Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 23 Juni 2026

Syukur dan Qana’ah: Obat bagi Hati yang Serakah

Suparyati
Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Astaghfirullahal ‘adzim. Berita akhir-akhir ini sangat miris untuk didengarkan, aparat penegak hukum mengungkap berbagai dugaan penyalahgunaan wewenang, penggelapan dana, hingga tindak pidana pencucian uang yang nilainya mencapai miliaran bahkan triliunan. Mirisnya pelaku tidak hanya dilakukan oleh pejabat tingkat pusat namun juga pejabat tingkat daerah, bahkan sampai tingkat desa. Dikutip dari detik.com Lurah Condongcatur ditetapkan sebagai tersangka kasus penyalahgunaan tanah kas desa.  Hal ini menjadi pengingat bagi kita  jabatan, kekuasaan, dan kesempatan yang dimiliki seseorang merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Peristiwa yang sudah terjadi mengajarkan kita agar mengambil pelajaran, bukan untuk menghakimi seseorang namun untuk merefleksi diri sendiri karena setiap manusia memiliki potensi tergelincir pada perbuatan tercela jika tidak mampu menjaga hati dari penyakit dunia. Allah berfirman pada Al Qur’an :

“Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman”  (Yusuf : 111)

Kasus penyalahgunaan tanah kas desa memberikan kita refleksi bahwa setiap orang berpeluang melakukan kesalahan dalam menjalankan kehidupan, tidak hanya pejabat yang diamanahi jabatan namun diri kita sendiri mungkin pernah khilaf melakukan maksiat yang hanya kita sendiri yang tahu. Allah SWT memberikan rezeki kepada hamba-Nya sangat adil dan dengan berbagai cara. Namun jika kita tidak merasa cukup atas yang sudah diberikan maka akan timbul perilaku kreatif dengan menghalalkan segala cara agar mendapatkan apa yang diinginkan. 

Manusia mengira bahwa kebahagiaan akan datang jika penghasilan bertambah jabatan tinggi, atau harta yang semakin melimpah. Kenyataannya rezeki yang semakin dicari-cari dengan cara yang tidak baik akan terus terasa kurang. Rasulullah SAW bersabda :

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya hati (jiwa).” (Bukhari No. 6446)

Kekayaan hati lahir dari sifat qana’ah, yaitu merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan sambil tetap berusaha dengan cara yang halal. Godaan terbesar manusia bukanlah kemiskinan, namun ketika seseorang memiliki kesempatan untuk memperoleh sesuatu dengan cara yang tidak benar. Jabatan yang seharusnya menjadi sarana melayani masyarakat terkadang berubah menjadi alat untuk memenuhi ambisi pribadi. Padahal, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin berat pula hisab yang akan dihadapinya di akhirat. Seseorang yang memiliki qana’ah akan selalu melihat nikmat Allah dengan penuh rasa syukur. Ia memahami bahwa setiap rezeki yang diterima telah diatur oleh Allah sesuai hikmah-Nya. Karena itu, ia tidak akan mencari tambahan rezeki melalui jalan yang haram, sekalipun kesempatan terbuka lebar. Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya selain tanah (kematian), dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (Bukhari No. 6439 dan Muslim No. 1048 )

Hadis ini menunjukkan bahwa akar persoalan bukan terletak pada sedikit atau banyaknya rezeki, melainkan pada hati manusia. Ketika hati dikuasai oleh kerakusan, berapa pun yang dimiliki akan terasa kurang. Hari ini ingin satu, besok ingin dua, lusa ingin lebih banyak lagi. Tidak ada batasnya kecuali ketika seseorang kembali kepada Allah. Berita yang menghebohkan publik dilansir dari kompas.com, 74 kilogram batang emas dan tumpukan uang tunai ratusan miliar ditemukan di rumah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung.  

Islam memberikan obat yang sangat sederhana tetapi mendalam, yaitu syukur. Syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah, tetapi menggunakan setiap nikmat sesuai dengan tujuan yang diridhai Allah. Harta digunakan untuk membantu sesama. Jabatan dipakai untuk melayani masyarakat. Ilmu dimanfaatkan untuk memberi manfaat. Waktu digunakan untuk beribadah dan berkarya. Allah SWT berfirman:

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (Ibrahim: 7)

Syukur dan qana’ah adalah dua sifat yang saling menguatkan. Orang yang bersyukur akan merasa cukup, sedangkan orang yang qana’ah akan lebih mudah mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan. Hati yang dipenuhi rasa syukur akan terbebas dari kegelisahan akibat mengejar dunia tanpa akhir. Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Harta dan kekayaan yang dikumpulkan tidak akan dibawa ke alam kubur kecuali jika dibelanjakan untuk beramal saleh. Seluas-luasnya pintu rezeki yang terbuka, jika tanpa rasa syukur, tak akan pernah bisa memuaskan nafsu seorang manusia. Rezeki yang halal, meskipun tampak sederhana, akan membawa keberkahan dan ketenangan. Sebaliknya, rezeki yang diperoleh dengan cara yang menyimpang tidak akan pernah mampu mengisi kekosongan hati yang dipenuhi oleh keserakahan.