{"id":7899,"date":"2026-03-21T01:37:04","date_gmt":"2026-03-21T01:37:04","guid":{"rendered":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/?p=7899"},"modified":"2026-04-07T01:39:56","modified_gmt":"2026-04-07T01:39:56","slug":"hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/","title":{"rendered":"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas"},"content":{"rendered":"\n<style type=\"text\/css\" data-created_by=\"avia_inline_auto\" id=\"style-css-av-av_image-4f29916d5ba6a16b4a438636b52e573b\">\n.avia-image-container.av-av_image-4f29916d5ba6a16b4a438636b52e573b img.avia_image{\nbox-shadow:none;\n}\n.avia-image-container.av-av_image-4f29916d5ba6a16b4a438636b52e573b .av-image-caption-overlay-center{\ncolor:#ffffff;\n}\n<\/style>\n<div  class='avia-image-container av-av_image-4f29916d5ba6a16b4a438636b52e573b av-styling- avia-align-center  avia-builder-el-0  el_before_av_one_full  avia-builder-el-first '   itemprop=\"image\" itemscope=\"itemscope\" itemtype=\"https:\/\/schema.org\/ImageObject\" ><div class=\"avia-image-container-inner\"><div class=\"avia-image-overlay-wrap\"><img decoding=\"async\" fetchpriority=\"high\" class='wp-image- avia-img-lazy-loading-not- avia_image ' src=\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-content\/themes\/enfold\/config-templatebuilder\/avia-template-builder\/images\/placeholder.jpg\" alt='' title=''   itemprop=\"thumbnailUrl\"  \/><\/div><\/div><\/div>\n<div  class='flex_column av-av_one_full-2d22dc0500e159f2b39fe7a147caf14c av_one_full  avia-builder-el-1  el_after_av_image  el_before_av_hr  first flex_column_div  '     ><style type=\"text\/css\" data-created_by=\"avia_inline_auto\" id=\"style-css-av-mnny9al7-70d558a39eecfcb13a27d1111ab14af1\">\n#top .av-special-heading.av-mnny9al7-70d558a39eecfcb13a27d1111ab14af1{\npadding-bottom:10px;\n}\nbody .av-special-heading.av-mnny9al7-70d558a39eecfcb13a27d1111ab14af1 .av-special-heading-tag .heading-char{\nfont-size:25px;\n}\n.av-special-heading.av-mnny9al7-70d558a39eecfcb13a27d1111ab14af1 .av-subheading{\nfont-size:15px;\n}\n<\/style>\n<div  class='av-special-heading av-mnny9al7-70d558a39eecfcb13a27d1111ab14af1 av-special-heading-h3  avia-builder-el-2  avia-builder-el-no-sibling '><h3 class='av-special-heading-tag '  itemprop=\"headline\"  >Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas<\/h3><div class=\"special-heading-border\"><div class=\"special-heading-inner-border\"><\/div><\/div><\/div><\/div><div  class='hr av-av_hr-bca31578670ae9d408d6d6d291fc57a6 hr-default  avia-builder-el-3  el_after_av_one_full  el_before_av_one_full '><span class='hr-inner '><span class=\"hr-inner-style\"><\/span><\/span><\/div><\/p>\n<div  class='flex_column av-av_one_full-2d22dc0500e159f2b39fe7a147caf14c av_one_full  avia-builder-el-4  el_after_av_hr  avia-builder-el-last  first flex_column_div  '     ><style type=\"text\/css\" data-created_by=\"avia_inline_auto\" id=\"style-css-av-mnnya4ku-b461cd8e933dbf61bf7e43dfde50a924\">\n#top .av_textblock_section.av-mnnya4ku-b461cd8e933dbf61bf7e43dfde50a924 .avia_textblock{\ntext-align:justify;\n}\n<\/style>\n<section  class='av_textblock_section av-mnnya4ku-b461cd8e933dbf61bf7e43dfde50a924 '   itemscope=\"itemscope\" itemtype=\"https:\/\/schema.org\/BlogPosting\" itemprop=\"blogPost\" ><div class='avia_textblock'  itemprop=\"text\" ><p><span style=\"font-weight: 400\">Hari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> Sedunia diperingati setiap 21 Maret sebagai momen untuk meningkatkan kesadaran, mendorong inklusi, dan menghapus stigma terhadap penyandang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> Peringatan ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi pengingat bahwa anak-anak dan orang dewasa dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki hak yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berperan di masyarakat. Dalam penulisan artikel ini, penulis mewawancarai Ibu Dr. Ratna Syifa\u2019a Rahmahana, S.Psi., M.Si., Psikolog, selaku dosen Program Studi Psikologi UII, untuk mendapatkan penjelasan yang lebih komprehensif sekaligus kontekstual mengenai kondisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dan bagaimana seharusnya kita menyikapinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam wawancara bersamanya, beliau menjelaskan bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> merupakan kondisi yang disebabkan oleh kelainan genetik bawaan berupa adanya tambahan kromosom pada pasangan kromosom ke-21, atau yang biasa disebut Trisomy 21. Kelainan ini sering dikaitkan dengan kondisi kehamilan, salah satunya usia ibu saat mengandung. Ibu yang hamil di atas usia 35 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dibandingkan dengan ibu yang usianya lebih muda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Secara umum, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> menyebabkan perbedaan pada aspek fisik, kognitif, mental, dan kesehatan jika dibandingkan dengan anak pada umumnya. Dari sisi fisik, anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> biasanya memiliki ciri khas seperti wajah yang cenderung datar, pangkal hidung kecil, mata berbentuk almond, lidah yang cenderung menjulur, leher pendek, dan ukuran telinga yang relatif lebih kecil. Dalam aktivitas sehari-hari, mereka cenderung menyukai kegiatan kinestetik yang melibatkan eksplorasi. Karena itu, orang tua perlu memberikan stimulasi motorik agar anak mampu memahami lingkungan secara lebih optimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dari sisi kognitif, anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> umumnya lebih mudah memahami pembelajaran dalam bentuk visual, seperti gambar, video, atau demonstrasi. Namun, banyak diantaranya juga memiliki disabilitas intelektual sehingga kesulitan memahami konsep yang bersifat abstrak dan cenderung memiliki IQ di bawah rata-rata. Mereka biasanya lebih mampu mengikuti instruksi yang singkat, jelas, dan diberikan satu per satu. Tidak jarang instruksi yang sama perlu diulang berkali-kali sampai anak benar-benar memahami dan mampu melakukannya secara mandiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Secara mental dan emosional, anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> cenderung memiliki empati dan sensitivitas yang tinggi. Mereka cepat menangkap ketika dirinya merasa berbeda atau tidak diterima. Sensitivitas ini bisa menjadi kekuatan, tetapi juga membuat mereka rentan merasa rendah diri atau terpuruk jika berada di lingkungan yang kurang suportif. Karena itu, penerimaan, kesabaran, dan dukungan emosional dari orang tua serta lingkungan sekitar menjadi sangat penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dari aspek kesehatan, anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki risiko lebih tinggi terhadap beberapa kondisi medis, seperti penyakit jantung bawaan, gangguan tiroid, serta masalah pada penglihatan dan pendengaran. Artinya, selain dukungan psikologis dan pendidikan, pemantauan kesehatan secara rutin juga tidak bisa diabaikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ibu Ratna menekankan bahwa orang tua tidak boleh memandang anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">sebagai musibah. Orang tua perlu memberikan kasih sayang dan perhatian dengan tulus. Mendidik dan merawat anak dengan kondisi ini memang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan penerimaan yang tidak sedikit. Selain itu, orang tua sebaiknya mencari terapis yang kompeten agar anak dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan potensinya bisa dimaksimalkan. Orang tua juga perlu untuk bergabung dengan komunitas sehingga dapat saling berbagi pengalaman, mendapatkan dukungan emosional, dan tidak merasa sendirian dalam menjalani proses pengasuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam konteks pendidikan, orang tua dan guru dapat menerapkan pendekatan behavioristik. Ketika anak menunjukkan kemampuan baru, perlu diberikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">reward <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">seperti tepuk tangan, senyuman, atau pujian. Sebaliknya, ketika anak melakukan kesalahan, tetap perlu ada konsekuensi atau koreksi, tetapi tidak dalam bentuk yang menyakiti atau membuat anak takut. Umpan balik sebaiknya diberikan secara perlahan dan jelas, sehingga anak memahami apa yang benar dan apa yang perlu diperbaiki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ibu Dr. Ratna juga menyampaikan pesan kepada masyarakat luas bahwa \u201cMasyarakat harus peduli, harus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">aware <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">bahwa di sekitar kita ada anak-anak atau bahkan mungkin orang dewasa yang berbeda dan mereka itu rentan. Rentan dengan situasi yang akan membuat mereka menjadi di-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bully<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sehingga menampakkan kondisi yang tidak percaya diri atau menampakkan perilaku-perilaku yang tidak normatif\u201d. Pesan ini menegaskan bahwa masyarakat memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sebagai contoh praktik berbasis intervensi, di India terdapat program Sensory Integration Therapy (SIT) yang bertujuan memperpanjang rentang perhatian anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">sekaligus meningkatkan keterampilan motoriknya. Program ini dilakukan dalam 10 sesi selama 5 minggu dengan modul yang dirancang untuk menstimulasi berbagai sistem sensorik, seperti visual, vestibular, taktil, proprioseptif, penciuman, dan pengecapan, termasuk aktivitas keseimbangan dan eksplorasi fisik. Seluruh indera diaktifkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari mengenali aroma hingga mencicipi rasa. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan pada rentang fokus dan kemampuan motorik anak. Harapannya, pendekatan seperti ini juga dapat dikembangkan dan direplikasi di Indonesia agar anak-anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">mendapatkan dukungan yang lebih optimal dan terstruktur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada akhirnya, berbicara tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> bukan hanya soal kondisi genetik, tetapi soal bagaimana kita memilih untuk bersikap. Anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down Syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki tantangan, namun mereka juga memiliki potensi, emosi, dan kebutuhan yang sama untuk diterima. Dukungan orang tua, pendekatan pendidikan yang tepat, intervensi yang terstruktur, serta kepedulian masyarakat menjadi faktor kunci agar mereka dapat tumbuh lebih mandiri dan percaya diri. Jika lingkungan mau lebih sadar dan terbuka, maka yang berubah bukan hanya kualitas hidup anak dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">down syndrome,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tetapi juga kualitas kemanusiaan kita sendiri sebagai masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Author: Raisha Nur Rahmani<\/span><\/p>\n<\/div><\/section><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[73,74,75,42],"class_list":["post-7899","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-terkini","tag-down-syndrome","tag-hari-down-syndrome-sedunia","tag-inklusi","tag-psikologi-uii"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v25.5 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas - Program Studi Psikologi Program Sarjana<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas - Program Studi Psikologi Program Sarjana\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Program Studi Psikologi Program Sarjana\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-21T01:37:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-07T01:39:56+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"asadroyan\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"asadroyan\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/\"},\"author\":{\"name\":\"asadroyan\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/person\/adff4f97c3a570a5d884afab871927d9\"},\"headline\":\"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas\",\"datePublished\":\"2026-03-21T01:37:04+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-07T01:39:56+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/\"},\"wordCount\":2469,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#organization\"},\"keywords\":[\"Down Syndrome\",\"Hari Down Syndrome Sedunia\",\"Inklusi.\",\"Psikologi UII\"],\"articleSection\":[\"Berita Terkini\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/\",\"url\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/\",\"name\":\"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas - Program Studi Psikologi Program Sarjana\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-03-21T01:37:04+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-07T01:39:56+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/homepage-2024\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#website\",\"url\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/\",\"name\":\"Program Studi Psikologi Program Sarjana\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#organization\",\"name\":\"Program Studi Psikologi Program Sarjana\",\"url\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/08\/Logo-Psikologi_Biru.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/08\/Logo-Psikologi_Biru.webp\",\"width\":806,\"height\":429,\"caption\":\"Program Studi Psikologi Program Sarjana\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/psikologi.uii\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/person\/adff4f97c3a570a5d884afab871927d9\",\"name\":\"asadroyan\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d53973e46943c007f2c4263f8fcdeee6a69e2d5b13110c8730a9880e05e2314?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d53973e46943c007f2c4263f8fcdeee6a69e2d5b13110c8730a9880e05e2314?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"asadroyan\"},\"url\":\"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/author\/asadroyan\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas - Program Studi Psikologi Program Sarjana","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas - Program Studi Psikologi Program Sarjana","og_url":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/","og_site_name":"Program Studi Psikologi Program Sarjana","article_published_time":"2026-03-21T01:37:04+00:00","article_modified_time":"2026-04-07T01:39:56+00:00","author":"asadroyan","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"asadroyan","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/"},"author":{"name":"asadroyan","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/person\/adff4f97c3a570a5d884afab871927d9"},"headline":"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas","datePublished":"2026-03-21T01:37:04+00:00","dateModified":"2026-04-07T01:39:56+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/"},"wordCount":2469,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#organization"},"keywords":["Down Syndrome","Hari Down Syndrome Sedunia","Inklusi.","Psikologi UII"],"articleSection":["Berita Terkini"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/","url":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/","name":"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas - Program Studi Psikologi Program Sarjana","isPartOf":{"@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#website"},"datePublished":"2026-03-21T01:37:04+00:00","dateModified":"2026-04-07T01:39:56+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/hari-down-syndrome-sedunia-sebagai-bentuk-kepedulian-dunia-terhadap-inklusivitas\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/homepage-2024\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hari Down Syndrome Sedunia sebagai Bentuk Kepedulian Dunia terhadap Inklusivitas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#website","url":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/","name":"Program Studi Psikologi Program Sarjana","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#organization","name":"Program Studi Psikologi Program Sarjana","url":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/08\/Logo-Psikologi_Biru.webp","contentUrl":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2025\/08\/Logo-Psikologi_Biru.webp","width":806,"height":429,"caption":"Program Studi Psikologi Program Sarjana"},"image":{"@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/psikologi.uii"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/person\/adff4f97c3a570a5d884afab871927d9","name":"asadroyan","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d53973e46943c007f2c4263f8fcdeee6a69e2d5b13110c8730a9880e05e2314?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9d53973e46943c007f2c4263f8fcdeee6a69e2d5b13110c8730a9880e05e2314?s=96&d=mm&r=g","caption":"asadroyan"},"url":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/author\/asadroyan\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7899","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7899"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7899\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7901,"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7899\/revisions\/7901"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7899"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7899"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/psychology.uii.ac.id\/undergraduate\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7899"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}