Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 23 Mei 2026

Keteladanan Kenabian dan Ancaman Kezaliman bagi Pemangku Jabatan Modern

Muhammad Yopa Velda Putra

Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Di zaman sekarang, definisi penguasa tidak lagi terbatas pada mereka yang duduk di kursi puncak kepemimpinan tertinggi. Setiap individu yang memegang jabatan memiliki kuasa dan kekuatan untuk menentukan arah kebijakan, sehingga mereka lebih tepat disebut sebagai pemangku jabatan atau pemangku kebijakan. 

Meski terkadang bukan berada di posisi paling atas, mereka memiliki kemampuan komunikasi yang mampu memengaruhi keputusan strategis. Ironisnya, sering kali hanya dengan satu ucapan atau instruksi yang keliru, orang-orang di bawahnya harus menanggung penderitaan yang mendalam. Jabatan, dalam konteks ini, menjadi amanah yang sangat berat karena berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.

Sebagai standar ideal, kepemimpinan haruslah berkaca pada sifat Rasulullah SAW yang mencakup Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah. Seorang pemimpin yang Shiddiq akan selalu berkata, bersikap, dan berbuat sesuai dengan kebenaran, sebagaimana Rasulullah dijuluki Al-Amin oleh penduduk Mekkah karena kejujurannya yang tak tergoyahkan. Selain itu, sifat Amanah menuntut pemimpin untuk selalu menepati janji dan bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan setiap titipan tugas yang diemban. Integritas ini disempurnakan dengan sifat Tabligh, yakni keberanian menyampaikan ajaran kebaikan dan transparansi informasi tanpa ada yang disembunyikan, serta sifat Fathanah yang mencerminkan kecerdasan, kebijaksanaan, dan ketajaman berpikir dalam menyelesaikan persoalan umat.

Selain empat sifat utama tersebut, kepemimpinan yang bermanhaj nubuwah juga dicirikan oleh sifat penyayang, lembut, sabar, dan tawaduk. Pemimpin ideal adalah mereka yang pengasih kepada kaum fakir miskin tanpa membeda-bedakan status sosial, memiliki ketahanan jiwa yang tinggi dalam menghadapi rintangan, serta mudah memaafkan tanpa menyimpan dendam.Meskipun memiliki kedudukan yang agung di mata Allah dan manusia, mereka tetap tampil sederhana dan rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Standar inilah yang seharusnya menjadi kompas bagi setiap pemangku jabatan dalam menjalankan tugasnya di era modern.

Wajah Kelam Jabatan: Karakteristik Pemimpin Zalim Modern

Realitas di lapangan seringkali menunjukkan kontras yang menyakitkan. Alih-alih meneladani sifat Rasul, banyak pemangku jabatan modern yang justru terjerumus ke dalam karakteristik pemimpin zalim. Kezaliman ini sering kali mewujud dalam perilaku koruptif dan khianat, di mana anggaran publik yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat justru diselewengkan demi memperkaya diri sendiri, keluarga, atau kelompok melalui praktik nepotisme. Sikap ini merupakan lawan langsung dari sifat Amanah yang seharusnya dijunjung tinggi.

Selain korupsi materi, kezaliman juga muncul dalam bentuk gaya kepemimpinan yang otoriter dan anti kritik. Pemimpin jenis ini akan membungkam suara rakyat, memenjarakan penentang kebijakan secara sewenang-wenang, dan menggunakan aparat untuk menindas masyarakat yang menuntut keadilan. Mereka juga cenderung manipulatif dan menipu dengan menyebarkan kebohongan atau manipulasi data capaian kerja demi melanggengkan kekuasaan. Ketawadhuan pun berganti menjadi arogansi, di mana bawahan diperlakukan layaknya budak, hak gaji dipotong secara tidak adil, dan kemewahan dipamerkan dengan bangga di atas penderitaan rakyat.

Kezaliman ini semakin nyata ketika menyentuh ranah teknis pekerjaan, seperti intimidasi dan penghasutan di balik layar terhadap bawahan. Kita sering menemui kasus di mana kebijakan diambil secara sepihak untuk memutasi bawahan ke posisi yang tidak sesuai dengan kemampuannya melalui fitnah dan hasutan. Bahkan, ada pemangku jabatan yang sengaja mempersulit tugas bawahan hanya agar mereka merasa tertekan dan tunduk. 

Sebagai contoh, seorang staf yang sedang menjalankan tugas lapangan diintimidasi seolah-olah tidak mendapatkan izin, padahal prosedur telah ditempuh dan tidak ada tugas prioritas lainnya. Praktik eksploitasi ini sering kali memaksa bawahan bekerja di luar batas perjanjian kerja demi ambisi pribadi sang pemangku jabatan.

Manipulasi dan Pemufakatan Jahat dalam Struktur Organisasi

Kezaliman modern juga merambah pada wilayah pemufakatan jahat yang sistematis. Pemangku jabatan tertentu sering kali sengaja menyesatkan rekan sejawatnya agar salah mengambil keputusan demi kepentingan tertentu. Misalnya, dalam pemilihan personel untuk tugas khusus seperti dalam suatu instansi,namun  tugas yang seharusnya diberikan kepada staf ahli sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) bidangnya justru dialihkan kepada staf lain yang tidak sesuai tupoksi akibat hasutan menyesatkan para pemangku jabatan yang zalim kepada pemangku jabatan lainya yang baik namun kurang kompeten meski memiliki wewenang lebih tinggi untuk memberikan tugas tersebut dan ada rasa tidak enak karena ada kedekatan personal.

Hal ini diperparah dengan kecurangan dalam penilaian kinerja, di mana poin kinerja diberikan secara subjektif; anggota tim yang bekerja keras diberi poin rendah, sementara sang pemangku jabatan memberikan poin tertinggi bagi dirinya sendiri meski kinerjanya sangat minim. 

Aspek keuangan juga tidak luput dari praktik manipulatif ini. Terdapat pola di mana anggaran untuk kebutuhan vital (A) sengaja dipangkas dengan berbagai alasan teknis agar dananya bisa dialihkan untuk kebutuhan lain (B) yang menjadi kepentingan para pemangku jabatan yang zalim agar mendapat pujian. Akibatnya, kegiatan pada bagian (A) menjadi tidak optimal dan inisiator pelaksananya dianggap gagal dan bahkan melanggar aturan.

Sementara bagian (B) yang mendapat alokasi anggaran berlipat ganda terlihat mewah dan hebat, meskipun hal tersebut mubazir dan melanggar aturan resmi organisasi/institusi dimana seharusnya anggaran (B) tidak boleh melebihi nominal sekian. Fenomena ini menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki jabatan cenderung kehilangan empati karena terlalu fokus pada kekuasaan demi menyukseskan agenda kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Peringatan Ilahi terhadap Penguasa yang Melampaui Batas

Menanggapi fenomena ini, Al-Qur’an dan Hadis memberikan peringatan yang sangat keras. Dalam Surah Asy-Syura ayat 42, Allah SWT menegaskan bahwa azab yang pedih menanti mereka yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa mengindahkan kebenaran. Lebih lanjut, Surah Ibrahim ayat 42 memperingatkan agar kita tidak mengira Allah lengah terhadap perbuatan orang-orang zalim, karena Allah hanya menangguhkan hukuman mereka sampai hari di mana mata mereka terbelalak ketakutan. 

Bahkan, janji kebaikan Allah tidak akan pernah berlaku bagi mereka yang zalim sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 124. Rasulullah SAW juga memberikan ancaman yang mengerikan bagi pemimpin yang menipu rakyatnya, yakni diharamkannya surga bagi mereka (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang menyokong kezaliman dan membenarkan kedustaan pemimpin juga tidak akan diakui sebagai golongan Rasulullah dan tidak akan menemui beliau di telaga (HR. Tirmidzi). Beliau bahkan memanjatkan doa buruk secara spesifik agar Allah mempersulit urusan bagi pemimpin yang mempersulit urusan umatnya (HR. Muslim).

Sebagai penutup, setiap pemangku jabatan harus sadar bahwa setiap bentuk kezaliman yang dilakukan hari ini akan berubah menjadi kegelapan yang berlapis-lapis pada hari kiamat nanti (HR. Bukhari dan Muslim). Seseorang mendapatkan jabatan bukan karena dia layak, melainkan sebagai ladang ujian yang mematikan dan fitnah dunia yang akan menelanjangi apakah jiwanya dipenuhi integritas amanah atau justru dikuasai syahwat khianat. Janganlah sekali-kali merasa bangga dengan kursi kekuasaan yang didapat, karena jabatan tersebut dapat menjadi sebuah tiket menuju kegelapan yang berlapis-lapis di hari kiamat serta jaminan diharamkannya surga oleh Sang Khalik.

Sungguh, bagi mereka pemangku jabatan yang zalim, jabatan yang diperoleh bukanlah karena mereka layak dan bukanlah sebuah prestasi yang patut dirayakan, melainkan jeratan azab yang nyata yang  sedang ditangguhkan; baik berupa musibah, kecelakaan kehinaan dan kesulitan hidup di dunia hingga tiba saatnya mata terbelalak ketakutan di hadapan pengadilan Ilahi yang tidak pernah lengah. Pada akhirnya, mereka yang mempermudah urusan umat akan dicintai, namun mereka yang mempersulit urusan manusia hanya akan menuai doa buruk dari Rasulullah SAW agar hidupnya pun dipersulit sedemikian rupa.