama saudara kandung, dengan tetangga, bahkan dengan umat agama lain. Semua ada dalam kerangka al-Qur’ān dan as-Sunnah yang telah diajarkan oleh Rasulullah . Oleh karena itu, manusia hendaklah senantiasa ingat bahwa tujuan ia lahir dan diciptakan di dunia bukan hanya untuk merasakan kenikmatan hidup, tetapi jauh lebih besar untuk menjadi khalifah yang bisa memakmurkan bumi. 

Penutup

Mengapa kita butuh al-Qur’ān? Karena al-Qur’ān adalah sumber rujukan manusia dalam berperilaku, kompas dalam mengarungi hidup, serta obat bagi segala penyakit jiwa. Al- qur’ān adalah jawaban atas permasalahan umat segala zaman, terutama bagi manusia modern yang sudah hidup terpisah ribuan tahun dengan pembawa risalah terakhir. Membaca, mempelajari, mengamalkan al-Qur’ān bukan semata kebutuhan ritual, melainkan sudah menjadi kebutuhan manusia meneguhkan eksistensinya di muka bumi. Ia juga kebutuhan psikologis manusia agar jiwanya tetap terarah ditengah derasnya ujian lintas zaman. Akhirul kalam, al-Qur’ān adalah cahaya hidup itu sendiri. Wallahu a’lam bishowab.

Referensi

al-Ṭabarī. (2014). Tafsīr al-Ṭabarī min kitābihī jāmi’ al-bayān “an ta”wīl al-Qur’ān (Tafsir al-Tabari: From his book Jami` al-Bayan on the interpretation of the Qur’an). Lebanon: Mu’assasah al-Risālah.

Fitzke, R. E., Marsh, D. R., & Prince, M. A. (2021). A longitudinal investigation of the meaning‐making model in midlife adults who have experienced trauma. Journal of clinical psychology77(12), 2878-2893. DOI: 10.1002/jclp.23272

Keltner, D., Gruenfeld, D. H., & Anderson, C. (2003). Power, approach, and inhibition. Psychological review110(2), 265. DOI: 10.1037/0033-295X.110.2.265