Kuliah Tamu: Consciousness dalam Psikologi Kognitif

Prodi Psikologi Program Sarjana Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan kuliah tamu untuk mata kuliah Psikologi Kognitif dengan tema “Consciousness dalam Psikologi Kognitif” pada Hari Jumat, 5 Juni 2026. Acara ini menghadirkan dr. Agustina Sulastri, Psikolog, selaku Ketua Umum Asosiasi Neuropsikologi Indonesia (ANI) periode 2024-2028 sebagai narasumber utama. 

Kuliah tamu diawali dengan pembukaan oleh Ibu Hazhira Qudsyi, S.Psi., M.A., selaku MC dan dilanjutkan dengan pembacaan latar belakang pemateri oleh moderator, yaitu Ibu Ratna Syifa’a Rahmahana, S.Psi., M.Si., Psikolog. Pada kesempatan ini, dr. Agustina Sulastri, Psikolog. menyampaikan dua subtema utama, yaitu konsep proses mental dan kesadaran (consciousness) serta kesadaran dalam perspektif neuroscience dan neuropsikologi. 

Sebagai pengantar, Ibu Lastri menyampaikan bahwa psikologi kognitif merupakan sub-bidang psikologi yang mempelajari proses mental internal, seperti persepsi, emosi, ingatan, belajar, berpikir, bahasa, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Psikologi kognitif sangat identik dengan proses mental. Dahulu, agar psikologi dapat dikategorikan sebagai ilmu ilmiah, fokus utamanya harus pada hal-hal yang dapat diobservasi, yaitu perilaku. Namun, sebelum suatu perilaku terjadi, terdapat proses mental yang mendahuluinya. Proses mental ini terjadi ketika seseorang mulai membentuk jalur saraf (neuropathway). Melalui latihan yang konsisten, jalur ini dapat diperkuat. Karena otak bersifat fleksibel, otak mampu membuat jaringan saraf secara luas hingga akhirnya membentuk muscle memory.

Selanjutnya, pemateri memberikan gambaran mengenai kesadaran secara lebih khusus. Beliau menjelaskan bahwa atensi berperan sebagai pintu gerbang menuju kesadaran. Hubungan ini dapat digambarkan melalui cocktail party effect, yaitu kemampuan luar biasa otak untuk mengenali stimulus tertentu yang memicu respons di tengah keramaian. Dalam prosesnya, atensi bertindak sebagai mekanisme penyaringan (filter) saat manusia dibanjiri oleh banyak informasi, dan kesadaran merupakan hasil akhir dari saringan tersebut. Berdasarkan tingkat kesadarannya, proses kognitif dibagi menjadi dua jenis: Proses Terkontrol sebagai proses yang membutuhkan perhatian penuh dan tingkat kesadaran yang tinggi serta Proses Otomatis yang terbentuk akibat latihan terus-menerus hingga seseorang menjadi mahir.

Pada penyampaian materi kedua mengenai neuroscience, pemateri memberikan analogi yang menarik, “Kognisi kita itu seperti komputer. Pada psikologi kognitif kita belajar software-nya, sementara di neuroscience kita belajar hardware-nya, bagaimana sirkuit struktur otak dan sebagainya.” Maksud dari pernyataan tersebut adalah neuroscience mempelajari berbagai struktur anatomi bagian otak, sedangkan psikologi kognitif mempelajari bagaimana proses dari berbagai bagian otak tersebut dalam menerima, memproses, dan mengirimkan informasi. Sebagai contoh, Ibu Lastri memaparkan kasus otak John Wilson, seorang pembunuh yang memutilasi korbannya karena marah. Secara anatomi, bagian yang tertekan adalah amigdalanya sebagai pusat rasa takut, sehingga terjadi amygdala hijack (pembajakan amigdala). Wilson tidak sadar saat menekan “tombol marahnya” karena amigdala aktif sepenuhnya, sementara lobus frontalnya yang berfungsi sebagai pusat kendali justru mati. Dalam contoh kasus ini, psikologi kognitif berperan penting dalam penafsiran proses berpikir yang dialami Wilson.

Setelah sesi penyampaian materi, kuliah tamu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama peserta. Maryam, salah satu mahasiswi S1 Psikologi UII, mengajukan pertanyaan mengenai fenomena melamun, “Terkait melamun, ketika seseorang melamun, kita kehilangan fokus dengan realitas, tetapi otak kita sangat penuh dengan berbagai pikiran. Apakah kondisi ini disebut sebagai penurunan tingkat kesadaran pada realitas atau justru kesadaran internal yang tinggi karena tingginya kreativitas?”. Menanggapi pertanyaan tersebut, pemateri menjelaskan bahwa melamun bisa berdampak baik dan membuat seseorang menjadi kreatif, dengan catatan kondisi mentalnya tepat dan isi lamunan tersebut sudah disiapkan materinya terlebih dahulu, atau yang dikenal sebagai mind wandering yang produktif.

Selanjutnya, peserta lain bernama Akbar mengajukan pertanyaan terkait menjaga kualitas kognitif, “Kita sudah membahas proses bagaimana otak bekerja. Kemudian, bagaimana agar kualitas kognitif kita bisa bertahan sampai usia tua?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, Ibu Lastri menjelaskan pengalaman teman-teman ilmuwan-nya yang sudah berumur namun memiliki kualitas kognitif yang sangat baik dengan cara menjaga daily intake melalui konsumsi makanan kaya antioksidan seperti tomat, melakukan olahraga rutin selama 15-30 menit sehari, serta melakukan stimulasi kognitif dan investasi otak dengan kebiasaan belajar, membaca jurnal ilmiah, rutin berdiskusi, dan menjaga hubungan pertemanan agar terhindar dari kebosanan kronis supaya ingatan tetap tajam dan terhindar dari pikun.

Secara keseluruhan, pelaksanaan kuliah tamu ini sangat penting dalam memberikan pemahaman mendalam mengenai integrasi antara proses kesadaran (consciousness) dan landasan biologisnya (neuroscience). Materi yang telah disampaikan memberikan wawasan berharga bagi peserta bahwa proses kognitif sangat kompleks dan tidak hanya dipengaruhi oleh mekanisme internal otak, tetapi juga oleh investasi gaya hidup yang konsisten. Melalui kuliah tamu ini, diharapkan mahasiswa S1 Psikologi UII tidak hanya menguasai teori psikologi kognitif, melainkan juga dapat menerapkan prinsip-prinsip tersebut untuk membangun cadangan kognitif (cognitive reserve) demi menjaga kualitas kognitif yang tetap baik hingga usia tua, serta menjadi dasar yang bermanfaat dalam memahami materi kuliah selanjutnya.

Author: Raisha Nur Rahmani