Zero Discrimination Day: Memahami Diskriminasi dari Sudut Pandang Psikologi
Bayangkan jika setiap langkah kita selalu diikuti label: “berbeda”, “tidak layak”, atau “tidak pantas”. Itulah kenyataan yang dialami jutaan orang di dunia akibat diskriminasi. Nyatanya, diskriminasi bukan sekadar perlakuan tidak adil, tetapi juga merupakan ancaman yang serius terhadap kesejahteraan psikologis dan bahkan keselamatan hidup manusia. Fenomena ini tidak hanya hadir dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi perhatian serius dalam kajian psikologi.
Dalam perspektif psikologi, pembedaan tidak selalu bermakna negatif. Ada pembedaan yang bertujuan positif, seperti untuk mengukur kemampuan manusia atau menyesuaikan kebutuhan individu. Namun, ketika pembedaan dilakukan secara tidak adil, ia akan berubah menjadi diskriminasi. Dr. Phil. Emi Zulaifah, M.Sc., Psikolog, selaku Dosen Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia menjelaskan bahwa psikologi sejak awal berkaitan dengan pembedaan. Tes intelijensi, misalnya, digunakan untuk mengklasifikasikan manusia berdasarkan kemampuan. “Psikologi sendiri itu berurusan dengan diskriminasi. Hal yang membedakannya ialah apakah diskriminasi tersebut di dalamnya memuat keadilan atau tidak,” jelas Bu Emi.
Dalam pandangan Dr. Emi Zulaifah, ketidakadilan dalam diskriminasi dapat muncul dari berbagai faktor. Ada yang terjadi secara tidak sengaja, seperti kebijakan atau alat ukur yang tanpa disadari menyingkirkan kelompok tertentu. Ada pula yang dilakukan secara sengaja, yaitu ketika individu atau kelompok jelas memiliki niat untuk membedakan dan merugikan orang lain. Selain itu, diskriminasi juga bisa bersifat sistemik, yaitu dilembagakan melalui aturan atau praktik politik serta budaya sehingga aspek tersebut dapat berlangsung terus-menerus dan sulit dihapuskan.
Tidak hanya dari aspek sosial dan politik saja, beliau juga menekankan bahwa diskriminasi sering kali lahir dari cara berpikir yang terlalu sederhana. Seseorang yang enggan berpikir lebih jauh dan kompleks tanpa sadar membentuk pandangan yang diskriminatif pada manusia. Dalam perspektif Islam, hal ini jelas bertentangan dengan pesan Allah SWT yang memerintahkan umatnya untuk selalu berpikir dan berlaku adil. “Orang Islam itu sebenarnya disuruh pintar sama Allah. Berpikirlah, jangan berhenti pada cara pandang yang sederhana,” jelas Bu Emi.
Faktor-faktor tersebut pada akhirnya menimbulkan dampak nyata bagi korban. Mulai dari rasa tidak nyaman hingga berujung pada menyakiti diri sendiri. Menurut Bu Emi, diskriminasi pada tahap awal menimbulkan rasa tidak aman (insecure), dan dalam bentuk ekstrim dapat berujung dengan menyakiti diri sendiri.
Diskriminasi adalah sesuatu yang harus dihindari. Ibu Emi berpesan bahwa upaya memberantas diskriminasi harus dimulai dari hal terkecil yang berdampak nyata. Kita harus memulai dari diri sendiri dengan menghindari prasangka terhadap orang lain, mau berpikir lebih jauh tentang kelompok lain, dan berupaya mengedukasi masyarakat sebagai langkah preventif. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, lalu diperluas melalui sistem sosial yang adil dan menyeluruh.
Diskriminasi, dalam bentuk apapun, adalah tantangan besar bagi keadilan dan kesehatan mental. Dengan semangat Hari Anti Diskriminasi Sedunia yang diperingati pada 1 Maret, mari bersama-sama membangun masyarakat zero discrimination yang lebih inklusif, adil, dan berkeadaban.
Penulis: Khansa Tafidah Khairunnisa




