Expo Psypreneur 2018

Halo Mahasiswa Psikologi…

Hadiri  Expo Psypreneur 2018 di tempat dan jadwal yang sudah di tentukan ya.

Menduniakan Psikologi Islam melalui ICIPSY

Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) mengadakan konferensi tingkat internasional untuk pertama kalinya tahun ini. Konferensi yang bernama International Conference on Islamic Psychology (ICIPSY) akan diadakan pada tanggal 18-19 Desember 2018. Konferensi ini bertemakan ‘Reviving the Roats and Responding to Todays Challenges’, “semangatnya kembali pada prinsip dasar psikologi islam”, tutur Wanadya Ayu Krinadewi selaku ketua panitia.

Tujuan dari acara ini yaitu untuk menjawab permasalahan psikologi saat ini melalui pendekatan islam. “Misalnya kita sebagai psikolog itu tidak hanya membuat kecemasan klien itu berkurang saja tapi juga mendorong agar niat awal (sebagai psikolog) nya diperbaiki”, jelas Wanadya. Wanadya juga menegaskan bahwa sebagai seorang psikolog muslim, “melakukan intervensi harus diniati untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga bisa manifest kepada berkurangnya kecemasan klien”.

ICIPSY ini sebenarnya adalah satu rangkaian konferensi yang meliputi dua conference, yaitu konferensi islam dan juga konferensi dari Bionet. Konferensi ini menjalin partnership dengan Bionet yang didirikan oleh Professor Marcus Stueck. Bionet itu juga sebuah konferensi besar yang sudah terlebih dahulu mengadakan konferensi-konferensi internasional. Marcus Stueck, dengan Bionetnya ini memiliki semangat untuk menyuarakan konsep-konsep psikologi islam ke komunitas intelektual yang jauh lebih besar. Oleh karenanya ia ikut meyediakan platform berupa Bionet tersebut. Harapannya akan terjalin dialog yang lebih luas, sebab jargon dari bionet itu sendiri adalah Art Meet Science yang meliputi spiritualitas.

Dengan adanya kerjasama dengan Bionet ini juga bisa menambah wawasan psikologi islam dalam hal pengukuran psikologi. Wawasan-wawasan terkait instrument pengukuran ini harapannya bisa menambah khazanah psikologi islam dalam mengkaji fenomena-fenomena psikologis yang lebih empiris.

Publikasi acara ini sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaannya. Publikasinya meliputi poster yang dipost di websitenya, mengirim email semua peserta NCIP dulu dan jejaring yang dimiliki. Selain itu panitia juga memasang spanduk di beberapa titik agar diketahui lingkungan UII. Surat undangan dan poster fisik kepada Jurusan Psikologi seluruh Indonesia juga dibagikan.

Terakhir, wanadya berharap melalui konferensi ini psikologi islam dapat dikenal oleh dunia lebih luas. Tidak hanya dikenal sebagai sebuah pendekatan teoritis namun juga sebagai sebuah pendekatan psikologis. Baik secara metode maupun intervensi-intervensi psikologi.

info dan pendaftaran Icipsy bisa di klik disini: icipsy.uii.ac.id

LABORATORIUM PSIKOLOGI GELAR KOMPETISI METODOLOGI PENELITIAN

Agenda tahunan (baca: rutin) berupa bertajuk Kompetisi Penelitian Psikologi Eksperimen dan OW (Observasi & Wawancara) kembali diselenggarakan oleh Laboratorium Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Univeritas Islam Indonesia (UII). Untuk berkas proposal yang masuk pada bidang kompetisi Psikologi Eksperimen sebanyak 29 buah. Sedangkan proposal untuk kompetisi bidang observasi dan wawancara terkumpul 30 buah. Dari masing-masing bidang kompetisi diambil 3 proposal terbaik yang berhak untuk dipresentasikan pada hari Senin, 30 Juli 2018.

Pada babak presentasi bidang Psikologi Eksperimen, dewan penilai yang terdiri dari Mira Aliza Rachmawati, S.Psi., M.Psi., Annisa Miranty, S.Psi., M.Psi., Hazhira Qudsyi, S.Psi., M.A., dan Hariz Enggar Wijaya, S.Psi., M.Psi menetapkan judul penelitian Pengaruh Kepemimpinan Otoriter terhadap Teamwork dalam Permainan JJA (Jangan Jatuhkan Aku) karya Abdul Latif Sirajuddin, Nofrizal Hazmi Akbar,  Aziza Zulfa Hardiana, Beby Giovanni, Arib Istawa, dan Resthi Damayanti sebagai Juara 1 dengan total skor 367. Ada di urutan kedua dengan skor total 349 ditempati penelitian berjudul Pengaruh Tekanan terhadap Performa Kerja pada Alat The Box of Pressure karya M. Ilham Abdul Majid, Safira Kholifatul Mahira, Salma Safira Sukma Ikhsani, Isya Almatyana Pawestri, Rizkiny Hidayaty, dan Iqbal Kamal. Sedangkan di posisi  ketiga diraih oleh Shafira Rizqa Fathihah, Nurul Kusuma Wardhani, Citra Ilmi R, Nadilah Anwar, Brinita Aprilia Purnawida, dan Yunisa Intan Wibowo melalui penelitiannya yang berjudul Pengaruh Warna Pakaian terhadap First Impression pada Book of Perception dengan mengantongi skor total 348.

Sedangkan pada kompetisi bidang Observasi & Wawancara yang digawangi oleh Rr. Indahria Sulistyarini, S.Psi., M.A., Psi., Nur Widiasmara, S.Psi., M.Psi., dan Libbie Annatagia, S.Psi. selaku tim penilai menempatkan judul penelitian Kelekatan Remaja pada Orang Tua Tiri dan Orang Tua Kandung yang Tinggal dalam Keluarga Tiri karya Salma Safira Sukma Ikhsani sebagai juara 1 dengan skor total 208. Disusul kemudian karya Vindya Nuriljaza B berjudul Kepuasan Pernikahan pada Istri yang Menjalani Long Distance Marriage menemapti urutan kedua dengan skor total 199. Sementara Rachma Fitrianing Lestari duduk di peringkat ketiga melalui penelitiannya berjudul Trust Issue pada Anak yang Memiliki Orang Tua Bercerai dengan skor total 132.

Untuk alat penelitian terbaik diraih oleh Alat Kelereng di atas Papan yang merupakan karya kelompok dari Dimas Maulana Ramadhan, Roiyan Dwi Setiawan, Fajar Abdul Rosyid, Muhammad Rizky Rizaldy, Adlina Windya M, Hening Indah S.

KOLOKIUM KESEHATAN MENTAL DI SEKOLAH

Kasus bullying di sekolah ternyata hingga saat ini masih marak terjadi. Kasus-kasus tersebut banyak disebabkan oleh lingkungan sekolah sendiri, lingkungan bermain siswa di luar sekoah dan bahkan dari lingkungan keluarga. Hal ini disampaikan oleh Rini Indriani, S.Psi., M.Psi., MARS., Psikolog pada kegiatan kolokium yang diselenggarakan oleh Departemen Psikologi Klinis, Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Senin, 2 Juli 2018 di R. Audiovisual FPSB UII Lt.2.

Voulenter di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) DIY ini menyatakan bahwa pada beberapa kasus bully, diketahui bahwa korban cenderung memiliki konsep diri negatif.  Jika menemukan seorang anak yang memiliki konsep diri negatif tersebut, sebagai teman atau bahkan orang tua yang bisa dilakukan adalah meningkatkan atau menguatkan konsep diri yang bersangkutan dengan memberikan pemahaman atau cara pandang positif terhadap potensi bullying yang bisa menimpa diriya. Misalnya ada seseorang dengan postur hitam & pendek, maka bisa dikuatkan dengan meningkatkan rasa syukur atas karunia yang sudah diterima. Syukur bahwa dengan kondisi tersebut dirinya  masih dalam keadaan sehat dan bisa berbuat banyak (baca: punya peluang berprestasi yang sama dengan mereka yang memiliki kondisi tubuh normal), dan seterusnya. Jangan sampai mereka merasa rendah diri dengan kondisi yang ada.

Alumni Prodi Psikologi FPSB UII tersebut juga menambahkan pentingnya peran guru dalam memberikan teladan pada para siswa. Karena menurutnya, tak sedikit guru yang secara tak sadar telah memberikan contoh bersikap/berperilaku yang salah pada para siswa;.

Psikologi Kaji LGBT

Tidaklah benar jika ada yang mengatakan bahwa LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transjender) tidak bisa disembuhkan. Hal ini ditegaskan oleh Sarah Larasati Matovani, S.H., M.P.I saat menyampaikan materi kolokium bertema ‘LGBT Bisa Disembuhkan?’ yang diselenggarakan oleh Departemen Psikologi Klinis Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Senin, 14 Mei 2018 di R. Auditorium FPSB UII. Read more

Psikologi UII mengikuti CRCEP ke 6

CRCEP (Cross-Cultural Research, Collaboration and Exchange Program) yang dilaksanakan tanggal 8-12 Mei 2018. Adapun yang jadi penyelenggaranya adalah Zhejiang University dan Henan Institute of Science and Technology (HIST) di mana pada kesempatan tersebut dimaksudkan untuk membuat rancangan penelitian kolaborasi yang selanjutnya akan dipresentasikan di Indonesia pada bulan November 2018 nanti. Kegiatan ini melibatkan civitas akademika di masing-masing universitas, di mana universitas yang terlibat antara lain Zhejiang University dan Henan Institute of Science and Technology (dari China) serta Universitas Islam Indonesia dan Universitas Surabaya (dari Indonesia) dan Harapan dari kegiatan ini dipresentasikan di konferensi tingkat Internasional yakni International Conference on Psychology in Health, Educational, Social, and Organizational Settings (ICP-HESOS) yang akan dilaksanakan di Universitas Airlangga November 2018

Psikologi Kaji Enterpreneurship dan Sociopreneurship

“Sehebat apapun kalian tanpa enterpreneur kalian akan kalah dengan lulusan kampus-kampus yang punya enterpreneurship, bahkan lulusan dr kampus-kampus (baca: lulusan) yang tidak terkenal atau tidak punya nama.  Hidup ini tidak pasti. Orang yang tidak siap dengan ketidakpastian, jangan hidup”. Demikian motivasi yang  disampaikan oleh Drs. Adriano Rusfi, Psikolog kepada para peserta kegiatan kolokium yang digelar oleh Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat, 11 Maret 2016 di R. Auditorium FPSB UII.Lebih jauh penentang keras gerakan LGBT tersebut menegaskan bahwa jiwa enterprenur atau wirausaha sangat berbeda dengan jiwa pedagang. Menurutnya setiap orang tidak mesti harus bisa pedagang tapi wajib menjadi seorang enterpreneur, yakni orang yang berani dan bisa menjalani hidup dengan baik meski banyak/sebesar apapun tantangan yang dihadapinya.

“Orang berani identik dengan berani mati, dan saya bukan seorang yang berani mati. Sedangkan orang bernyali adalah orang yang berani menjalani/menghadapi kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Penakut (baca: takut menghadapi kematian) boleh, pengecut (baca: tidak berani menghadapi hidup) jangan! Saat ini banyak orang yang berani mati, tapi tidak terlalu banyak yang berani hidup. Berjuanglah pada titik tersebut meski sering gagal. Doa sangat diperlukan dalam enterprenurship” ungkapnya.

Sosok yang juga dikenal publik sebagai konsultan SDM dan Pendidikan tersebut juga menambahkan bahwa saat ini terlalu banyak permasalahan sosial yang membutuhkan kepemimpinan enterpreneurial, yakni pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab untuk mencari solusi atas permasalahan sosial yang ada dengan menciptakan kondisi masyarakat yang lebih kreatif dan produktif dalam menggali ataupun memunculkan setiap potensi yang dimilikinya.

Setelah seseorang memiliki jiwa enterpreneur, maka selanjutnya adalah seseorang harus memiliki jiwa sociopreneurship yang bertujuan untuk membantu kesulitan orang lain, membuka lapangan kerja, menghindari kekufuran, menjauhi riba, dakwah, naik haji, bikin masjid, memiliki nilai tawar pada sisi sosial-ekonomi-politik dan juga harapannya adalah masuk surga. Modal sociopreneur adalah airmata, empati, social concern, social linkage, dan do’a orang lain.

Prof Marcus Stueck Ajarkan School of Emphaty

“Emphaty is based on attachment/connection/relation (Biological, behavioural, affective) in autopoietic network and between living elements (plants, humans, animals). Emphaty is not altruism”. Demikian definisi empati menurut Prof. Dr. rer.nat. habil. Marcus Stueck yang disampaikan pada acara kolokium Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) berjudul ‘School of Emphaty’, Jumat, 04 Maret 2016 di R. Auditorium FPSB UII.Di awal paparannya, Profesor ramah tersebut banyak menceritakan tentang sejarah berdirinya ‘School of Emphaty’ yang sudah dia rintis sejak tahun 2008 di Jerman dan Latvia. Baru pada tahun 2010-2011 ‘Schoolmof Emphaty’ masuk ke Indonesia melalui sebuah workshop di Yogyakarta. Sekedar mengingat kembali bahwa School of empathy merupakan sebuah metode/ teknik pembelajaran yang terdiri dari 2 metode, yakni melalui bahasa komunikasi-verbal dan badan-nonverbal (dance of life). Dance/gerak tari sebagai salah satu media pembelajaran empati dikarenakan bisa membawa perasaan dan ekspresi seseorang ke dalam tarian. Ekseperimen telah membuktikan bahwa dance bisa mempengaruhi perilaku seseorang sejalan dengan adanya proses biokimia yang terjadi di otak saat melakukannya (baca: gerakan dance).

“Empati terkait dengan dengan kontak fisik/tubuh yang didasarkan pada rasa cinta/sayang. Jadi, untuk bisa ber-empati dengan sesama memang diperlukan koneksi (sentuhan secara langsung maupun tak langsung) yang nantinya akan berimplikasi pada kemampuan seseorang untuk merasakan kondisi fisik/psikis orang lain. Empati adalah hubungan, komunikasi dan kelekatan. Ini adalah hal penting untuk bisa melakukan empati pada orang lain,” tambahnya. Beberapa kumpulan foto pelaksanaan empathy pun beliau sampaikan demi menambah wawasan para mahasiswa.

Masih Menurut Prof. Dr. rer.nat. habil. Marcus Stueck bahwa biodanza bisa diikuti dan dimengerti oleh siapa saja tanpa membedakan ‘kondisi’ seseorang. Biodanza bisa menjadi penyeimbang antara pengatahuan dan perasaan. Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan hanya dengan sekedar membaca.

2nd NCIP Kaji Peran Psikologi Islam dan Penguatan Keluarga

Psikologi Islam untuk Penguatan Keluarga Menuju Bangsa yang Tangguh dan Berkarakter. Demikian tema besar kegiatan  “2nd National Conference on Islamic Psycology-NCIP” yang digelar oleh Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa-Rabu, 16-17 Februari 2016 di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta. Tokoh nasional bidang Pendidikan sekaligus Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO dan juga Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd bersama Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si (IPB) dan Dr. Hepi Wahyuningsih, S.psi., M.Si (UII) tampil sebagai pemateri seminar. Sedang ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA tampil sebagai keynote speaker.Dalam sambutannya selaku tuan rumah, Dekan FPSB UII, Dr.rer.nat Arief Fahmie, MA., HRM menegaskan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap upaya pencarian solusi permasalahan bangsa yang merupakan dampak kemajuan teknologi dan peran/posisi keluarga melalui disiplin ilmu Psikologi, khususnya melalui peran Psikologi Islami yang juga diharapkan mampu membawa kebahagian di akhirat.

Sementara Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc sebelum membuka acara secara resmi juga berpesan agar kegiatan tersebut nantinya bisa kembali memaksimalkan peran dan fungsi keluarga sebagai lingkup terkecil dalam kehidupan seseorang mampu mencetak/melahirkan generiasi yang tangguh dan berkarakter.

Ketua KPAI, Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam paparannya mengkritisi tidak imbangnya antara kecepatan pemahaman dalam pemanfaatan teknologi oleh orang tua dengan kecepatan perkembangan teknologi itu sendiri yang mengakibatkan anak-anak lebih pandai menggunakan teknologi tanpa pemahaman pemanfaatannya secara baik dan benar, sehingga sulit dikontrol oleh orangtua yang kurang atau juga tidak paham dengan pemanfaatan perkembangan teknologi yang terjadi. Beliau juga mengkritisi kurang intensifnya pertemuan dan komunikasi antara anak dengan orangtua.

“Kasus keluarga dan pengasuhan anak memiliki kontribusi yang tinggi dalam kekerasan/penelantaran terhadap anak. Keharmonisan keluarga juga menjadi faktor utama terjadinya kasus penelantaran anak. Sementara fenomena lain yang tak kalah berpengaruh adalah faktor ekonomi yang bukan hanya kemiskinan tapi juga kekayaan yang mendadak, seperti halnya sertifkasi yang diperoleh oleh para pendidik. Survey KPAI menunjukkan adanya peningkatan proses gugat cerai dan juga perceraian yang terjadi pada para pendidik semenjak adanya sertifikasi”, ungkapnya.

Staf pengajar Fakultas Syari’ah dan Hukum di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga menambahkan pentingnya masyarakat untuk mempelajari, menguasai, dan juga memahami apa saja yang diperlukan sebelum proses pernikahan khususnnya paska berkeluarga, seperti halnya tentang hak dan kewajiban sebagai suami/isteri.

Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd selaku pemateri seminar dalam paparan singkatnya menyampaikan tentang pendidikan berkarakter yang bersinergi dengan orangtua, guru dan masyarakat. Sedangkan Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti menyampaikan materi penguatan karakter dan ketangguhan keluarga Indonesia yang kemudian ditutup oleh Dr. Hepi Wahyuningsih, S.Psi., M.Si yang menyampaikan kualitas perkawinan untuk penguatan keluarga.

Pada hari kedua, agenda masuk dalam sesi workshop bertema Love that Binds: Islamic Family for Family Relations dengan menghadirkan Prof. Dr. malik Badri (Founder of Modern Islamic Psychology), Dr.Phill Qurrotul Uyun, S.Psi., M.Si dan Dr. Hepi Wahyuningsih. S.Psi., M.Si sebagai pembicara serta tema Pendidikan Akhlak Mulia dengan menghadirka Prof. Mastura Badzis, Ph.D dan Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi.,M.Si sebagai pemateri.

Prodi Psikologi Tambah Doktor Baru

DR. PHILL. EMI ZULAIFAH, DRA., M.SC

Keluarga besar program studi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali tersenyum bahagia setelah salah satu staf pengajarnya, Emi Zulaifah, Dra., M.Sc berhasil menyelesaikan studi S3 dan berhak menyandang gelar ‘Dr. Phil’ dari Institute for Psychology,  Leipzig University, Jerman. Sosok yang akrab disapa Bu/Mbak Emi ini berhasil mempertahankan disertasinya berjudul ‘Work-Family interface among family with Work separation. Testing the spillover and crossocer effect of work -family interference on personal and family domain’ di hadapan tim penguji yang terdiridari  Prof. Evelin Witruk, Prof Konrad Reschke dan Prof. Schroeger (dekan dari Faculty of  Pharmacy, Bioscience and Psychologie) pada 11 Februari 2016.  Hasilnya pun sangat membanggakan, yakni ‘Magna Cumlaude’.Menurut bu Emi, hasil analisis data penelitiannya menunjukkan bahwa beban pekerjaan bagi mereka yang harus mengalami pisah keluarga karena bekerja ternyata memberikan efek psikologis yang negatif tidak hanya bagi karyawan yang bersangkutan tetapi juga bisa ke anggota keluarga lainnya, termasuk pasangan dan anak anak. Dampak psikologis ke anggota keluarga (anak-anak) memang tidak secara langsung tapi melalui proses apakah orang tuanya yang bekerja memandang situasi pisah kerja tersebut mengusik ‘keseimbangan interaksi’ antara pekerjaan dan keluarga atau tidak, iklim di dalam keluarga dan kondisi psikologis ayah dan ibunya. Kondisi psikologis yang dimaksud adalah kondisi emosi (positif/negatif), serta kepuasan terhadap keluarga dan kehidupannya. Sedangkan dampak psikologis kepada pasangan cukup melalui kondisi psikologis sang suami.

Bu Emi juga menambahkan bahwa orang tua yang banyak bersyukur dan ridho ternyata membantu pasangan untuk menjadi lebih tenang dan berbahagia.

“Penelitian ini didedikasikan kepada keluarga-keluarga di Indonesia. Semoga senantiasa mendapatkan kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup di jaman yang terus menerus berubah”, harap bu Emi.