Syi’ār
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 7 Aprili 2026
Jika Kebaikan Hanya Berhenti di Mata Manusia
Dr. Phil. Qurotul Uyun
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Kita sibuk menjaga nama baik di mata manusia, seperti ingin terlihat sopan, dermawan, ramah, bermanfaat, dan menginspirasi. Namun pernahkah kita bertanya “apakah semua yang kita lakukan tersebut membuat kita terlihat baik di hadapan Allah? Ataukah kita hanya sedang memperjuangkan citra, bukan ridha Allah? Kebanyakan orang mengukur kebaikan orang terletak pada sesuatu yang tampak baik, kelihatan banyak memberi kepada sanak saudara, tampak selalu sopan pada tetangga, tampak baik kepada siapa saja, kelihatan bermanfaat bagi orang lain, banyak memberi inspirasi bagi teman-temannya, kelihatan pemberani dan sebagainya. Kesemuanya diukur dari perilaku yang tampak di mata orang. Kita pun selalu ingin tampak baik, ingin dinilai baik oleh anak kita, pasangan kita, guru kita, asesor kita, atasan kita, mertua kita, orangtua kita, teman-teman kita, serta tetangga kita. Kita perjuangkan nama baik kita dengan sepenuh jiwa raga agar tampak baik di hadapan mereka.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kebaikan itu. Persoalannya adalah ketika perhatian kita hanya tertuju pada satu hal, bagaimana agar kelihatan baik di mata manusia. Keinginan untuk dipandang baik, merupakan fitrah manusia. Dalam batas tertentu, kebutuhan untuk diterima bukan hal yang salah. Persoalan muncul, ketika hati sibuk memikirkan bagaimana orang lain memuji dan menghargai kita. Ada kisah tentang seorang yang dikenal sebagai seorang syuhada yang meninggal, kemudian oleh Allah dimasukkan neraka. Malaikat protes: Ya Allah dia kan mati syahid, kenapa dimasukkan ke neraka? Allah menjawab dia sudah mendapatkan gelar itu di dunia, maka dia tidak layak mendapatkannya di akhirat. Dia berjuang hanya agar dikenang sebagai syuhada. Semua yang tampak baik, tetapi dimaksudkan hanya untuk membanggakan diri, maka semuanya tidak bernilai di mata Allah. Oleh karena itu, pada saat kita bersedekah, kita juga perlu memeriksa hati kita, jika dalam hati terbersit niat supaya dianggap oleh orang lain sebagai orang dermawan, maka perlu segera beristighfar. Jangan sampai kita seperti yang difirmankan Allah bahwa “Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.’ (QS. Al-Kahfi (18): 103-104).
Apa Tolok Ukur Kebaikan?
Apa sebenarnya tolok ukur kebaikan menurut Islam? Apakah seseorang disebut baik karena dipuji banyak orang, dikenal dermawan, atau memiliki citra yang baik di masyarakat? Al-Qur’an memberikan jawaban yang sangat jelas. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat :13). Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah popularitas, citra diri, kedudukan sosial, ataupun pujian manusia. Tolok ukur yang sesungguhnya adalah takwa, yaitu hati yang senantiasa tunduk kepada Allah dan tercermin dalam amal yang dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah. Dengan demikian, seseorang belum tentu mulia hanya karena tampak baik di mata manusia. Sebaliknya, seseorang yang tidak dikenal manusia justru dapat memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah karena ketakwaan dan keikhlasannya.
Takwa tidak hanya tercermin dalam banyaknya amal, tetapi juga dalam kualitas hati ketika menjalankan amal tersebut. Bahkan ibadah yang paling agung sekalipun dapat kehilangan nilainya apabila terbersit keinginan untuk memperoleh pujian atau pengakuan dari manusia. Allah mengingatkan dalam surat Al Maun: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap sholatnya, yang berbuat riya’.” Ayat ini menunjukkan bahwa yang dipersoalkan bukan sekadar melakukan ibadah, melainkan apa tujuan ibadah tersebut. Ketika melakukan salat, bersedekah, berdakwah, atau pun amal perbuatan lainnya dilakukan demi membangun citra diri, maka dapat mengurangi keikhlasan.
Rasulullah juga menjelaskan bahwa ukuran kesempurnaan seorang mukmin bukan hanya banyaknya ibadah yang tampak, melainkan kualitas akhlaknya. Beliau bersabda,“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi). Akhlak yang baik bukan sekadar perilaku yang tampak santun atau menyenangkan di hadapan manusia. Akhlak yang bernilai di sisi Allah lahir dari hati yang bersih, dilandasi keikhlasan, dan diarahkan semata-mata untuk meraih ridha Allah. Oleh karena itu, amal yang sama dapat memiliki nilai yang berbeda di sisi Allah karena perbedaan niat yang melatarbelakanginya.
Inilah sebabnya Rasulullah meletakkan niat sebagai fondasi seluruh amal. Beliau bersabda,“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan bahwa diterima atau tidaknya suatu amal tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan, tetapi juga oleh mengapa amal itu dilakukan. Seseorang mungkin tampak telah mengumpulkan banyak amal kebaikan sepanjang hidupnya, tetapi apabila motivasinya lebih banyak untuk mencari pujian, penghormatan, atau pengakuan manusia dari pada ridha Allah, maka manusia akan merugi. Sebaliknya, amal yang mungkin tampak kecil di mata manusia dapat bernilai sangat besar di sisi Allah apabila dilakukan dengan hati yang ikhlas.
Refleksi
Sering kali manusia lebih takut kehilangan nama baik di mata sesamanya dari pada kehilangan nilai amal di sisi Allah. Ketika dicela, merasa sakit hati, pada saat dipuji hatinya merasa sangat bangga. Padahal, ketika seseorang diremehkan atau tidak memperoleh penghargaan dari manusia, bisa jadi Allah sedang meninggikan derajatnya. Sebaliknya, ketika pujian terus mengalir, saat itulah kewaspadaan perlu ditingkatkan, karena pujian dapat menjadi pintu masuk bagi riya’ dan kesombongan yang perlahan mengikis keikhlasan. Hati manusia sangatlah rapuh. Ego dapat menyelinap ke dalam amal yang paling saleh tanpa disadari. Bahkan seseorang dapat merasa telah ikhlas, padahal diam-diam menikmati sanjungan, penghormatan, dan pengakuan dari orang lain. Oleh karena itu, muhasabah terhadap niat bukanlah pekerjaan sekali selesai, melainkan proses yang harus terus dilakukan sepanjang hidup.
Jangan hanya bertanya, “Bagaimana agar terlihat baik?” Lebih penting dari itu, bertanyalah, “Apakah Allah ridha terhadap amal yang dilakukan?” Pada akhirnya, keselamatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi penilaian manusia terhadap dirinya, melainkan oleh seberapa besar amalnya diterima di sisi Allah Swt.



