Hari Peduli Sampah Nasional 2026: Sampah sebagai Cerminan Perilaku Masyarakat

Tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional di Indonesia. Peringatan ini bertujuan untuk mengenang tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah pada tahun 2005, sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah yang lebih baik. Momentum ini menjadi kesempatan yang tepat untuk memperkenalkan berbagai program pengelolaan sampah yang benar kepada masyarakat, sehingga volume limbah yang sulit terurai dapat dikurangi. Dalam upaya tersebut, ilmu psikologi memiliki peran penting karena mampu membantu memahami dan memengaruhi perilaku masyarakat melalui pendekatan yang sesuai dengan berbagai kelompok usia.

Hal tersebut disampaikan oleh Bapak Sonny Andrianto, S.Psi., M.Si., Ph.D., dosen Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia dengan fokus kajian cross-cultural psychology dan Psikologi Lingkungan. Dalam wawancara bersamanya, beliau menjelaskan bahwa persoalan sampah pada dasarnya merupakan persoalan perilaku manusia. Sampah tidak hanya dipahami sebagai tumpukan benda yang tidak berguna, tetapi sebagai hasil dari cara manusia memproduksi, menggunakan, dan membuang sesuatu. Dengan memahami proses psikologis ini, kita dapat melihat bagaimana persepsi dan kebiasaan individu berperan dalam munculnya permasalahan lingkungan.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan mengapa pemahaman masyarakat tentang sampah seringkali tidak sejalan dengan perilaku sehari-hari dalam mengelolanya, “Orang itu mempersepsikan sampah sebagai hal yang tidak penting, dibuang lalu selesai. Tapi tidak seperti itu, sampah akan memberikan dampak yang luas bagi orang dan lingkungan sekitarnya secara langsung maupun tidak langsung”.

Psikologi Lingkungan mempelajari cara seseorang memperlakukan sampah yang sangat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan sosialnya. Kebiasaan yang terbentuk dalam keluarga, lingkungan tempat tinggal, serta cara masyarakat sekitar mengelola sampah akan memengaruhi perilaku individu. Jika dalam suatu lingkungan sampah dikelola secara mandiri, maka anggota masyarakat cenderung menyesuaikan diri dengan pola tersebut. Sebaliknya, ketika ada individu yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pengelolaan sampah, perilaku tersebut dapat memengaruhi orang lain dan perlahan membentuk budaya baru yang lebih peduli lingkungan.

Dalam praktiknya, perubahan yang paling realistis dapat dimulai dari lingkup terkecil, yaitu rumah tangga. Kegiatan sederhana seperti memilah sampah sesuai jenisnya dan memanfaatkan kembali sampah yang masih bernilai dapat memberikan dampak positif. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus membentuk kebiasaan jangka panjang.

Namun demikian, upaya membangun kebiasaan tersebut sering menghadapi tantangan dari lingkungan sosial yang belum mendukung. Meskipun perubahan perilaku harus diawali dari kesadaran individu, kenyataannya norma dan kebiasaan masyarakat sekitar seringkali menjadi penghambat. Oleh karena itu, perubahan perilaku tidak cukup hanya disampaikan secara lisan, tetapi perlu disertai keterlibatan langsung dan praktik nyata. Ketika seseorang melihat manfaat yang benar-benar dirasakan dari kebiasaan ramah lingkungan, proses perubahan perilaku akan berjalan lebih efektif.

Dalam konteks ini, institusi pendidikan memiliki peran yang sangat strategis. Isu lingkungan dapat diintegrasikan dalam mata kuliah yang relevan dan dilengkapi dengan praktik langsung, seperti pemilahan sampah di lingkungan kampus. Penyediaan fasilitas pendukung, edukasi kepada warga kampus, serta pemanfaatan sampah organik menjadi kompos atau pupuk dapat memperkuat pembelajaran sekaligus menumbuhkan kepedulian lingkungan sehingga mahasiswa dapat berperan sebagai agen perubahan yang membawa kebiasaan baik ke masyarakat yang lebih luas.

Pada akhirnya, sampah bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan tanggung jawab bersama. Selain memiliki potensi nilai ekonomis, pengelolaan sampah yang baik juga berkaitan langsung dengan kesehatan dan kualitas hidup. Masyarakat perlu didorong untuk mengelola sampah secara mandiri di rumah agar lingkungan tetap bersih dan nyaman. Dengan menjadikan upaya mengurangi sampah sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, keseimbangan antara manusia dan lingkungan dapat terus terjaga.

Author: Raisha Nur Rahmani