Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 28 Juni 2026

Tombo ati. Psikoterapi Islam untuk jiwa yang resah

Sus Budiharto
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Dinamika kehidupan di era perubahan yang cepat dan tidak menentu ini (post-truth), sering kali mengakibatkan tekanan yang bertubi-tubi bagi manusia. Tuntutan kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, hingga riuh rendahnya media sosial tidak jarang menimbulkan stres, kejenuhan, kecemasan akan masa depan, kekosongan akan makna hidup dan spiritualitas. Kondisi ini sering kali berakar dari ketidakstabilan emosi dan rapuhnya resiliensi diri.

Namun, jauh sebelum dunia modern merumuskan berbagai metode self-healing, khazanah Islam melalui kearifan lokal telah mengenalkan konsep “Tombo Ati” (Psikoterapi Hati). Konsep yang dipopulerkan oleh Sunan Bonang ini sebenarnya bukan sekadar untaian lirik atau ritual mistis, melainkan suatu formula psikoterapi Islam yang komprehensif. Hati (qalbu) dalam kajian Psikologi Islam tidak hanya dipandang sebagai organ, melainkan pusat kendali jiwa dalam berbagai dimensi spiritual, emosi, pikiran, dan perilaku manusia. Ketika qalbu sehat, maka seluruh sistem jiwa menjadi sehat pula, namun ketika qalbu sakit, maka seluruh sistem dalam jiwa manusia akan terganggu. Bagaimana kearifan spiritual ini bekerja sebagai suatu intervensi psikologis?

Tombo ati 1. Moco Qur’an sak maknane (Membaca Al-Qur’an dan menghayati maknanya): Restrukturisasi kognitif melalui Kalam Ilahi

Membaca Al-Qur’an beserta maknanya merupakan langkah awal psikoterapi bagi jiwa. Metode ini sejalan dengan konsep Bibliotherapy (psikoterapi menggunakan bahan bacaan untuk mengatasi masalah), Points of You Therapy (psikoterapi menggunakan media visual untuk membantu melihat masalah dari sudut pandang baru), dan Cognitive Restructuring (restrukturisasi kognitif untuk mengidentifikasi, menantang, dan mengubah pola pikir negatif menjadi lebih rasional, seimbang, dan positif).

Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:

ٰﯾٓﺎَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﻨﱠﺎسُ ﻗَﺪْ ﺟَﺎۤءَﺗْﻜُﻢْ ﱠﻣﻮْﻋِﻈَﺔٌ ﱢﻣﻦْ ﱠرﺑﱢﻜُﻢْ وَﺷِﻔَﺎۤءٌ ﻟﱢﻤَﺎ ﻓِﻰ اﻟ ﱡﺼﺪُوْرِۙ وَھُﺪًى ﱠورَﺣْﻤَﺔٌ ﻟﱢﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﯿْﻦَ

Wahai manusia, sungguh, telah datang nasihat (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sekaligus sebagai psikoterapi bagi hati yang sakit, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S Yūnus [10]:57).

Saat seseorang mengalami kecemasan atau depresi, pikirannya akan didominasi oleh distorsi kognitif, seperti “hidup ini tidak adil” atau “mengapa terjadi pada saya” atau “saya tidak punya masa depan lagi”. Ketika ia membaca Al-Qur’an dan menghayati maknanya, terjadi proses perbaikan skema berpikir. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi janji kemudahan setelah kesulitan, kasih sayang Allah, dan kisah-kisah optimisme para nabi bertindak sebagai stimulus yang menantang pikiran-pikiran negatif tersebut. Menyelami makna Al-Qur’an membantu mengubah sudut pandangnya (reframing) dari keputusasaan menjadi penuh harapan, yang pada akhirnya dapat memicu ketenangan yang mendalam.

Tombo ati 2. Sholat wengi lakonono (Lakukanlah sholat malam): Katarsis emosi dan regulasi stres di waktu malam

Mendirikan shalat malam (Maghrib, Isya, sunnah pada waktu malam atau dinihari) bukan sekadar rutinitas ibadah fisik, melainkan sebuah ruang psikoterapi yang efektif bagi kesehatan jiwa. Secara neuropsikologis, suasana sepertiga malam yang hening mendukung otak untuk masuk ke gelombang alfa, yaitu kondisi pikiran menjadi rileks dan fokus (deep focus). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَﻣِﻦَ اﻟﱠﯿْﻞِ ﻓَﺘَﮭَ ﱠﺠﺪْ ﺑِﮫٖ ﻧَﺎﻓِﻠَﺔً ﻟﱠﻚَۖ ﻋَٰﺴٓﻰ اَنْ ﯾﱠﺒْﻌَﺜَﻚَ رَﺑﱡﻚَ ﻣَﻘَﺎﻣًﺎ ﱠﻣﺤْﻤُﻮْدًا

Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu, pasti Tuhanmu mengangkatmu ke tingkat yang terpuji. (Q.S Al-Isrā‘ [17]:79)

Momen shalat malam dapat berfungsi sebagai sarana mindfulness dan catharsis (pelepasan emosi yang terpendam). Ketika seseorang berdiri dalam kesunyian malam, lalu menumpahkan segala keluh kesah, air mata, dan harapannya dalam doa yang khusyuk, ia sedang melakukan regulasi emosi yang sehat. Proses “curhat” kepada Sang Pencipta ini dapat menurunkan produksi hormon kortisol (hormon stres) dalam tubuh dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatik yang menenangkan. Hasilnya, individu yang konsisten shalat malam cenderung memiliki stabilitas emosi yang lebih baik dan tidak mudah tumbang saat menghadapi tekanan hidup di siang hari.

Tombo ati 3. Wong kang sholeh kumpulana (Berkumpulah dengan orang saleh): Optimalisasi sistem dukungan sosial untuk resiliensi jiwa

Manusia adalah makhluk sosial yang perilakunya juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Berkumpul dengan orang-orang saleh, secara psikologis berkaitan erat dengan konsep Social Support System (sistem dukungan sosial) dan Social Learning Theory (teori pembelajaran sosial). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٰﯾٓﺎَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠﺬِﯾْﻦَ ٰاﻣَﻨُﻮا اﺗﱠﻘُﻮا َّٰﷲ وَﻛُﻮْﻧُﻮْا ﻣَﻊَ اﻟٰﺼّﺪِﻗِﯿْﻦَ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar. (Q.S At-Taubah [9]:119)

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah memerintahkan manusia beriman untuk bertakwa dan senantiasa berkumpul dengan orang yang jujur, benar , dan saleh. Berdasarkan teori

pembelajaran sosial, manusia belajar meneladani perilaku, nilai, dan respon emosi melalui proses pengamatan (modeling) terhadap orang lain. Ketika berada di lingkungan orang-orang yang saleh, orang yang bijak secara emosi dan kokoh secara spiritual, secara otomatis sedang menginternalisasi cara dalam menghadapi masalah hidup dengan sabar dan husnudzon (berprasangka positif). Dukungan sosial dari lingkungan yang positif ini juga menjadi pelindung (buffer) yang kuat dari risiko akan kesepian, kecemasan, dan depresi. Orang-orang saleh tersebut tidak hanya menjadi tempat bertukar cerita, tetapi juga pengingat komitmen moral dan spiritual saat jiwa sedang resah dan kehilangan arah.

Tombo ati  4. Wetengiro Ingkang Luwe (Berpuasalah): Melatih self-regulation dan

delayed gratification

Mengosongkan perut atau berpuasa sering kali dipahami hanya sebagai latihan menahan lapar dan haus. Padahal, dalam kajian psikologi perkembangan dan kepribadian, puasa juga merupakan media terbaik untuk melatih self-regulation (regulasi diri) dan delayed gratification (kemampuan menunda kepuasan). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٰﯾٓﺎَﯾﱡﮭَﺎ اﻟﱠﺬِﯾْﻦَ ٰاﻣَﻨُﻮْا ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﯿْﻜُﻢُ اﻟ  ﱢﺼﯿَﺎمُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ اﻟﱠﺬِﯾْﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠﱠﻜُﻢْ ﺗَﺘﱠﻘُﻮْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan pula atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Baqarah [2]:183)

Allah memerintahkan manusia beriman untuk berpuasa, karena dapat menjadi media psikoterapi menjadi lebih bertakwa. Sejak kecil, manusia didorong oleh pleasure principle (prinsip kesenangan) untuk segera memuaskan keinginan biologisnya. Ketidakmampuan menunda kepuasan dapat memicu berbagai perilaku impulsif, kecanduan, hingga menurunnya kontrol diri. Dengan berpuasa, manusia secara sadar mengendalikan impulse control (kendali dorongan dasar). Ketika berhasil menaklukkan ego besarnya, yaitu kebutuhan makan dan minum yang halal di siang hari, maka kekuatan mentalnya (mental muscle) akan terlatih. Hasilnya, akan memiliki kontrol diri yang lebih kuat dalam menghadapi godaan eksternal maupun gejolak emosi negatif seperti amarah dan hawa nafsu.

Tombo ati 5. Dzikir wengi ingkang suwe (Dzikir malam perpanjanglah): Meditasi spiritual dan stabilitas neuropsikologis

Psikoterapi hati yang kelima adalah dzikir malam yang panjang. Praktik ini merupakan bentuk meditasi spiritual yang mulia dalam Islam. Secara neuropsikologis, pengulangan kalimat-kalimat thayyibah (Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Illaaha Ilallah, dsb) secara konsisten dan penuh penghayatan dapat memengaruhi peningkatan kinerja otak secara signifikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 ﻓَﺎذْﻛُﺮُوْﻧِﻲْٓ اَذْﻛُﺮْﻛُﻢْ وَاﺷْﻜُﺮُوْا ﻟِﻲْ وَﻻَ ﺗَﻜْﻔُﺮُوْنِ

Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku akan selalu ingat kepadamu. Bersyukurlah atas kenikmatan-Ku dan janganlah kamu mengingkari-Ku. (Q.S Al-Baqarah [2]:152)

Saat seseorang berdzikir dengan khusyuk dalam waktu yang lama di keheningan malam, aktivitas pada amygdala (pusat pemrosesan rasa takut dan stres di otak) akan menurun. Sebaliknya, aktivitas pada prefrontal cortex (pusat konsentrasi dan pengambilan keputusan) akan meningkat. Proses ini merangsang sistem saraf parasimpatik untuk melepaskan hormon-hormon penenang seperti endorfin dan serotonin, sekaligus menurunkan tekanan darah. Dzikir malam yang panjang membawa jiwa ke dalam kondisi ketenangan spiritual mendalam (inner peace), yang dapat membebaskan mental dari beban kecemasan masa lalu, masa kini, maupun masa depan.

Kelima komponen dalam tombo ati bukanlah elemen yang berdiri sendiri, melainkan sebuah ekosistem psikoterapi Islam yang holistik. Formula ini menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan kita secara seimbang, aspek kognitif melalui Al-Qur’an, aspek perilaku dan fisik melalui shalat serta puasa, aspek sosial melalui interaksi dengan orang saleh, dan dimensi spiritual terdalam melalui dzikir malam. Tombo Ati adalah panduan praktis intervensi kesehatan jiwa yang aplikatif. Di tengah badai problematika zaman post-truth, merawat kesehatan jiwa dengan menghidupkan kembali formula ini, langkah demi langkah, secara konsisten, semoga Allah Meridhai kita memiliki jiwa yang tenang (nafsul muthma’innah) dan tangguh menghadapi berbagai perubahan dunia. Wallahu a’lam bish-shawab.