Menguatkan Budaya Riset Mahasiswa melalui Konferensi Riset Mahasiswa Psikologi Indonesia 2026
Yogyakarta, 02 Januari 2026 – Seminar Nasional Konferensi Riset Mahasiswa Psikologi Indonesia (KREASI) 2026 menjadi ruang bertemunya ide, riset, dan semangat perubahan dari mahasiswa psikologi berbagai universitas di Indonesia, seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Universitas Mulawarman, dan Universitas Islam Riau. Mengusung tema “Empowering Youth : Riset Psikologi untuk Perubahan Sosial”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pemaparan hasil penelitian, tetapi juga wadah refleksi bagi mahasiswa untuk memaknai peran mereka sebagai ilmuwan muda yang berkontribusi dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat. Konferensi ini menghadirkan empat pembicara dari beragam bidang keilmuan psikologi yang berbagi wawasan, pengalaman, serta gambaran arah pengembangan riset psikologi ke depan.
Sebagai pembuka rangkaian diskusi, sesi awal dibuka oleh Abu Bakar Fahmi, S.Psi., M.Si, dari Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Dalam pemaparannya, peserta diajak melihat psikologi sebagai ilmu yang terus berkembang dan tidak terbatas pada ruang kelas. Psikologi dipahami sebagai ilmu sepanjang hayat yang menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, berani bertanya, dan aktif terlibat dalam penelitian. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ia menegaskan bahwa keterampilan khas manusia seperti empati, kreativitas, dan pengambilan keputusan kompleks justru semakin penting. Mahasiswa psikologi pun didorong untuk berperan sebagai produsen pengetahuan melalui riset yang bernilai ilmiah dan berdampak sosial, serta mengambil posisi strategis sebagai peneliti muda yang konsisten berkontribusi dalam mendorong perubahan sosial.
Diskusi semakin menarik pada sesi berikutnya yang diisi pemaparan oleh Bahril Hidayat, M.Psi., Psikolog dari Universitas Islam Riau. Ia membahas tantangan kesehatan mental yang kian dekat dengan kehidupan mahasiswa di tengah perubahan sosial yang cepat. Mahasiswa berada pada posisi ganda, sebagai agen perubahan sekaligus kelompok yang rentan terhadap stres akademik, kecemasan, dan depresi. Bahril menegaskan bahwa psikologi klinis perlu melampaui pendekatan individual dengan mengedepankan strategi preventif, promotif, dan berbasis komunitas. Kampus pun dipandang sebagai ruang strategis untuk penguatan kesehatan mental melalui program pencegahan, pendampingan komunitas, serta kolaborasi lintas disiplin dan kebijakan, sehingga peran psikolog tidak hanya terbatas sebagai terapis, tetapi juga sebagai fasilitator dan advokat kesejahteraan mahasiswa.
Diskusi kemudian semakin mengerucut pada konteks pendidikan tinggi ketika memasuki sesi ketiga yang diisi oleh Dr. Hairani Lubis, M.Psi., Psikolog, dari Universitas Mulawarman. Ia mengangkat isu penyesuaian akademik mahasiswa tahun pertama, fase transisi yang kerap diwarnai tuntutan akademik tinggi, perbedaan sistem pembelajaran, serta keterbatasan dukungan sosial. Melalui hasil penelitiannya, Dr. Hairani menjelaskan bahwa self-regulated learning dan grit akademik berperan penting dalam mendukung keberhasilan penyesuaian akademik. Selain itu, pengalaman flow—kondisi ketika mahasiswa terlibat penuh dan menikmati proses belajar—menjadi penghubung yang memperkuat kemampuan adaptasi akademik. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan mengelola diri, ketekunan, dan pengalaman belajar yang bermakna.
Sebagai penutup rangkaian pemaparan, sesi terakhir diisi oleh Sonny Andrianti, S.Psi., M.Si., Ph.D., dari Universitas Islam Indonesia. Sonny mengajak peserta melihat arah perkembangan riset psikologi sosial yang semakin dinamis di tengah perubahan sosial dan kemajuan teknologi. Isu seperti pengaruh media sosial dan AI generatif, penyebaran misinformasi, makna kerja, kesejahteraan, serta keseimbangan kehidupan kerja menjadi kajian yang kian relevan. Selain itu, perhatian terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim, termasuk penguatan perilaku pro-lingkungan, turut menegaskan bahwa riset psikologi kini semakin interdisipliner dan dituntut mampu diterapkan dalam praktik serta kebijakan sosial.
Di akhir konferensi, suasana diskusi berlangsung cukup interaktif dengan partisipasi aktif dari para peserta. Mahasiswa terlibat dalam sesi tanya jawab, berbagi sudut pandang, serta mendiskusikan peluang kolaborasi riset lintas bidang. Antusiasme ini mencerminkan semangat mahasiswa psikologi untuk terus belajar, meneliti, dan berkontribusi secara nyata bagi masyarakat. Melalui Konferensi Riset Mahasiswa Psikologi Indonesia (KREASI) 2026, Program Studi Psikologi UII berharap mahasiswa semakin percaya diri memposisikan diri sebagai ilmuwan muda yang peka terhadap persoalan kemanusiaan. Riset tidak lagi dipandang sebagai kewajiban akademik semata, melainkan sebagai jalan untuk menghadirkan perubahan sosial yang berbasis pada pengetahuan, empati, dan tanggung jawab ilmiah.




