Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Selamat Datang diwebsite Prodi Psikologi
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Workshop Psychology Islamic for Teaching and Learning Prodi Psikologi FPSB Print E-mail
Written by F3ry   
Monday, 01 December 2014

Ilmu merupakan pengetahuan yang bertujuan untuk menemukan kebenaran dengan menggunakan metode dan harus ada ikhtiar atas izin Allah SWT untuk mengarahkan kehidupan kepada Allah SWT. Kebenaran bisa dicari dalam hati, di Al Quran dan di alam semesta dengan bantuan akal. Beberapa tokoh atau ilmuan muslim cukup banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban ilmu di dunia. Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham, Abdur Rahman Abu Zayd Muhamad ibnu Khaldun atau akrab didengar sebagai Ibnu Khaldun, dan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali atau lebih tenar dengan sebutan Imam Al Ghazali dipilih oleh Dr. Bagus Riyono, MA sebagai referensi kajian tentang ‘paradigma ilmu’ yang disampaikan kepada dosen-dosen Prodi Psikologi dalam forum Islamic Psychology for Teaching and Learning Fakultas Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Senin, 24 November 2014.

Masing-masing ilmuwan muslim tersebut terkenal dengan bidang ilmu yang berbeda, seperti Ibnu Haitham atau Alhazen dikenal sebagai seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat, Ibnu Khaldum terkenal dengan sosiologi Islamnya dan Imam Al Ghazali dengan filsafat dan tasawuf.

Ketiganya memiliki metode berbeda dalam merumuskan ‘paradigma ilmu’. Ibnu Khaldun sudah menggunakan metode fenomenologi, mencatat data dari peradaban-peradaban dan melakukan observasi, Al Haytham kerkeyakinan bahwa ilmu datangnya dari Allah SWT (jadi kebenaran harus satu, tunggal dan bisa diterima semua orang), sedangkan Imam Al Ghazali berkeyakinan bahwa kebenaran ada dalam hati. Bahkan meski sudah sangat terkenal sebagai cendekiawan muslim hebat, Al Ghazali sempat melakukan penelitian tentang dirinya sendiri selama 10 tahun untuk menemukan sebuah kebenaran yang dirasa kurang (belum ditemukan).

Perbedaan inilah yang coba disampaikan oleh Pak Bagus Riyono kepada dosen Prodi Psikologi untuk menambah wawasan tentang paradigma ilmu.

Masing-masing ilmuwan muslim tersebut terkenal dengan bidang ilmu yang berbeda, seperti Ibnu Haitham atau Alhazen dikenal sebagai seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat, Ibnu Khaldum terkenal dengan sosiologi Islamnya dan Imam Al Ghazali dengan filsafat dan tasawuf.

Ketiganya memiliki metode berbeda dalam merumuskan ‘paradigma ilmu’. Ibnu Khaldun sudah menggunakan metode fenomenologi, mencatat data dari peradaban-peradaban dan melakukan observasi, Al Haytham kerkeyakinan bahwa ilmu datangnya dari Allah SWT (jadi kebenaran harus satu, tunggal dan bisa diterima semua orang), sedangkan Imam Al Ghazali berkeyakinan bahwa kebenaran ada dalam hati. Bahkan meski sudah sangat terkenal sebagai cendekiawan muslim hebat, Al Ghazali sempat melakukan penelitian tentang dirinya sendiri selama 10 tahun untuk menemukan sebuah kebenaran yang dirasa kurang (belum ditemukan).

Perbedaan inilah yang coba disampaikan oleh Pak Bagus Riyono kepada dosen Prodi Psikologi untuk menambah wawasan tentang paradigma ilmu.
Last Updated ( Tuesday, 02 December 2014 )
 
< Prev   Next >

SK BAN PT AKREDITASI A PRODI PSIKOLOGI

Search

Polls

Fasilitas Anjungan Mhs Selama ini :
 
Personal Development Planning System