Program Studi Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Selamat Datang diwebsite Prodi Psikologi
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Kajian Manusia Dalam Perspektif Al-Quran dan Hadist FPSB UII Print E-mail
Written by F3ry   
Thursday, 24 May 2012

Image
Ust. Supriyanto Pasir, S.Ag., M.Ag
Dalam rangka pengembangan ‘Psikologi Islami’, Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia kembali menggelar kajian rutin ‘Islamic Psychology for teaching and Learning, Senin, 21 Mei 2012. Ustadz Supriyanto Pasir, MA hadir sebagai pemateri yang membahas tentang ‘Manusia dalam Perspektif Al Quran'.

“Kita membahas hal yang sangat sulit (baca: manusia). Bahkan malaikatpun sempat bertanya kepada Allah SWT tentang perlunya menciptakan manusia”, ungkap ust. Ucup (panggilan akrab ustadz. Supriyanto Pasir) saat mengawali bahasannya tentang kedudukan manusia dalam Al Qur’an yang dinyatakan dalam beberapa terma, seperti al-nas, anasiya, al-ins, al-insan, basyar, bani adam, dan dzurriyat adam.

 Menurut Ust. Ucup (yang didasarkan pada Al Quran) manusia memang sudah dibekali beberapa sifat fujur/bawaan, seperti pembantah (khasiimun), banyak membantah (aktsara syai’in jadalan), tergesa-gesa (‘ajuulan), tidak berterimakasih (kafuuran), putus asa (ya’uusan), sangat kikir (fatuuran), aniaya dan bodoh (zhaluuman jahuulan), merugi (khaasiriin), lemah (dha’iifan), keluh kesah (haluu’an), dan melampaui batas (layathgha).

Sedangkan sifat ‘taqwa’ yang dijanjikan oleh Allah SWT akan mendapat imbalan surga seperti halnya mukhlishiin, al-mufuuna bi’ahdihim (menepati janji), al-shabiriin (sabar), al-muttaqun, al-kazhiminal ghaizha, al-‘afina ‘aninnas maupun al muhsinin bukanlah sifat bawaan manusia melainkan sebagai sesuatu yang harus diupayakan oleh masing-masing manusia (individu). Ini berarti bahwa Islam sangat menghargai upaya/usaha manusia untuk menuju jalan taqwa tersebut.

Dalam kajian itu juga disinggung tentang takdir yang sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah SWT atas diri masing-masing manusia. “Karena kita tidak tahu takdir kita, maka kita wajib mengusahakan takdir kita tersebut (takdir baik)”, ajaknya

Sedangkan sifat ‘taqwa’ yang dijanjikan oleh Allah SWT akan mendapat imbalan surga seperti halnya mukhlishiin, al-mufuuna bi’ahdihim (menepati janji), al-shabiriin (sabar), al-muttaqun, al-kazhiminal ghaizha, al-‘afina ‘aninnas maupun al muhsinin bukanlah sifat bawaan manusia melainkan sebagai sesuatu yang harus diupayakan oleh masing-masing manusia (individu). Ini berarti bahwa Islam sangat menghargai upaya/usaha manusia untuk menuju jalan taqwa tersebut.

Dalam kajian itu juga disinggung tentang takdir yang sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah SWT atas diri masing-masing manusia. “Karena kita tidak tahu takdir kita, maka kita wajib mengusahakan takdir kita tersebut (takdir baik)”, ajaknya
Last Updated ( Thursday, 24 May 2012 )
 
< Prev   Next >

SK BAN PT AKREDITASI A PRODI PSIKOLOGI

Search

Polls

Fasilitas Anjungan Mhs Selama ini :
 
Personal Development Planning System