Hari Anti Narkotika Internasional : Peran Kesehatan Mental dalam Mencegah Penyalahgunaan Narkoba

Hari Anti Narkotika Internasional yang diperingati setiap 26 Juni menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba. Pada tahun ini, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengusung tema War on Drugs for Humanity dengan visi mewujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba). Dalam wawancara bersama dengan Muhammad Novvaliant Filsuf Tasaufi, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII), menjelaskan bagaimana kesehatan mental berperan dalam mencegah penyalahgunaan narkoba sekaligus menegaskan pentingnya memperkuat resiliensi generasi muda sebagai bagian dari upaya pencegahan. 

Menurut Novvaliant, penyalahgunaan narkoba pada generasi muda masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Ia menilai bahwa peningkatan kasus pada kelompok usia muda tidak terlepas dari karakteristik generasi saat ini yang lebih rentan terhadap tekanan psikologis dan memiliki akses informasi yang semakin luas. “Kondisi Gen Z ini ada faktor risiko yang cukup banyak. Salah satunya mereka lebih sensitif terhadap isu-isu kesehatan mental sehingga kadang-kadang mudah mencari pelarian yang salah,” ujarnya.

Dari perspektif psikologi, penggunaan narkoba umumnya berawal dari upaya individu untuk menghindari atau meredakan ketidaknyamanan emosional yang dirasakan. Narkoba dianggap mampu memberikan efek ketenangan secara instan sehingga menjadi pilihan pelarian bagi sebagian orang yang sedang mengalami tekanan. “Umumnya orang menggunakan narkoba itu sebagai pelarian. Ketika merasa nikmat, maka akan diulangi lagi. Padahal yang paling penting adalah bagaimana seseorang bisa mencari alternatif lain untuk mendapatkan rasa tenang dan nyaman tanpa menggunakan narkoba,” jelas Novvaliant.

Ia menambahkan bahwa salah satu tantangan terbesar generasi saat ini adalah kecenderungan menginginkan hasil yang serba cepat. Kondisi tersebut membuat sebagian individu kesulitan menghadapi proses dan ketidaknyamanan yang membutuhkan waktu untuk diselesaikan. Dari sisi psikologis, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penyalahgunaan narkoba, seperti sifat impulsif, rendahnya kemampuan mengelola emosi, serta kesulitan menunda kepuasan. Individu yang terbiasa menginginkan segala sesuatu secara instan cenderung lebih mudah mengambil keputusan berisiko ketika menghadapi masalah. 

“Kalau orang sudah terbiasa menunda kepuasan, dia akan lebih mampu bersabar menghadapi rasa tidak nyaman. Sebaliknya, orang yang impulsif cenderung ingin semuanya selesai saat itu juga,” ungkapnya.

Selain faktor internal, lingkungan sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap keputusan seseorang untuk menggunakan narkoba. Teman sebaya seringkali menjadi sumber pembelajaran sekaligus tempat individu mencari penerimaan dan dukungan. Oleh karena itu, lingkungan pertemanan yang positif dapat menjadi faktor protektif, sedangkan lingkungan yang permisif terhadap perilaku berisiko dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak cukup dilakukan melalui larangan atau hukuman semata. Generasi muda perlu dibekali keterampilan hidup (life skills) yang membantu mereka menghadapi tekanan secara sehat, seperti kemampuan mengelola emosi, mencari dukungan sosial, serta membangun strategi coping yang adaptif. “Peran edukasi adalah memberikan literasi tentang coping yang adaptif. Ketika seseorang merasa tertekan, ia perlu tahu harus mencari bantuan kemana, bagaimana mengelola emosinya, dan alternatif sehat apa yang bisa dilakukan” ujarnya.

Lebih lanjut, Novvaliant menjelaskan bahwa kesehatan mental yang baik dapat menjadi faktor protektif dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Individu yang mampu mengelola emosi, menghadapi tekanan hidup secara sehat, serta mencari bantuan ketika mengalami kesulitan cenderung tidak mudah menjadikan narkoba sebagai pelarian. Menurutnya, pembentukan kesehatan mental yang kuat tidak terlepas dari peran keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter dan ketahanan psikologis seseorang. “Keluarga yang sehat akan membentuk mental yang sehat, dan mental yang sehat itu kemudian menjadi benteng berikutnya” jelasnya.

Dengan kemampuan tersebut, individu akan lebih mampu menghadapi masalah tanpa harus mencari pelarian instan melalui narkoba. Selain itu, keluarga juga memiliki peran penting dalam membentuk kesehatan mental yang baik. Lingkungan keluarga yang suportif dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya resiliensi dan ketahanan diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Menutup wawancara, Novvaliant berpesan agar generasi muda lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan mulai memikirkan masa depan yang ingin dibangun sejak sekarang. “Masa depan kalian masih panjang. Hati-hati dalam melangkah dan pastikan langkah yang dibangun adalah langkah yang baik. Masa depan kita akan seperti apa tergantung dari apa yang kita lakukan saat ini” pungkasnya.

Melalui peringatan Hari Anti Narkotika Internasional, masyarakat diharapkan semakin menyadari bahwa kesehatan mental merupakan salah satu faktor penting dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Kemampuan mengenali dan mengelola emosi, menghadapi tekanan hidup secara sehat, serta membangun resiliensi dapat membantu individu terhindar dari kecenderungan mencari pelarian melalui narkoba. Dengan kesehatan mental yang kuat, generasi muda akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan mengambil keputusan yang lebih sehat bagi masa depannya.

Author: Aisha Dalta Lena Fereda