Opini

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 15 Juli 2026

Overthinking:
Ketika Pikiran Riuh dan Ketenangan Menjauh

Muhammad Novvaliant Filsuf Tasaufi
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Pernahkah merasa kelelahan yang sangat meski tidak melakukan aktivitas yang berat? Hanya dengan kegiatan ringan dan sederhana seperti duduk di bangku kuliah dan mengerjakan tulisan sederhana di balik meja kerja, namun lelahnya seperti tidak terobati dengan istirahat atau tidur yang lama. Di sisi lain, pikiran begitu riuh bergemuruh, seperti mempertanyakan banyak hal. “Apakah besok akan baik-baik saja?” “Bagaimana jika tidak sesuai harapan?” “Apakah saya cukup berharga?” Bahkan pikiran tidak lagi bertanya, namun berlanjut hingga menghakimi. “Mereka pasti tidak suka dengan karyaku”, “Aku hanyalah diri yang penuh kegagalan dan tidak layak dicintai”. Semakin dipikirkan, justru semakin terjebak dengan pusaran yang tidak berkesudahan. Pada titik yang ekstrim, pikiran bahkan bisa mengajak untuk mengakhiri kehidupan. Perlahan namun pasti, mulai terasa adanya perubahan dalam emosi dan perilaku. Rasanya menjadi lebih sensitif, mudah marah, atau menangis, bahkan menarik diri agar tidak banyak interaksi.

Padahal, berpikir merupakan aktivitas mendasar dan diperlukan dalam kehidupan manusia. Di tiap bergulirnya waktu, jam, menit, bahkan detik, manusia selalu berpikir sebagai manifestasi bahwa dirinya adalah manusia. Manusia berpikir untuk mengolah informasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, termasuk di antaranya mengevaluasi masa lalu, dan melakukan antisipasi terhadap apa yang terjadi di masa yang akan datang. Namun, jika semua hal dipikirkan dalam waktu yang bersamaan, maka akan berdampak pada aspek psikologis yang lain, yakni pada perubahan perilaku dan emosi sebagaimana yang disampaikan oleh Aaron T Beck dalam pendekatan Cognitive Behavioral Therapy

Artinya, bagaimana manusia memikirkan sesuatu, dapat berdampak pada perilaku maupun emosi, termasuk di antaranya kondisi fisiologis. Maka tak heran jika seseorang sedang banyak pikiran, maka akan berdampak pada perubahan perilaku dan emosinya. Banyaknya pikiran ini banyak disebut dengan kondisi overthinking. Aktivitas berpikir yang seharusnya bisa membantu perjalanan kehidupan, namun jika berlebihan dapat berdampak pada emosi dan perilaku.

Pengalaman ini tentunya dirasa tidak nyaman dan jauh dari rasa ketenangan. Sisi emosi dihantui ketakutan sementara secara fisik dilanda kelelahan yang seperti tak berujung. Pun cara kerja overthinking seperti lingkaran setan yang menyebabkan individu yang mengalami merasa seperti tidak ada jalan keluar dari pikiran-pikiran negatifnya. Apalagi jika individu tersebut melakukan beberapa hal yang membuat overthinkingnya makin berlarut-larut dan bertahan lebih lama yang memunculkan rasa frustasi. Uniknya, hampir semua berjalan seperti otomatis dan tanpa disadari. 

Akar Overthinking

Sebenarnya, jika seseorang sesekali mengalami overthinking, maka tidak akan ada masalah signifikan yang terjadi. Sama halnya dengan stress, overthinking pun memiliki dampak positif pada kadar tertentu. Contoh dari manfaat overthinking dalam kadar yang tepat antara lain membantu manusia dalam mengantisipasi masalah yang akan datang sehingga menciptakan prosedur keselamatan yang meminimalisir celah untuk terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan. Namun, jika overthinking secara berlebihan, dapat mengakibatkan penyintas mengalami gangguan psikologis seperti obsessive compulsive disorder sehingga melakukan aktivitas berulang untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja dan terus menerus dilanda kekhawatiran. 

Secara umum, situasi yang dapat memperparah overthinking terbagi menjadi dua, yakni secara internal dan eksternal. Secara internal meliputi cara berpikir serta jenis kepribadian, terutama kepribadian yang melibatkan kecemasan dan perfeksionisme. Individu dengan cara berpikir  bahwa semua hal harus bisa dipastikan, akan terperangkap pada situasi di mana harus bisa menerima bahwa tidak semua hal bisa dipastikan. Sebagai contohnya, “Bagaimana kehidupanku setelah menikah nanti? Bagaimana jika pasanganku tidak cocok denganku atau bahkan meninggalkanku?” Sementara, pada kepribadian dengan kecenderungan perfeksionis akan mengarahkan pada “serba harus sesuai dengan keinginan” akan terjebak pada penyesalan yang tidak berujung karena dunia tidak pernah berjalan seperti apa yang diharuskan dalam pikiran seseorang. Sebagai contoh, siswa yang merasa dirinya pintar sehingga merasa bahwa seharusnya bisa masuk di perguruan tinggi negeri dengan bukti ada temannya yang tidak lebih pintar namun bisa masuk perguruan tinggi negeri. Siswa ini meyakini bahwa dengan masuk perguruan tinggi negeri dapat membuatnya lebih berharga. Ternyata siswa tersebut  gagal sehingga muncul penyesalan terkait dengan kuliahnya di kampus swasta, meski kampus swasta tersebut memiliki reputasi yang baik. Energinya akan habis untuk menyesali masa lalunya dibanding untuk mengoptimalkan perkuliahannya saat ini. 

Secara eksternal, overthinking dapat disebabkan oleh terlalu banyaknya paparan informasi serta seringkali membandingkan diri dengan orang lain. Dalam menghadapi suatu persoalan, keputusan dapat diambil dengan bijaksana saat informasi yang diperlukan dirasa cukup untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, jika informasi yang dipaparkan terlalu banyak, maka akan semakin banyak pula pertimbangan yang diberikan, yang pada akhirnya dapat memperlambat pengambilan sebuah keputusan. Sebagai contoh, saat seseorang hendak mendaki gunung, maka perlu adanya informasi apa saja yang perlu dipersiapkan untuk perjalanannya. Namun, jika terlalu banyak informasi yang diterima, maka bisa jadi justru membawa perlengkapan yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan saat mendaki gunung. Sama halnya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Menetapkan standar diri dengan capaian orang lain dapat menyebabkan individu menganggap rendah capaian diri sendiri padahal masing-masing mengetahui bahwa sebenarnya tiap individu memiliki jalur atau track kehidupan sendiri-sendiri. Pikiran akan lelah untuk mengejar pace orang lain sehingga lupa dengan pace diri di lajur yang berbeda.

Jika kedua faktor ini terus berlanjut, overthinking yang dialami dapat merembet pada gangguan psikologis yang lebih serius. Gangguan kecemasan menyeluruh, OCD hingga depresi dapat terjadi saat pikiran yang riuh bergemuruh tidak dikelola dengan adaptif. Untuk mengurangi overthinking perlu strategi agar pikiran yang berkelindan tidak membuat kehilangan ketenangan.

Mengelola overthinking

Overthinking sepertinya menjadi problematika yang tidak terelakkan terjadi saat menghadapi suatu permasalahan. Dalam kadar tertentu, overthinking adalah hal yang normal, bahkan diperlukan agar penyelesaian masalah menjadi lebih komprehensif. Namun jika berlebihan, justru terdapat efek yang membahayakan. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar overthinking dapat terkelola dengan lebih adaptif.

Pertama, membangun kesadaran atau awareness. Kesadaran ini bukan hanya terkait apa yang dipikirkan saja, namun termasuk identifikasi awal mulanya muncul pikiran tersebut, analisis apakah dalam kendali atau tidak, penyusunan skala prioritas dan lain sebagainya. Sebagai contoh individu yang memiliki ketakutan untuk memiliki anak karena memikirkan biaya yang begitu besar untuk membesarkan anak. Selain itu, muncul kekhawatiran jika tidak bisa mendidik anak dengan baik. Setelah ditelusuri, ketakutan ini berawal dari pengalaman masa kecil serta pola asuh yang maladaptif dan terlalu banyaknya informasi terkait dengan tumbuh kembang anak. Dalam kasus ini, penanganan terkait dengan masa kecil yang belum selesai menjadi penting sebagai bagian dari penyembuhan luka psikologis yang dapat berdampak pada bagaimana memandang kehadiran seorang anak nantinya. 

Kedua, melibatkan Sang Maha Kuasa atau tawakkal. Seringkali konsep tawakal dimaknai sebagai pasrah tanpa usaha, padahal tawakkal mensyaratkan usaha maksimal untuk hasil terbaik. Rasulullah tidak mengajarkan hanya berdoa saja agar unta tidak kabur, namun mengikat unta dengan tali sebagai bagian usaha lahiriahnya. Tawakkal dapat meningkatkan kesadaran mengenai apapun yang direncanakan manusia, maka takdir Allah-lah penentu garisnya. Kesadaran ini diharapkan bisa memberikan ketenangan bahwa manusia hanya bisa merencanakan yang terbaik, namun hasil akhirnya tetap Allah yang menentukan, serta meyakini bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-hambaNya. Dengan kasus serupa di atas, konsep tawakal akan membantu individu untuk meyakini, jika tiap hewan melata sudah dijanjikan rejekinya di dunia ini, terlebih lagi manusia. Ini dapat meneguhkan diri untuk mempersiapkan kehadiran anak daripada memutuskan untuk melakukan childfree.

Sebagai penutup,  manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan berpikir yang paling baik di antara semua makhluk di muka bumi. Kelebihannya ini ternyata dapat menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan baik. Pada tingkat terbatas, overthinking dapat membantu manusia untuk memecahkan masalahnya namun jika melewati batas tersebut, dapat menyebabkan manusia menjadi terguncang jiwanya. Kesadaran dan melibatkan Tuhan merupakan kata kunci agar pikiran yang berlebihan tidak lagi merenggut ketenangan…

Wallahu a’lam bishshawab.