Kolokium 'Aplikasi Psikologi Komunitas pada Panti Asuhan dan Anak Jalanan' Psikologi FPSB UII
Written by F3ry   
Tuesday, 04 June 2013

Guna menambah pengetahuan tentang aplikasi psikologi komunitas, Prodi Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia secara khusus menggelar kolokium bertema ‘Aplikasi Psikologi Komunitas pada Panti Asuhan dan Anak Jalanan’, Jumat, 31 Mei 2013 dengan menghadirkan Dwi Wahyu Arif Nugroho., S.Psi sebagai pemateri.

Pendiri sekaligus presiden direktur ‘Senyum Community Yogyakarta tersebut mengungkapkan bahwa untuk membangun sebuah lembaga pendampingan seperti Senyum Community tersebut benar-benar dibutuhkan kerja keras, dan ikhlas dengan terlebih dulu melakukan pendekatan kepada komunitas yang akan dijadikan target. Pendekatan ini dilakukan untuk sebisa mungkin memahami komunitas yang akan didampingi. Dengan pendekatan tersebut juga diharapkan bisa lebih fokus pada pemecahan masalah suatu komunitas yang berorientasi pad pengembangan potensi komunitas. Program yang digulirkan pun hendaknya berdasarkan pada kebutuhan/ urgenitas dan bisa berkembang sesuai kebutuhan dan dinamika komunitas.

“Prinsip dalam mendampingi sebuah komumitas adalah menjadikan mereka sebagai subjek dan bukan sebagai objek. Karena jika mereka kita jadikan objek dan kita suapi terus-menerus, maka mereka tidak akan pernah bisa mandiri. Jadikan posisikan mereka sebagai agen perubahan, meski untuk itu dibutuhkan sebuah proses panjang dan lama”, paparnya.

Di akhir paparannya, Dwi Wahyu Arif Nugroho mencoba menginspirasi sekaligus memotivasi mahasiswa agar mau melakukan hal yang sama melalui tagline presentasinya ‘Lihatlah dari yang paling mungkin, mulai dari yang paling mudah, dan lakukan sekarang. Apapun yang terjadi... keep moving forward..!’

Pendiri sekaligus presiden direktur ‘Senyum Community Yogyakarta tersebut mengungkapkan bahwa untuk membangun sebuah lembaga pendampingan seperti Senyum Community tersebut benar-benar dibutuhkan kerja keras, dan ikhlas dengan terlebih dulu melakukan pendekatan kepada komunitas yang akan dijadikan target. Pendekatan ini dilakukan untuk sebisa mungkin memahami komunitas yang akan didampingi. Dengan pendekatan tersebut juga diharapkan bisa lebih fokus pada pemecahan masalah suatu komunitas yang berorientasi pad pengembangan potensi komunitas. Program yang digulirkan pun hendaknya berdasarkan pada kebutuhan/ urgenitas dan bisa berkembang sesuai kebutuhan dan dinamika komunitas.

“Prinsip dalam mendampingi sebuah komumitas adalah menjadikan mereka sebagai subjek dan bukan sebagai objek. Karena jika mereka kita jadikan objek dan kita suapi terus-menerus, maka mereka tidak akan pernah bisa mandiri. Jadikan posisikan mereka sebagai agen perubahan, meski untuk itu dibutuhkan sebuah proses panjang dan lama”, paparnya.

Di akhir paparannya, Dwi Wahyu Arif Nugroho mencoba menginspirasi sekaligus memotivasi mahasiswa agar mau melakukan hal yang sama melalui tagline presentasinya ‘Lihatlah dari yang paling mungkin, mulai dari yang paling mudah, dan lakukan sekarang. Apapun yang terjadi... keep moving forward..!’