Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Selamat Datang diwebsite Prodi Psikologi
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Kuliah Umum Mahasiswa Baru Angkatan 2014 Prodi Psikologi FPSB
Written by F3ry   
Friday, 19 September 2014

Suasana kuliah umum bersama Prof. Dr. Djamaluddin Ancok

“Nenek moyang kita itu orang hebat. Mereka bisa membuat bangunan yang hebat (Candi Dieng, Borobudur, Prambanan, dll) disaat belum ada teknologi seperti sekarang ini. Gen-nya mengalir pada diri kita. Jangan pernah merasa tidak bisa, karena yakinlah bahwa Allah SWT akan memberikan jalan pada kita. Sadari kita orang hebat, kita harus yakin bisa”. Demikian pesan singkat namun penuh motivasi disampaikan oleh mantan Dekan ke-1 Fakultas Psikologi UII (sebelum berubah menjadi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII), Prof. Dr. Djamaluddin Ancok dalam materi kuliah umum Mahasiswa Baru Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) bertema ‘Menjadi Mahasiswa Tangguh Menghadapi Masa Depan’, Kamis, 18 September 2014 di GKU. Prof. Dr. M. Sardjito, MPH.

 

Kepada peserta, Pak Djamal (panggilan akrab Pak Djamaluddin Ancok) mengingatkan beratnya tantangan (utamanya persaingan di bursa kerja) yang akan dihadapi sebagai dampak dibukanya kran kesepakatan pasar bebas ASEAN tahun 2015 dan juga pasar bebas dunia (WTO) yang akan segera menyusul kemudian. Untuk menghadapi hal tersebut, seorang mahasiswa haruslah tangguh. Caranya tentu dengan mengoptimalkan modal yang dimiliki, seperti modal kecerdasan (intelektual), modal emosional, modal sosial, modal ketabahan, modal spiritual dan modal kesehatan. Guru besar Universitas Guna Darma tersebut juga meminta para peserta (mahasiswa Prodi Psikologi) untuk mau mempelajari ilmu kontekstual diluar disiplin ilmu psikologi, seperti ilmu ekonomi, teknologi informatika, ilmu pendidikan, ilmu pemerintahan dan lain sebagainya. “Kita harus senantiasa optimis menatap masa depan. Kita harus terus belajar, belajar dan belajar. Jangan pernah berhenti belajar. Biasakan untuk senang membaca. Kita juga perlu membaca buku-buku motivasi yang memuat perjalanan hidup orang-orang sukses”, ungkapnya. Pak Djamal sendiri semasa mudanya menjadi pengagum kisah perjalanan Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln. Diakhir sesi, Pak Jamal memberikan gambaran beberapa wilayah kerja yang bisa dimasuki oleh lulusan psikologi, seperti militer, kepolisian, hukum (psikologi forensik), kesehatan, klinis, kependudukan, KB, pendidikan, permukiman, lingkungan hidup dan lain sebagainya.
Last Updated ( Friday, 19 September 2014 )
Read more...
 
Pembekalan Alumni Prodi Psikologi FPSB
Written by F3ry   
Thursday, 04 September 2014
Pembekalan Alumni : Menjadi Sarjana Langit PDF Print E-mail
 
 

 

Walid Jumlad, S.Psi saat memberikan pembekalan bagi alumni dan calon alumni FPSB UII

“Jadilah anak-anakku sebagai sarjana-sarjana langit”. Demikian rangkaian pesan singkat namun sangat mendalam yang masih sangat jelas diingat oleh Wali Jumlad, S.Psi pada saat mengikuti yudisium kelulusannya tahun 2008 silam. Pesan yang tidak dijelaskan secara eksplisit oleh pemberinya saat itu (Ka. Prodi. Psikologi-Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog) justeru menjadi bahan perbincangan menarik bagi mas Walid (panggilan akrab Walid Jumlad, S.Psi) bersama teman-temanya. Pesan itu pulalah yang coba di share oleh mas Walid saat memberikan pembekalan bagi alumni dan calon alumni FPSB UII, Jumat, 28 Agustus 2014 di Auditorium FPSB UII.

Dari pesan tersebut, mas Walid mengajak para alumni dan calon alumni untuk bisa berkarya dengan sebaik mungkin dengan menitikberatkan pada kebermanfaatan bagi sesama/masyarakat. “Jadi, kita bekerja tidak hanya sekedar mencari uang tapi sebisa mungkin dapat memberi manfaat kepada orang lain”, ungkapnya.

Mas Walid juga mengajak para peserta pembekalan untuk mengetahui hak-haknya dalam undang-undang ketenagakerjaan agar tidak dimanfaatkan/dirampas oleh pihak-pihak atau perusahaan secara sepihak sehingga merugikan para alumni. Secara khusus mas Walid juga menjelaskan berbagai prospek pekerjaan yang bisa diraih oleh seorang sarjana Psikologi di dunia kerja, seperti assesor, konsultan, konselor, HR staff/manager maupun sebagai seorang trainer. Setelah melanglang di berbagai bidang pekerjaan, saat ini mas Walid memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di Program Magister Psikologi Profesi.

Dalam acara tersebut, Dekan FPSB UII (Dr.rer.nat Arief Fahmie, MA., HRM., Psikolog) mengajak para alumni dan calon alumni untuk berbagi rejeki dengan mahasiswa FPSB UII yang kurang mampu dalam bentuk sumbangan beasiswa. Sumbangan beasiswa yang diberikan sepenuhnya akan dikelola oleh fakultas untuk disalurkan kepada mahasiswa yang benar-benar membutuhkannya (baca: tidak mampu).

 
Anja Husslack mahasiswa magang dari Universitas Leipzig Jerman Sharing-kan Intervensi “Beseelbare”
Written by F3ry   
Friday, 08 August 2014

Beseelbare" Therapeutic Objects. Demikian judul sebuah buku intervensi psikologis karya Ralf Vogt yang coba di-sharing-kan oleh Anja Husslack dengan para mahasiswa Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, 16 Juli 2014 lalu. Sebelumnya, mahasiswa semester 4 dari Universitas Leipzig Jerman ini juga berbagi informasi tentang pendidikan tinggi (Higher Education) di Jerman juga dengan para mahasiswa FPSB UII pada 14 Juli 2014.

Anja sendiri saat ini berstatus sebagai mahasiswa magang di Prodi Psikologi FPSB UII selama lebih kurang 1 bulan. “Saya memilih ke UII karena kampus saya sudah memiliki kerja sama yang erat dengan UII. Banyak juga alumni dan dosen UII yang menempuh studi di Leipzig,” ungkapnya. Terkait dengan Pendidikan Tinggi di Jerman, Anja menyatakan bahwa perbedaan mendasar antara perguruan tinggi di Jerman dan di Indonesia adalah masa studi strata 1 yang biasa ditempuh 3 tahun di Jerman, sedangkan di Indonesia biasa ditempuh 4 tahun.

Terkait dengan Beseelbare Therapeutic Objects, yakni intervensi melalui pendekatan interaksi psikoanalitik di dalam tubuh dan berorientasi pada psikoterapi trauma menurutnya bisa dimungkinkan untuk diberikan kepada para korban (trauma) yang disebabkan oleh manusia (man-made trauma). “Man-made trauma is like sexual abuse, emotional neglect, war, and sadistic abuse,” paparnya.

“Ilmu (baca: intervensi beseelbare) yang diberikan Anja ini menarik dan menurut saya ilmu ini bisa juga diajarkan modulnya di perkuliahan”. Demikian pernyataan Nur Haris Ali, S.Psi usai mengikuti sharing session tersebut. Nur Haris Ali sendiri memang mendapat tugas khusus dari pimpinan untuk mendampingi aktivitas magang Anja Husslack di FPSB UII.

Read more...
 
Kuliah Pakar "The Science of Happines " Prodi Psikologi FPSB
Written by F3ry   
Wednesday, 25 June 2014

“Kebahagiaan itu ada ilmunya. Bahagia yang hakiki mengarah pada tujuan yang bisa memberi kebahagiaan pula kepada orang lain. Siapa yang bertanggung jawab atas kebahagiaan itu? Diri kita sendiri. Kita yang merasakan, maka kita yang harus bertanggung jawab (baca: mengupayakan). Dalam Psikologi kebahagian ini bisa lebih jauh dipelajari dari ilmu Psikologi Positif atau Possitive Psychology”. Demikian ungkap Prof. Marc Helgesen, Guru Besar Miyagi Gakuin Women’s University, Sendai, Japan saat memberikan materi kolokium Psikologi Klinis berjudul The Science of Happines (Keys for Living a Happy Life), Jumat, 20 Juni 2014 di Auditorium Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

 

Selain teori, dalam kolokium tersebut Prof Marc Helgesen juga mengajak peserta untuk praktek langsung proses pencarian kebahagiaan melalui beberapa sub bahasan, seperti Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning dan Accomplishment. Peserta pun sangat menikmati pelatihan yang yang diberikan.

Di akhir colloquium, pembicara mengucapkan terima kasih dan bangga bisa sharing ilmu di depan mahasiswa-mahasiswi FPSB UII ini selama kurang lebih dua jam. “It’s an honor for me could share happiness to you all for about two hours. Thank you very much”, ungkapnya.
 
Seminar Anak Berkebutuhan Khusus: Deteksi dan Penanganannya PUSKAGA FPSB UII
Written by F3ry   
Thursday, 12 June 2014

"Pesatnya perkembangan zaman saat ini, membuat para orangtua sudah mulai menyadari akan peranan pentingnya dalam mengasuh anak. Meskipun, tidak sedikit yang masih belum ‘proporsional’ dalam mengasuh/mendidik anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya, tahapan perkembangannya, bahkan ke’unik’-an yang dimiliki setiap anak-masih dianggap para orangtua sebagai sesuatu yang ‘kurang layak’ untuk diterima di lingkungan masyarakat, yang notabene baru bisa menerima anak-anak yang cenderung ‘normatif’ atau dalam standart umum". Demikian prolog yang disampaikan oleh M. Ratna Ningrum Dyah Sri Rejeki, S.Psi saat berbagi materi 'Langkah-langkah Penanganan Awal /bagi Anak Berkebutuhan Khusus' dalam Seminar Anak Berkebutuhan Khusus: Deteksi dan Penangannya yang digelar oleh Pusat Kajian Anak dan Keluarga (PUSKAGA) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia, Ahad, 8 Juni 2014 di Gedung Moh. Hatta (Perpustakaan) UII.

Masih menurut Bunda Ningrum (panggilan akrab M. Ratna Ningrum Dyah Sri Rejeki), bahwa saat ini masih banyak orangtua yang memiliki ‘anak unik’ merasa bingung, cemas, bahkan stress mendapat ‘perlakuan’ yang terkadang kurang bijak dari masyarakat/lingkungannya (labeling). Namun seiring berjalannya waktu, banyaknya kasus dari berbagai lapangan dan kesadaran yang semakin tinggi dari para orangtua, pendidik, para ahli di berbagai bidang, menjembatani “para pelaku pendidikan” ini untuk semakin semangat mempelajari dan membuka wacana tentang keberadaan “anak unik” yang sering juga diistilahkan ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) tersebut.

Secara runtut bunda Ningrum menjelaskan beberapa definisi anak berkebutuhan khusus, seperti anak gifted, anak autis, anak hyperactive, anak Learning Differences (LD), anak berbakat, beserta penyebab dan ciri-cirinya. Kesimpulan yang akhirnya diperoleh diantaranya adalah bahwa ABK akan menjadi problem jika disertai dengan learning differences, ABK akan mudah mengoptimalkan kapasitas yang dimiliki jika terdapat karakter yang mendukung serta ABK membutuhkan pengasuhan dan model sekolah yang ‘tepat’ dan sesuai kebutuhannya.

Selain Bunda Ningrum (panggilan akrab M. Ratna Ningrum Dyah Sri Rejeki), hadir juga sebagai pemateri adalah Resnia Novitasari, S.Psi., M.A yang mengupas 'Karakteristik dan Jenis Anak Berkebutuhan Khusus atau Tidak, dan Rina Mulyati, S.Psi., M.Si., Psikolog mengkaji tentang 'Deteksi Dini untuk Memahami Apakah Anak Berkebutuhan Khusus atau Tidak'.
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 37 - 45 of 118

SK BAN PT AKREDITASI A PRODI PSIKOLOGI

Search

Polls

Fasilitas Anjungan Mhs Selama ini :
 
Personal Development Planning System