Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Selamat Datang diwebsite Prodi Psikologi
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Berita Terbaru


Seminar Anak Berkebutuhan Khusus: Deteksi dan Penanganannya PUSKAGA FPSB UII
Written by F3ry   
Thursday, 12 June 2014

"Pesatnya perkembangan zaman saat ini, membuat para orangtua sudah mulai menyadari akan peranan pentingnya dalam mengasuh anak. Meskipun, tidak sedikit yang masih belum ‘proporsional’ dalam mengasuh/mendidik anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya, tahapan perkembangannya, bahkan ke’unik’-an yang dimiliki setiap anak-masih dianggap para orangtua sebagai sesuatu yang ‘kurang layak’ untuk diterima di lingkungan masyarakat, yang notabene baru bisa menerima anak-anak yang cenderung ‘normatif’ atau dalam standart umum". Demikian prolog yang disampaikan oleh M. Ratna Ningrum Dyah Sri Rejeki, S.Psi saat berbagi materi 'Langkah-langkah Penanganan Awal /bagi Anak Berkebutuhan Khusus' dalam Seminar Anak Berkebutuhan Khusus: Deteksi dan Penangannya yang digelar oleh Pusat Kajian Anak dan Keluarga (PUSKAGA) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Ahad, 8 Juni 2014 di Gedung Moh. Hatta (Perpustakaan) UII.

Masih menurut Bunda Ningrum (panggilan akrab M. Ratna Ningrum Dyah Sri Rejeki), bahwa saat ini masih banyak orangtua yang memiliki ‘anak unik’ merasa bingung, cemas, bahkan stress mendapat ‘perlakuan’ yang terkadang kurang bijak dari masyarakat/lingkungannya (labeling). Namun seiring berjalannya waktu, banyaknya kasus dari berbagai lapangan dan kesadaran yang semakin tinggi dari para orangtua, pendidik, para ahli di berbagai bidang, menjembatani “para pelaku pendidikan” ini untuk semakin semangat mempelajari dan membuka wacana tentang keberadaan “anak unik” yang sering juga diistilahkan ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) tersebut.

Secara runtut bunda Ningrum menjelaskan beberapa definisi anak berkebutuhan khusus, seperti anak gifted, anak autis, anak hyperactive, anak Learning Differences (LD), anak berbakat, beserta penyebab dan ciri-cirinya. Kesimpulan yang akhirnya diperoleh diantaranya adalah bahwa ABK akan menjadi problem jika disertai dengan learning differences, ABK akan mudah mengoptimalkan kapasitas yang dimiliki jika terdapat karakter yang mendukung serta ABK membutuhkan pengasuhan dan model sekolah yang ‘tepat’ dan sesuai kebutuhannya.

Selain Bunda Ningrum (panggilan akrab M. Ratna Ningrum Dyah Sri Rejeki), hadir juga sebagai pemateri adalah Resnia Novitasari, S.Psi., M.A yang mengupas 'Karakteristik dan Jenis Anak Berkebutuhan Khusus atau Tidak, dan Rina Mulyati, S.Psi., M.Si., Psikolog mengkaji tentang 'Deteksi Dini untuk Memahami Apakah Anak Berkebutuhan Khusus atau Tidak'.
Read more...
 
Seminar Forum Mahasiswa Pecinta Psikologi Industri dan Organisasi (FMP-PIO)
Written by F3ry   
Thursday, 12 June 2014

“Pengalaman merupakan sesuatu yang tak pernah rugi untuk dibeli. Dengan pengalaman kita akan mendapatkan perjalanan, perjumpaan dan juga pelajaran. Belilah pengalaman agar Anda menjadi orang yang insight full (baca: berwawasasn yang luas). Jangan hanya kupu-kupu (baca: kuliah-pulang-kuliah-pulang)”. Demikian ungkap Ike Agustina, S.Psi., M.Si saat memberikan materi ‘Job Interview’ dalam Seminar yang diinisiasi oleh Forum Mahasiswa Pecinta Psikologi Industri dan Organisasi (FMP-PIO) bertema ‘Mengenal Penerapan Psikologi Industri/Organisasi dalam Dunia Kerja dan Strategi Menghadapi Seleksi Kerja’, Jumat, 6 Juni 2014 di Auditorium Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII).

Selain Bu Ike (panggilan akrab Ike Agustina), alumni Prodi Psikologi FPSB UII, Reni Nur Pertiwi Dyah Astuti, S.Psi atau akrab disapa Mbak Reni sudah terlebih dahulu menyajikan materi ‘Aplikasi PIO dalam Dunia Kerja’. Dalam paparannya, Mbak Reni lebih banyak berbagi informasi tentang peran HRD dalam sebuah perusahaan meski tak melupakan materi tentang persiapan menghadapi seleksi kerja.

Materi atau tips menghadapi seleksi wawancara lebih detil disampaikan oleh Mbak Ike dengan berbagi cerita saat dirinya melakukan proses seleksi karyawan di berbagai perusahaan. Inisiatif, kreatifitas, pengalaman berorganisasi atau bekerja di lembaga lain dalam kurun waktu tertentu (berkontribusi positif) menjadi poin lebih bagi seseorang untuk lolos seleksi. Meski demikian, secara teoritis memang ada 10 kriteria orang/pekerja yang paling dicari, yakni memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, jujur dan memiliki integritas, mampu bekerja dalam tim, memiliki motivasi tinggi, memiliki kemampuan berinteraksi dengan baik, memiliki etika dalam bekerja, memiliki kemampuan analisis, mudah beradaptasi, memiliki keterampilan komputer dan juga penuh percaya diri.)“Saking seringnya melakukan proses rekrutmen, maka seorang Psikolog bisa mengetahui sifat-sifat calon pegawai hanya dalam waktu 1 menit saja”, ungkapnya.

Reni saat sampaikan materi 'Aplikasi PIO dalam Dunia Kerja' pada peserta seminar bertema ‘Mengenal Penerapan Psikologi Industri/Organisasi dalam Dunia Kerja dan Strategi Menghadapi Seleksi Kerja

Oleh karena itu, mbak Ike juga berbagai tips kepada peserta seminar dalam mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi, seperti persiapan fisik, persiapan mental maupun memperhatikan hal-hal lain yang berkaitan dengan proses seleksi. Untuk persiapan secara fisik yang perlu diperhatikan adalah menjaga kondisi badan (fit), istirahat yang cukup sebelum menjalani tes, menjaga perut agar tidak kosong/kekenyangan, memakain pakaian yang nyaman serta hadir 15 menit sebelum tes. Sedangkan persiapan mental meliputi penerimaan diri secara positif (belajar memaafkan hal-hal di masa lalu yang membuat tidak nyaman di masa sekarang), percaya diri tapi tidak sombong (yakinkan diri bahwa kita layak mendapatkan yang terbaik dan mampu memenangkan kompetisi), rendah hati tapi tidak minder dan berusaha untuk selalu merasa tenang dan konsentrasi pada proses yang sedang dijalani (pastikan untuk selalu berdoa).

Lepas dari hiruk pikuk proses seleksi tersebut, Mbak Ike mengajak peserta untuk bisa menemukan pekerjaan yang berbasis ‘passion’. Artinya pekerjaan yang diperoleh tersebut benar-benar membawa kebahagiaan dan kepuasan lahir dan batin atau bahasa sederhananya untuk melakukan pekerjaan ‘passion’ tersebut seseorang rela untuk ‘tidak dibayar’.
Read more...
 
Kuliah Umum bersama Prof. Hamdi Muluk, M.Si di Prodi Psikologi FPSB
Written by F3ry   
Sunday, 20 April 2014
“Leader (pemimpin) yang bagus adalah pemimpin yang bisa melakukan transformasi dengan mengubah kondisi (baca: negara) yang dipimpinnya ke arah yang lebih baik. Sedangkan pemimpin yang visioner adalah pemimpin yang sudah mempersiapkan arah/tujuan Negara yang dipimpinnya untuk jangka waktu 10,20,30 tahun ke depan. Pemimpin visioner harus berani ambil resiko (taking risk)”. Demikian ungkap Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si saat memberikan materi “Mencari Pemimpin yang Visioner bagi Indonesia (Menakar Visi Calon Presiden 2014-2019)” dalam Kuliah Umum Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Kamis, 17 April 2014 di Auditorium FPSB UII.

Menurut Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia tersebut saat ini Negara kita sangat sulit untuk mencari pemimpin yang benar-benar visioner, namun lebih pada kondisi dan kebutuhan yang dikehendaki oleh rakyat (tegas, melayani, mengayomi). Beliau menambahkan perlunya mengetahui latar belakang dan kepribadian seorang calon pemimpin karena pemimpin tersebut nantinya akan memainkan peran yang sangat banyak. Cara mempelajari bisa melalui masa lalunya termasuk menguak problema-problema Psikologis di masa lalu. Dengan demikian nantinya dih

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 43 - 49 of 120

SK BAN PT AKREDITASI A PRODI PSIKOLOGI

Search

Polls

Fasilitas Anjungan Mhs Selama ini :
 
Personal Development Planning System