Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Selamat Datang diwebsite Prodi Psikologi
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Sosialisasikan Key-in KRS/RAS Online FPSB UII
Written by F3ry   
Wednesday, 06 February 2013

ImageSalah satu fasilitas atau layanan yang diberikan kepada stakeholder termasuk mahasiswa UII adalah UNISYS, yakni sebuah pintu gerbang untuk mengakses Sistem Informasi berbasis internet (online). Melalui UNISYS seorang mahasiswa bisa mengakses berbagai layanan informasi yang disediakan, seperti melihat kehadiran kuliah, pembayaran SPP, peminjaman buku perpustakaan, melihat nilai, dan masih banyak lagi termasuk yang sangat penting yakni pengisian KRS/RAS secara online.

Bagi mahasiswa lama, pengisian KRS/RAS tersebut mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Namun bagi mahasiswa baru yang belum pernah melakukan pengisian KRS/RAS secara online tentu akan menjadi masalah tersendiri. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pimpinan fakultas melalui Divisi Perkuliahan & Ujian dan juga Divisi Akademik & SIM secara khusus menggelar ‘Sosialisasi key-in RAS/KRS bagi mahasiswa baru FPSB UII’ pada hari Selasa, 5 Februari 2013.

Mengingat banyaknya mahasiswa baru FPSB UII, maka sosialiasasi dilakukan secara bergelombang dan terbagi dalam beberapa kelas. Materi disampaikan oleh kepala/staf Divisi Akademik & SIM dan juga kepala/staf staf Divisi Perkuliahan &Ujian. Semoga saja dengan sosialisasi tersebut bisa membantu mahasiswa FPSB UII dalam melakukan key-in KRS/RAS untuk semester Genap 2012-2013. Amiin.
Last Updated ( Wednesday, 06 February 2013 )
 
Workshop "School of Empathy" di selenggarakan prodi Psikologi FPSB UII
Written by F3ry   
Wednesday, 16 January 2013

Foto bersama Prof. Dr. Marcus Stueck
Foto bersama Prof. Dr. Marcus Stueck
Dasar dari empati adalah merasakan, memikirkan apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain. Jadi untuk bisa ber’empati’dengan sesama, maka harus ada koneksi perasaan yang mampu merasakan orang lain. Empati adalah hubungan, komunikasi dan kelekatan. Empati juga terkait dengan kontak tubuh. Dan dasar dari semuanya adalah cinta. Ini adalah hal yang penting untuk mengembangkan empati”, Demikian ungkap Prof. Dr. Marcus Stueck kepada para peserta Workshop School of Empathy yang dihelat oleh Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia selama 2 hari, Rabu-Kamis, 2-3 Januari 2013. Ini merupakan workshop kedua yang sebelumnya pernah diselenggarakan pada bulan Maret 2012.

Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Mohammad Hatta tersebut diikuti oleh sekitar 25 peserta yang berasal dari berbagai daerah. School of empathy sendiri merupakan sebuah metode/ teknik pembelajaran yang terdiri dari 2 metode, yakni melalui bahasa komunikasi-verbal dan badan-nonverbal (dance of life). Dipilihnya dance/gerak tari sebagai salah satu media pembelajaran empati karena dance tersebut bisa membawa perasaan dan ekspresi seseorang ke dalam tarian. Pengalaman inilah yang terbukti mampu mempengaruhi perilaku seseorang sejalan dengan adanya proses biokimia yang terjadi di otak saat melakukan dance/dansa tersebut.

“Itulah mengapa biodansa penting karena dengan dansa tersebut dapat membangun empati. Dengan dansa kita bisa menyeimbangkan antara pengatahuan dan perasaan, sedangkan bila hanya membaca kita hanya bisa mendapatkan pengetahuan saja. Dan program ini bisa diikuti dan dimengerti oleh siapa saja tanpa membedakan ‘kondisi’ seseorang. Bahkan tuna rungu pun bisa dilatih intuisinya/feelingnya dengan dansa”, tambah Prof. Stueck.

Dalam praktiknya, peserta diminta melakukan gerakan-gerakan/tarian tertentu yang disesuaikan dengan irama dansa yang diperdengarkan. Musik yang diputar sebagai pengiring tarianpun sangat bervariasi, mulai dari tempo cepat (untuk melepaskan ekspresi/emosi), tempo sedang (untuk bisa merasakan kondisi sekitar) dan tempo lambat/lembut (untuk relaksasi).

“Tadinya saya kurang mengerti dan memahami apa itu sebenarnya ‘empati’. Tapi setelah mengikuti pelatihan ini saya sekarang bisa lebih mengerti/tahu dan merasakan langsung tentang apa itu empati”, ungkap salah seorang peserta di akhir sesi, Rudy Yuniawati.

Last Updated ( Thursday, 17 January 2013 )
Read more...
 
INFORMASI PENTING....
Written by F3ry   
Friday, 28 December 2012

Assalamu’alaikum wr.wb

Pengumuman ditujukan mahasiswa prodi Psikologi Angkatan 2012

Berhubung besok hari Sabtu, 29 Desember 2012 pkl. 09.00 WIB

diadakan bimbingan DPA bersamaan dengan acara pertemuan wali mahasiswa angkatan 2012.

Maka diWAJIBkan hadir dan mohon diinformasikan kepada teman-teman angkatan  2012 yang lain.

Demikian pengumuman ini kami sampaikan. terimakasih

Wassalamu’alaikum wr.wb.

 

Prodi Psikologi

 

 
Kolokium Layanan Psikolog di Puskesmas Prodi Psikologi FPSB UII
Written by F3ry   
Thursday, 13 December 2012

Pemateri : Amalia Rahmadani, S.Psi., M.Psi., PsikologKeberadaan layanan jasa Psikolog di setiap Puskesmas memang sudah menjadi suatu keharusan di jaman sekarang. Problematika hidup yang semakin komplek jelas menjadi salah satu pemicu banyaknya kasus gangguang kejiwaan di kalangan masyarakat, utamanya di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah yang hanya mampu mengakses layanan kesehatan setingkat Puskesmas. Kompleksitas permasalahan kejiwaan di lapangan (baca : puskesmas) jelas membutuhkan pendekatan khusus untuk menyelesaikannya.

 Oleh karena, guna memberikan sedikit gambaran mengenai program layanan Psikolog di Puskesmas, secara khusus Departemen Psikologi Klinis Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia menyelenggarakan kolokium bertema “Program Pelayanan Psikolog di Puskesmas”, Kamis, 6 Desember 2012 dengan menghadirkan salah satu Psikolog Puskesmas Gamping 1 Sleman, Amalia Rahmadani, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Menurut Amalia Rahmadani, tugas seorang psikolog puskesmas secara garis besar (di dalam dan di luar gedung) adalah melakukan kegiatan/program promotif dan preventif, program kuratif serta program rehabilitatif. Untuk progam promotif dan preventif bisa dilakukan dalam bentuk penyuluhan di sekolah-sekolah, di masyarakat (karang taruna, PKK, posyandu, dll), lintas sektoral, pelatihan kader, serta skrining kesehatan jiwa (sekolah dan kader). Sedangkan tugas kuratif bisa berupa konseling dan psikoterapi baik di dalam maupun di luar Puskesmas (sekolah atau posyandu), seperti: kegiatan asesmen, penegakan diagnosis, perkiraan prognosis, konseling psikoterapi individu, keluarga, maupun kelompok. Bisa juga dilakukan melalui tes psikologi (tes masuk sekolah, tes bakat-minat, tes potensi karir, tes utk siswa ABK). Untuk program rhabilitatifnya bisa dilakukan dengan cara memberikan pendampingan pasien, melakukan monitoring dan evaluasi, merencanakan tindak lanjut/rekomendasi/rujukan, melakukan kunjungan ke rumah pasien, mengadakan family gathering, konseling kelompok, FGD maupun koordinasi lintas sektoral.

Selain itu, Psikolog Puskesmas juga melayani program paket konseling & deteksi risiko masalah psikososial, seperti pemeriksaan calon pengantin, pemeriksaan calon jamaah haji, deteksi tumbuh kembang balita, maupun pemeriksaan psikologis untuk keterangan sehat. Sepintas Amalia juga menyampaikan mengenai penanganan tematik, seperti tumbuh kembang anak, ibu hamil, kesehatan reproduksi remaja & infeksi menular seksual, napza: berhenti merokok, kekerasan dalam rumah tangga, korban bencana, penderita HIV/AIDS, keluarga dengan gangguan jiwa, serta difabel.

Amalia menambahkan bahwa seorang Psikolog Puskesmas harus bisa melakukan pendekatan yang terbaik kepada pasien. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan yang sesuai dengan persepsi pasien itu sendiri. Ini terkait dengan masih adanya masyarakat yang enggan dianggap mengalami ‘gangguan jiwa’ ataupun dianggap ‘stres’.

Selain tugas pokok seorang Psikolog Puskesmas juga memiliki tugas penunjang, seperti pembuatan media promosi (leaflet, mading, materi penyuluhan/ pelatihan, modul pelatihan), melakukan siaran radio, melakukan tes inteligensi dan tes kepribadian, menjadi saksi ahli, mau memperkaya keilmuan melalui seminar, pelatihan, lokakarya, workshop, dan lain-lain. Sedangkan tugas tambahannya adalah melakukan dan melaporkan survey kepuasan pelanggan internal serta melakukan pembinaan SDM karyawan Puskesmas.

Secara administratif, psikolog puskesmas juga diminta membuat laporan hasil pemeriksaan psikologis, membuat register konseling individu, keluarga, kelompok, membuat laporan kegiatan promosi kesehatan (penyuluhan, skrining, pelatihan) dan mampu mengelola Sistem Informasi Kesehatan Mental- Online (SIKM - Online), mengelola data konseling individu, data absensi, data promosi kesehatan serta laporan kunjungan

Kepada para peserta kolokium Amalia berpesan untuk sering berlatih melakukan intervensi dengan memanfaatkan teman dekat sebagai subjeknya, seperti mendengarkan curhatan misalnya. Dengan semakin banyaknya latihan yang dilakukan, Amalia berkeyakinan bahwa suatu saat sangat membantu peserta kolokium dalam melakukan intervensi psikologi yang tepat saat peserta sudah menjadi seorang psikolog atau bahkan bertugas sebagai psikolog di sebuah puskesmas.

Read more...
 
Hepi Wahyuningsih Dosen Prodi Psikologi Lulus Gelar Doktor di UGM
Written by F3ry   
Tuesday, 16 October 2012

”Perkawinan yang berkualitas tinggi adalah perkawinan yang terus berkembang karena mengejar tujuan pokok dan tujuan bersama. Kualitas perkawinan yang tinggi dapat dicapai dengan kebajikan/virtue, dimana faktor religiusitas dalam model psikologis kualitas perkawinan menjadi master of virtue yang mampu mengintegrasikan virtue yang lain (komitmen perkawinan dan pengorbanan) untuk mengejar kualitas perkawinan yang tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa faktor kualitas perkawinan yang utama adalah religiusitas”. Demikian ungkap Doktor baru Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Hepi Wahyuningsih yang telah berhasil mempertahankan desertasinya "Model Psikologis Kualitas Perkawinan Pasangan Suami Istri" saat menempuh ujian terbuka Program Doktor Ilmu Psikologi UGM, Kamis (11/10) di Auditorium Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Masih menurut Bu Hepi (panggilan akrab Dr. Hepi Wahyuningsih, S.Psi., M.Si) bahwa berfungsinya sebuah perkawinan dapat dilihat dari dua hal, yaitu kualitas perkawinan dan kestabilan perkawinan. Kualitas perkawinan adalah evaluasi subjektif suami atau istri terhadap hubungan perkawinan yang berupa sebuah kontinum yang merefleksikan bermacam-macam karakteristik perkawinan. Stabilitas perkawinan menggambarkan kondisi dari sebuah perkawinan (terjadi perpisahan, perceraian, desersi, atau pembatalan). Dalam studi keluarga, kualitas perkawinan mendapatkan perhatian yang besar dari para peneliti karena berpengaruh positif terhadap kesejahteraan psikologis, kesehatan fisik individu yang menikah, dan berkorelasi positif dengan tingginya kemampuan anak dalam menjalin hubungan dengan teman sebaya.

“Kualitas perkawinan juga ditemukan berkorelasi negatif dengan problem perilaku anak dan problem emosional anak. Selain itu, hasil analisis pada kelompok suami menunjukkan religiusitas suami memiliki efek langsung dan tidak langsung terhadap kualitas perkawinan suami. Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa efek religiusitas suami terhadap kualitas perkawinan suami secara parsial dimediasi oleh komitmen perkawinan suami dan pengorbanan suami. Besar sumbangan efektif religiusitas, komitmen perkawinan, dan pengorbanan terhadap kualitas perkawinan sebesar 76%. Efek religiusitas istri terhadap kualitas perkawinan istri secara parsial hanya dimediasi oleh komitmen perkawinan istri. Pada kelompok istri, besar sumbangan efektif religiusitas, komitmen perkawinan, dan pengorbanan terhadap kualitas perkawinan sebesar 64%”, paparnya.

Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa kualitas perkawinan seseorang tidak banyak dipengaruhi oleh faktor dari pasangannya, tetapi banyak dipengaruhi oleh faktor dari diri sendiri. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas perkawinan, seseorang tidak boleh menuntut pasangannya. Suami tidak boleh menuntut istrinya agar lebih religius, lebih berkomitmen, maupun agar lebih berkorban karena yang lebih mempengaruhi kualitas perkawinan dirinya adalah tingkat religiusitas, komitmen perkawinan, dan pengorbanan dirinya sendiri. Demikian halnya istri, istri tidak boleh menuntut suaminya agar lebih religius, lebih berkomitmen, maupun lebih berkorban karena yang lebih mempengaruhi kualitas perkawinan dirinya adalah tingkat religiusitas dan komitmen dirinya sendiri. Adanya nonindependence yang ditemukan dalam penelitian tersebut menunjukkan ketika suami/istri berusaha meningkatkan komitmen perkawinan dan pengorbanannya secara otomatis juga akan meningkatkan komitmen perkawinan dan pengorbanan pasangannya sehingga tidak hanya akan meningkatkan kualitas perkawinannya, tetapi juga secara tidak langsung akan membantu pasanganya dalam meraih kualitas perkawinan yang tinggi.

Temuan menarik yang lain, ternyata religiusitas istri selain berpengaruh pada kualitas perkawinan istri, religiusitas istri juga berpengaruh secara tidak langsung terhadap kualitas perkawinan suami melalui komitmen istri yang berpengaruh terhadap pengorbanan suami. Religiusitas suami berpengaruh negatif terhadap pengorbanan istri. “Temuan menarik ini menunjukkan pentingnya seorang calon istri maupun calon suami untuk memperhatikan tingkat religiusitas istri/suami dalam memilih pasangan. Sehingga penelitian ini juga dapat dijadikan sumber rujukan bagi muslim yang akan menikah dimana kriteria pemilihan pasangan seperti yang telah dituntunkan dalam agama Islam, yaitu memilih pasangan berdasarkan kesamaan agama”, imbuhnya. Kesamaan agama akan membawa pada kesamaan pandangan mengenai perkawinan sehingga baik langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada tingginya kualitas perkawinan.
Last Updated ( Tuesday, 16 October 2012 )
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 73 - 81 of 120

SK BAN PT AKREDITASI A PRODI PSIKOLOGI

Search

Polls

Fasilitas Anjungan Mhs Selama ini :
 
Personal Development Planning System