Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Selamat Datang diwebsite Prodi Psikologi
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Psikologi Kaji Enterpreneurship dan Sociopreneurship
Written by F3ry   
Wednesday, 16 March 2016
“Sehebat apapun kalian tanpa enterpreneur kalian akan kalah dengan lulusan kampus-kampus yang punya enterpreneurship, bahkan lulusan dr kampus-kampus (baca: lulusan) yang tidak terkenal atau tidak punya nama.  Hidup ini tidak pasti. Orang yang tidak siap dengan ketidakpastian, jangan hidup”. Demikian motivasi yang  disampaikan oleh Drs. Adriano Rusfi, Psikolog kepada para peserta kegiatan kolokium yang digelar oleh Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat, 11 Maret 2016 di R. Auditorium FPSB UII.Lebih jauh penentang keras gerakan LGBT tersebut menegaskan bahwa jiwa enterprenur atau wirausaha sangat berbeda dengan jiwa pedagang. Menurutnya setiap orang tidak mesti harus bisa pedagang tapi wajib menjadi seorang enterpreneur, yakni orang yang berani dan bisa menjalani hidup dengan baik meski banyak/sebesar apapun tantangan yang dihadapinya. “Orang berani identik dengan berani mati, dan saya bukan seorang yang berani mati. Sedangkan orang bernyali adalah orang yang berani menjalani/menghadapi kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Penakut (baca: takut menghadapi kematian) boleh, pengecut (baca: tidak berani menghadapi hidup) jangan! Saat ini banyak orang yang berani mati, tapi tidak terlalu banyak yang berani hidup. Berjuanglah pada titik tersebut meski sering gagal. Doa sangat diperlukan dalam enterprenurship” ungkapnya. Sosok yang juga dikenal publik sebagai konsultan SDM dan Pendidikan tersebut juga menambahkan bahwa saat ini terlalu banyak permasalahan sosial yang membutuhkan kepemimpinan enterpreneurial, yakni pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab untuk mencari solusi atas permasalahan sosial yang ada dengan menciptakan kondisi masyarakat yang lebih kreatif dan produktif dalam menggali ataupun memunculkan setiap potensi yang dimilikinya. Setelah seseorang memiliki jiwa enterpreneur, maka selanjutnya adalah seseorang harus memiliki jiwa sociopreneurship yang bertujuan untuk membantu kesulitan orang lain, membuka lapangan kerja, menghindari kekufuran, menjauhi riba, dakwah, naik haji, bikin masjid, memiliki nilai tawar pada sisi sosial-ekonomi-politik dan juga harapannya adalah masuk surga. Modal sociopreneur adalah airmata, empati, social concern, social linkage, dan do’a orang lain.
Read more...
 
Prof Marcus Stueck Ajarkan School of Emphaty
Written by F3ry   
Wednesday, 16 March 2016
“Emphaty is based on attachment/connection/relation (Biological, behavioural, affective) in autopoietic network and between living elements (plants, humans, animals). Emphaty is not altruism”. Demikian definisi empati menurut Prof. Dr. rer.nat. habil. Marcus Stueck yang disampaikan pada acara kolokium Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) berjudul ‘School of Emphaty’, Jumat, 04 Maret 2016 di R. Auditorium FPSB UII.Di awal paparannya, Profesor ramah tersebut banyak menceritakan tentang sejarah berdirinya ‘School of Emphaty’ yang sudah dia rintis sejak tahun 2008 di Jerman dan Latvia. Baru pada tahun 2010-2011 ‘Schoolmof Emphaty’ masuk ke Indonesia melalui sebuah workshop di Yogyakarta. Sekedar mengingat kembali bahwa School of empathy merupakan sebuah metode/ teknik pembelajaran yang terdiri dari 2 metode, yakni melalui bahasa komunikasi-verbal dan badan-nonverbal (dance of life). Dance/gerak tari sebagai salah satu media pembelajaran empati dikarenakan bisa membawa perasaan dan ekspresi seseorang ke dalam tarian. Ekseperimen telah membuktikan bahwa dance bisa mempengaruhi perilaku seseorang sejalan dengan adanya proses biokimia yang terjadi di otak saat melakukannya (baca: gerakan dance). “Empati terkait dengan dengan kontak fisik/tubuh yang didasarkan pada rasa cinta/sayang. Jadi, untuk bisa ber-empati dengan sesama memang diperlukan koneksi (sentuhan secara langsung maupun tak langsung) yang nantinya akan berimplikasi pada kemampuan seseorang untuk merasakan kondisi fisik/psikis orang lain. Empati adalah hubungan, komunikasi dan kelekatan. Ini adalah hal penting untuk bisa melakukan empati pada orang lain,” tambahnya. Beberapa kumpulan foto pelaksanaan empathy pun beliau sampaikan demi menambah wawasan para mahasiswa. Masih Menurut Prof. Dr. rer.nat. habil. Marcus Stueck bahwa biodanza bisa diikuti dan dimengerti oleh siapa saja tanpa membedakan ‘kondisi’ seseorang. Biodanza bisa menjadi penyeimbang antara pengatahuan dan perasaan. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan hanya dengan sekedar membaca.
Read more...
 
2nd NCIP Kaji Peran Psikologi Islam dan Penguatan Keluarga
Written by F3ry   
Wednesday, 16 March 2016
Psikologi Islam untuk Penguatan Keluarga Menuju Bangsa yang Tangguh dan Berkarakter. Demikian tema besar kegiatan  “2nd National Conference on Islamic Psycology-NCIP” yang digelar oleh Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa-Rabu, 16-17 Februari 2016 di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta. Tokoh nasional bidang Pendidikan sekaligus Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO dan juga Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd bersama Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si (IPB) dan Dr. Hepi Wahyuningsih, S.psi., M.Si (UII) tampil sebagai pemateri seminar. Sedang ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA tampil sebagai keynote speaker.Dalam sambutannya selaku tuan rumah, Dekan FPSB UII, Dr.rer.nat Arief Fahmie, MA., HRM menegaskan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap upaya pencarian solusi permasalahan bangsa yang merupakan dampak kemajuan teknologi dan peran/posisi keluarga melalui disiplin ilmu Psikologi, khususnya melalui peran Psikologi Islami yang juga diharapkan mampu membawa kebahagian di akhirat. Sementara Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc sebelum membuka acara secara resmi juga berpesan agar kegiatan tersebut nantinya bisa kembali memaksimalkan peran dan fungsi keluarga sebagai lingkup terkecil dalam kehidupan seseorang mampu mencetak/melahirkan generiasi yang tangguh dan berkarakter. Ketua KPAI, Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam paparannya mengkritisi tidak imbangnya antara kecepatan pemahaman dalam pemanfaatan teknologi oleh orang tua dengan kecepatan perkembangan teknologi itu sendiri yang mengakibatkan anak-anak lebih pandai menggunakan teknologi tanpa pemahaman pemanfaatannya secara baik dan benar, sehingga sulit dikontrol oleh orangtua yang kurang atau juga tidak paham dengan pemanfaatan perkembangan teknologi yang terjadi. Beliau juga mengkritisi kurang intensifnya pertemuan dan komunikasi antara anak dengan orangtua. “Kasus keluarga dan pengasuhan anak memiliki kontribusi yang tinggi dalam kekerasan/penelantaran terhadap anak. Keharmonisan keluarga juga menjadi faktor utama terjadinya kasus penelantaran anak. Sementara fenomena lain yang tak kalah berpengaruh adalah faktor ekonomi yang bukan hanya kemiskinan tapi juga kekayaan yang mendadak, seperti halnya sertifkasi yang diperoleh oleh para pendidik. Survey KPAI menunjukkan adanya peningkatan proses gugat cerai dan juga perceraian yang terjadi pada para pendidik semenjak adanya sertifikasi”, ungkapnya. Staf pengajar Fakultas Syari’ah dan Hukum di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga menambahkan pentingnya masyarakat untuk mempelajari, menguasai, dan juga memahami apa saja yang diperlukan sebelum proses pernikahan khususnnya paska berkeluarga, seperti halnya tentang hak dan kewajiban sebagai suami/isteri. Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd selaku pemateri seminar dalam paparan singkatnya menyampaikan tentang pendidikan berkarakter yang bersinergi dengan orangtua, guru dan masyarakat. Sedangkan Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti menyampaikan materi penguatan karakter dan ketangguhan keluarga Indonesia yang kemudian ditutup oleh Dr. Hepi Wahyuningsih, S.Psi., M.Si yang menyampaikan kualitas perkawinan untuk penguatan keluarga. Pada hari kedua, agenda masuk dalam sesi workshop bertema Love that Binds: Islamic Family for Family Relations dengan menghadirkan Prof. Dr. malik Badri (Founder of Modern Islamic Psychology), Dr.Phill Qurrotul Uyun, S.Psi., M.Si dan Dr. Hepi Wahyuningsih. S.Psi., M.Si sebagai pembicara serta tema Pendidikan Akhlak Mulia dengan menghadirka Prof. Mastura Badzis, Ph.D dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi.,M.Si sebagai pemateri.
Read more...
 
Prodi Psikologi Tambah Doktor Baru
Written by F3ry   
Wednesday, 16 March 2016

DR. PHILL. EMI ZULAIFAH, DRA., M.SC

Keluarga besar program studi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali tersenyum bahagia setelah salah satu staf pengajarnya, Emi Zulaifah, Dra., M.Sc berhasil menyelesaikan studi S3 dan berhak menyandang gelar ‘Dr. Phil’ dari Institute for Psychology,  Leipzig University, Jerman. Sosok yang akrab disapa Bu/Mbak Emi ini berhasil mempertahankan disertasinya berjudul ‘Work-Family interface among family with Work separation. Testing the spillover and crossocer effect of work -family interference on personal and family domain’ di hadapan tim penguji yang terdiridari  Prof. Evelin Witruk, Prof Konrad Reschke dan Prof. Schroeger (dekan dari Faculty of  Pharmacy, Bioscience and Psychologie) pada 11 Februari 2016.  Hasilnya pun sangat membanggakan, yakni ‘Magna Cumlaude’.Menurut bu Emi, hasil analisis data penelitiannya menunjukkan bahwa beban pekerjaan bagi mereka yang harus mengalami pisah keluarga karena bekerja ternyata memberikan efek psikologis yang negatif tidak hanya bagi karyawan yang bersangkutan tetapi juga bisa ke anggota keluarga lainnya, termasuk pasangan dan anak anak. Dampak psikologis ke anggota keluarga (anak-anak) memang tidak secara langsung tapi melalui proses apakah orang tuanya yang bekerja memandang situasi pisah kerja tersebut mengusik ‘keseimbangan interaksi’ antara pekerjaan dan keluarga atau tidak, iklim di dalam keluarga dan kondisi psikologis ayah dan ibunya. Kondisi psikologis yang dimaksud adalah kondisi emosi (positif/negatif), serta kepuasan terhadap keluarga dan kehidupannya. Sedangkan dampak psikologis kepada pasangan cukup melalui kondisi psikologis sang suami. Bu Emi juga menambahkan bahwa orang tua yang banyak bersyukur dan ridho ternyata membantu pasangan untuk menjadi lebih tenang dan berbahagia. “Penelitian ini didedikasikan kepada keluarga-keluarga di Indonesia. Semoga senantiasa mendapatkan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup di jaman yang terus menerus berubah”, harap bu Emi.
Read more...
 
Wakil Ketua DPRD Kota Palangkaraya Silturrahmi Ke FPSB UII
Written by F3ry   
Wednesday, 16 March 2016

Wakil ketua DPRD Kota Palangkaraya y

IDA AYUNIA ANGGRAINI (MERAH) DAN ANGGOTA DPRD KOTA PALANGKARAYA BERFOTO BERSAMA DEKAN FPSB UII DAN KA. PRODI PSIKOLOGI (HIJAU) BERFOTO BERSAMA DEKAN

ang juga alumni Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Ida Ayunia Anggraini, S.Psi bersama ketua komisi  C bidang Pendidikan bersilaturrahmi ke FPSB UII. Keduanya disambut hangat oleh Dekan FPSB UII, Dr.rer.nat. Arief Fahmie, MA., HRM., Psikolog bersama Ketua Prodi Psikologi, Mira Aliza Rachmawati, S.Psi., M.Psi dan beberapa dosen prodi psikologi, (Jumat, 22/01).

 

Dalam pertemuan yang cukup singkat tersebut, mengemuka wacana kerjasama dalam proses pendirian ataupun penyelenggaran sekolah inklusi di Kalimantan Tengah. Menurut Nia (sapaan akrab Ida Ayunia Anggrainin semasa kuliah), selama ini memang belum ada sekolah inklusi di Kalimantan Tengah, yang ada baru Sekolah Luar Biasa (SLB).  

Semoga wacana kerjasama tersebut dapat segera terealisasikan. Dan berikut sedikit profil dari Ida Ayunia Anggraini, S.Psi. :

Muda, cantik, energik. Demikian sedikit gambaran sosok Wakil Ketua 1 DPRD Kota Palangkaraya Periode 2014-2019, Ida Ayunia Anggraini, S.Psi. Dara kelahiran Kota Palangkaraya tahun 1989 silam dan baru saja menikah dengan Riki Indransyah tersebut merupakan alumnus Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) tahun 2012. Nia (sapaan akrab Ida Ayunia Anggraini) sendiri tercatat sebagai mahasiswa prodi sejak 2008 (angkatan 2008). Sosok penggemar olahraga bola basket semasa kuliah di UII ini pun membuat sejarah baru dengan mencatatkan namanya sebagai pimpinan dewan termuda di Kalimantan Tengah. Karir Nia berawal sejak ayahnya, Ida bagus Suprayatna, ST yang juga ketua DPC salah satu partai politil Kota Palangkataya sering mengajaknya terlibat pada kegiatan ataupun acara kepartaian. Dari situlah timbul keinginannya untuk berpartisipasi membangun kota kelahiran melalui dunia politik. Nia mengaku bahwa keilmuan (baca: psikologi) dan pengalaman berorganisasi yang dia dapat semasa duduk di bangku kuliah benar-benar sangat bermanfaat dalam mendukung karirnya sebagai ‘decision maker’. Dengan bekal keilmuan dan pengalaman berorganisasi itulah Nia merasa sangat terbantu dalam mengelola ataupun melakukan kontrol terhadap anggota dewan dan juga mengontrol diri sendiri untuk tidak mudah terpancing emosi saat menghadapi kondisi yang kurang baik (demo, dll). Meski banyak orang memandang perpolitikan di negeri kita saat ini ‘kurang baik’, Nia tetap berharap agar para pemuda peduli dengan dunia perpolitikan. Menurutnya, pemuda memiliki peluang besar dalam berperan membangun daerah dan atau negara. Dunia politik menurutnya juga banyak memberikan pengalaman baru yang cukup unik dan menarik. Guna memperoleh pengalaman yang tak kalah menarik dalam proses pembangunan daerah Palangkaraya, di waktu yang akan datang Nia bermaksud untuk memberanikan diri maju pada pemilihan kepala daerah.
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 1 - 9 of 118

SK BAN PT AKREDITASI A PRODI PSIKOLOGI

Search

Polls

Fasilitas Anjungan Mhs Selama ini :
 
Personal Development Planning System